
Enam bulan kemudian setelah Yoshua dan Susan benar-benar pulih dan kembali mulai bekerja, Susan bekerja di rumah sakit dan Yoshua mulai bekerja di Sinar Group.
Bulan demi bulan berlalu. Key tak salah pilih. Untuk sebuah tanggung jawab, Yoshua orang yang tepat jika diberikan sebuah tugas. Mengatur bagaimana memasarkan sebuah produk dan dia ternyata memiliki inisiatif untuk mencoba hal-hal baru yang tak terduga.
"Bagus," puji Key menepuk pundak Yoshua saat melihat banyak peminat yang mulai medongkrak grafik penjualan lewat sebuah situs dan media sosial.
"Itu sudah tugas saya, Tuan Key."
Yoshua membungkuk pada calon kakak iparnya itu. Dia tetap bersikap sopan walaupun seringkali bertemu saat menyambangi Susan di rumahnya.
"Baik, besok buatkan konsep untuk pengiklanan produk terbaru kita. Aku menyerahkan tugas ini sepenuhnya padamu."
"Baik, Tuan Key."
"Oh iya, kamu sudah beri cincin pada adikku, 'kan? Lalu, kapan kamu mau melamarnya?"
Deg!
Jantung Yoshua bagai berhenti berdetak. Ya, sudah beberapa bulan dia fokus pada pekerjaan dan sedikit mengabaikan kebahagiaannya sendiri, juga Susan. Namun, gadis itu pun tak begitu mengejar pernikahan melihat Yoshua yang sedang giat bekerja.
"Dia perempuan dan usianya sudah hampir seperempat abad. Kamu mau membuatnya beralih ke lelaki lain?" Ucapan Key sangat menohok.
"Eh, mm ... bukan begitu Tuan Key. Maaf saya sedang senang sekali mendapatkan pekerjaan, hingga sibuk tak berpikiran dengan pernikahan. Maafkan saya, Tuan Key!"
Yoshua berkali-kali membungkukkan badan, menyatakan penyesalan. Key hanya mendengus.
"Lihatlah wajah Susan, pasti murung. Jika seorang gadis seperti itu, itu artinya dia menginginkan kepastian!" oceh Key seraya meminum kopi di atas meja kerjanya.
Bukankah Susan selalu riang saat aku datang ke rumah?
Yoshua sedikit mengangkat alisnya, tapi tak berani menyangkal. Benar atau tidaknya perkataan Key, tak menyurutkan niatnya untuk melamar gadis pujaannya itu.
"Asal kamu tahu, Susan itu seperti kebakaran jenggot kalau kamu sedih. Jika kamu menyakitinya sedikit saja, tahu akibatnya!" ancam Key. Dalam hati dia tertawa melihat lelaki muda itu menunduk takut.
"I-iya, Tuan Key."
"Jadi kapan kamu melamarnya?"
Yoshua memberanikan diri mengangkat kepalanya dan menjawab dengan mantap.
"Besok malam, Tuan Key!"
Seringai terbentuk di wajah Key. Berhasil juga pancingannya. Mereka tak akan menikah jika tak disentil. Sedangkan Susan jika ditanya akan menjawab nanti dan nanti. Sebagai kakak, dia merasa ketakutan akan terjadi hal-hal yang mencoreng nama keluarga.
"Baiklah. Kami akan menunggumu."
__ADS_1
"Permisi, Tuan Key."
Suara Key tak lagi meninggi. Dia berbalik dan membiarkan Yoshua membungkuk keluar dari ruangannya.
***
"Bu! Ibu sini, Bu!"
Tanpa melepas jasnya, Yoshua menarik tangan Bu Anna dan mendudukkan wanita tua itu di atas kursi kayu panjang di depan ruang administrasi gedung panti asuhan.
"Ada apa, Yosh?"
Wajah Bu Anna nampak serius, kerutan di wajahnya bertambah dan kedua bola matanya tak lepas menatap anak lelaki kesayangannya.
"Ibu, aku ... ingin melamar Susan."
Merona wajah Yoshua, meski Bu Anna bukan ibu kandungnya, tapi rasa malu tetap menelusup. Sementara Bu Anna berbinar. Mendadak rasa haru menyelinap dan membuat rasa hangat di kedua mata wanita itu.
"Bu ... Ibu jangan menangis, aku nggak akan tinggalin ibu. Aku mau membangun rumah di sekitar sini, Bu! Biar aku dan Susan tetap dekat dengan Ibu! Setiap hari kami akan ke sini!" cerocos Yoshua.
Ucapan itu malah makin membuat wanita itu haru. Dia menangis tersedu tanpa bisa mengeluarkan kata satu pun dari mulutnya, lalu hanya bisa memeluk anak emasnya.
"Bu—"
"Yosh ... kamu benar-benar sudah dewasa ya, sekarang ...." isak Bu Anna mengelus punggung lelaki muda itu dengan tangannya yang telah berkerut.
"I-iya, Bu."
Bu Anna melepaskan pelukannya dan menatap wajah Yoshua dengan senyum yang paling indah. Bola mata hitam yang telah dilingkari dengan selaput abu-abu itu memandangi wajah Yoshua dengan rasa bangga. Yoshua menarik jemarinya ke pipi basah Bu Anna dan menghapus air mata yang membasahi pipi wanita itu.
"Ibu senang?" tanya Yoshua lirih.
Bu Anna mengangguk dan tersenyum. Kali ini memperlihatkan sederet giginya yang masih tetap utuh walau termakan usia.
"Ibu merestui kalian," ucap Bu Anna mengacak rambut lelaki muda itu.
"Makasih, Bu!"
Mereka berdua kembali berpelukan erat. Sementara seorang anak panti asuhan sudah berlari menemui saudara-saudara sepanti dan berteriak kencang.
"Kak Yoshua mau menikah!"
Seketika ruang aula dipenuhi oleh anak-anak panti dan riuh lah mereka dengan celotehan-celotehan kecil dan tawa bahagia.
***
__ADS_1
"Kapan kamu mau ke rumah Pak Anton, Yosh?" tanya Bu Anna sore itu.
"B-besok malam, Bu."
Tergagap Yoshua memastikan bahwa wanita di depannya pasti akan kaget dan marah. Tanpa hitungan menit, benar saja, Bu Anna melotot padanya.
"Hey, kenapa dadakan begitu, Yosh? Ibu belum menyiapkan apa-apa!"
Tangan wanita itu menyentuh telinga Yoshua dan dengan mudah menjewernya.
"Aduh, Bu! Sakit! Biar aku jelaskan!" jerit Yoshua.
Meski sudah dewasa, Bu Anna masih memperlakukukan Yoshua bagai anak kecil. Dia melotot menuntut penjelasan dari pria kecilnya itu.
"Ini karena Tuan Key mendesakku, Bu!" sahutnya sambil mengelus telinganya yang merah.
"Iya, tapi kenapa kamu nggak memberi waktu ibu untuk mempersiapkan semuanya? Kita ke sana tak bisa dengan tangan kosong, Yosh!" beber Bu Anna.
Yoshua melenguh pelan. Dia menyesali kenapa membuat pikiran sang kepala panti.
"Kami bisa bantu, kok!"
Tiba-tiba beberapa anak panti menyembulkan kepala dan masuk ke ruangan di mana Bu Anna dan Yoshua sedang duduk.
Secercah senyum Bu Anna terbit saat melihat semua anak panti berkumpul dan memelukinya.
"Kak Yoshua mau nikah sama Kak Susan cantik, 'kan?" tanya Ela, si kecil bermata bening itu di pangkuan Bu Anna.
"Iya, Bu! Biarkan Kak Yoshua besok malam datang ke sana! Kami yang akan membelikan semuanya! Tinggal tulis saja dan uangnya! Besok kami berangkat belanja!" desak Desi, anak perempuan tertua di panti asuhan.
Bu Anna dan Yoshua tersenyum. Mereka terharu dan bangga pada anak-anak panti. Mereka terbangun untuk saling membantu dalam kesepian mereka akan kasih sayang orang tua. Bagi mereka, rumah ini bukanlah panti, melainkan memang rumah mereka kembali.
"Ya, Bu?" ulang Desi menatap Bu Anna penuh harap.
Bu Anna tak bisa lagi menolak. Dia mengangguk.
"Iya, sama Ibu ya belanjanya?" sahut wanita itu lirih.
"Yeee ... horee!!" seru semua anak panti.
Mereka bernyanyi-nyanyi seolah pernikahan Yoshua akan terjadi besok malam.
******
__ADS_1