
"Sue!"
Panggilan itu begitu khas, membuat debar yang pernah ada di hati Susan beberapa minggu lalu kembali datang. Gadis itu menoleh dengan semangat, tapi saat teringat perkataan kedua temannya, dia harus menurunkan kembali semangatnya.
"Yosh ...." ujar Susan lirih. Rasanya ingin pergi saja dari tanah yang sekarang dia pijak. Namun, akan terasa aneh bagi Yoshua. Susan ingin berlaku biasa.
"Kenapa murung? Sudah jadian dengan Ozkan?" kelakarnya.
Sumpah, saat itu ingin sekali Susan memukul wajah lelaki itu sampai benjol.
Dikiranya mudah apa berpacaran dengan seseorang yang baru saja kukenal?
Susan hanya melengos. "Aku hanya ingin mengenalnya dulu, Yosh. Entah nanti," liriknya ke lelaki itu. Ingin mengetahui responnya, walau kabar lelaki di sebelahnya telah bersama gadis lain, tapi Susan masih ingin tahu apa perasaan Yoshua.
"Dan mungkin bila nanti ... Kita kan bertemu lagi ...."
Bukan kecemburuan yang nampak, tapi malah lelaki itu bernyanyi seolah tanpa dosa. Susan pun beranjak dan membawa tasnya ke luar kampus untuk pulang ke apartemen.
"Eh, lho! Sue! Mau ke mana!" teriak Yoshua.
"Pulang! Mau belajar jadi ibu rumah tangga yang baik, katamu!" teriak Susan seraya berlenggang meninggalkan Yoshua yang dia pikir sangat menyebalkan.
Yoshua tersenyum. Dia memilih untuk tidak mengejar Susan. Lelaki itu berjalan ke kantin kampus, bertemu dengan sahabatnya, Ozkan.
"Susan sudah pulang," ujarnya lemas.
"Sepertinya dia belum terbiasa denganku, Yosh ...."
"Iya, cobalah intens mendekatinya, Oz. Kamu pasti bisa!" ujar Yoshua memberi semangat pada sahabatnya.
*
Susan berlari ke apartemen.
"Sialan, memangnya aku ini cewek apaan, dikenal-kenalkan ke orang baru dan didorong untuk jadi pacarnya. Dasar Yoshua! Seenaknya sendiri!" teriak Susan kesal.
Tanpa disadari air matanya tumpah di atas bantal. Gelas dan piring tergeletak di atas meja dan terabaikan. Hari itu, Susan tak memperdulikan pekerjaan rumah. Dia membiarkan semua berantakan.
__ADS_1
"Omong kosong soal pekerjaan rumah!"
Susan mengambil jaket dan ponsel. Dia ingin menikmati malam minggunya kali ini dengan menonton bioskop. Melupakan buku-buku tentang anatomi, tentang kimia dan tentang dasar kesehatan.
Dia berjalan keluar apartemen lalu hampir akan menyetop sebuah taksi jika saja seseorang tak memberhentikan sepeda motornya di depan jalan.
"Susan! Sayang sekali! Aku ingin sekedar ngobrol di apartemenmu, tapi sepertinya kamu akan pergi?" ujarnya setelah membuka helm yang menutupi wajah.
Susan menghela napas sebentar.
"Iya sih, Ozkan. Aku hanya ingin jalan-jalan. Mau nonton bersamaku?" ajak Susan.
"Tentu saja!"
Wajah Ozkan berbinar mendengar ajakan itu. Dia segera mengambilkan sebuah helm cadangan di dalam bagasi motornya, lalu menyerahkan pada Susan.
Gadis itu membonceng Ozkan setelah membenahi helmnya.
Ozkan memacu sepeda motornya ke jalan.
"Susan, kamu nampak cantik memakai celana jeans itu!" puji Ozkan saat mereka ada di jalan. Saat itu lampu rambu bergulir ke merah.
Kak Bianca yang mengajarkanku untuk sedikit bergaya casual. Eh, tidak, tidak. Dia tak mengajari, tapi aku melihatnya sering memakai baju seperti ini dan aku suka.
"Susan?" panggil Ozkan.
"Eh, ya?" jawab gadis itu.
"Kamu melamun?"
"Aku hanya teringat rumah," sahut Susan singkat.
"Berapa lama kamu tidak pulang?" tanya Ozkan.
"Semenjak aku kuliah di sini, aku belum pernah pulang."
Ozkan mungkin saja terkejut. Sayang helm menutupi wajahnya.
__ADS_1
Lelaki itu memacu lagi sepeda motornya dan mereka pun terdiam dalam perjalanan. Sebenarnya Susan tak yakin pergi bersama Ozkan akan mengembalikan mood-nya. Namun, emosi sesaat membuatnya pergi dengan siapa saja. Dia perlu teman.
"Kamu mau nonton film apa? Romantis? Thriller? Atau horror?" tanya Ozkan saat akan membeli tiket.
"Romantis," jawab Susan.
"Sudah kutebak. Gadis sederhana sepertimu pasti akan memilih film romantis."
Terbentuk senyum tipis di bibir Susan. Dia mengambil sebuah pop corn yang disodorkan oleh Ozkan. Lalu mengikuti lelaki itu masuk ke dalam bioskop.
"Jangan nangis, ya. Ini nanti sepertinya akan sad ending," ujar Ozkan tersenyum.
Susan hanya mengangkat alis. "Semoga aku nggak nangis, ya?" kelakarnya.
Mereka pun terhanyut dalam alur cerita dalam film.
"Memangnya kamu suka nonton film?" tanya Ozkan melahap pop corn terakhirnya.
"Suka, tapi baru-baru ini jarang banget nonton."
Susan masih menatap ke depan. Menunggu para penonton bergiliran antre keluar.
"Kenapa?" tanya Ozkan.
"Banyak tugas. Biasa lah mahasiswa kedokteran yang kejar lulus tahun depan," jawab Susan.
"Kamu mau lulus tahun depan? Trus ambil profesi nggak?" tanya Ozkan lagi.
"Iya, tapi nanti di Indonesia saja," sahut Susan.
"Yaa ... kamu mau pulang dong? Aku sepi di sini. Susan, boleh aku tau alamat kamu di Indonesia?"
Ozkan menyengir kuda.
"Mm ... buat apa?" tanya Susan.
"Nggak apa-apa, kan kalo nanti aku pas pulang ke sana, cari rumah kamu?" tanya Ozkan.
__ADS_1
"Oh, oke. Nanti aku kirimkan alamatku, ya?"
"Siap," sahut Ozkan.