Cintai Aku!

Cintai Aku!
Ingin Bertemu


__ADS_3

Kimmy berjalan mendekati Kin yang sedang bermanja dengan daddy-nya. Dia membungkuk sebentar kemudian mengatakan maksudnya.


"Bos Kecil Kin, kita berencana akan ke panti asuhan ...." ujar Kimmy.


"Panti asuhan? Apa itu?" tanya Kin mengangkat kedua alisnya.


"Panti asuhan itu tempat di mana anak-anak yang tidak mempunyai daddy dan mommy diasuh," terang Key.


"Di mana daddy dan mommy mereka, Dad?" tanya Kin penasaran. Dia meminta pangku ayahnya.


"Ada yang pergi ditinggal begitu saja, ada yang meninggal," jelas Key lagi.


"Meninggal? Apa itu?" Raut wajah Kin sangat serius, membuat Key geli tapi ditahannya.


"Meninggal itu ... dipanggil Tuhan dan tidak di sini selamanya."


"Memanggilnya pakai halo-halo?" tanya Kin lucu sekali, masih dengan raut serius.


"Bukan ... astaga, bagaimana cara aku menjelaskan pada anak ini?" gumam Key menepuk jidatnya sendiri.


"Meninggal itu sudah tidak bisa apa-apa. Jadi, dikubur di dalam tanah," lanjut Key lagi.


"Tanaman Mommy itu dikubur di dalam tanah. Itu meninggal?" tanya Kin lagi.


"Owh!" Key meraup wajahnya.


"Bukan ... kalau itu menanam ...." lanjut Key.


"Ehem! Bos Kecil Kin, kasihan kan anak-anak yang tidak punya daddy dan mommy? Mereka juga tidak punya mainan seperti yang dimiliki Bos Kecil Kin. Jadi, apa Bos Kecil mau memberikan sebagian mainan pada mereka?" tanya Kimmy.


Kin menengok ke arah Kimmy dengan pandangan bersemangat. Dia lalu merosot dari pangkuan ayahnya dan berjalan kecil ke arah Kimmy.


"Mau!" sahutnya seraya menggenggam telunjuk Kimmy.


Key bisa bernapas sangat lega. Dia bersandar ke sofa sembari membuka kancing baju atas karena dari tadi dia merasa gerah akan pertanyaan-pertanyaan Kin.


"Makasih, Kimmy! Kamu penyelamat!" desis Key mengacungkan ibu jarinya pada Kimmy yang membungkuk memohon diri dari hadapan Key.


*


"Bos Kecil Kin, yang mana yang mau diberikan ke anak-anak panti asuhan?" tanya Kimmy setelah menyeret dua kotak besar mainan Kin.


"Mm ... robot ini, sayang. Mobilan ini? Sayang juga. Piano kecil ini? Ah warnanya lucu," ujar Kin bingung.


Kimmy tersenyum dan menunggu anak itu untuk memilih.


"Kin, kalau memberi jangan merasa sayang, seumuran Kin mereka belum pernah mainan. Dua kotak mainan ini kan tidak pernah dimainkan lagi?" ujar Bianca yang masuk tiba-tiba ke kamar bermain Kin.


"Iya, Mommy ... tapi, Kin sayang masih banyak ...." ujar Kin memandangi mainannya di kotak. Ujaran anak itu masih terbolak-balik.

__ADS_1


"Ya sudah, biar Mommy juga bantu Kin ya, beberapa mainan yang Kin bosan dipisah. Nanti Kin sendiri yang berikan pada teman-teman Kin di panti."


Kin mengangguk. Dia mulai menyeleksi lagi mainannya.


*


Ponsel Susan berdering. Gadis yang sedang mengemasi barang-barang ke dalam kotak itu beranjak dan mengambil ponsel dari atas tempat tidur.


"Ozkan ... ck!" decaknya, tak suka.


Namun, dia mengangkatnya juga walau malas.


"Halo," sambut Susan dengan nada tak semangat.


"Halo, Susan. Lagi apa?"


"Mm ... berbenah kamar."


Ozkan menangkap nada malas Susan di telinga. Namun, ada hal yang mesti dia sampaikan. Dia harus mengabaikan keengganan Susan.


"Susan, mungkin kamu lagi nggak mood, tapi aku ingin berbincang sebentar saja denganmu. Setelah ini, aku janji tak akan mengganggumu lagi jika itu kemauanmu," cerocos Ozkan di telepon.


Susan menjauhkan telinga, menatap layar ponselnya sebentar, lalu kembali menempelkan benda pipih itu kembalj di telinganya.


"Mm ... baiklah Ozkan, tapi jangan begitu. Aku hanya sedang ... yah, memang rasanya sedang bad mood."


Susan hanya terdiam. Sebenarnya iya, tapi dia tak mau melukai hati Ozkan yang sebenarnya sudah terluka.


"Ozkan, kita akan bertemu di mana?" tanya Susan mengalihkan pembicaraan.


"Mm ... enaknya di mana? Rumah kamu di mana sih? Ada cafe nggak dekat rumahmu kalau kamu lagi sibuk?"


"Di pusat kota saja, ya?" usul Susan agar Ozkan tak tahu rumahnya.


"Oh, oke. Nanti jam empat aku tunggu di cafe Green."


"Ya, Ozkan!"


"Jangan tidak datang ya? Ini penting. Aku tunggu!"


Klik.


Telepon ditutup, meninggalkan rasa penasaran pada Susan. Susan berpikir sebentar, menerka-nerka apa yang akan disampaikan oleh Ozkan. Apakah itu tentang perasaannya? Ataukah tentang apa?


Susan hanya pasrah. Dia menutup kotak yang belum penuh itu, lalu memutuskan untuk melanjutkan kegiatannya setelah pulang dari cafe. Untuk melanjutkan aktivitas dengan rasa penasaran, tak akan nyaman rasanya.


"Ehem! Ehem!"


Suara di ambang pintu mengagetkan Susan. Kimmy telah membawakan sebuah kardus lagi yang dipesan oleh Susan.

__ADS_1


"Oh, Kak Kimmy."


Gadis itu berdiri dan mengambil kardus dari tangan Kimmy. Kimmy memperhatikan wajah Susan.


"Bos Dokter galau? Obatnya apa ya?"


"Ah, Kak Kimmy. Darimana tahu kalau aku galau?"


"Dari wajah Bos dokter yang tadinya sebening air danau sekarang ..."


"Sekeruh air sungai?" lanjut Susan dengan diiringi tawa keduanya.


"Kak Kimmy obat galau ternyata tertawa," ujar Susan lagi.


"Berarti benar kalau Bos dokter galau?"


"Iya," sahut Susan cepat. "Sini, Kak!"


Kimmy masuk ke ruangan yang sepi dengan ornament itu. Menunjukkan bahwa gadis pemilik kamar memang tak pernah aneh-aneh. Bukan penggemar K-pop, bukan juga penggila drakor. Hanya seorang yang memang penggila buku karena Kimmy hanya melihat banyak tumpukan buku di dalam kamar itu.


"Kak, kalau ada cowok yang tidak kita sukai, tapi suka sama kita mengajak ketemuan, apa yang akan Kakak lakukan?" tanya Susan meletakkan telunjuknya di bibir agar Kimmy tak berbicara dengan keras.


Kimmy jadi teringat dengan pertemuannya di cafe dengan Jodi abal-abal. Semula mereka tak saling suka, ternyata lama-lama rasa itu menjadi saling membutuhkan dan saling mencintai.


"Apa motif lelaki itu, Bos dokter?"


Kimmy menanyai seperti sebuah kasus.


"Kak Kimmy seperti detektif deh!" gelak Susan. "Dia hanya ingin menyampaikan sesuatu yang penting, katanya," jelas Susan.


"Ada baiknya kalau memang Bos dokter sudah mengenalnya dengan baik, bisa ditemui saja. Mungkin dia memang akan memberitahukan sesuatu," cetus Kimmy.


"Iya, Kak. Aku mantap akan menemuinya. Katanya dia tak akan menemuiku lagi," imbuh Susan.


"Ya, mungkin juga ini pertemuan yang terakhir untuk kalian, Bos dokter?" ujar Kimmy.


Susan kaget saat menyadarinya. "Ada apa ya? Dia bilang tak akan menemuiku lagi?" gumam Susan.


"Lebih baik aku segera bersiap, Kak! Semoga ini bukan pertanda buruk!"


"Silakan Bos dokter! Saya keluar kamar dulu. Jangan gegabah. Tetap tenang," pesan Kimmy sebelum menutup pintu kamar.


"Iya Kak Kimmy, aku pasti tenang dan tak terburu-buru!" janji Susan menunjukkan dua jarinya ditempelkan ke pipi.


Kimmy pun menutup pintu dengan rapat. Susan bergegas membuka lemari pakaiannya untuk bersiap berangkat ke cafe Green di pusat kota tempat di mana dia janjian dengan Ozkan.


******


__ADS_1


__ADS_2