
Enam bulan kemudian, saat Susan benar-benar diangkat sebagai dokter karena study profesinya telah selesai, begitu juga Yoshua yang telah mulai mendapatkan target pekerjaannya.
Yoshua tersenyum senang saat dia bisa mencapai target kerja bulan itu karena sebelum-sebelumnya dia tak memenuhi apa yang diminta oleh pemilik perusahaan. Namun, aneh sekali kenapa sang pemilik tak juga memindahkan Yoshua. Dia tetap masih berada di kota ini.
Di balik semua itu,
"Kak, bilang sama manager perusahaan rokok itu agar dia tak memindahkan Yoshua ke luar kota. Kan dia baru, jadi ya kalo belum memenuhi target kerja, wajar kan?" desak Susan menahan suntikan pada atas pantat Key yang sedang sakit.
"Iya, iya. Cepat kamu suntik! Aku sudah tak tahan flu tak sembuh-sembuh, tak boleh bertemu dengan trio kwek-kwekku!" omel Key memegang kepalanya.
Pria itu sebenarnya takut jarum suntik, tapi demi ingin sembuh dan bergumul lagi dengan ketiga buah hatinya, dia memberanikan diri untuk menyanggupi saran dari Susan agar disuntik. Padahal flunya baru hari kemarin. Malahan, adik angkatnya itu menahan-nahan suntikan. Sudah berdebar, tambah lagi jantungan ditunda-tunda suntikannya.
"Bener ya?" ulang Susan menempelkan kapas yang telah diberi alkohol membuat Key sedikit berjingkat kaget.
"Iya!" Degup jantung Key jadi tambah tak berirama. Bianca menahan tawa melihat dari kejauhan melihat wajah suaminya yang pucat tak mau melihat ke jarum suntik. Menutup matanya dengan satu tangan.
"Lemes, Kak!" titah Susan merasakan tangan Key menegang.
"Tidak bisa!" sahut Key jengkel karena adiknya ini terlalu lama membuatnya takut.
Susan mencubit sedikit atas pantat Key. "Aduh, kenapa kok dicub—"
Cus!
Baru Key melotot ingin marah, jarum suntik sudah sukses menyalurkan cairan obat ke dalam atas pantat Key karena telah lemas.
"Udah, nggak sakit kan?" ujar Susan menahan tawa, menutup bekas suntikan menggunakan kasa bulat kecil.
"Lebih sakit cubitanmu, tau?" omel Key.
Susan tertawa dan mengemasi kotak obatnya. Dia kemudian berjalan menjauh dari kamar isolasi Key. Berbalik dan mengingatkan.
"Inget, Kak. Jangan pindahkan Yoshua kemana pun! Cukup di dalam kota. Dia akan memenuhi target bulan-bulan ini," ulang Susan mengingat bahwa Yoshua bersemangat dengan pekerjaannya bulan ini.
"Bawel!" omel Key berusaha duduk setelah membenahi bajunya.
***
__ADS_1
Vita mendapatkan pekerjaan di sebuah butik di kota. Namun, dia memilih untuk menempati rumah kost di dekat butik. Alasannya agar dia tak merepotkan sang Kakak.
Empat bulan bekerja, setelah tiga bulan trainning, Vita mendapatkan gaji yang cukup untuk menabung karena uang sewa kost telah diberi oleh Kimmy. Sayang, ada hal yang membuatnya hampir kehilangan seluruh gaji bulan pertamanya.
Seorang pria masuk ke dalam butik. Dia langsung menuju ke tempat jas-jas dan memilih-milih jas di sana.
"Selamat siang, Tuan. Ada yang bisa saya bantu?" tanya Vita sopan pada pria tampan itu. Si pria melirik tajam ke arah Vita tapi tak menjawab sapaannya.
Meski Vita sedikit kesal, tapi dia tetap melayani dengan sepenuh hati. Dia membungkuk pada si pria. Pria itu menjauh dari Vita membawa sebuah jas keluar dari ruangan.
"Hey, Tuan! Anda tak boleh membawanya pergi sebelum membayarnya!" teriak Vita.
"Dasar maling!!" teriak Vita kesal, melepas sepatunya.
Bug!
Sepatunya pun mengenai mobil orang itu
"Apa kita punya pegawai baru?" tanya pria itu saat berada di dalam mobil, bertanya pada asistennya, melihat Vita dari kaca spion sambil menahan senyum.
"Iya, Tuan. Namanya Vita," sahut sang asisten membuka file dokumen di laptopnya.
"Baik, Tuan!"
***
"Maaf, Kak. Tadi ada orang masuk ke dalam dan ambil jas baru dari butik, kukejar tapi tak bisa!" ujar Vita menyesal.
"Itu—" Penjaga kasir nampak ingin menjelaskan siapa yang datang, tapi Vita terlihat merogoh sakunya tergesa.
"Kak mohon maaf sekali lagi, ini, aku ganti jas itu." Vita mengeluarkan uang dari dalam dompetnya setengah dari besar harga jas yang sebesar gajinya sebulan.
Gadis itu pucat pasi, masih lelah saat mengingat dia memberanikan diri mengejar pelanggan yang tak membayar jas baru.
"Tapi itu baru separuh, Kak. Besok aku tambah lagi," ujar Vita berusaha enteng, walau rasanya berat, tapi dia pikir itu kesalahannya.
"Vita, ini uangmu ambil lagi. Itu yang datang sebenarnya pengusaha pemilik butik ini," tutur Dian, penjaga kasir.
__ADS_1
"Aaaaargh!!" Vita menutup mulutnya. "Aku mengatainya maling, Kak!"
"Duh!" Dian menepuk jidatnya. "Moga aja nggak ada kejadian buruk, ya? Pokoknya lain kali ingat itu boss kita."
"Kenapa kalian diam saja, Kak?"
"Maaf, kamu tadi kan baru ke toilet pas boss kita datang? Lagian pas dia milih, pas kamu datang. Ya udah, kukira kamu paham," tukas Dian.
Vita menghela napas. "Ya udah, Kak. Moga aja dia nggak denger apa makianku tadi ya?"
Dian hanya mengangguk. Ikut pasrah.
***
Bulan-bulan berikutnya, Yoshua benar-benar memenuhi target karena dia adalah lelaki yang selalu bersemangat dalam usahanya.
"Melampaui target!" serunya melihat grafik kerjanya.
Susan mengulum senyum melihatnya. Tak salah jika dia memohonkan pada kakak angkatnya agar jangan memindahkan Yoshua kemana pun. Selain agar ada yang membantu Bu Anna, juga hati Susan tak mau lagi berpisah dengan Yoshua. Dia patut membanggakan Yoshua pada kakaknya. Semoga setelah ini akan ada perhatian dari atasan Yoshua.
"Yosh, apa yang akan kamu lakukan kalo ada tawaran naik jabatan?" tanya Susan.
"Hah? Aku belum kepikiran dengan itu," lirihnya. Sesungguhnya dia tak berani membayangkan akan naik jabatan. Apalagi belum satu tahun dia bekerja. Newbie istilahnya, beraninya dia mengharapkan naik jabatan.
"Aku tanya 'kalo', kan?" gerutu Susan.
"Iya, jangan manyun gitu, nanti jadi cantik," godanya membuat pipi Susan bersemu merah.
"Kalo aku naik jabatan, akan kubangunkan ruang tambahan untuk panti asuhan," sahut Yoshua.
Susan tersenyum. Sesederhana itu impiannya.
"Kamu ... nggak ingin nikah, gitu?"
Yoshua melirik ke arah Susan setelah mendengar pertanyaan gadis itu.
******
__ADS_1