Cintai Aku!

Cintai Aku!
Checking


__ADS_3

Kimmy makan dengan banyak sebelum hari H. Dia benar-benar kecukupan, bahkan kelebihan gizi. Semua yang dia minta dipenuhi oleh Felix.


"Mas Pelix, belikan aku gado-gado," pinta Kimmy saat berada di depan komputer.


"Oke, Sayang ...." jawab Felix menekan tombol save di keyboard komputernya. Dia lalu segera mencium kening istrinya itu.


Felix berjalan menuruni anak tangga ketika seluruh rumah terasa tenang, tiba-tiba dikejutkan oleh sebuah tepukan di pundaknya.


"Mau ke mana?" tanya nonanya seolah ingin menitip sesuatu.


"Mau beli gado-gado, Nona!" jawab Felix jujur.


"Nitip ya, Felix!"


Nah, benar kan?


"Iya, Nona."


"Siomay. Nggak pakai pare, telurnya dua, kentang satu, tahunya goreng dua, agak pedes, kasih kecap sedikit."


Oh my god!


"Baik, Nona."


Felix baru akan berbalik melangkah, tiba-tiba satu lagi wanita di belakang menepuk pundaknya.


"Eh, Dek Kim Lo. Apa lagi?" tanya Felix. Nona mereka sudah tak kelihatan lagi.


"Mas Pel, emm ... Mau siomay aja ..." ujarnya tersipu, karena berubah pikiran.


"Oh ... Tidak apa-apa, kebetulan Nona juga mau siomay. Jadi sejalan."


Felix tersenyum manis pada istrinya.


"Anu ... pakai pare dua, telurnya satu, kentang dua, tahunya nggak digoreng satu, kubis dua, pedes, kecap banyak."


Waduh!


"Mm ... baik, baik ...."


Felix mengandalkan otaknya untuk mencatat pesanan mereka.


"Satu lagi ..." lanjut Kimmy sebelum Felix beranjak.


"Apa?"


"Hati-hati ya, Mas?"


Sayang ini di rumah Tuan Key, kalo di apartemen udah kugendong dia ke kasur!


"Iya, Dek Kim Lo ..."


Felix meluncur ke tempat langganan siomay. Di kota itu ada tiga tempat penjual siomay, tapi sepertinya yang paling enak adalah siomay Kang Odi.

__ADS_1


"Kang, siomay dua bungkus. Satu tidak pakai pare, telurnya dua, kentang satu, tahunya goreng dua, agak pedes, kasih kecap sedikit. Satunya lagi pakai pare dua, telurnya satu, kentang dua, tahunya nggak digoreng satu, kubis dua, pedes, kecap banyak."


Felix mengulang pesanan kedua wanita itu dengan lancar selancar jalan tol. Kang Odi auto juling mendengar rentetan pesanan itu. Sekalinya ingin menanyakan ulang, sang pemesan telah duduk tak bersuara menatap layar ponsel dengan kaki bertopang.


Pria bertubuh kurus yang sedang mengalami gangguan tenggorokan itu pun segera membungkuskan dua pesanan Felix dengan segala keterbatasannya.


Yang penting bungkus.


Kang Odi menyenggol lengan Felix saat selesai membungkus dua porsi siomay. Pria itu kaget dan langsung menerima plastik ungu bertuliskan 'Siomay Kang Odi'. Dia memasukkan ponselnya lalu memberi uang pada pria yang memberi isyarat bahwa tenggorokannya sakit.


"Oh, terima kasih, Kang," ucap Felix saat menerima kembalian.


Pria itu segera membawa bungkusan plastik pulang ke rumah Tuan Key.


*


"Aku tidak mau pare!" tolak Bianca dengan suara sengau karena hidungnya dia pencet sendiri melihat sebuah pare nangkring di dalam kotak siomaynya.


"Mas Pelix, tahuku nggak goreng ...." omel Kimmy.


Felix kaget dan menengok ke dalam kedua kotak itu.


"Lho, tadi aku pesannya beda ...."


"Kenyataan, isinya sama!" gerutu keduanya.


Bagai memiliki dua istri, Felix diomeli duet maut ibu hamil itu bersamaan.


"Ck! Apa sih ribut-ribut? Sini, aku makan saja siomaynya kalau kalian tidak mau!" ujar Key menarik kotak siomay milik Kimmy ke depan Felix dan milik Bianca ke depannya.


Pria yang seharusnya bertanggung jawab malah sedang menyantap siomay dengan enaknya.


"Baik, Nona."


Niatan Felix mengulangi lagi untuk pergi ke Kang Odi, tapi Bianca memanggilnya lagi.


"Aku mau dibelikan sama daddy-nya Kin!" ujarnya membuat sang penikmat siomay tersedak.


"Kenapa harus aku?" tanya Key setelah acara tersedaknya mulai berakhir.


"Pokoknya kamu yang harus beli," ujar Bianca tak mau tahu.


"Lalu, punya Kimmy?" tanya Key memastikan apakah dia juga yang harus membelikannya.


"Pak Bos Tuan, saya tak jadi lagi kepengen makan siomay. Biar Mas Pelix yang belikan empek-empek pakai kuah cuko yang pedas dengan acar ketimun, seger!" ujarnya.


Ada yang menetes dari mulut Bianca.


"Felix ... aku juga mau satu," ujarnya lirih.


Kedua pria itu saling berpandangan. Kemudian menghela napas.


"Sabar ... kedua wanita itu sedang membawa gumpalan daging kita!" desis Key.

__ADS_1


"Iya, Tuan. Mari kita segera berangkat saja, lalu mampir ke cafe agar pikiran kita segar!" tutur Felix, membuat Key semangat.


"Ayo!"


Key menepuk pundak Felix, lalu melemparkan kunci mobil padanya.


Setelah mereka pergi, Bianca menepuk jidatnya.


"Ah, aku lupa bilang kalau empek-empekku tak usah pakai acar ketimun!"


*


"Dek, kita cek undangan, ya? Kali-kali ada yang belum kita undang ...." ujar Felix saat mereka sampai di apartemen.


Kimmy beringsut mendekat ke Felix. Lalu menatap layar berisi checklist daftar nama.


"Cindy, Eko Nur Icha, Eva, Joelia, Lealuv, Anis, Yuli, Nuraini, Atun, Sugeng, Elda, Hikmah, Yantika, Artilla, Tamabie, Anik, Rina, Ety, Diawati, Citra, Siti, Nia, Mutiara, Nayra, Iness, Ny. Vivi, Andi, Jelly, Chasanah, Sulis, Nining, Icha, Fiqie, April, Elin, Naura, Astrid, Teti, Tara, Ariana, Mama Zidan, Sinta, Nurul, Rizki, Khusnul, Titik, Vida, Muth, Artika, Yenni, Chrie, Ida, Lilik, Bunda Raffa, Mama Rey, Djotie, Ridha, Miar, Ririn, Risma, Sri, Qiky, B.Tri, Alisha, Memey, Ilin, Ananda, Gisna, Melisa, Ika, Erin, Azfitha, Cahya, Thania, Chida, Heni, Sabira, Ailan, Ratna, Mela, Yani, Iis, Nichuk, Fitria, Sofie, Natha, Fuaddo, Dzakira, Nia, Mutiara, Wiwin, Nayra, Meliala, Sisna, Dinda, Asyarma, Panda, Yuli, Huuayu, Wati, Rismayanti, Jun, Wiwik, Nels, Rofiah, Miar, Citra, Yeremia, Muth, Aliam, Shierly, Diah, Aah, Nurul Falah, Erin, Nda, Yantika, Riyna, Queen, Rina, Bocha, Shafa, Rita, Kim, Wong Ayu, Si Buta, Rida, Sukma, Iis, Rizki, Ariana, Sumiati, Astrid, Naura, Tara Teti, Sinta, Elvina, Nining, Khusnul, Icha, Elvina, Ika Kirana, April, Sri, Djumnaidy, Srie, Sulis, Memey, Ilin, Riris, Alisha, Alifa, Seri Shi, Bunda Anna, ... banyak juga ya daftarnya?"


Kimmy memeriksa semua daftar.


"Amoi ..."


Kimmy terbelalak mendengarnya.


"Hah? Amoy?"


"Buka Amoy yang itu ...." Felix menyatukan kedua alisnya.


Kimmy terkekeh. Mereka melanjutkan checking sampai ribuan nama banyaknya, sampai keriting bulu mata Kimmy. Check itu juga termasuk untuk orang sekampung Kimmy.


Tiga buah bus telah disiapkan untuk menjemput dan mengantar orang-orang kampung saat resepsi pernikahan Felix dan Kimmy.


Gedung pun telah diperiksa. Sepertinya semua persiapan telah matang karena Felix sendiri yang memeriksanya.


"Tak bisa kubayangkan, saat pernikahan Kak Laura, aku memegang buket bunga dan berandai-andai jika aku bisa memegangnya di atas pelaminan. Aah ... ternyata itu semua terwujud."


Kimmy memeluk suaminya yang langsung mencium kening wanita yang nampak cantik di saat kehamilannya itu.


"Maaf ya, Dek, kalau aku waktu itu tak membuat resepsi semeriah ini," sesal Felix mengingat saat pernikahan itu hanya mengadakan resepsi sederhana dan tak diketahui orang banyak.


"Mas, nggak usah gitu!" Kimmy meletakkan tangannya ke wajah Felix.


"Pokoknya aku sangat bahagia karena bisa mencintai pria ...."


Felix melotot. "Hah? Maksudmu sebelumnya kamu mencintai wanita?"


"Bukan!!" Kimmy mengerucutkan bibir lalu menonjok lengan Felix yang tertawa bahagia melihat istrinya kesal.


******


Bab ini ada nama-nama buah kegajean Othor, jangan tersinggung yee. Episs ....


******

__ADS_1


Stop plagiarisme!


Melanggar hak cipta orang lain masuk dalam UU nomor 19 tahun 2002 pasal 72 ayat (1) yang berisi hukum pidana maksimal 7 tahun dan denda maksimal 5 Miliar Rupiah.


__ADS_2