Cintai Aku!

Cintai Aku!
Reuni


__ADS_3

"Kenapa masalahmu?" tanya Susan pada Dion yang sekarang berdiri di depannya. Wajah pria itu sekarang lebih bersih dari SMU dulu. Namun, tak mengubah perasaan Susan padanya.


"Mm ... nggak kenapa-kenapa, hanya ... karma mungkin memang ada, ya. Buktinya kamu putusin aku, sekarang hidupmu nampak kesulitan," ujarnya terkekeh.


"Kelihatannya kamu senang sekali ya, hari ini? Bicara soal karma?" ujar Susan.


"Ya senang, lah! Mataku lihat sendiri, kok!" ujar Dion.


"Heh, berhenti membicarakan karma. Putus itu soal hak! Bukan karena mutusin kamu terus aku dapat kesulitan hidup. Memangnya kamu siapa? Tuhan? Malaikat? Kalo setan, mungkin saja!" ujar Susan menahan tawa.


"Kurang ajar!"


Dion mengerutkan dahi mendengar kata-kata Susan. Gadis itu meninggalkan Dion dan melanjutkan niatnya.


"Huh, niat baik tak akan rusak hanya gara-gara kelakuan lelaki itu!" omelnya.


Karena jengkel, diam-diam Dion mengambil video Susan dan akan memberi kejutan pada Susan.


"Lihat aja, nanti kamu akan tahu akibatnya, bagaimana rasanya dipermalukan!" ujar Dion sangat kesal.


Sore itu, Susan telah berhasil mengumpulkan uang receh dan hampir semua jualannya laku.


"Ah, aku tidak jadi ke kampus. Tak apa lah, bisa besok! Yang penting, Bapak itu bisa mendapat uang hari ini. Eh, tunggu. Aku tambahin uangnya!" gumam Susan mengambil dua lembar uang merah dari dompetnya dan menyisipkan ke tumpukan lembaran uang yang dia bawa.


"Bapak itu bisa memakainya untuk pijat," ujar Susan.


Dia berjalan mendekat ke penjual asongan lalu menyerahkan uang dan sisa penjualannya.


"Ini, Pak!"


Sang Bapak berbinar melihat uang yang dikumpulkan oleh Susan.


"Makasih, Non! Baik sekali! Saya akan selalu mengingat Anda!" ujar si Bapak itu senang dan menyalami Susan dengan semangat.


"Bukan apa-apa. Bapak bisa pulang? Saya pesankan taksi, ya?" ujar Susan yang langsung memesan taksi online sebelum si Bapak menjawab.


"Ah, baik sekali! Semoga dibalas oleh Tuhan ya?" gumam Bapak itu sembari menaiki taksi.


*


Beberapa hari kemudian setelah kejadian itu, undangan reuni datang di pesan pada aplikasi hijau. Entah siapa yang mengirimnya, Susan senang juga bisa mendapatkan undangan itu.


"Semoga besok acaranya lancar," harap Susan.


"Kenapa, Susan senyum-senyum?" tanya Bianca.


"Ada undangan reuni, Kak!"


"Wah, pasti ketemu mantan ...." sahut Bianca.

__ADS_1


"Nggak! Nggak usah reuni, minggu lalu juga udah ketemu, Kak!"


"Oh ya?? Si Pion apa siapa itu?"


"Dion, Kak!" sahut Susan menahan geli.


"Ah, iya. Dion. Kenapa lidahku jadi seperti Kimmy sih?" gumam Bianca. "Eh, kok bisa ketemu, gimana ceritanya?" lanjut Bianca.


Susan bercerita panjang lebar tentang Dion. Bianca memperhatikannya dengan gemas.


"Kenapa tidak kamu gampar kepalanya, Susan?" tanya Bianca.


"Kak! Aku belum belajar bela diri, yang ada nanti aku malah dia hajar!" gelak Susan.


"Ya sudah, yang penting kamu bisa jaga diri aja, ya? Masa calon dokter babak belur dihajar mantan?" kelakar Bianca.


"Oh ya, gimana kelanjutan studi program keprofesian kamu, Susan?" tanya Bianca.


"Sudah dapat informasi, Kak. Sudah kukumpulin beberapa info," sahut Susan.


"Oh, ya sudah. Lanjutkan!" ujar Bianca.


*


Hari di mana Reuni berlangsung sudah tiba. Susan mempersiapkan diri dengan baju yang sederhana dan rapi. Dia kembali menguncir kuda rambut, sebagai khasnya. Memakai kacamata dan keluar dari kamar.


"Mau kemana?" tanya Key.


"Oh, berangkat sama siapa?"


"Sendiri," sahut Susan.


"Diantar sopir saja!"


"Aku mau bawa sepeda motor saja, Kak! Lebih praktis. Nanti lama kalo pakai mobil, jalanan macet."


"Mmm ... ya sudah, kalo itu mau kamu, hati-hati."


"Iya, tentu saja!"


Susan keluar rumah dengan riang. Sudah hampir empat tahun dia tak bertemu dengan teman-temannya. Dia pun ingin mengetahui kabar teman-temannya itu.


Susan menyalakan mesin sepeda motornya dan melaju dengan kecepatan sedang, menuju ke sebuah gedung di pusat kota.


*


Gedung sudah nampak ramai. Banyak wajah yang dikenal oleh Susan berada di sana. Dia tak sabar memarkir kendaraannya lalu turun berjalan masuk menunjukkan sebuah kartu.


"Silakan masuk," sapa ramah seorang panitia yang juga dari alumni sekolah. Namun, Susan bukanlah gadis yang banyak berteman. Jadi dia tak begitu mengenal siapa saja panitianya.

__ADS_1


"Baik, makasih."


"Hey, itu kan Susan," ujar salah satu rombongan teman sekelas Susan yang dulu kurang akrab juga.


Mereka mendatangi Susan dan bersalaman dengan baik. Mereka bercerita satu per satu tentang kehidupan yang wah, dari kuliah di luar negeri hingga melanjutkan perusahaan orang tua.


"Bagaimana denganmu, Susan?" tanya mereka melihat Susan hanya diam saja mendengar.


Baru saja Susan akan bicara, tiba-tiba Dion datang dengan membawa sebuah video yang memperlihatkan Susan menjajakan makanan dan minuman di dalam sebuah kotak.


Semua yang melihat menutup mulut dan memandang Susan dengan aneh. Ada yang iba, ada juga yang memandangnya hina.


"Kamu ... lulus sekolah hanya kerja seperti ini?" tanya salah seorang teman.


"Bukan ... aku hanya ...."


"Iya! Dia itu dulu kerja di rumah makan, lalu sekarang dia kerja menjajakan makanan seperti itu di jalanan! Masa kalian kurang percaya lihat video itu?" potong Dion.


Susan menghela napas. Akhirnya dia hanya tertawa melihat kelakuan semua orang yang meributkan soal itu.


"Dion ... Dion, kamu itu kerja di mana sih?" tanya Susan heran.


Semua orang memandang Susan yang sekarang berubah begitu berani bersuara.


"Aku?" tanya Dion menunjuk ke dirinya sendiri.


"Iya, kamu! Memangnya aku bicara dengan siapa??" ulang Susan menunjuk pada Dion.


"Heh, sebentar lagi aku kerja di perusahaan papaku!" ujar Dion pamer.


"Oh, jadi cuma nerusin Papa kamu? Apa kamu nggak bisa cari kerja sendiri?" Susan meletakkan kedua tangannya di pinggang.


"Eh, gini-gini ada warisan! Kamu? Kamu punya apa!" ujar Dion.


"Aku emang nggak punya apa-apa, tapi aku berusaha mencari jalan sendiri mencapai cita-citaku!" ujar Susan.


Dion tertawa terbahak. "Berapa ratus tahun lamanya dengan mengumpulkan recehan??"


Seketika suasana riuh membicarakan mereka berdua.


"Itu lebih baik dan mulia dari pada kamu yang cuma bisa menghina! Dasar Anak Mami!" umpat Susan sambil pergi meninggalkan lelaki yang mengerutkan dahi kesal padanya.


Susan berjalan ke parkiran sambil tersenyum. Dia tak perlu membicarakan apa yang telah dia capai. Hanya akan berusaha untuk hidupnya tanpa memikirkan apa yang orang lain kira terhadapnya.


Gadis itu melajukan sepeda motornya dari gedung dan kembali pulang ke rumah.


"Jika reuni itu hanya jadi ajang ngetop-ngetopan, aku menyingkir saja. Aku tidak selevel dengan mereka," gumam Susan.


Susan lebih suka menikmati jalan-jalan berkeliling di kotanya. Seminggu lagi, dia mulai pendidikan profesi. Tekadnya bulat untuk fokus saja dengan profesi demi masa depannya.

__ADS_1


******



__ADS_2