
Bianca mempersilakan chef Juno untuk menuju ke dapur yang telah dipersiapkan untuk belajar.
"Mari, Chef!" ajak Bianca.
Kimmy membungkuk hormat, lalu kembali ke kamar untuk mengawasi tuan kecil. Gadis itu sebenarnya ingin sekali ikut melihat apa yang bisa diajarkan oleh si chef tampan. Namun, tanggung jawabnya terhadap putra Bos Nona adalah yang utama.
Kimmy mulai duduk di karpet dan melipat baju-baju Kin seraya menunggui balita itu tidur.
*
"Nona siapkan bahan dulu seperti yang saya lakukan," perintah chef Juno.
Tek, tek ... tek, tek ... tek, tek ....
Kalem.
Bianca masih terbengong melihat kelincahan pria itu mengiris semua bahan masakan. Dia berlagak mengikuti kecepatan pria itu.
Tak, tak ... tak, tak ... tak, tak ....!
Bar-bar.
Alhasil, irisannya bukan tipis-tipis malah sebesar kerikil-kerikil.
Bianca meringis, malu melihat hasilnya.
"Wow, chef! Anda pro sekali! Sementara aku newbie parah!" ujarnya menutup rasa malu.
"Sabar, Nona Bianca. Nanti jika kita belajar setiap hari, pasti akan cepat bisa!" ujar chef Juno menyemangati.
Kita? Setiap hari?
Batin Bianca membayangkan dia akan setiap hari berada di dapur khusus itu dengan sang chef yang tampan rupawan. Aih!
Padahal rencana di otakku jadwalnya hanya seminggu dua kali, tapi kalau yang mengajari pria ini, setiap hari pun semangat!
"Nona ...."
Chef Juno melambaikan tangan di depan Bianca yang sedang melamun.
"Eh, i-iya."
Dengan kikuk Bianca melirik apa yang telah dipersiapkan chef itu lalu mengikutinya. Kali ini dia memfokuskan diri, agar tidak memalukan.
Selama satu setengah jam mereka berkutat di dalam dapur. Hari itu hasil masakan Bianca sudah ada rasa enaknya karena mengikuti tepat apa yang dicontohkan oleh chef Juno. Sejimpit ya dia ikut, ditabur ya ikut, pokoknya sama persis. Beda dengan belajar dari layar televisi, tak akan tahu persis berapa takaran semua bahan.
__ADS_1
"Nah, selamat Nona Bianca! Anda telah bisa membuat makanan yang sederhana. Ini catatan untuk hari ini!"
Chef Juno menyerahkan selembar catatan yang telah dibuat cantik, di atas kertas tebal berwarna coklat dihias dengan gambar-gambar kartun lucu tentang bahan yang diperlukan. Bianca mengamati isi kertas itu beserta hiasannya dengan sangat tertarik.
"Chef ini hebat ya? Bisa bikin orang itu tertarik untuk belajar memasak lagi dan lagi!" seru Bianca.
"Hehe, itu akan saya buat setiap hari hanya agar Nona mungkin mau membaca dan mengingat ulang acara hari ini, lalu menyimpannya kalau nanti sewaktu-waktu akan membuat masakan ini lagi. Pokoknya kalau takarannya pas dengan apa yang ada di catatan itu, pasti hasilnya enak!" tutur chef Juno mengerling.
"Ah, iya, Chef! Aku pasti menyimpannya!" seru Bianca bersemangat.
Pria itu kemudian berpamitan usai memberi pelajaran. Dia sedikit menggoda Kin saat digendong oleh Kimmy.
"Hai, manis!" ujarnya ke arah Kin, tanpa berani memegangnya karena takut jika ada aturan orang asing bagi bayi di rumah itu.
Kin melebarkan mulutnya, senang dengan pria itu. Begitu juga Kimmy. Dia merasa bahwa dia juga dipanggil manis. Memerah mukanya. Benar-benar jadi idola sementara.
Pria itu pamit dan pergi dengan mobil jeep berwarna hitam doff. Keren. Dia bukan hanya chef tapi juga seperti seorang petualang, tapi bukan acara jejak si gandul.
Chef itu kembali ke restorannya. Fakta dia memiliki sebuah restoran besar di kota.
"Ternyata aku harus setiap hari belajar masak dengannya, Kimmy!" ujar Bianca pada asistennya saat memandang mobil pria itu telah menjauh di depan rumah.
"Nggak jadi dua hari seminggu, Bos Nona?" tanya Kimmy sambil mengelus-elus punggung Kin dan menimangnya.
"Chef Juno-nya bilang setiap hari tadi."
Bianca tersenyum dan menggeleng.
Kimmy ikut tersenyum menanggapi wajah bos Nonanya yang sumringah bersemangat itu.
"Kenapa ... tidak, aku tidak akan jatuh cinta lagi, Kimmy! Sebagai istri, aku sudah sangat bersyukur memiliki Key sebagai suamiku. Seperti apapun dia, adalah yang terbaik. Kamu itu yang single, Chef Juno itu baik lho, Kimmy! Dia kayaknya masih lajang juga sepertimu!"
Bagai ada ide perjodohan, Bianca mengerling menggoda pada gadis itu. Wajah Kimmy yang baru saja tersenyum, bukan memerah tapi malah memucat. Auto terhenti senyumannya. Dia sadar bukan single lagi.
"Kenapa Kimmy wajahnya berubah gitu? Apa tidak suka? Aku bercanda, Kimmy!" tawa Bianca.
Kimmy menyunggingkan senyumnya, "Bukan kok, Bos Nona! Saya suka."
"Kalo gitu, besok chef Juno datang, kamu sambut, ya? Ikut saja ke dapur dengan Kin! Aku tahu kamu pengen lihat cara dia memasak juga, kan? Keren, lho! Kali aja kalian berjodoh!"
Kimmy meneguk ludahnya yang terasa kering. Namun, dia tetap harus berdrama.
"Eh, iya, Bos Nona. Besok saya akan nonton."
Kedua perempuan itu kemudian masuk ke ruang tengah, bermain kembali dengan Kin, sebelum sore tiba.
__ADS_1
"Eh, kamu belum cerita apa saja yang kamu lakukan selama liburan di kampung, Kimmy! Pasti seru, ya?" tanya Bianca seraya meraih gelas jusnya.
Wanita itu menyeruput jus melon sambil mengangkat alis, ingin mendengar cerita Kimmy.
Bola mata Kimmy bergerak ke kanan dan ke kiri sambil mulutnya tersenyum, kecut.
"Biasa, aja, Bos Nona. Tak ada yang bisa diceritakan," tutur Kimmy akhirnya.
Bianca mengerutkan dahi, meminta kebenaran tuturan Kimmy itu.
"Bukankah kamu selalu bilang kalau merindukan keluarga?" selidik Bianca.
"I-iya, Bos Nona, tapi saya tak sempat kemana-mana."
"Oh, kasihan. Kalau begitu, aku beri waktu lagi untuk pulang ke desa, gimana? Satu tahun kamu tidak pulang, masa hanya libur seminggu saja?" tawar Bianca sambil menaruh gelas berisi jus yang telah berkurang separuhnya.
"Ng-nggak usah, Bos Nona!"
"Tak usah sungkan, kalau begitu, aku beri waktu libur di hari Minggu. Kamu bisa pulang setiap Sabtu sore, saat itu aku selalu pulang ke rumah Mama," ujar Bianca tersenyum.
"Nggak ... emm, iya, makasih, Bos Nona."
Kimmy terpaksa mengiyakan agar Bos Nonanya tak curiga. Sekarang dia bingung harus pulang kemana setiap Sabtu sore hingga Minggu sore.
*
Sore itu, Key pulang bersama Felix dan juga Pak Anton. Mereka pulang agak awal karena Key ada acara pertemuan dengan keluarga koleganya.
"Sayang, coba masakanku dengan chef tadi!" rayu Bianca menggelayut lengan pria itu.
"Baik, tadi gimana belajar memasaknya?" tanya Key.
Dia duduk di ruang makan, mencicipi masakan Bianca. Meski tadi, dia mengajak Pak Anton dan Felix untuk makan di sebuah restoran setelah kunjungan ke pabrik.
"Enak!" Kali ini wajah Key berbinar. Berarti makanan itu sungguhan enak.
"Ah! Aku makin bersemangat untuk belajar, Sayang! Besok aku tambah jadwal belajarnya, ya? Seminggu enam kali!" lontarnya.
Key meliriknya.
Bersemangat sekali? Tadinya seminggu dua kali, sekarang setiap hari? Mungkin dia baru semangat bisa memasak. Sudah lah, tak apa, asal dia senang!
"Boleh ...." jawab Key.
******
__ADS_1
Stop plagiarisme!
Melanggar hak cipta orang lain masuk dalam UU nomor 19 tahun 2002 pasal 72 ayat (1) yang berisi hukum pidana maksimal 7 tahun dan denda maksimal 5 Miliar Rupiah.