Cintai Aku!

Cintai Aku!
Cincin


__ADS_3

Enam bulan kemudian.


Yoshua menghitung jumlah uang yang dia dapat selama enam bulan setelah pertemuannya dengan Susan. Dia bergegas melangkah ke sebuah toko perhiasan. Menimbang-nimbang dengan bertanya pada seorang penjaga toko.


"Mbak, cincin itu yang bermata putih itu berapa gram?" Yoshua menunjuk sebuah cincin dengan ukiran indah di dalam etalase.


"Yang ini, Mas?"


Yoshua mengangguk.


"Empat gram, Mas. Gramnya sesuai dengan tulisan di setiap cincin."


Sang pelayan toko menjelaskan pada lelaki yang sepertinya baru pertama kali membeli cincin itu. Dia pun menyebutkan harganya. Yoshua terbelalak mendengar harganya. Butuh waktu enam bulan lagi untuk mengumpulkan uang jika ingin cincin empat gram itu.


"Aku cuma punya uang segini, Mbak. Tolong pilihkan yang mana saja."


Yoshua menyodorkan uang yang dia kumpulkan. Si pelayan toko menghitung uang itu lalu melongok ke etalase dan mengambil sebuah cincin tanpa mata dengan gram yang lebih kecil.


"Ini, Mas. Atau yang di dalam tapi gramnya sebesar ini."


"Kalo diberikan ke perempuan, pantas ya, Mbak?" tanya Yoshua polos. Lelaki memang sering tak mengetahui hal itu.


"Pantas kok, Mas. Asal si perempuan nggak menuntut harus berapa-berapa gram. Buat pacarnya ya, Mas?"


Wajah Yoshua merona. Dia yakin Susan bukan seorang yang suka menuntut macam-macam.


"Ya udah, Mbak. Aku beli yang itu."


"Baik, Mas."


Yoshua membawa cincin itu pulang. Dia mengamatinya di rumah. Cincin pertama yang dia beli untuk seorang gadis.


"Susan, ini cincin hadiah dariku."


"Sue, aku mencintaimu, haha!"


Yoshua berbaring sambil mempraktekkan cara memberikan ke Susan. Sesekali tertawa karena menyadari kekonyolannya. Di dalam kamar dia memang lancar mengatakannya. Namun, di hadapan Susan, semua kata itu akan buyar.


Bu Anna mendekatkan telinganya ke pintu dan mengulum senyum mendengar suara Yoshua di dalam.


***


"Susan!"


Gadis itu menoleh. Dia baru saja menutup pintu ruangannya. Berpindah tugas ke rumah sakit swasta dengan fasilitas yang cukup memadai.


Wajahnya datar saat melihat siapa yang datang. Tak menyangka lelaki itu tahu bahwa dia telah bekerja di rumah sakit ini.


"Kenapa, Pak manager perusahaan nomor seratus—"


"... delapan!" sambung Dion bangga gadis itu menyebutnya manager.

__ADS_1


"Di mana pun kamu berpindah, aku akan tahu, dan dengan mudah aku menemukan ruanganmu!"


Susan berdecak. Dia melipat tangan dan menggelengkan kepala.


"Lho, kenapa membuntutiku, sih?" tanya Susan. Dia kesal sekali mengingat tentang pemukulan yang terjadi di warung waktu itu. Dikiranya Susan akan lupa? Tentu tidak.


"Mm ... Mamaku sakit dan dia minta agar kamu yang mengobatinya. Please, Susan. Dia mengigau nama kamu ... Dia tak mau diobati oleh dokter mana pun. Dia hanya bilang dokter Susan calon menantuku ...."


Susan terbelalak. Sebenarnya dia sangat malas, tapi seorang dokter tak boleh mengabaikan pasien. Pikiran itu beradu dalam kepalanya.


"Please, Susan."


Wajah Dion memelas. Dia sangat mengharapkan Susan untuk mengabulkan permintaannya.


Susan berpikir sejenak. Akhirnya dia menganggukkan kepalanya.


"Baiklah."


Dion menyeringai senang. Berhasil juga dia mengajak Susan untuk ke rumahnya.


"Aku bawa motor," sahut Susan saat Dion akan membukakan pintu mobilnya.


Dion mengerutkan dahi, memutuskan untuk mengalah daripada Susan tak jadi mengikutinya.


"Ikuti mobilku," ajak Dion.


"Iya!" sahut Susan.


***


"Ini benar, Pak? Alamatnya ini?"


Yoshua kembali menunjukkan selembar kertas pada sopir taksi.


"Iya, Mas. Yang depan itu kan rumahnya?"


Yoshua melongo melihatnya. Dia menelan salivanya yang seketika mengering. Dia turun dengan perlahan dan tak menyadari bahwa taksi telah meninggalkannya sendiri di depan pos satpam.


"Pak, itu benar rumahnya Pak Anton? Dokter Susan?" tanya Yoshua hati-hati pada satpam.


"Iya, Anda siapa? Bisa tunjukkan kartu?"


"Kartu? Kartu apa ya, Pak?"


Yoshua nampak bingung. Dia tak tahu prosedur memasuki kawasan elit itu.


"Kartu tamu. Jika berkunjung, peraturan baru harus menunjukkan kartu digital dari pemilik rumah."


Yoshua merasa lemas. Menggeleng dengan pasrah.


"Nggak ada, Pak."

__ADS_1


"Silakan pergi dari sini. Mohon maaf kami tak bisa menerima tamu yang tak bisa menunjukkan kartu tamu."


"Baiklah, Pak. Makasih ...." Yoshua berbalik dengan lemas. Dia telah mengumpulkan keberanian untuk memberikan cincin pada Susan dengan mendatangi rumahnya, tapi ternyata tak semudah yang dia bayangkan. Untuk masuk ke gerbang rumahnya pun tak segampang membalikkan telapak tangan.


"Tunggu, Mas! Anda bisa mengisi daftar buku tamu sesuai identitas."


Yoshua berbalik lagi. Dia menurut untuk mengisi buku itu. Saat mengisi buku, mobil Key lewat depan dan satpam membukakan portal.


"Itu kakak Nona Susan. Tuan Key," ujar satpam.


"Tolong, biarkan aku bicara padanya, sebentar saja!" teriak Yoshua dari pos satpam.


Satpam belum menjawab, Yoshua telah berlari mendekati mobil yang pelan-pelan masuk itu.


"Tuan! Tuan Key! Tunggu!" Dengan mengumpulkan keberaniannya, Yoshua mengejar mobil itu.


Felix menurunkan kaca mobil dan menatap tajam ke arah Yoshua.


"Tuan Key," ucap Yoshua tercekat melihat garangnya Felix.


"Saya Yoshua. Saya ingin bertemu dengan Susan, adik Anda. Ijinkan saya sebentar saja menemuinya untuk mengatakan sesuatu. Saya tidak berbahaya. Anda boleh memeriksa saya dulu."


Yoshua membungkuk sopan Felix yang tadinya menatap tajam lelaki muda itu dari belakang kemudi keluar dari mobil berdiri di depan Yoshua.


"Sayang sekali, aku bukan Tuan Key," ujarnya.


Yoshua mengangkat tubuhnya dengan cepat, menyadari kekeliruannya.


"Aku asisten Tuan Key. Namun jika anda mau menemui Nona Susan, Nona Susan belum juga pulang."


Yoshua terlupa akan rasa malunya saat mendengar Susan belum pulang juga petang itu. Bahkan dia telah ke rumah sakit tadi dan tak menemukan Susan di tempat biasa.


"Belum pulang?" tanya Yoshua melebarkan mata.


"Iya."


"Pak asisten, saya akan mencarinya!"


"Eh ..." Terlalu cepat Yoshua berlari hingga Felix tak mampu menghentikannya.


"Putar balik, Felix! Kita cari Susan."


Key menyuruh Felix dari dalam mobilnya. Felix pun patuh dan memutar balik mobil. Dilihatnya sosok Yoshua sudah tak ada lagi di depan.


Yoshua menepuk punggung seorang pria tukang ojek yang dia temui di ujung gang.


"Pak, antar saya ke rumah sakit swasta di jalan X, ya!"


"Siap, Mas!"


Ojek melaju ke rumah sakit yang dimaksud oleh Yoshua. Sedangkan mobil masih berjalan lambat diantara beberapa mobil yang berbaris di jalanan.

__ADS_1


******



__ADS_2