Cintai Aku!

Cintai Aku!
Pulang ke Rumah


__ADS_3

Suara tangis bayi terdengar di sebuah rumah. Ibunya bergegas menyusui sang bayi. Seketika dia terdiam dan dengan terburu menghisap air susu ibunya.


"Dia lapar sekali, Dek!" celetuk Felix saat melihat anaknya yang sangat rakus menghisap.


"Iya, padahal satu jam yang lalu dia sudah minum," jawab Kimmy tersenyum.


"Kenapa ya aku jadi ingin minum?" ujar Felix lagi.


"Ya minum lah, Mas. 'Kan udah kusiapkan teh hangat di atas meja?" sahut Kimmy sambil mengelus lembut pantat bayinya.


"Bukan minum teh, tapi ...."


"Tapi apa? Kopi?"


Felix menggeleng.


"Jus?"


Kembali pria itu menggeleng.


"Susu?"


Felix mengangguk cepat dan menyeringai.


"Ya ada 'kan, susu tawar di lemari es ...." ujar Felix lagi.


Felix menggelengkan kepala lagi. Sudah tahu istrinya suka lemot, masih main teka-teki.


"Susu apa yang dimaksud? Coklat?" tanya Kimmy lagi.


"Bukan ... Itu, seperti yang Lingga minum," ujar Felix.


"Hah?" Mulut Kimmy menganga, melihat gundukan satunya yang menganggur.


Kimmy menggelengkan kepalanya. "Mas ini gimana, 'kan Mas boleh minum apa saja di lemari es, nah Lingga kan nggak boleh. Cuma boleh minum ASI? Kenapa juga mau diicipin ...." gerutu Kimmy.


Felix mengerucutkan bibirnya.


"Jadi, aku tidak bisa ya minum sedikit saja?" tanya Felix menunjukkan jari telunjuk dan ibu jari yang direnggangkan sedikit.


"Oh, bisa. Tuh di lemari es ada satu kantong ASI, tadi abis kupompa! Boleh diminum yang itu, bisa ditambahin es batu, apa kasih sirop Mrajan sama kasih kelapa muda!" Wajah Kimmy berbinar saat menjelaskan dan membayangkan minuman segar yang dijual babang gerobak di pinggir jalan.


Felix mendengkus.


"Tak jadi lah, lupakan."


"Ugh, gimana sih?" gerutu Kimmy.


Pria itu kembali membuka korannya di depan televisi.


"Kan aku maunya dari wadahnya langsung, malah suruh bikin es campur...." gumamnya pelan.


*


"Permisi!"


Beberapa tetangga telah berdiri di depan pintu. Sebagian dari mereka membawa kado.


Felix beranjak dari duduknya dan membukakan pintu rumah.


"Eh, Ibu-ibu. Mari masuk!" ajak Felix.

__ADS_1


"Iya, Pak Felix ..."


Keempatnya masuk dan duduk di kursi tamu. Memandangi rumah Felix yang cukup luas, sementara rumah mereka tak sebesar itu. Sementara Felix memanggil Kimmy.


"Wah, rumah seratus dua puluh memang besar ya?"


"Iya, Pak Felix sama Mbak Kimmy senang nih tinggal di rumah sebesar ini. Lah aku? Anakku empat, rumahku type dua satu. Mana kalo tidur harus gelar karpet di depan televisi, lagi!" keluh satu ibu.


"Eh, bersyukurlah Bu, bisa punya rumah. Nggak kehujanan, nggak kepanasan!" ujar ibu satunya.


"Iya juga, ya?" si ibu tadi menggaruk kepalanya, membenarkan kata-kata tetangganya.


"Eh, Bu ibu!" sambut Kimmy datang ke ruang tamu menggendong baby Lingga.


"Waah, adeknya lucu!" seru mereka.


"Lahirnya normal, Mbak Kimmy?"


"Iya, Bu Desi."


"Berat bayinya berapa, Mbak Kimmy?"


"Tiga kilo, Bu Dedi."


"Wah, cukup besar, ya? Sehat-sehat ya, Mbak Kimmy?"


Obrolan berlangsung. Begitulah, beberapa hari itu para tetangga berdatangan. Bu Amy pun setiap dua hari sekali akan selalu datang membantu Kimmy untuk mengasuh cucunya.


"Kenapa ibu-ibu itu memanggilku 'Pak', sementara memanggilmu 'Mbak', Dek? Apa mereka menyangsikan pernikahan kita?" sungut Felix.


"Eh, iya juga, ya?" sahut Kimmy. "Mm ... Mungkin panggilnya berdasarkan wajah, Mas!" lanjut Kimmy tertawa.


Felix memutar bola matanya mendengar Kimmy tergelak. Dia mendekati baby Lingga dan menciuminya.


"Iya, Dek Kim Lo, kalian pun prioritasku!" sahut Felix berbalik dan memeluk istrinya. Baru saja mereka akan menempelkan bibir, terperanjat saat terdengar lagi suara bel rumah.


"Begitulah, banyak yang berkunjung, Mas."


"Iya, Dek. Bersyukur ...." sahut Felix tersenyum.


Tak lama setelah pintu dibuka, ternyata Pak Luki dan Bu Amy telah berada di depan rumah. Disusul rombongan tetangga Kimmy dari desa. Kali ini mereka menaiki sebuah bis kecil yang ramah. Sopir memarkir bis di depan perumahan.


"Mas Felix! Tambah ganteng saja!"


"Mbak Kimmy! Sehat, 'kan?"


"Wah, bau kota ya?"


Para bapak, ibu dan anak-anak mulai memasuki rumah. Sekitar tiga puluhan orang itu memenuhi ruangan. Mereka langsung menganggap rumah itu adalah rumah mereka sendiri. Betapa ramainya celotehan mereka. Tentang rumah, tentang hawa panas, tentang perabotan yang lumayan mahal menurut mereka. Biasanya duduk di kursi rotan, sekarang duduk di sofa.


Semua langsung mengerubuti Kimmy saat dia membawa baby Lingga ke ruang tamu.


"Namanya siapa, Kim?" tanya Pak Bagio, tetangga Kimmy yang sering dipanggil pakde.


"Lingga, Pakde. Lingga Abbas Hartono," jawab Kimmy.


"Wah, nama yang bagus! Semoga mewujudkan harapan orang tuanya, ya!" doa Pak Bagio.


Semua mengamini.


"Lucu ya adeknya? Ini nggak dibedong, Mbak Kimmy?"

__ADS_1


"Kata dokter, nggak perlu dibedong."


"Nanti belok kakinya?"


"Ah, nggak. Kaki bayi lahir memang seperti itu. Kata dokter, besok kalau besar akan lurus dengan sendirinya, seiring waktu," jelas Kimmy.


"Ooh ...." Para ibu mengangguk-angguk seperti mendapatkan penyuluhan posyandu.


Mereka meletakkan ketela, kacang, dan sayur yang segar di belakang rumah. Semua masih mentah.


Felix telah terbiasa dengan para tetangga itu. Dia memesankan pizza dan ayam goreng untuk mereka.


"Waah ... Pitsa!!" jerit beberapa anak.


"Pitsanya mulur-mulur!"


"Iya! Ada Kola-kola juga lho!" ujar Kimmy sambil mengeluarkan beberapa botol minuman soda warna coklat.


"Wuaaah!"


Anak-anak itu kegirangan. Begitu pula orang tua mereka.


"Mbak Kimmy, apa ndak ada nasi?" tanya seorang tetangga lagi.


"Eh, iya bentar lauknya kusiapkan dulu, Pakde!" ujar Kimmy. Dia terbiasa memanggil para bapak di kampung dengan pakde.


"Ndak usah! Pakde lauk pitsa aja, sini nasinya," tukas pria paruh baya itu mengambil piring dan diisi nasi kemudian mencomot satu potong pizza sosis.


Felix melongo melihatnya dan menepuk jidat.


"Karbohidrat plus karbohidrat ...." gumamnya pelan.


*


Sementara itu, di rumah mewah.


"Celine Santika Bajra dan Celena Santika Bajra," kata Bianca saat tiba di rumah berbincang dengan semua anggota keluarga saat mereka berkumpul bersama.


"Bagus ... Selalu nama yang bermakna," ujar Kakek yang telah tiba juga di rumah mereka.


"Dedek Kin dua?" tanya lelaki kecil sambil sibuk menghitung dengan jari tangannya.


"Iya ...." jawab Nenek.


"Kin catu, nek uyut catu," sahut balita itu ingin berbagi, menggemaskan.


"Itu adeknya Kin semua ...." gelak sang nenek buyut.


Mama Sinta menggendong Celine. Celine memiliki tahi lalat di paha kirinya, sementara Celena tidak ada. Sedangkan mereka kembar identik.


Para pelayan bersuka cita mempersiapkan segala sesuatunya, membantu sang Nona.


"Wah wah ... Kalau kumpul begini terus seru, ya?" ujar Key menggendong Celena. Pria itu sudah berani sekarang untuk menggendong bayi newborn.


"Jadi?" tanya Bianca menyelidik ucapan Key menjurus kemana.


"Jadi ... bikin anak lagi!" gelaknya.


******


Stop plagiarisme!

__ADS_1


Melanggar hak cipta orang lain masuk dalam UU nomor 19 tahun 2002 pasal 72 ayat (1) yang berisi hukum pidana maksimal 7 tahun dan denda maksimal 5 Miliar Rupiah.


__ADS_2