
"Ayo ... ayo!" seru semua orang yang berkumpul di rumah Pak Luki. Para wanita menyibakkan gamis setinggi-tingginya lalu naik dengan perkasa ke atas bak pick-up.
Felix menutup matanya saat para wanita itu naik satu per satu.
"Oh, mata suciku jangan sampai ternodai ...." gumamnya.
Semua telah naik ke mobil. Pak Luki, Bu Amy dan Kimmy naik ke mobil Felix, sementara Vita dan kedua adiknya ikut naik di pick-up.
"Berangkaaaattt ...."
"Tulung jogoen bojomu kuwi
ojo nganti ucul neng ngendi ngendi
ojo sampek ketemu ro aku
ben ra ciloko uripmu ...."
Lagu dangdut Happy Asmara meriah dinyanyikan oleh ibu-ibu di atas pick-up mengiringi keberangkatan mereka.
Felix hanya bisa pasrah mengemudi di belakang mereka. Para tetangga itu sudah menyiapkan tikar, koran bekas, termos, rantang sayur, serta beberapa kardus besar berisi roti kering, tape ketan, wajik, dan kacang. Paket komplit pokoknya.
Sempat terlihat ada yang membawa selimut, membuat jantung Felix kembali berdegup kencang. Kuatir.
Apakah jangan-jangan mereka akan bermalam?
Felix mengelus dadanya agar tenang.
Tiga mobil itu beriringan menuju ke jalan raya. Mereka mempersilakan mobil Felix berada di depan sebagai penunjuk jalan.
Selama perjalanan, Felix hanya terdiam. Kadang menjawab singkat pertanyaan-pertanyaan dari Pak Luki dan Bu Amy. Dia sungguh pusing membayangkan acara malam nanti.
Malam itu tak ada polisi yang berjaga. Mereka akan aman sepanjang jalan. Felix yakin jika ada seorang polisi menghentikan, mereka akan menang ngeyel. The power of emak-emak.
Celoteh-celoteh para tetangga sungguh meramaikan suasana. Mereka laksana tamasya malam.
Kadang tertawa, kadang terbengong melihat gedung pencakar langit dan suasana malam yang menakjubkan sepanjang jalan di kota.
"Nak, itu emol!" jerit si ibu.
"Emol kok besar, Mak?"
"Ya besar, kalo kecil namanya emil!"
Suara tawa membahana memenuhi jalan. Begitu heboh. Tak jarang banyak pesepeda motor menatap heran pada mereka.
Sesampainya di halaman apartemen, satpam langsung berdiri melihat mobil Felix masuk. Dia menghentikan dua mobil pick-up di belakangnya dengan menurunkan portal.
Saat satpam akan mendekati sopir pick-up, Felix turun dan menjelaskan pada satpam.
__ADS_1
"Pak satpam, mereka itu saudara-saudaraku, biarkan mereka masuk!" bisiknya pelan.
"Oh, iya, iya, Tuan Felix!" ujar satpam itu patuh lalu membuka portal kembali.
"Waahh ... bagus banget tempatnya! Mbak Kimmy dapat holang kayah!!" celetuk mereka.
Para tetangga turun di depan apartemen. Mereka mengedarkan pandang ke seluruh gedung itu, hingga tak ada yang berbicara. Speechless.
"Gimana, mereka mau ditaruh di mana??" tanya Felix pada Kimmy.
Kimmy menghela napas.
"Aku bilang dulu sama Mama," ujarnya.
Nampak Kimmy sedang berbicara pada ibunya, menjelaskan bahwa ruangan apartemen tak akan cukup untuk empat puluhan orang itu.
Bu Amy mengangguk-angguk, lalu mendekat ke para tetangga. Felix agak lega ketika mereka sepertinya paham dengan keadaan itu. Tak enak juga membawa mereka tapi ruangan tak cukup. Mau bagaimana lagi?
Tanpa disangka, mereka berjalan membawa tikar dan berbagai bekal yang dibawa tadi ke arah taman.
Blaik!
Mereka menggelar tikar di atas rerumputan hijau, lalu menata dan membuka semua bekal. Berbincang dengan suasana temaram nan syahdu di bawah sinar rembulan.
Felix sungguh merasa takjub dengan orang-orang itu. Mereka tak mengeluh, semua dinikmati, meski menggelar tikar di taman yang dingin sekalipun. Sepertinya mereka memang menganut asas kebersamaan.
Keluarga Kimmy berjalan masuk ke ruang apartemen Felix. Para tetangga bilang tak masalah, mereka berasa piknik di taman. Ramai sekali.
Entah apa yang ada di pikiran para tetangga apartemen Felix. Felix sekarang sungguh tak perduli.
Pak Luki, Bu Amy serta ketiga adik Kimmy membantu membawakan tas Kimmy. Tas motif bunga-bunga dan yang satu berwarna pink lusuh. Tas khas gadis itu.
Mereka masuk dan duduk di dalam. Beberapa tetangga pun ada yang ikut masuk ke ruangan apartemen. Bergantian dengan yang di taman.
Berasa nengok orang di rumah sakit!
Malam itu mereka bersuka ria di kawasan apartemen. Sekitar dua jam, para tetangga menghabiskan waktu di taman dengan makan, minum, merokok dengan bau campuran tembakau dan kemenyan, bahkan rebahan. Segala macam minuman hangat tersedia. Dari yang susu, teh, jeruk, jahe, dan kopi. Pak satpam pun ikut kebagian secangkir kopi dan sepiring kecil ketela goreng yang sudah dingin.
Setelah puas berada di tempat itu. Dengan kompak, mereka mengemasi barang-barang yang digelar.
Akhirnya mereka berpamitan pulang pada Felix dan Kimmy.
Begitu juga keluarga Kimmy. Gadis itu sempat menangis begitu tau akan ditinggal.
"Kimmy, kamu kan udah nikah ... kalo akhir pekan, kalian kan bisa pulang ke desa?" ujar Bu Amy menenangkan.
Bukan gitu, Ma. Aku takut tinggal berdua dengan pria ini! Nanti aku diapa-apain ....
Kimmy hanya bisa mengangguk. Bu Amy mencium pipi kanan kirinya. Gadis itu pun mengerucutkan bibir melihat kepergian keluarga dan para tetangga.
__ADS_1
Mobil pick-up yang salah satunya bertuliskan 'Bojomu Semangatku' itu mulai meninggalkan halaman apartemen. Tinggallah Felix dan Kimmy dengan tinggalan orang-orang yang baru saja berada di situ. Kardus makanan berisi campur-campur, air mineral kemasan, dan berbagai keripik.
Mereka berdua terpaku melihat semua itu.
Felix merasa lega karena acara absurd itu telah terlewati.
"Bos, biar aku mengemasi semua barang ini," ujarnya.
Felix hanya menghela napas. Kelegaan itu menghilang lagi melihat gadis yang selama ini dia bilang aneh sudah berada satu ruang apartemen dengannya.
"Ya," jawab Felix akhirnya.
"Bos, nanti aku tidur di mana?" tanya Kimmy takut.
"Kamu tidur di dalam kamar!"
"Bos jangan macam-macam, ya? Meski kemarin aku sempat mengagumi senyummu, tapi aku tak mau kamu apa-apakan!" seru Kimmy mengacungkan telunjuknya.
"Siapa yang mau sekamar denganmu! Aku tidur di sofa ruang ini saja! Aneh! Atau jangan-jangan kamu berharap satu tempat tidur denganku??" serang Felix balik, menurunkan sandaran sofa menjadi tempat tidur.
"Tentu tidak!" sahut Kimmy.
"Kata orang, kalau lelaki dan perempuan berada dalam satu kamar, maka yang ketiga setan," ujar Felix.
"Modus! Bos mau menakutiku biar aku memintamu untuk menemaniku di kamar, kan? Aku tidak takut!"
"Eh, bukan gitu ya? Maksudku tidur di ruangan lain agar tak ada setan menggoda!"
Mereka melipat tangan di dada dan saling membuang muka.
"Ingat ya, kamu harus mengaku sebagai sepupuku di apartemen ini!"
Sebelum dijawab oleh Kimmy, Felix meninggalkannya ke kamar. Tak lama dia telah berganti dengan piyama, membawa selimut lalu berbaring di sofa bed.
Kimmy melanjutkan beberesnya, lalu masuk ke kamar. Setelah sepuluh menit tiba-tiba semua gelap. Ternyata listrik padam.
"Bos! Bos!"
Kimmy keluar dari kamar tergopoh-gopoh dalam kegelapan mencari Felix. Tangan gadis itu dingin. Pria itu mendengus.
"Kenapa?" tanya Felix.
"Aku takut gelap di kamarmu!"
"Modus!" sungut Felix.
******
Stop plagiarisme!
__ADS_1
Melanggar hak cipta orang lain masuk dalam UU nomor 19 tahun 2002 pasal 72 ayat (1) yang berisi hukum pidana maksimal 7 tahun dan denda maksimal 5 Miliar Rupiah.