Cintai Aku!

Cintai Aku!
Cari Rumah Baru


__ADS_3

Setelah drama penggenjotan becak oleh Key dilakukan dengan pelan dan sesekali seolah akan terguling dan ditonton oleh orang banyak, hingga masuk ke berita infotainment, mereka pulang kembali ke rumah dengan wajah puas Bianca.


"Asal kamu puas, aku bahagia, Sayang."


Bianca menyender ke bahu Key.


"Kamu memang suami yang baik dan pengertian, Sayang!" pujinya.


Ya ... demi biar anakku tidak ngeces!


Key memacu mobilnya yang berisi istri rempong kesayangan, mertuanya serta anak mungilnya yang sedang tertidur di jok belakang mengulum jempol.


Di belakang ada mobil Kakek dan nenek berisi Pak Anton, Kimmy dan Felix sebagai sopirnya.


Mereka tiba di rumah petang itu. Kakek dan nenek memutuskan untuk pulang esok hari.


*


Kamar terasa panas saat Felix dan Kimmy berdua di dalam kamar sedang menuntaskan hasrat mereka.


Bertukar saliva, dengan remasan tangan nakal di dua bulatan menantang yang menempel di dada Kimmy. Semakin lama semakin membuat hawa kamar menjadi panas.


"Apa akan sakit si dedek?" tanya Felix saat ingin menghunuskan pedang tumpulnya ke lembah bersemak.


"Nggak, Mas ...."


Felix tersenyum senang. Tiga bulan ini dia menahan rasa kebeletnya. Sampai saat keinginan itu datang, dia memilih untuk masuk ke kamar mandi, mencari sabun.


Bukan ... bukan yang seperti kalian pikirkan. Dia hanya mandi sampai kesat.


Felix mulai memasukkan pedang bertuahnya ke dalam goa sempit tertutup akar gantung yang lebat itu hingga berbunyi desahan dan lenguhan, sampai keduanya mengeluarkan lava kental putih tanda pelepasan.


Sementara di kamar sebelah ....


"Sayang, jangan cium-cium, aku mual ...." ujar Bianca mendorong mulut Key.


"Apa tidak boleh menengok bibitku di situ?" tanya Key mengerucutkan bibir.


"Tunggu ya, Sayang. Aku masih lemes ...."


Bianca merebahkan tubuhnya, membiarkan baju tidurnya terbuka dengan dada yang terbuka, menantang.


Wanita ini ... tak mau ya sudah, tapi jangan mengundang si kuncung ini berdiri!


Key membatin geram. Namun, mencoba maklum atas keadaan istrinya itu. Ibu hamil memang punya mood yang berubah-ubah.


Pria itu berjalan keluar untuk sekedar meminum air dingin dari kulkas. Dia melewati kamar Kimmy dan Felix. Terdengar suara-suara misterius yang membuat rasa penasaran Key muncul. Dia mendekatkan telinga ke pintu dan suara itu lamat-lamat lebih terdengar.


"Aah ... kejepit!" ujar Felix saat mengambil piyama dari dalam lemari setelah mereka selesai bergulat di atas ranjang.


"Hati-hati, Mas ...." sahut Kimmy yang sedang berbaring di atas ranjang.


Suara erangan Felix yang kesakitan terjepit lemari itulah yang didengar oleh Key.


"Huft! Kejepit?? Felix saja sudah bertempur! Kenapa aku belum?"


Key mendecih lalu berjalan kembali melanjutkan langkah ke dapur untuk membasahi kerongkongannya yang kering.


"Dek, nampaknya kita perlu pindah rumah. Apartemen kita terlalu sempit jika nanti ada makhluk kecil keluar dari perutmu ini," ujar Felix saat duduk di sebelah Kimmy di atas ranjang.


"Mas punya uang? Aku cuma punya sedikit tabungan ...." keluh Kimmy.


Felix terbahak mendengar kepolosan Kimmy. Dia merasa bertanggung jawab atas kenyamanan istrinya itu, hingga berpikir untuk membelikannya sebuah rumah sederhana tapi nyaman di kota, mengingat apartemennya pun terbatas ruangannya.

__ADS_1


Memiliki rumah sendiri lebih tenang daripada menyewa sebuah apartemen, kan?


Itu yang ada di pikiran Felix. Sekarang dia tak hanya memikirkan dirinya sendiri tapi dia pun memikirkan istri dan calon anaknya.


Kalau tidak sekarang, kapan lagi? Mumpung aku punya uang untuk membeli rumah.


"Kamu tenang ya, Dek. Tugasmu hanya menjaga calon bayi ini di dalam perut. Andaikan kamu mau resign ...."


Ucapan Felix terpotong oleh Kimmy.


"... tapi Bos Nona ingin aku membantunya, lagian aku masih ingin membantu biaya sekolah adik-adikku, Mas."


Kimmy mengatakan hal itu seperti memohon. Felix mendesah, tak ada yang bisa dilakukan selain menuruti keinginan Kimmy.


"Ya sudah, tapi aku mohon jangan kecapekan ya, Dek?" Felix mengelus kepala Kimmy dengan lembut.


"Iya, Mas!" sahut Kimmy gembira.


*


Akhir pekan, Felix mengajak Kimmy untuk jalan-jalan sambil mencari rumah yang dijual.


Setelah mengitari kota dan mengamati banyak rumah kosong yang dijual, sebuah rumah mungil di dekat pusat kota, menarik perhatian Felix.


"Gimana menurutmu, Dek Kim?" tanya Felix saat mereka melihat rumah itu.


"Bagus luarnya, Mas."


"Sebentar, aku catat dulu nomor ponsel pemiliknya," ujar Felix.


"Mau nelepon siapa, Mas ganteng?" tanya seorang wanita paruh baya yang tiba-tiba berada di sebelah Felix.


"Welah! Kaget! Eh ... ini Bu, mau menelpon si pemilik rumah ini, mau tanya-tanya harga rumah," jawab Felix.


Kimmy merengut mendengar panggilan-panggilan si ibu itu untuk suaminya.


"Maaf, Bu. Saya punya istri," sahut Felix menyadari kekesalan Kimmy.


"Oalah! Maaf, saya kira ini adeknya! Lah, tampangnya jauh gitu!" sahut si ibu tanpa rasa bersalah walau minta maaf.


Sekarang Felix yang melengos.


"Ibu pemilik rumah ini?" tanya Felix.


"Bukan Mas Gan ... Juragan maksud saya!" ralat si ibu cengar-cengir pada Kimmy.


"Lho, kok nomornya ibu?" tanya Kimmy heran.


"Nah, saya Herlina, tetangga belakang rumah ini. Pemilik rumah ini menitipkan pada saya segala urusan yang berhubungan dengan rumah ini. Pas saya lihat kalian mengamati rumah," jawab ibu itu tersenyum.


"Oooh .... Saya Felix dan ini istri saya, Kimmy," ujar Felix memperkenalkan diri.


Bu Herlina mengangguk dan tersenyum. Satu tahi lalat yang menarik perhatian di atas bibirnya.


"Kalian mau beli? Mari lihat-lihat dulu dalamnya!" ajak si ibu.


Mereka mengangguk setuju.


Bu Herlina membukakan pintu. Sepertinya kunci memang dia bawa kemana-mana. Sudah siap sedia.


Memasuki ruangan berukuran tiga kali empat meter dengan keramik putih yang bersih, Kimmy sudah menyukainya.


"Ini ruang tamu bisa," terang Bu Herlina.

__ADS_1


Mereka lalu berjalan mengitari seluruh ruang-ruang rumah itu. Bau cat baru masih tercium.


"Rumah ini seperti habis dicat ya, Bu?" tanya Kimmy.


"Ini memang rumah baru, Mbak. Pemiliknya dulu mau menempati tapi keburu pindah tugas ke luar negeri," ujar Bu Herlina.


"Ooh," sahut keduanya bebarengan.


"Luasnya berapa meter ya, Bu?" tanya Felix.


"Sekitar ... dua ratus lima puluh tujuh meter persegi, Mas!" jawab si ibu.


"Gimana?" tanya Felix ke Kimmy.


"Berapa katanya?" jawab Kimmy.


"Penawaran berapa, ya?" tanya Felix lagi pada Bu Herlina.


"Ini ditawarkan delapan ratus juta rupiah," jawab si ibu. "Gotik, nego sitik!" tambahnya mengedipkan mata.


"Oh, saya kira goyang sitik," jawab Felix disambut cubitan Kimmy di lengannya.


"Maksudku aku goyang di tong setan!" desis Felix di telinga Kimmy, membuatnya menahan tawa.


"Nego tujuh ratus lima puluh juta Bu!" sahut Felix.


"Mmm ... belum boleh Mas Gan, tambahin deh!" jawab si ibu.


"Tambah sepuluh juta?" Felix mengangkat alis.


"Tambah lima puluh juta dong!" sahut si ibu.


"Yee ... si ibu, sama aja!" sahut Felix mengerutkan dahi.


Ibu itu meringis. "Iya, ya! Mm ... ya sudah, tujuh ratus enam puluh juta, ya?"


"Nah, gitu, Bu!"


Si Ibu tampak berpikir lalu akan menelepon si pemilik rumah.


"Sebentar saya beritahu Mbak Amoy dulu, ya?" ujar Bu Herlin.


Felix dan Kimmy terbelalak.


"Amoy ... reporter?" tanya Felix.


"Eh, iya! Kok tau?" tanya Bu Herlina.


"Mm ... Nggak jadi beli, Bu! Kami pamit dulu, yaa!"


Felix menarik tangan Kimmy memasuki mobilnya dan segera memacu mobil ke jalan.


"Eh, Mas Gan! Tungguuu ...!"


Raut kecewa menghiasi wajah si ibu yang gagal mendapat bonus sepuluh juta rupiah.


******


Pokoknya maaf terus ya kalo update telat-telat seyenk-seyenk ....


******


Stop plagiarisme!

__ADS_1


Melanggar hak cipta orang lain masuk dalam UU nomor 19 tahun 2002 pasal 72 ayat (1) yang berisi hukum pidana maksimal 7 tahun dan denda maksimal 5 Miliar Rupiah.


__ADS_2