Cintai Aku!

Cintai Aku!
Tak Menyangka


__ADS_3

"Bos Nona! Bos Nona!" teriak Kimmy saat Bianca bergegas pergi dari kamarnya setelah mendengar nama Felix disebut.


Wanita itu belum terlalu kuat untuk beranjak. Berita kehamilannya pun membuatnya merasa lemas. Senang, tapi juga bingung. Dia akan menjelaskan semua, tapi bos nonanya kepalang naik pitam.


Kimmy menghentakkan kepalan tangannya, lalu menghirup napas dalam-dalam dan mengembuskannya pelan.


"Sehat ... sehat ...." gumamnya.


Bianca berjalan mengambil ponselnya di atas meja ruang tamu dan membawa benda itu ke kamar. Kue taart yang telah terpotong tak lagi dia hiraukan. Ulang tahun Kin yang kacau. Begitu dia menilai hari itu. Namun, balita yang berulang tahun, no problem dengan semuanya. Dia tampak tertidur pulas di atas tempat tidur dalam kamar orang tuanya.


Seorang pelayan yang menemani Kin, segera pergi dari kamar setelah nonanya masuk. Apalagi dengan wajah memerah, marah.


"Permisi, Nona!" pamitnya keluar.


"Iya!" sahut Bianca, membuat pelayan itu terjingkat kaget karena belum pernah mendengar sang nona marah besar.


Pelayan itu bergegas keluar, berlari seraya memegangi baju depannya agar tak mengganggu lari kencangnya ke dapur. Di sana, teman-teman yang lain sudah berisik membicarakan kejadian garis merah tadi. Dia segera ikut nimbrung. Mereka antara kasihan dan tak menyangka Kimmy akan seperti itu.


Bianca memencet nomor suaminya. Dia ingin segera menginterogasi Felix yang dia umpat sebagai si breng*ek itu.


"Shit!" umpatnya lagi saat panggilan sibuk.


Dia mencoba lagi. Masih saja sibuk.


"Selingkuh apa ya!"


Saat tak bisa mengendalikan emosi, semua pikiran buruk pasti akan bermunculan. Itulah pentingnya pengendalian emosi.


Bianca memencet nomor resepsionis perusahaan. Baru panggilannya diangkat.


"Halo, selamat siang. Sinar Group. Ada yang bisa kami bantu?" sambut suara di seberang sana.


"Mbak Elia, bisa saya minta dihubungkan dengan suami saya, bisa?" tanya Bianca.


"Oh, Nyonya Bianca. Bisa, Nyonya! Tunggu sebentar."


Tak lama telepon terhubung dengan Key di ruangannya.


"Halo," sambut Key.


"Sayang, apa yang terjadi dengan ponselmu itu! Ayo, cepatlah pulang! Ada hal yang sangat penting, ingin kubicarakan!"


"Tadi sibuk terus ... kangen ya? Iya aku mau pulang, Sayang!" jawab Key.


"Bawa sekalian asisten mesummu itu!" perintah Bianca.


"Me-mesum? Aku tidak pernah bermesuman dengannya!" jawab Key.


Klik! Telepon ditutup begitu saja. Key memandang gagang telepon itu, kebingungan.

__ADS_1


Bergumam kata mesum tanpa suara dengan mengerutkan dahi.


"Felix, apa kamu mesum?" tanya Key pada Felix yang sedang bersiap mematikan komputer.


Tentu saja yang ditanya menggelengkan kepala.


Key mengangkat bahu, lalu memiringkan kepala cepat tanda ajakan pulang.


*


Mobil telah sampai di halaman rumah mewah. Bianca yang memang sedang menghadang kedua pria itu segera berlari ke arah datangnya mobil. Baru kali ini dia tak sabar untuk bertemu. Geram sudah hati wanita itu.


"Turun, Lix!"


Sebuah panggilan yang tak biasa. Seperti memanggil tukang jualan mainan di sekolah-sekolah.


Kedua pria yang masih berada di dalam mobil mengerutkan dahi, kompak. Mereka saling pandang.


Kenapa?


Mungkin itu isyarat yang dapat tertangkap.


Lalu mereka turun dan menemui wanita yang berkecak pinggang dan menatap Felix tajam, setajam parang.


"Kamu! Bajigur! Apa yang kamu lakukan pada anak orang!" teriak Bianca pada Felix.


Anak orang? Anak siapa? Anak Nona? Tuan Kin?


"Menggendongnya," jawab Felix pelan. Memang dia kemarin menggendong Kin saat Kimmy ingin membuatkan susu.


"Gendong sampai hamil, gitu! Rasakan ini!" Bianca akan melempari Felix dengan barang-barang di ruang tamu.


Hamil?


Untung refleks pria itu bagus. Dia memakai tas laptopnya untuk dipakai sebagai perisai.


Serangan dimulai.


Prang!


Brak!


Dugh!


Vas bunga lanjut piring melamin berisi cemilan kemudian bantal sofa mengenai tas Felix. Hingga kursi stool bulat sudah Bianca angkat. Pria yang dilempari berlari ke sana kemari menghindari amukan nonanya. Untunglah Key segera menahan tangan istrinya agar tak berbuat bar-bar lagi.


"Eh, eh .... Kenapa ini, Sayang? Turunkan kursi itu. Ayo ... ayo ...." Seperti pelatih anjing laut.


"Dia!" tuding Bianca masih emosi, memegangi kursi bulat itu.

__ADS_1


"Iya, Felix. Kenapa dengan Felix?" tanya Key memeluk Bianca dari belakang agar emosinya terendam. Mengambil pelan-pelan kursi yang dipegang wanita itu, lalu dengan satu tangan meletakkannya di bawah lagi tanpa melepas pelukannya.


"Dia itu tukang ...." Bianca mengatur napasnya yang tersengol tak beraturan.


"Tukang menghamili orang!" pekik Bianca.


Key kaget bukan kepalang. Apalagi Felix.


Key menatap tajam ke arah asistennya itu, sorot mata meminta penjelasan. Namun, Felix pun tak mengerti apa maksud nonanya.


"Maksud Nona?" tanya Felix ingin mendengar lebih jelas perkataan Bianca.


"Kamu melakukannya dengan siapa saja!" teriak Bianca. Tanpa disadari, setiap pojok telah ada pelayan-pelayan yang mengintip, kepo melihat kejadian itu.


"De-dengan K-Kimmy," jawab Felix masih bingung antara kaget dan senang. Antara percaya dan tidak.


"Felix!"


Key akan memarahi Felix dan memanggil pria yang telah menyadari apa yang terjadi lalu berlari ke kamar Kimmy tanpa menghiraukan tuan dan nonanya yang murka.


"Cih! Kurang asem!" umpat Bianca. Dia menarik lengan Key agar mengikuti Felix yang sudah tak terlihat lagi batang hidungnya.


Mereka cepat-cepat berlari ke kamar asisten wanita itu, dan melihat Felix sedang memegang tangan Kimmy dengan mesra. Keduanya muak melihat dua asisten itu. Bermain di belakang seperti itu ternyata!


Alhasil, kemesraan itu terpecah lagi melihat kehadiran kedua tuannya. Kebahagiaan seorang pria yang akan menjadi ayah, harus disingkirkan sementara waktu.


"Apa kamu memperkosa Kimmy!" bentak Key pada Felix, dengan kedua tangan di pinggang. Matanya menyala tajam ke arah Felix. Sudah seperti ingin memakan pria itu hidup-hidup.


"T-tidak, kami melakukannya atas dasar suka sama suka," jawab Felix berdiri dan membungkuk.


"Apa?? kalian melakukannya suka sama suka? Pede sekali!" sahut Bianca.


"Keluar kalian dari rumah ini!" bentak Key kesal melihat keduanya. Dia merasa dikhianati meski oleh kedua asistennya sendiri.


Felix dan Kimmy saling berpandangan.


"Kami ...."


"Keluar!"


Bam!


Pintu ditutup keras. Key dan Bianca mencoba meredam emosi dengan keluar dari kamar Kimmy.


"Sayang ... kok, malah kita yang keluar ya?" ujar Bianca yang sedang ditarik tangannya oleh suaminya ke kamar. Mereka berhenti sebentar, tapi kemudian melanjutkan langkah lagi ke kamar mereka sendiri.


"Aahh, sudahlah! Biarkan mereka pergi dari rumah ini! Aku tak bisa membiarkan mereka kumpulan kebo giro di rumah ini! Kapan juga mereka melakukannya!" ujar Key melipat tangannya, kesal.


Mereka hanya terdiam di dalam kamar, mengatur emosi. Key memijat keningnya, sedangkan Bianca berbaring di sebelah Kin yang masih tertidur pulas.

__ADS_1


__ADS_2