
Seorang gadis sedang memberesi buku-buku referensinya di perpustakaan kampus, saat seorang pria mendekati.
"Hai," sapa sang lelaki berkacamata itu. Tampan, dengan kemeja kotak-kotaknya. Style yang menurut Susan bagus dilihat.
Lelaki itu sedari tadi memperhatikan Susan, dia terkesan pada gadis berkacamata itu, setelah beberapa hari memantau gadis yang hobinya masuk ke perpustakaan. Sama dengannya.
Susan nampak terkejut. Baru kali ini dia disapa oleh seorang cowok.
"H-hai," sahutnya pelan.
"Where are you from?" tanya dia.
"Indonesia," jawab Susan.
"Ohh sama!" ujarnya takjub.
"Kenalin, aku Yoshua!" ujar cowok itu mengulurkan tangan.
"Susan," jawab gadis itu, kaku.
"Ternyata, Singapura juga banyak warga Indonesia, ya?" ujar Yoshua berbasa-basi.
Mereka berdua terdiam beberapa detik dalam keheningan. Tak tahu harus membicarakan apa.
"Susan, kulihat kamu sering banget ke perpus, jadi aku pengen kenalan sama kamu. Sepertinya kita satu hobi!" ujar Yoshua.
"Iya, aku senang baca," jawab Susan singkat. Sikap introvert-nya selama ini sangat terlihat.
"Kamu fakultas apa?" tanya Yoshua. Cowok itu melipat tangan di atas meja, menatap ke arah Susan.
"Kedokteran," jawab Susan singkat. "Kamu ...." lanjut gadis itu mengurai pembicaraan.
"Aku fakultas ekonomi. Wah, kedokteran? Mau jadi dokter ya, wah jangan-jangan kamu bener bonekanya Ria Kenes!" gurau Yoshua mencoba mencairkan suasana.
Susan tak mengerti. Bukan jamannya lagi boneka Susan. Namun, senyumnya tersungging juga meski bingung.
"Oh ya, aku juga tau dari ibuku tentang boneka yang namanya Susan. Dubbernya bernama Ria Kenes! Gini lagunya ...."
Cowok itu mulai bersenandung kecil dengan kepala bergerak-gerak, membuat Susan terbahak.
"Temenku di sini sedikit," ujar Yoshua.
Susan mengangkat alisnya.
"Mau nggak, kamu jadi temenku, Susan?" tanya Yoshua tersenyum. Keberadaan mahasiswi dari negara asal yang sama, membuatnya nyaman.
Susan menganggukkan kepala. Bukankah banyak teman lebih bagus daripada banyak musuh, kan?
Mereka melanjutkan pembicaraan. Yoshua orangnya supel dan ramah. Dia bisa membuat Susan yang introvert mau berbincang dengannya.
Yoshua menemani hari-hari Susan di sana. Mereka saling berdiskusi, pergi ke kampus bersama, lalu main pun bersama. Susan seperti mendapatkan seorang kakak sekaligus sahabat di negeri orang.
Yoshua pun begitu, dia seperti menemukan adik sekaligus sahabat yang sehobi dengannya. Wajah mereka mirip karena kacamata membingkai mata mereka.
*
Petang itu Susan begitu takjub saat mendengar berita pernikahan Felix dan Kimmy.
__ADS_1
"Aahh! Kasihan Kak Kimmy!" seru Susan dalam sambungan telepon dengan Bianca saat wanita itu menceritakan kejadian yang menimpa Kimmy di malam pernikahannya waktu itu. Walaupun dia belum pernah bertemu dengan Kimmy, tapi dia merasa mengenalnya karena Bianca sering mengirimkan foto-foto mereka saat berkirim pesan.
"Syukurlah ada Kak Felix yang menyelamatkannya!" ujar Susan.
"Iya, aku juga tidak menyangka akan menjadi seperti ini, takdir mereka seperti itu dan biarlah semua berjalan."
Bianca terdiam sesaat. Cerita pernikahan memang bermacam-macam.
"Susan, gimana sama kamu? Apa kamu udah punya pacar di sana? Wah ... pasti seru ya, pacaran sambil kuliah!"
Tak!
Sebuah jitakan di kepala Bianca.
"Kuliah sambil pacaran!" omel Key mendengar kata-kata istrinya.
Bianca meringis. Sakit dan malu.
"Nggak, Kak! Aku belum punya pacar! Aku mau fokus kuliah dulu," jawab Susan.
"Baguslah!" ujar Key mendahului Bianca.
Bianca mencubit lengan suaminya yang langsung meringis kesakitan.
"Ooh, baiklah Susan. Sukses ya!"
Sesaat kemudian, percakapan telah berakhir.
Malam itu, usai pesta mereka merasa kelelahan.
Key memijat kaki Bianca dengan lembut saat istrinya mengeluh. Dia memanjakan wanita yang sedang hamil muda itu.
"Iya, Sayang. Itung-itung kita merasakan kebahagiaan pernikahan. Dulu aku belum merasa sebahagia seperti saat ini," tutur Bianca menatap pria yang sedang duduk di bawahnya.
"Delapan bulan lagi, kita juga akan lebih bahagia."
Key merambat naik ke ranjang, duduk di samping Bianca lalu mengelus perutnya dengan sayang.
"Sayang ...."
"Apa ...."
"Aku capek," jawab Bianca.
"Ya sudah, tidur ya? Sini, aku lepasin dressnya," ujar Key.
Pria itu membantu istrinya untuk melepas baju pesta lalu membersihkan diri mereka.
*
Sementara itu di kamar lain yang telah berhias mawar dan kain yang membentuk dua bebek putih yang paruhnya bersatu, dua insan sudah tak memakai sehelai benang pun.
Bukan ... mereka bukan mau itu-ituan, tapi hanya akan mengganti baju pengantin dengan piyama saja.
"Dedek emesh, cepat besar ya?" pesan Felix pada perut Kimmy saat mereka telah selesai memakai baju tidur.
Kimmy tertawa bahagia mendengarnya. Ini kali pertama mereka tidur di ruangan yang sama di rumah Tuan Key yang besar.
__ADS_1
"Yuk, kita tidur," ajak Felix.
Tuan Key menawarkan sebuah honeymoon, tapi Felix menolak, mengingat kehamilan awal Kimmy yang masih rawan. Dia takut untuk pergi-pergi jauh dan membuat istrinya kelelahan. Lagian, tiket ke Bali itu sudah seperti honeymoon bagi mereka. Itu cukup.
Tak berapa lama, mereka berdua tidur pulas.
Rumah sudah sepi. Semua orang yang tadi mempersiapkan pesta di rumah itu telah pulang dan tidur. Hari itu merupakan hari yang bersejarah bagi Kimmy.
Siapa sangka saat dia mendapatkan buket bunga di pernikahan Laura dan mengagumi bunganya malah mendapat pesta dan memegang buket bunga yang lebih meriah dari itu?
*
Dua orang wanita paruh baya menaruh bunga lily di vas masing-masing.
Ya, Bu Sinta membagi dua buket itu dengan Bu Amy agar Pak Danu tidak ngambeg.
Dua wanita itu juga membawa banyak makanan dari pesta. Keluarga mereka makin akrab.
*
Malam itu, Felix terbangun karena dibangunkan oleh Kimmy.
"Mas ... Mas ...." ujar Kimmy mengguncangkan bahu Felix dengan lembut.
Felix membuka mata dan mengucek kedua netranya, menyipitkan ke arah Kimmy.
"Apa?" tanyanya.
"Laper ... Mau sup pengantin," pinta Kimmy. Saat bermimpi terbayang sup pengantin dengan kacang polong, sosis merah, wortel, dan jamur dengan aroma yang khas.
Felix pun turun dari tempat tidur dan dengan terhuyung berjalan ke pintu, memenuhi keinginan istrinya. Dia membuka pintu pelan berjalan menuju ke dapur bertubrukan dengan Tuan Key.
"Aw!" seru keduanya menggosok dahi mereka yang bertemu.
"Kenapa Felix!" tanya Key.
"Mau ambil sup pengantin, Tuan! Kimmy minta," jawabnya sambil menguap.
"Hah? Apa mereka saling mengirimkan pesan? Bianca juga mau sup pengantin!"
Keduanya berebut membuka lemari pendingin di dapur demi istri. Untunglah sup pengantin masih banyak!
Keduanya tertawa dan bergantian mengambil sup itu untuk para ibu hamil.
******
F : Thor ... makasih ya?
O : Apanya?
F : Udah dikasih istri, calon bayi trus dikasih pesta.
O : Iya, tapi jangan bersandar terus di pundakku, nggak enak sama para readers!
******
__ADS_1
Stop plagiarisme!
Melanggar hak cipta orang lain masuk dalam UU nomor 19 tahun 2002 pasal 72 ayat (1) yang berisi hukum pidana maksimal 7 tahun dan denda maksimal 5 Miliar Rupiah.