
"Felix! Sekali lagi kamu memalukan di saat rapat, akan kupecat!" kecam Key saat rapat usai.
"Tuan, ini hanya video prank!" seru Felix membela diri.
"Siapa yang kirim?" tanya Key dengan sorot mata tak suka, dia tak percaya dengan asistennya itu.
"Kimmy ...."
Felix menutup mulutnya sendiri. Tergelincir menyebut nama gadis itu.
"Lho, kok bisa Kimmy mengirimkan video mendesah itu?"
Benar saja, pasti Key akan heran.
"Dia mengerjai saya, Tuan Muda!"
Seorang kepala divisi mengetuk pintu saat mereka sedang berbicara.
"Masuk!" ujar Key.
"Ini notulen rapat tadi, Tuan Key!" ujarnya saat membuka pintu dan masuk beberapa langkah.
"Taruh di atas meja," titah Key.
Pria itu meletakkan buku besar di atas meja, melewati Felix yang sedang menunduk melirik padanya.
"Kirim link-nya, ya?" ujarnya lirih.
Felix melotot pada pria itu, tapi pria itu menahan senyum dan berkelit.
"Saya permisi, Tuan Key!"
"Iya, makasih!"
Key kembali melipat tangan dan menatap ke arah Felix.
"Sini ponselmu!"
Felix merogoh ponselnya dari saku dan mengulurkan pada Key. Sudah seperti bapak memarahi anaknya. Pria itu meneliti video yang dikirim oleh Kimmy, lalu menatap asisten yang kepalang memalukan di ruang rapat karena menggunakan ponselnya.
"Entah alasanmu karena siapa, pokoknya, hukumanmu harus membantuku lembur di rumah selama seminggu!" ujar Key.
"Iya, Tuan Key!"
Felix membungkukkan badan pada tuannya. Patuh.
*
Bianca mengambil buku kosong besar yang dicarinya di dalam ruang kerja Key. Dia membawa buku itu, lalu masuk ke dalam kamar Kin yang masih tidur.
Wanita itu duduk di samping box, kemudian mulai mencatat berbagai tips memasak. Terkadang resep-resep di internet dia catat, saking rajinnya.
Kin melebarkan mata, mencari ibunya di kamar. Kemudian berguling dan tersenyum senang saat melihat ibunya di samping.
"Mi ... mi," sapanya pagi itu.
__ADS_1
"Halo, Dear!" sambut Bianca.
"Tu ... tu, tutu," ujar balita itu meminta susu.
"Yuk, gendong ya?" ajak Bianca, meninggalkan semua peralatan mencatatnya di atas play mate, lalu menggendong balita itu dan kemudian menyusuinya.
*
Usai memandikan dan menyuapi balitanya, Bianca mulai lagi belajar untuk mempersiapkan makan siang saat Kin tidur lagi.
Meski dibantu dengan internet, namun otaknya tak lagi bisa berpikir menu makan siang, karena waktu pun terus berjalan.
Bianca berjalan ke arah dapur, memeriksa persediaan bumbu. Dia menulis apa yang diperolehnya di internet, kemudian menggunakan g*-shop untuk membeli bahan-bahannya.
"Praktis lah, tak usah menyuruh pelayan!"
Bianca berkali mondar-mandir menunggu driver sambil sesekali mengamati aplikasinya. Saat seorang driver datang di depan gerbang, Bianca langsung keluar mendahului satpam.
"Itu belanjaanku, Pak Satpam!" teriaknya.
"Oh, iya, Nona Muda!" Satpam itu patuh dan mempersilakan nonanya untuk mengambil sendiri pesanannya.
Bianca segera mengambil sebuah plastik hitam besar berisi belanjaan, lalu membawanya masuk setelah mengucap terima kasih dan memberi tip pada driver.
"M-makasih, Nona!" Wajah sang driver berbinar menerima tiga lembar uang merah untuk tip karena Bianca sudah membayarnya di aplikasi.
"Sama-sama, Bang!" ucap wanita itu ramah.
Bianca segera masuk membawa satu plastik besar belanjaan kemudian berjalan ke dapur, menyimpannya di tempat khusus.
Tentu saja para pelayan bersorak mendengar tugas mereka. Mereka sungguh ingin bermain dengan balita menggemaskan itu, meski merasa sedikit heran dengan perintah nonanya.
Mereka segera berlari ke ruang tidur Kin dan menunggui balita itu tidur, bergantian tugas untuk membersihkan rumah.
Bianca terkikik dan segera beraksi di dapur.
Dia mengikat rambut ke atas kemudian memakai celemeknya dan mulai menyiapkan bahan masakan.
"Rendang ...." gumamnya memegang dagunya.
Wanita itu menjentikkan jari lalu mulai mengiris-iris daging yang dia ambil dari freezer besar, sekalian mengambil santan instan dari lemari pendingin yang juga tak kalah besar.
Kemudian sebentar saja, bau harum semerbak di dalam ruangan dapur. Bianca menambahkan sedikit gula dan garam di wajan, lalu mencicipinya.
"Hmm ... sepertinya udah enak!"
Wanita itu lalu mengangkat rendang dan menempatkan di dalam mangkuk saji. Tak lupa dia beri garnish irisan seledri dan tomat di atasnya.
"Menarik!" serunya.
"Menu kedua ...."
Makin berani wanita itu mencoba menu-menu baru.
"Cumi goreng tepung!"
__ADS_1
Kembali dia membuat adonan tepung dan mengiris cumi dengan bentuk lingkaran yang telah dia cuci dari dalam freezer besar.
Dalam waktu sekejap, Bianca bisa memasak dua macam sayur dan lauk. Dengan bangga, dia membawanya ke meja makan.
Bianca tak sabar menunggu suaminya pulang. Lima belas menit lagi, dan itu serasa lama untuk menunggu, memberi kejutan bahwa istrinya bisa memasak!
Mobil Key datang, dan Bianca menyambutnya dengan sangat gembira.
"Sayang, ayo makan!" ujar wanita itu.
Key mengernyitkan dahi. Kata-kata istrinya bagai film horror yang menakutkan. Masih terasa aneh di lidahnya karena omelete tadi pagi.
"Sayang!" Bianca menarik lengan Key, menyadarkannya dari lamunan kengerian.
Pak Anton yang mengendap di belakang Bianca tertangkap basah juga oleh menantunya itu.
"Papa! Ayo, Papa juga makan, ya?"
"E,eh, sebentar ...."
Bianca menarik keduanya masuk ke ruang makan. Hanya Felix yang tak tahu menahu soal kejadian pagi tadi.
Key melirik Felix untuk dijadikan tumbal pertama di ruang makan itu.
"Felix diajak juga, Sayang. Kasihan, wajahnya pucat. Sudah kelaparan!" ujar Key.
"Ah, iya!" seru Bianca bersemangat empat lima.
"Ayo, Felix!"
Pria itu pun mengikuti jejak kedua tuannya di ruang makan.
Mereka bertiga diam membeku.
"Ayo," ujar Bianca.
"Ada rendang, gulai nangka dan cumi goreng tepung!"
Semua masih terdiam. Hanya Felix yang maju mundur, perutnya sudah laksana genderang perang. Namun, kenapa semua lelaki penduduk meja makan tak kunjung menyendok barang sebutir nasi pun?
"Felix duluan!" seru Bapak dan anak kompak menatap tajam pada sang asisten seolah menunjukkan potongan gaji jika tak melaksanakan perintah.
Bianca menatap dan tersenyum pada Felix, menyuruhnya untuk mengambil makan siang duluan. Sang asisten pun menurut, mantap mengambil nasi dan semua sayur, bagai ramesan di warung.
Felix mulai menyendok dan mengunyah nasi dan sayur dengan ekspresi Pak Anton dan Key yang menahan tawa. Namun, tawa mereka benar-benar bisa tertahan jadi heran saat Felix mengacungkan ibu jarinya untuk Bianca yang bertanya bagaimana rasa masakan itu.
"Enak, Nona," ujarnya dengan lancar, tambah lagi dia memasukkan suapan kedua ke mulutnya.
*
Sementara itu di dapur, pelayan yang sedang membuang sampah mengerutkan dahi melihat sebuah kantong plastik hitam yang diikat sangat kencang. Mencurigakan. Dalam aturan dapur, tak boleh ada benda asing apapun agar semua makanan terjamin kebersihan dan kelayakannya. Dia segera membuka ikatan dan mengerutkan dahi saat menemukan beberapa bungkus bumbu racik instan di dalamnya.
******
Stop plagiarisme!
__ADS_1
Melanggar hak cipta orang lain masuk dalam UU nomor 19 tahun 2002 pasal 72 ayat (1) yang berisi hukum pidana maksimal 7 tahun dan denda maksimal 5 Miliar Rupiah.