
"Lebih baik Bos Dokter punya pacar, biar ada yang melindungi Anda kalo terjadi seperti kemarin itu," saran Kimmy.
Susan menahan senyum mendengar kata pacar. Kemarin memang dia sudah mengakui Yoshua sebagai pacar. Secara tidak langsung di telah menembak Yoshua.
"Duh, Gusti ... Bos Dokter malah senyum-senyum gitu?"
Kimmy melambaikan tangan ke kedua mata Susan yang nampak melamun, tapi bibirnya tersungging senyum.
"Pacar itu suami, Tante Kimmy?"
Wajah Kimmy memucat saat menyadari bahwa Kin ada di sebelahnya. Muncul secara tiba-tiba.
"Mmm ... pacar itu seseorang yang dicintai, belajar membangun kebersamaan bersama sebelum melangkah ke jenjang pernikahan. Mempunyai pacar itu berarti menjajaki bagaimana hati dia dan perilaku seseorang itu terhadap orang lain yang dia pacari. Nah, dari situ jika terdapat kecocokan, bisa lanjut tapi juga bisa bubar, tergantung pada takdir. Bos Kin mengerti?" papar Kimmy serius.
Toweweng!
Mata Kin seolah ada peer yang berputar. Pusing mendengar penjelasan Kimmy.
"Nah, udah mengerti, sekarang Bos Kin mimik susu dulu, yuk!"
Lagi-lagi anak itu hanya menuruti. Tadi dia diberi mainan oleh sang Daddy, sekarang dia disuruh minum susu. Apa dunia orang dewasa begitu rumit?
Susan terbahak begitu melihat kelakuan Kimmy dan Kin.
***
"Mamma ...." panggil Lingga saat Kimmy sampai di rumah. Dia turun dari gendongan Mama Amy dan berjalan perlahan lalu menjadi cepat ke pelukan Kimmy yang turun dari mobil Felix.
"Lingga cayang, tadi nakal nggak?" tanya Kimmy.
Lingga yang masih mengikuti kata belakang yang diucapkan orang dewasa, hanya mengucap, "dak!"
"Pa ... Pa ..." ucap Lingga melihat Felix turun dari mobil dan menciumi pipi Lingga.
Kimmy mencium bibir Lingga. Felix melotot pada Kimmy.
"Jangan diajari ...."
"Ah! Masa setelah kucium bibirnya, dia akan tau ciuman? Apa iya, Ma?" tanya Kimmy pada Mama Amy.
Mama Amy hanya menepuk jidat mendengar keduanya.
"Udah, bawa masuk Lingga. Felix kan harus berangkat lagi," bisik Mama Amy.
"Oh, iya. Yuk Cayang, kita masuk. Tadi maem pake apa?" tanya Kimmy sambil mengibaskan tangan ke Felix, pertanda anak itu sedang tak menyadari adanya sang Papa untuk pergi lagi.
Jika dia tahu, bakal nyaring tangisnya melihat kepergian sang papa.
"Yam ..." sahut Lingga.
"Oh, bayam?"
"Yam!" teriak Lingga menepuk bibir Kimmy. Tandanya keliru.
__ADS_1
"Tom Yam?"
"Iyaaamm!" sahut Lingga lagi.
"Ealah, ayam?" tanya Kimmy.
Lingga mengangguk lucu.
"Get," tambah anak itu.
"Uget-uget?" tanya Kimmy lagi.
"Get iyam!" ralat Lingga lagi dengan dahi berkerut, memperhatikan bibir Kimmy agar benar.
"Nugget ayam," ujar Mama Amy.
"Oooh ..." sahut Kimmy.
"Kamu mandi dulu, Nak!" ujar Mama Amy pada Kimmy.
"Iya, Ma."
***
"Susan, suruh temanmu itu bawa lamaran ke perusahaan rokok di pusat industri kota. Ada lowongan marketing," ujar Key pada Susan malam itu.
"Apa tak ada yang lebih baik, Kak?" tanya Susan.
"Untuk menjadi lebih baik, harus melewati apa yang dianggap paling rendah, jangan sepelekan semua pekerjaan," balas Key datar.
"Iya, Kak. Ya memang sih harus ada perjuangan. Apalagi dia nggak punya pengalaman kerja," ujar Susan.
"Nah, itu tahu."
Susan tersenyum kecut.
"Sepertinya ada yang istimewa dari teman lelakimu itu." Key mengangkat alisnya menatap tajam ke Susan yang salah tingkah, menggaruk tengkuknya.
"Kamu suka?" Tanpa basa-basi, Key langsung menanyakan perasaan Susan.
Wajah Susan langsung memerah. Rasanya seperti ingin amblas ke bumi.
"Itu nanti, Kak."
"Nah, itu. Dia harus memperlihatkan kesungguhan usahanya dalam hidup. Dengan demikian akan terlihat bagaimana rasa tanggung jawabnya. Makanya, dia harus berusaha dari awal. Tak ada yang instan," papar Key.
"Iya, Kak. Iya ..."
"Jangan cuma iya-iya! Pakai logika!" Key menunjuk ke kepalanya.
"Iya, Kak! Makasih, Kak! Pasti dia akan berusaha!"
"Aku mau lihat dulu!"
__ADS_1
Susan hanya menurut apa yang dikatakan oleh Key yang banyak benarnya.
***
Koran pagi beredar. Dion terperanjat saat membaca berita tentang klarifikasi perkelahian di warung makan hanyalah settingan. Key tak ingin memperpanjang karena melihat adiknya tak disakiti, malah memukul Dion.
"Kenapa mereka bisa membalikkan fakta? Apa mereka punya saudara orang dalam redaksi?" gumam Dion.
"Ah, biarkan saja lah, yang penting tak menyeret-nyeret namaku ke pengadilan! Toh, mereka tak bisa juga menyaingi kekuasaanku! Memangnya, siapa mereka?" gumam Dion.
Dia mulai berpikir lagi bagaimana untuk mendekati Susan. Nyonya Erren terus saja mendesaknya. Telinga Dion sakit setiap hari harus mendengar ocehan sang Mama yang menyuruhnya aktif mengejar dokter Susan.
Belum lagi ternyata Susan sudah ada pacarnya, meski Dion tak yakin dengan lelaki pilihan Susan itu. Dia masih akan berupaya untuk mendapatkan hati Susan. Bukankah pria itu tak ada apa-apanya dibanding Dion? Manager di perusahaan nomor seratus delapan? Angka yang menakjubkan, bukan?
***
Sementara itu di rumah sakit, Susan sedang memeriksa Adele, karena sorenya dia bisa pulang.
"Hai Adele, gimana rasanya? Sehat, 'kan?" sapa Susan.
"Dokter Susan kenal sama Mas Dion?" tanya Adele.
Susan sedikit dongkol mendengar nama itu dari mulut Adele. Namun, kenyataannya dia memang mengenal Dion.
"Iya. Teman SMU dulu," sahut Susan.
Mereka berdiam saat Susan mulai menekan berkali-kali benda pengukur tekanan darah dan mengamati hasilnya.
"Oh ... Mas Dion mau jadi suami dokter Susan ya?" tanya Adele saat selesai diukur tekanan darahnya.
Susan membulatkan bola matanya, terbelalak.
"Kata siapa?" ucapnya sinis.
"Kata Bude Erren."
Susan mendengkus kesal. Bukan hanya anak yang percaya diri, tapi juga ibunya yang sudah menyebarkan gosip tak benar. Apa jadinya jika Susan berada di tengah-tengah mereka? Dia menggelengkan kepala dengam cepat, merasa risih.
"Dokter Susan kenapa? Melamun, ya?" tanya Adele.
Susan tersadar bahwa dia masih bertugas. Dua orang itu membuatnya tak fokus bekerja.
"Adele, Kak Susan tak mengenal dekat Mas Dion. Kak Susan pun masih harus mengobati banyak orang, 'kan? Jadi, Kak Susan belum memikirkan soal suami."
Susan menurunkan tangannya dari pundak Adele. Gadis kecil itu nampak begitu kecewa, tapi ya mau gimana lagi?
"Kakak keluar dulu. Nanti persiapan pulang, 'kan Adele? Nih kado buat Adele karena Adele telah berusaha sekuat tenaga untuk keberhasilan operasi waktu itu," tutur Susan memberikan benda yang telah dibungkus dengan kertas kado.
Adele tak jadi murung, dia semringah dan langsung menerima bungkusan itu dan tak sabar membukanya. Sebuah baju dokter kecil. Dia membentangkan baju itu. Pas sekali dengan tubuhnya.
"Makasih, dokter Susan!" ucapnya gembira.
"Sama-sama," sahut Susan tersenyum lalu berbalik kembali ke ruangannya.
__ADS_1
******