
"Mau apa kalian ke sini!" teriak Kimmy pada ketiga orang yang datang memakai jaket kulit hitam khas orang-orang juragan Burhan di desa itu. Pria pertama berbadan kekar dan brewokan, yang kedua agak pendek dan gondrong, yang ketiga gemuk besar, sepertinya dia tukang pukul.
"Sabar, Non. Kami datang mau menyampaikan pembaharuan perjanjian."
Kimmy menatap mereka tajam. Sorot matanya menunjukkan kegeraman.
"Ada apa, Kimmy?" tanya mama dan papanya menyusul ke depan.
"Papa sama Mama di dalam saja!" ujar Kimmy di ambang pintu, menghalangi ketiga pria jika mereka memaksa masuk.
"Pembaharuan apa! Katakan saja!" seru Kimmy pada pria-pria itu. Dia tak gentar sama sekali meski akan mengorbankan nyawa.
"Perjanjian kalian dengan Tuan Burhan!" ujar salah satu pria suruhan itu.
Kimmy menghela napas, "Bilang cepat sebelum kutendang selang kalian!"
"S-selang? Jangan, Non. Kami belum punya istri ... atau Non yang mau tanggung jawab??"
"Ah! Sudah basa-basinya! Bilang!"
"Kok dia yang suruh cepat-cepat? Kan kita yang harusnya garang? Wah nggak bener ini gadis!" bisik ketiganya.
"Juragan Burhan memotong tempo utang kalian! Jika bulan depan kalian tak bisa membayar utang, maka dia akan memaksa untuk menikah dengan si Vita!" ujar si brewok.
"Apa??!" Kimmy membelalak. Begitu juga kedua orang tuanya. Bu Amy mulai terisak di bahu Pak Luki.
"Bulan depan itu besok!" ujar Kimmy sengit.
Ketiga pria itu tersenyum penuh kemenangan, "Toh, dipotong atau tidak, kalian tak akan bisa membayarnya, kan?"
"Curang!!" teriak Kimmy.
"Aku akan menemui juragan kalian!!" seru gadis itu lagi.
"Kimmy ... jangan!" sergah Pak Luki.
"Nggak, Papa! Aku mau bicara pada pria botak tua itu! Kalian tetap di rumah Pa, Ma! Jaga rumah agar tak diobrak-abrik orang-orangan suruhannya!"
Ketiga pria suruhan itu melotot mendengar Kimmy berani menghina bos mereka, mengatainya botak dan tua.
"Aku nggak mau punya adik ipar rentenir jahat seperti dia!" ujar Kimmy membalas pelototan ketiga pria preman itu.
"Ah, Kimmy! Hati-hati, Nak!"
Anak perempuannya itu keras kepala sekali, tapi mereka paham akan keberanian gadis itu. Mereka membiarkan Kimmy untuk menemui sang juragan.
Si Brewok, Si Gondrong dan Si Gemuk mengikuti langkah Kimmy.
__ADS_1
*
"Gimana, Pa? Kita sudah tak mempunyai jalan lagi selain mengandalkan Kimmy!"
Para tetangga yang mengintip dari jendela merasa iba. Namun, mereka tak bisa berbuat apa-apa.
Pak Luki hanya terdiam. Dia merasa tak bisa berbuat apa-apa selain menunggu anaknya kembali.
*
Kimmy berjalan dengan tergesa menuju ke rumah Tuan Burhan yang kurang lebih satu setengah kilometer jaraknya. Setelah sampai, ketiga pria membukakan gerbang besar rumah itu.
Kimmy bergegas masuk mendahului mereka, kemudian menggedor pintu rumah pria itu.
Dog! Dog! Dog!
"Juragan! Buka!"
"Hey! Sopan sedikit!" ujar Si Gemuk dari belakangnya.
"Asal kalian tahu, aku hanya melakukan hal yang sama ketika salah satu dari kalian menggedor pintu rumahku!!" teriak Kimmy berkecak pinggang.
Si Brewok membuka pintu dan menemui juragannya. Tak berapa lama, sang Juragan keluar dan melihat perdebatan sengit antara bawahannya dengan gadis yang pernah menyakiti hati anaknya.
Dia bertepuk tangan, hingga perdebatan itu berhenti.
"Kenapa anda mempersulit kami??" tanyanya langsung pada pria itu yang sedang menggesekkan kedua telapak tangannya seolah menemukan permainan baru.
"Lho, apa ayah ibumu bisa membayarnya dalam tempo satu tahun?" Nada halus pria itu, tapi menyebalkan bagi Kimmy.
Kimmy meneguk ludah. Dia menyadari dan berpikir bahwa orang tuanya tak akan bisa membayarnya dalam waktu satu tahun.
"Kenapa anda tahu kami tak bisa membayarnya dalam waktu satu tahun, tapi malah memangkas waktunya??"
Pria itu kembali tersenyum menyeringai.
"Coba kamu bedakan, antara waktu satu tahun dengan aku mempersingkatnya, apa orang tuamu bisa membayar utang dengan bunga yang besar jika waktu kelamaan?"
"Anda tak bisa menebak apa yang akan kami lakukan! Dengan waktu yang lama, mungkin kami bisa menemukan cara untuk membayarnya!"
"Apa katamu? Mungkin? Mungkin? Itu bukan sebuah kepastian. Aku sudah berbaik hati meminjamkan uang pada ibumu saat itu. Saat dia menangis di hadapanku, dan sekarang aku meminta apa yang kupinjamkan. Bukankah itu hakku? Dan adikmu sendiri menyerahkan dirinya untuk jaminan. Itu bukan salahku, kan? Jelas?" terang pria itu membuka tangannya.
"Anda curang, Anda melanggar perjanjian, dan soal adikku, anda sendiri yang membuat Pita menyetujui perjanjian itu, kan?" desak Kimmy. Dia tahu pasti orang licik itu mengarah pada adiknya.
"Kalau iya, kamu bisa apa?" tanya pria itu menaikkan alisnya.
"Apa maksud anda hanya ingin menikahi adikku?? Apa yang membuat anda melakukan semua ini pada keluargaku?!" desak Kimmy.
__ADS_1
"Kamu sendiri yang tahu! Apa yang kamu lakukan pada anakku dua tahun yang lalu?" Pria itu menunjuk ke kamar anaknya di tingkat atas yang terlihat dari depan pintu.
Kimmy melirik sebentar ke atas, kemudian pikirannya melayang ke penolakan dua tahun yang lalu. Dia menghela napas.
"Ooh, jadi itu yang menyebabkan anda melakukan semua ini?" tanya Kimmy melotot.
"Menurutmu?" Pria itu melipat tangannya.
"Baiklah, ini urusan anda denganku. Jangan libatkan adikku!!"
Seringai terbentuk di wajah pria itu.
"Jadi, maksudmu?" pancing pria itu.
"Bebaskan adikku! Dia masih memiliki jalan panjang, setidaknya dia harus meneruskan pendidikannya dulu sampai selesai."
Kimmy merengut, melipat tangannya di depan dada. Habis pikir menghadapi kelicikan manusia di depannya itu.
"Lalu, sebagai ganti adikmu?" pancing pria itu lagi.
Kimmy menghela napas kasar, menutup mulutnya dan menerawang, berpikir sebentar. Pria itu pun menunggunya dan seperti menebak dengan benar jalan pikiran gadis itu.
"Aku akan menikah denganmu, puas??"
Kimmy melotot pada pria itu.
Rencananya, dia akan meracuni pria botak itu beserta anaknya di malam pertama. Ya, rencana nekat Kimmy. Untuk saat ini, yang penting adiknya bebas dulu.
"Baiklah. Deal. Kalau kamu macam-macam denganku, pengawalku ada banyak, lho!"
Nada naik turun pria itu menjengkelkan. Apalagi saat akan menyentuh pipi Kimmy. Gadis itu menampik tangan gendut pria itu.
"Singkirkan tangan Anda! Jangan menyentuhku dengan jari Anda yang menyerupai jempol semua itu!"
"Jangan galak-galak, awas nanti bucin ...." ujar pria itu merayu. Membuat Kimmy mual.
"Dasar mesum! Awas malam pertama kuracun dan kupukul kau pakai kayu!" gumam Kimmy kesal.
"Kamu lho yang menyerahkan diri .... Besok, aku akan ke rumahmu, membawa penghulu dan adikmu sekalian! Bersiaplah, Sa ... yang!"
"Otak mesum! Awas kalau anda mengingkari janji!" ancam Kimmy.
Pria itu menyeringai seram. Dia begitu senang mendapatkan wanita yang diarahnya sedari awal. Lebih baik lagi mendapatkan Kimmy, makin seru jika gadis itu di rumah. Dia akan menyerahkan keperawanan gadis itu pada anaknya dulu setelah menikahinya. Pria itu merasa mendapat mainan baru.
Dia menyuruh para pelayan untuk mengemas baju pengantin untuk dibawa Kimmy pulang.
******
__ADS_1
Plagiarisme melanggar Undang-undang No. 28 Tahun 2014 tentang Hak Cipta.