
Mobil Felix tiba di parkir basement saat Kimmy selesai mengepak baju ganti untuk mereka di desa nanti.
Felix cepat-cepat berjalan ke ruang apartemennya. Mendapati Kimmy sedang meletakkan tas di lantai yang bersih.
"Ayo!" ajak Felix mengangkat tas itu dan mendahului Kimmy yang tertegun.
Karena Kimmy akan membawa sendiri tas itu seperti sebelum-sebelumnya, tapi Felix sudah mengangkatnya duluan. Aneh. Akhirnya gadis itu hanya mengikuti Felix menuju ke mobil.
Kimmy tersenyum pada satpam saat melewati pria yang baru saja keluar dari kamar mandi.
"Ish! Kenapa kamu senyum-senyum sama satpam!" omel Felix.
"Lho, apa salahnya, Bos Pelix! Biasanya juga gitu?" sahut Kimmy.
"Dia baru saja keluar dari kamar mandi!" ujar Felix asal.
"Apa hubungannya coba?" sahut Kimmy lagi, mengerutkan dahi.
"Pokoknya kamu jangan senyum-senyum! Tebar pesona!" ujar Felix menghidupkan mesin mobil saat mereka telah duduk di dalamnya.
"Lah?" Kimmy melongo mendengar kecaman Felix yang terlihat serius itu.
Alhasil, sepanjang jalan menuju ke desa, Kimmy tak ubahnya gadis dengan wajah bertekuk. Dia diam tanpa ekspresi. Bahkan tak terpancing meski Felix menyetel lagu barat yang biasa dinyanyikan gadis itu dengan kacau.
"Kenapa sih?" tanya Felix.
Kali ini entahlah, pria itu sangat tak nyaman jika Kimmy diam saja. Padahal sebelumnya dia ingin membungkam mulut gadis itu jika sedang bersama.
"Katanya tadi suruh nggak senyum! Nanti dibilang tebar pesona!" tukas Kimmy, kembali diam.
Felix mengemudi dan meliriknya.
"Begini, maksudku kamu hanya boleh senyum pada- ...."
"Pada siapa?" kejar Kimmy menuntut kalimat yang terpotong.
"Pada ...."
Bilang 'ku' saja susah betul ini lidah!
"Pada ...."
"Pada pohon! Nah, iya pohon!"
Kimmy menatap kesal pada Felix dan memutar bola matanya mendengar keanehan pria satu itu.
Sudah aneh, tambah aneh pula.
Sepanjang jalan, Felix bernyanyi mengikuti lagu yang mengalun di mobil. Lagu tentang jatuh cinta. Berkali-kali dia melirik gadis yang memalingkan wajah ke jendela mobil terus itu lewat spion. Namun, tak ada reaksi.
Mobil berhenti saat lampu merah menyala. Felix sedikit mencondongkan tubuhnya ke depan, melihat Kimmy. Ternyata, gadis itu tertidur.
Ternyata, tertidur pun dia manis dan imut. Ahh! Apa? Aku mengatakannya manis? Imut?
Felix mengacak rambutnya sendiri.
Diiiinnnn!!!
Diiinn!!!
__ADS_1
Diiiiinnn!!
Suara klakson mobil di belakang Felix membuatnya terperanjat karena keasyikan memandangi gadis di sebelahnya itu. Suara berisik klakson-klakson membuat Kimmy terbangun.
"Apa sih berisik amat!" seru Kimmy kaget.
Felix bukan kaget karena klakson, tapi malah gelagapan melihat gadis itu bangun, dia langsung melepas gas mobil dengan kencang.
*
Malam itu suasana desa tak seperti di kota. Baru jam sebelas malam sudah sangat sepi. Tak ada seorang pun di luar rumah. Suara deru mobil Felix sampai terdengar di dalam kesunyian malam.
Orang-orang telah menikmati malam di dalam rumah yang hangat.
"Ma! Itu Suara mobil siapa, ya?" tanya Pak Luki meletakkan cangkir kopinya.
"Sepertinya Felix sama Kimmy!" jawab Bu Amy.
Kedua orang tua paruh baya itu segera beranjak membuka pintu, dan benarlah, mobil Felix telah terparkir di depan rumah.
Kedua orang itu menyambut mereka dengan sangat gembira.
"Papa! Mama!" panggil Kimmy lalu menyalami dan mencium punggung tangan mereka.
Bu Amy memeluk anak perempuannya saat Felix mencium tangan Pak Luki.
"Ini udah belum?" tanya Bu Amy mengelus perut Kimmy.
Kimmy tampak bingung. "U-Udah," jawabnya.
Binar mata Bu Amy dan Pak Luki terpancar mendengarnya.
"Pa! Kita mau jadi kakek-nenek!" seru mereka.
Felix meraup wajah dengan kedua telapak tangan. "Dasar gadis ini!" gumamnya pelan.
Raut wajah Pak Luki dan Bu Amy berubah agak kecewa mendengarnya.
"Jadi ... belum, ya? Ngga apa-apa," ujar wanita itu menghapus kekecewaannya.
"Yuk, kita masuk ke dalam. Di luar dingin!" ajak Pak Luki yang juga menutupi rasa kecewanya.
Mereka berbincang di ruang tamu. Sebentar kemudian mereka merasa mengantuk.
"Pa, Ma, kami tidur dulu, ya?" ujar Kimmy melihat mata Felix sudah terlihat lelah.
"Oh ya, mungkin di sini kalian bisa mencicil telinga!" ujar Pak Luki lalu kaget saat lengannya disenggol oleh Bu Amy.
Felix dan Kimmy mengernyitkan dahi, seraya masuk beriringan ke kamar Kimmy.
"Apa maksudnya?" tanya Felix berbisik.
Kimmy mengangkat bahu. "Entahlah!"
Kimmy menata tempat tidur dengan sigap. Felix melipat tangan memperhatikan setiap gerakan gadis itu. Sebenarnya hal yang biasa, tapi entah Felix menerawng, merasakan sebuah kebahagiaan tersendiri dalam hati saat ada seseorang yang menyiapkan segala sesuatunya sebelum dia pakai.
"Bos?" Kimmy melambaikan tangannya di depan mata Felix.
"Eh! Iya! Kenapa kamu tiba-tiba berada di depanku!" ujarnya terhenyak.
__ADS_1
"Ck! Dari tadi kusuruh ganti piyama trus tidur, eh ngelamun!" omel Kimmy. Gadis itu berbaring di sisi kanan, berada di ujung sekali memunggungi.
"Biasa, Bos Pelix. Sisi kanan dan kiri, menjauh!" kata Kimmy memperingatkan.
Felix mengukur tempat tidur itu dengan matanya.
Sebuah guling diletakkan oleh Kimmy di tengah-tengah sebagai pembatas mereka.
Sebenarnya sama saja, karena tempat tidur Kimmy sempit, tapi demi keamanan, Kimmy membuat batas.
Felix menahan tawa melihat ulah gadis itu. Dia mengambil piyama di atas tempat tidur jatahnya, lalu dengan santai memakai di ruangan itu juga.
Kimmy melihatnya sedikit.
"Aah! Ini yang kedua kalinya! Bos Pelix! Apa nggak bisa ganti di kamar mandi?" omel Kimmy menutup matanya.
"Dingin ...." jawab Felix santai.
Pria yang sudah berpiyama itu seolah tanpa dosa berbaring di sebelah Kimmy dan memakai selimut lalu memeluk guling yang digunakan untuk batas.
Kimmy menengok ke belakang dan melirik pria yang ternyata tak memunggungi tapi menghadap ke arahnya dan masih belum memejamkan mata.
"Itu untuk batas!"
"Aku tidak bisa tidur tanpa guling!" sahut Felix.
Kimmy mendengus kesal.
"Terserah lah!"
Dan entahlah malam itu keduanya masih tak bisa memejamkan mata.
Lima menit.
Sepuluh menit.
Lima belas menit.
Kimmy meraih ponselnya, melihat jam di layar, kemudian meletakkan lagi. Saat itu, Felix menyadari bahwa gadis di depannya belum terlelap.
"Kimmy ...." panggilnya.
Dia memanggil nama? Aneh sekali, tak pernah dia panggil namaku kalo pas nggak jengkel banget!
"Hmm ...." jawab Kimmy masih memunggungi Felix.
"Memikirkan yang dikatakan Papa dan Mama tadi, gimana kalau aku jadi ayah biologis anakmu?" tanya Felix.
"Apa? Anak? Aku belum punya anak!"
Kali ini Kimmy berbalik melotot.
"Ya kita bikin, Dodol!" sahut Felix menatapnya. Mengerikan.
"Bos Pelix apa-apaan sih!" sahut Kimmy bergidik.
Gadis itu kembali memunggungi Felix dengan cepat kemudian menutup tubuhnya dengan selimut sekencangnya.
******
__ADS_1
Stop plagiarisme!
Melanggar hak cipta orang lain masuk dalam UU nomor 19 tahun 2002 pasal 72 ayat (1) yang berisi hukum pidana maksimal 7 tahun dan denda maksimal 5 Miliar Rupiah.