Cintai Aku!

Cintai Aku!
Panik Oh Panik


__ADS_3

Felix telah sampai di depan rumah. Dia sengaja tak memarkir mobilnya di car port agar mudah untuk membawa istrinya ke rumah sakit bersalin.


Dengan bergegas dia keluar dari mobil dan berlari akan masuk. Seorang tetangga yang menyapa hanya dijawab sekenanya.


"Siang, Pak Felix. Kok tergesa, mau apa?"


"Melahirkan, Bu!" sahutnya masuk dan tak terlihat lagi.


Hanya tinggal tetangga itu yang bengong dan mengerutkan dahi.


"Dek, gimana, Ma?" tanya Felix bingung pada keduanya.


"Kita bawa saja Kimmy ke rumah sakit. Sudah ada bercak tanda mau melahirkan, tapi sepertinya belum kontraksi. Mama akan menyiapkan tas bersalin," ujar Bu Amy agak tenang karena Felix telah datang.


"Kamu papah Kimmy dulu ke mobil, Felix!" lanjut Bu Amy sambil beranjak masuk untuk mengambil tas.


"Aku bisa sendiri, kok!" ujar Kimmy.


"Kamu jangan ngeyel, dipapah ya papah! Atau kamu mau kugendong?" marah Felix.


"Iya, iya ...." jawab Kimmy.


Seharusnya dia bisa berjalan agak cepat, tapi karena dipapah oleh Felix, dia pun mengikuti jalannya.


Mereka bertiga masuk ke dalam mobil, kemudian Felix memacu mobil dengan kecepatan tinggi.


"Felix turunkan kecepatan. Nanti aku ikut melahirkan," ujar Bu Amy ketakutan.


"Iya, Mas. Tenang aja, aku belum kerasa konpeksi kok," kata Kimmy menenangkan suaminya itu.


"Konpeksi, konpeksi ... Ini mau melahirkan, bukan mau diobras!" gerutu Felix.


Kimmy meringis dan menunjukkan dua jarinya tanda damai.


Karena itu, Felix akhirnya agak tenang setelah melihat istrinya masih juga tenang. Sampai akhirnya di tengah perjalanan, Kimmy mengaduh.


"Aduh," rintihnya pelan.


Ciiitttt!


"Apa?" tanya Felix menghentikan mobil, hingga Kimmy dan Bu Amy terbentur bagian mobil.


"Kok malah berhenti sih, Mas?"


"Iya, Felix kenapa malah berhenti?"


"Lah, tadi aduh-aduh, kenapa ...." desis Felix melanjutkan perjalanan.


"Ini agak kerasa ...." kata Kimmy mengelus perutnya.


Tanpa basa-basi lagi, Felix segera memacu mobil dengan kecepatan tinggi tanpa memperdulikan teriakan mertuanya di belakang.


"Fel ... Fel ... Felix!" Wanita itu memegang kepalanya yang pusing.


Alhasil, sampai di rumah sakit, Bu Amy muntah-muntah tak berdaya.

__ADS_1


"Felix, kamu bawa Kimmy masuk. Mama mau muntah di kamar mandi," erang wanita paruh baya itu terhuyung mencari toilet.


"Iya, Ma! Sehat ya, Ma!" ringis Felix merasa bersalah.


*


"Mama!!" teriak Key saat mobil menerobos lampu rambu yang akan bergulir ke merah.


"Diamlah Key! Itu belum merah!" omel Bu Sinta.


"I-iya, Ma ...." sahutnya lemas.


Sementara Bianca masih konsentrasi pada rasa mulas, tak perduli akan sekitar. Pokoknya cepat sampai di rumah sakit bersalin, begitu saja harapan wanita hamil itu. Sepertinya dia mendukung sang Mama untuk cepat sampai di rumah sakit bersalin.


Terdengar suara klakson tanda kemarahan seorang pengendara motor lain saat Bu Sinta berbelok ke kanan.


"Apa hal!!" tanya Bu Sinta membuka kaca mobil, nekat bertanya pada si pembunyi klakson.


Pria yang dibentak keder juga melihat ibu-ibu dengan tampang garang itu.


"Lampu sign, Bu! Nyala kiri, tapi belok kanan!" ujarnya mengalah, memelankan sepeda motornya agar tak menyulut kemarahan si ibu. Teringat pasal the power of emak-emak.


Bu Sinta hanya terkekeh. "Lupa!" ujarnya santai.


Key berdecak. "Mama itu sudah seperti menggembala bebek!"


"Lho, kok?" tanya Bu Sinta.


"Iya, ngacungin tongkat ke kiri, beloknya kanan. Ngacungin tongkat ke kanan, beloknya kiri," ujarnya menutup wajah.


Setelah berbagai drama teriakan Key karena wanita bar-bar itu mengemudi tanpa takut maut, akhirnya mereka sampai di depan rumah sakit bersalin.


"Suster! Buruan ambil kursi roda atau brankar!! Istriku mau melahirkan!!" teriak Key di depan rumah sakit.


Para perawat itu berlarian ricuh karena kehebohan Tuan Key, padahal setiap harinya mereka terbiasa menangani persalinan. Teriakan Key adalah ungkapan kecemasan dan kelegaan karena selamat sampai di rumah sakit bersalin tanpa kurang suatu apapun.


Mereka sampai di ruang bersalin. Saking gugup melayani Tuan Key, seorang perawat menutup pintu dengan cepat, tak melihat saat Key akan masuk, menyebabkan hidung pria itu membentur pintu aluminium.


"Aduhh!! Perawat apa sih itu!" omel Key mengusap hidungnya yang memerah.


Dia mengalah untuk tak masuk. Hanya mondar-mandir di depan pintu, dan berdoa. Sementara itu, Bu Sinta sibuk menelepon suaminya.


*


"Aduuuh ...." Kimmy merintih di atas bed yang ada di dalam ruang bersalin. Saat itu baru terasa kontraksi-kontraksi kecil.


"Kok kayak mau mens ya, suster?" tanya Kimmy.


"Iya, Nyonya. Nanti itu terasa sakit lima kali lipat kalo udah mau lahir," ujar suster menyiapkan alat-alat.


"Hah? Lima, suster?" tanya Kimmy tak percaya. Satu saja sudah tak nyaman.


"Iya, tapi rasa sakit itu akan terbayar dengan lahirnya malaikat kecil yang sehat, Nyonya!" ujarnya menenangkan.


"Aah, iya ...." jawab Kimmy tersenyum.

__ADS_1


"Tak masalah seberapa rasa sakitnya kalo dia keluar dengan normal dan sehat!" harap Kimmy akhirnya.


Felix masih sibuk mengurusi pendaftaran dan kamar pasien di pendaftaran. Sementara Bu Sinta sedang menguras isi perutnya di toilet.


Pria itu bersikeras untuk masuk ke ruang bersalin untuk melihat istrinya di dalam.


"Ya, baiklah, Tuan."


Seorang perawat membukakan pintu kamar bersalin. Felix tergopoh masuk ke dalam dan mendapati istrinya terkulai lemah, berbaring miring menghadap ke tembok.


"Sakit, Dek?" tanya Felix membuat Kimmy menoleh sebentar.


"Sedikit," sahut Kimmy.


Felix mengelus punggung Kimmy. Wanita itu merasa agak tenang.


Sebentar kemudian, dokter datang dan memeriksa Kimmy dengan memasukkan jari ke jalur lahir bayi. Felix terbelalak melihatnya.


"Eh, dok! Aku belum pernah melakukannya pada istriku!" protesnya.


Dokter tersenyum. "Nanti kalau bayinya udah lahir, setelah masa nifas Anda boleh melakukannya dengan jari yang bersih," sahut dokter iseng.


"Huh, untung dokternya wanita, kalo pria udah kuajak banting-bantingan karena menyogok jalurku," gumam Felix.


"Masih bukaan dua," ujar dokter pada perawat, lalu pergi ke ruangannya lagi.


"Memangnya bukaan harus berapa, suster?" tanya Felix.


"Sepuluh, Tuan," jawab si perawat tenang.


"Haa?? Sepuluh?? Kapan lahirnya dari tadi dua saja?" gerutu Felix kesal karena iba melihat istrinya sesekali meringis kesakitan.


"Sabar, Tuan!" ujar seorang perawat menenangkan.


Akhirnya Felix hanya menurut saja. Apa lagi yang bisa dilakukan selain menunggu?


*


Sementara itu Key masih mondar-mandir di depan pintu. Dia menempelkan telinga ke pintu saat terdengar suara rintihan istrinya.


"Tuan Key bisa dipanggil masuk, Nyonya. Jika Anda berkenan untuk ditunggui di dalam," tawar dokter khusus yang menunggu dan memantau persalinan.


Bianca menggeleng.


"Jangan, dokter! Dia akan membuatku ragu untuk mengejan dengan keribetan dan keributannya!" sahut Bianca teringat saat pertama kali melahirkan.


"Baiklah," ujar dokter menuruti kemauan Bianca. Kenyamanan pasien adalah yang utama dalam hal persalinan.


Bianca mengelus perut sambil sesekali merintih. Padahal, setiap dengar istrinya merintih, Key hanya bisa mengomel sendiri di depan pintu.


******


Stop plagiarisme!


Melanggar hak cipta orang lain masuk dalam UU nomor 19 tahun 2002 pasal 72 ayat (1) yang berisi hukum pidana maksimal 7 tahun dan denda maksimal 5 Miliar Rupiah.

__ADS_1


__ADS_2