
Berkali-kali Felix melirik ke jam tangannya. Meski sudah berupaya untuk bangun sangat pagi, tapi ternyata prediksi sampai ke apartemen dilanjutkan ke rumah Tuan Key belum bisa dia perhitungkan.
"Ternyata macet parah jalur ini di hari Senin! Gawat!" gumamnya saat mobil berada di lintasan jalan raya menuju ke kota.
Baru kali ini dia merasa benar-benar cemas. Sekali saja dia terlambat menjemput tuannya, entah apa yang akan diterima sebagai hukuman.
Felix membunyikan klakson sesering mungkin agar mobil di depannya cepat melaju, atau kadang saat beberapa angkot yang berhenti menunggu anak sekolah, memenuhi jalan.
Terkadang truk pasir yang membawa muatan melaju berbaris tak bisa diajak cepat. Felix membuka ponsel, mencoba mencari jalan alternatif lain agar lancar. Namun, ternyata tak ada jalan lain. Bertambah kesal lah dia. Sepanjang jalan pria itu hanya mengumpat kesal.
"Ugh! Gara-gara gadis itu!"
Felix memukul kemudi.
"Baru sehari saja aku merasa kepayahan! Nanti aku harus pulang lagi ke desanya, fyuh!" omelnya sendiri.
Akhirnya pria itu hanya pasrah mengemudi di jalanan yang macet. Sepertinya alam memang mendukung keterlambatannya.
*
"Key, kenapa Felix belum tiba juga?" tanya Pak Anton memandangi jam di dinding.
"Entahlah, Pa."
Pria muda itu mengernyitkan dahi dan mencoba menelepon tapi sepertinya sinyal Felix tak bersahabat.
"Asisten ini, di mana sih?"
Key kembali menempelkan ponsel ke telinga, sembari mengangkat tangan agar jasnya sedikit tersibak untuk melihat waktu pada jam tangan yang melingkar di pergelangan.
"Ck!"
Dia berdecak kesal. Pagi itu rapat penting akan dimulai. Setiap hari Senin akan ada meeting khusus penunjang progress mingguan perusahaan.
"Sabar, Sayang. Mungkin sebentar lagi," ujar Bianca menggendong baby Kin.
Perhatian Key teralihkan ke balitanya.
"Pa ... Pa ...." oceh si balita.
"Daddy ...." ujar Key membenarkan ucapan balita itu sambil membungkuk menatapnya.
"Pa ... de ...." ujar Kin menirukan Daddynya.
"Apa anak ini malah memanggilku Pakde??" gerutu Key.
Bianca tertawa, "Daddy, Nak! Daddy ... Daddy...." ucapnya berulang-ulang agar si balita menirukan lagi. Balita itu terlihat memperhatikan bentuk mulut ibunya saat mengucap kata. Lucu sekali.
Key melihat jam tangannya lagi. Dia kembali mengerutkan dahi. Lima belas menit lagi dia harus berangkat ke kantor.
__ADS_1
"Key, mungkin Felix ada halangan. Kita berangkat duluan saja. Aku akan menyuruh sopirku untuk mengantar kita," usul Pak Anton.
"Baiklah, Pa. Jika terpaksa kita pakai saja mobil Pa-.... Ah, itu Felix datang!" ujar Key saat mendengar deru mobilnya masuk ke halaman rumah dengan cepat.
Key baru akan mengambil tas di atas meja ternyata Felix sudah masuk ruang tamu dengan tergopoh-gopoh.
"M-maaf, Tuan Key, saya ada sedikit halangan di jalan!" ujarnya memegang lengan di depan perut dan membungkuk.
Ketiga orang itu memandang Felix dari atas ke bawah, balik lagi dari bawah ke atas.
Tak lama, Bianca terbahak melihat baju yang dipakai pria itu. Sementara Key keheranan.
"Hey, Felix! Apa yang kamu pakai?? Kamu mabuk?" tanya Key mendekat ke wajah asistennya itu. Tak tercium bau minuman apapun, yang ada hanya bau pengharum pakaian.
Bianca tak henti-hentinya tertawa berulang kali mengatai asisten itu aneh, hingga baby Kin memandang ibunya dengan heran. Sementara Pak Anton menahan tawa melihatnya.
"Apa kamu punya pekerjaan sampingan di malam hari?" tanya Key memicingkan mata, curiga.
"Maaf, Tuan ini tak seperti yang kalian pikirkan. Maaf, saya tak sempat mengganti baju. Saya ...."
Felix mencoba menjelaskan, tapi waktu tak bisa diajak kompromi. Key memotong penjelasan asistennya itu.
"Jelaskan nanti saja!" seru Key seraya berjalan cepat ke depan, diikuti oleh Pak Anton dan Felix.
"I-iya, Tuan. Apakah saya tak boleh ganti baju dulu ...." Felix mencoba bernegosiasi.
"Kamu pikir ini jam berapa?? Urusan ganti baju, itu nanti! Yang penting sekarang kamu antar aku ke kantor dalam waktu lima menit!" omel Key.
Mereka bertiga masuk ke dalam mobil hitam berplat tiga nomor kembar itu, lalu melaju ke arah gedung Sinar Group.
Bagaimana nanti aku harus berjalan masuk ke kantor dengan pakaian seperti ini? Sepertinya Tuan Key juga tak memberiku dispensasi untuk berganti pakaian? Ahh ....
Dalam waktu lima menit mereka telah sampai di gedung tinggi menjulang menunjukkan kejayaan si pemiliknya.
Mobil memasuki halaman depan gedung. Key turun bersama Pak Anton memasuki bangunan itu.
"Felix, siapkan dulu file untuk rapat! Kita sudah terlambat!" titah pria nomor satu itu berbalik menatap ke mobil.
Nasib!
"Baik, Tuan!"
Felix segera turun, membuang rasa malunya. Beberapa karyawati melihatnya kaget dan berbisik-bisik sambil menahan senyum.
"Apa!" hardik Felix sambil melotot pada mereka.
Kedua wanita itu langsung terdiam dan bergegas melanjutkan langkah mereka ke dalam, tapi masih juga terkikik.
Begitu pun orang-orang yang ditemui Felix, mereka menatapnya geli dan aneh. Sebagian berbisik-bisik, sebagian menggelengkan kepala dan menahan tawa.
__ADS_1
"Semlohe," desis mereka.
Felix kembali melotot.
Terlihat seperti apa sih aku ini??
Pria itu membawa beberapa file dari ruang kerja khusus, kemudian masuk ke dalam ruang rapat. Semua mata langsung menatap ke sang asisten.
Tawa meledak di ruangan itu. Desah kesal karena rapat tak juga dimulai pun lenyap karena penampilan Felix.
Muka Felix merah padam.
Awas kau gadis aneh! Memberiku masalah tak berujung!
Felix selesai meletakkan file-file itu, membaginya pada para kepala divisi kemudian menata meja Tuan Key, lalu memohon ijin untuk pulang sebentar mengganti bajunya.
"Boleh. Cepat, ya?" ujar Key.
"Baik, Tuan."
Sebelum berbalik, Key mengulurkan selembar cek pada Felix.
"Ini," ujar Key.
"Untuk apa, Tuan Key?" tanya Felix kebingungan menerimanya.
"Buat tambahan, sepertinya kamu butuh banyak uang. Demi itu kan, kamu jadi berhias ala wanita malam. Jangan lakukan hal memalukan itu lagi, Felix!" kata Key memperingatkan.
Gustiii!!! Tuan Key saja menganggapku maho??
Felix lemas terpaku. Dia menerima dan melirik jumlah angka di cek itu.
Mengetahui jumlahnya, dia tersenyum. Semula ingin memberi penjelasan pada tuannya, tapi jika dipikir nanti Tuan Key akan membatalkan pemberian kertas dengan nominal uangnya. Cek itu seolah obat baginya.
Ternyata benar, jika aku bersedekah, Tuhan akan melipat gandakan jumlah sedekahku. Dua kali lipat dari yang kubayarkan untuk menebus gadis itu!
Terima kasih, Tuhan!
"Sana, cepat!"
Key mengibaskan tangan menyuruhnya pergi dari ruangan yang mulai hening, baru saja berhenti dari gelak tawa itu. Semua bersiap untuk rapat.
"I-iya, terima kasih, Tuan!"
Pria itu keluar ruangan dengan cepat menuju ke mobilnya, menciumi selembar cek itu, tak menghiraukan pandangan aneh orang-orang yang dia temui lagi.
******
Stop plagiarisme!
__ADS_1
Melanggar hak cipta orang lain masuk dalam UU nomor 19 tahun 2002 pasal 72 ayat (1) yang berisi hukum pidana maksimal 7 tahun dan denda maksimal 5 Miliar Rupiah.