
Beberapa kotak hantaran telah dipersiapkan oleh anak-anak panti. Usia mereka masih tergolong remaja, tapi berkat sebuah tutorial di platform, mereka pun bisa membungkus peralatan ibadah, peralatan kecantikan, peralatan mandi, satu set baju, buah dan makanan, bahkan uang mahar!
Walai sederhana, tapi rapi dengan bantuan Bu Anna juga pagi itu. Uang senilai satu juta tujuh ratus tujuh ribu rupiah sebagai mahar pertanda tanggal jadian mereka itu, telah dibentuk menjadi sebuah kipas uang dibingkai dengan sangat apik.
Bu Anna puas dengan pekerjaan anak-anak panti yang remaja. Lelaki maupun perempuan turun membantu. Baru kali ini mereka mempersiapkan pernikahan salah satu anak panti. Bu Anna mengedepankan pendidikan mereka walaupun mereka hanyalah anak tanpa orang tua. Namun, tekadnya ingin agar anak-anak di sana berhasil bekerja sebelum menikah.
Beruntung, Bu Anna memiliki Yoshua yang menjadi contoh yang baik untuk adik-adiknya. Anak-anak menata kotak hantaran itu di atas meja lalu membereskan potongan-potongan kertas yang berserakan.
"Wah, bagus ya? Kalian bisa mendirikan wedding organizer nanti!" gurau Yoshua melihat kotak-kotak hantaran itu.
Dia sendiri sedang mencoba memakai kemeja barunya untuk diperlihatkan dulu ke Bu Anna.
"Wedding organizer itu, apa?" celetuk seorang anak panti yang masih kecil.
"Itu lho jasa pelayanan untuk bikin pesta-pesta pernikahan!" sahut anak yang lebih besar.
"Pintar ya, kalian?" sela Yoshua.
Bu Anna mendekati Yoshua dan membenahi krah bajunya. Dia merasa tubuh Yoshua agak berisi dari saat dia datang satu tahun yang lalu. Bu Anna bersyukur karena gaji yang diberikan perusahaan Sinar Group pun tak main-main. Yoshua juga bukan anak yang seperti kacang lupa kulitnya. Dia memberikan seperempat bagian gaji setiap bulan untuk panti asuhan.
"Bu, kok bengong?" tanya Yoshua.
"Eh, iya. Nggak apa-apa. Sudah, bajunya pas sekali Yosh! Kamu beli di mana?"
Bu Anna memperhatikan bagian dalam krah baju untuk menemukan merknya. Tak begitu terkenal, tapi bahannya bagus. Adem. Yoshua pandai memilih bahan baju.
"Di mall kemarin pas aku pulang dari kerja, Bu. Oh ya, ini untuk Ibu."
Sebuah paper bag diserahkan Yoshua ke tangan Bu Anna. Wanita itu mengerutkan dahi menerima kantong kertas tebal berwarna hitam lalu melongok isinya. Sebuah kebaya!
"Yosh, kamu nggak perlu belikan ibu macam-macam begini—"
"Ibu nanti malam kan ikut mengantarku, 'kan? Ya kupikir baju Ibu bagus kalo senada sama aku."
Bu Anna mengacak rambut Yoshua. Dia menahan air mata haru yang akan menetes.
"Iya, makasih ya Yosh. Ibu akan pakai nanti malam."
__ADS_1
Yoshua mengangguk lalu meninggalkan Bu Anna di ruangan itu. Berjalan ke kamarnya untuk membersihkan ruangan yang mungkin akan dia tinggalkan beberapa bulan lagi itu. Sejenak, Yoshua mengingat kenangan saat berada di kamar itu. Senyum tipis menghiasi wajahnya.
Saat pertama kali datang, ruangan itu nampak reyot tapi Yoshua kecil tak ingin pindah dari kamarnya. Menangis saat diminta pindah. Hingga adanya renovasi, entah bagaimana Bu Anna menggendongnya keluar kala tidur dan memasukkannya kembali ke kamarnya saat bangun dan mendapati kamarnya telah diperbaiki. Wanita itu penuh perjuangan dan saat ini dia menuai hasilnya.
Yoshua memberesi kamarnya sambil mengamati benda-benda di masa kecil, termasuk foto Susan sewaktu balita. Dia nampak menggandeng Susan yang berusia dua tahun.
"Sekarang aku menggandengmu, selamanya akan menggandengmu. Berjalan di sisimu."
Cantik dan imut, begitu kesan Yoshua melihat foto Susan saat kecil. Bahkan mungkin Susan sendiri tak punya foto masa kecilnya karena di usia tiga tahun seorang wanita membawanya pergi.
***
"Susan, kamu itu kenapa nggak mandi?" tanya Bianca saat melihat Susan sibuk membuka-buka tas kerjanya.
"Bentar, Kak. Ini tadi alatku pasti ada yang ketinggalan di rumah sakit."
Bianca ikut mendekati Susan yang sangat sibuk menyiapkan tasnya, padahal hari ini hari libur. Biasa, Susan itu perfeksionis. Semua harus siap sehari sebelum dia bekerja atau acara.
"Lah, itu di atas meja ada stetoskop."
Bianca ingat saat berjalan ke ruangan Susan, benda itu ada atas meja ruang tengah.
"Apalagi si kembar, sampe nangis dengernya!" imbuh Bianca terbahak teringat ketiga anaknya yang lucu. Namun, menepuk jidat saat ingat anak-anaknya membuat rumah bagai kapal pecah.
"Bentar aku ambilnya, Kak."
Key nampak bersantai meminum kopinya di ruang tengah waktu Susan berjalan untuk mengambil alat untuk memeriksa detak jantung itu. Pemandangan yang jarang terjadi walau hari Minggu, apalagi Minggu pagi di akhir bulan. Biasanya kakaknya itu masih berkutat di depan laptop bangun tidur, di akhir bulan begini.
"Santai banget, Kak?" sapa Susan pagi itu.
"Iya, mau ada acara nanti malam."
"Ooh ... kondangan?" tanya Susan lagi.
"Ya ... macam itu, lah."
"Macam kondangan? Sunatan?"
__ADS_1
"Bukan, tapi acara mau nikahan."
Walau tak paham, tapi Susan mengangguk-angguk lalu memasukkan stetoskop ke wadah kemudian melewati kakaknya, akan masuk lagi ke ruangannya. Saat berjalan, dia terhenti ketika melihat beberapa pelayan membersihkan ruang tamu dan beberapa orang yang tak dikenal menghiasnya dengan bunga-bunga kertas. Seorang wanita yang asing nampak mengatur mereka.
"Kak, acaranya di rumah ini?" Susan berbalik lagi ke arah Key yang sekarang telah ditemani oleh Bianca.
"Iya, lah."
Susan mengingat-ingat tanggal. Mungkin ulang tahun Kin atau si kembar? Ah, mereka baru saja ulang tahun.
"Kak Bianca ulang tahun?" tanya Susan masih penasaran.
Bianca menggeleng dan tersenyum. Dia malah mengambil gelas kopi Key lalu ikut meminumnya. Sebentar meringis karena kopinya pahit.
"Ih, acara apa sih? Peresmian atau apa?" desak Susan.
"Kamu itu malah banyak tanya. Mandi sana. Luluran, maskeran."
Key melirik dari balik koran yang dia pegang. Tak ada senyuman jahil sedikitpun. Wajahnya serius.
"Luluran?" Susan menggaruk kepalanya yang tak gatal dan memutar bola matanya.
"Udah, Sayang suruh dia mandi!" omel Key menatap Bianca.
"Mandi lah, Susan. Kamu nanti lamaran, lho!"
Ucapan Bianca tambah membuat Susan termangu, kaget. Bianca tersenyum dan berdiri, mendorong Susan yang sudah mulai kebingungan bertanya.
"Ma-maksudnya?"
"Nanti malam Yoshua dan keluarga mau datang. Kamu mau kan kalo dilamar sama Yoshua? Kalau tak mau, nanti malam bilang saja."
Bianca mendorong Susan yang terus akan menengok padanya menuntut penjelasan, tapi Bianca lebih kuat mendorong sampai gadis itu masuk ke kamar mandi dan Bianca melemparkan handuk ke tangan gadis itu, menutupnya saat Susan mulai protes.
"Ya mau, tapi kok aku tidak dikasih tahu sih — bla bla bla!"
Entah omelan apa yang dikatakan gadis itu di dalam kamar mandi, Bianca terkikik dan meninggalkan kamar mandi, tiga anak kecilnya berteriak memanggil. Dia memilih untuk membiarkan omelan Susan dan menyambut ketiga anaknya yang sudah menuruni tangga, bangun dari tidur mereka.
__ADS_1
******