Cintai Aku!

Cintai Aku!
Bulan Ke-9


__ADS_3

Kin menunjuk-nunjuk perut Mommy-nya menggunakan telunjuk, lalu menunjuk-nunjuk perut Kimmy menggunakan telunjuk satunya. Saat itu Kin akan genap berusia tiga tahun, tiga bulan lagi. Dia telah bicara agak banyak, tapi masih cedal.


"Bola ...." ujar Kin.


"Bukan ... di dalam sini, ada dedeknya ...." terang Bianca menahan tawa. Meski berkali dijelaskan, balita itu selalu mengira Mommy dan Tante Kimmy menyembunyikan bola di balik daster, karena bolanya hilang saat bermain di taman kompleks.


"Dedek?" tanya Kin menunjuk dirinya sendiri.


"Bukan Kin, tapi dedek bayi. Kecil," ujar Kimmy berlagak menggendong-gendong bayi.


Kin berlari mengambil tas kecil favoritnya yang biasa dipakai untuk berjalan-jalan di mana saja.


"Ni, dedek ecil?" ujarnya menunjuk ke tas itu.


Bianca dan Kimmy terbahak melihat tingkah anak itu.


"Iya, tapi bukan dedek monyet ... Ini dedek kayak ... itu!" Kimmy menunjuk foto bayi Kin yang dipajang di tembok kamar.


"Ohh, dedek ..." ujar Kin akhirnya. Entah mengerti atau tidak, yang jelas dia tak akan habis pikir ada bayi di dalam perut.


"Maem?" tanyanya lagi.


Mungkin logikanya jika ada sesuatu di dalam perut, masuknya lewat mulut.


"Bukan dimaem ... tapi tumbuh di dalam perut ..." jawab Bianca tersenyum.


Kin tersenyum. Baru akan bertanya lagi, dia mendengar lagu yang disukai. Lalu melihat ke layar televisi. Ada acara kesukaannya. Dia mendekat ke benda itu dan bersorak-sorak gembira, melompat-lompat hingga rambut lurusnya ikut naik-turun. Kemudian balita itu ikut menggoyangkan badan mengikuti nada pengantar acara kartun di layar.


Bianca tersenyum, menghela napas lega dengan hal itu. Pertanyaan-pertanyaan Kin tiada habisnya mengalir bagai aliran air sungai, hingga dia kewalahan menjawab.


Kimmy mulai akan cuti dua hari lagi, persiapan untuk melahirkan. Dia beranjak dari duduk lalu membawa perut buncitnya untuk bekerja. Namun, hanya mengerjakan hal-hal ringan atau pengecekan administrasi hotel yang dikirim oleh petugas.


"Saya ke ruang kerja dulu, Bos Nona," pamit Kimmy.


"Ya, Kimmy. Tolong periksa pemasukan bulan ini dan masukkan ke tabel penghitungan, ya? Lalu periksa juga tabel bulan lalu. Sepertinya ada kesalahan dari pihak hotel. Ada yang belum dilaporkan," titah Bianca.


"Baik, Bos Nona!"


Sementara itu, Bianca beranjak dan mendekat ke anak pertamanya, menunggui Kin yang menonton siaran televisi.


*


Sementara itu di Singapura.


"Yosh, kamu terlihat sangat sibuk. Apa kamu ada banyak tugas?" tanya Susan melirik ke arah lelaki yang sedang mondar-mandir mengambil beberapa buku dari rak.

__ADS_1


"Ada banyak tugas minggu ini, Sue," sahut Yoshua.


Sue adalah panggilan akrab Yoshua untuk Susan.


"Oh, aku nggak akan ganggu. Aku di sini saja, Yosh!" ujar Susan menatap lagi buku yang sedang dia baca. Anatomi dan Fisiologi.


Yoshua melirik gadis yang duduk patuh di depannya dengan tersenyum. Diusapnya pelan rambut si gadis, mengacaknya sedikit.


"Tunggu, ya?" ujarnya pelan.


Susan meringis. Lalu kembali melanjutkan kegiatannya.


"Sue, kamu seperti adikku yang telah meninggal dua tahun yang lalu karena sakit demam, persis."


Mata Yoshua hampir berkaca-kaca mengatakan hal itu. Dia segera mengalihkan perhatian lagi ke buku yang dipegangnya.


Susan menjadi tak enak hati. "Maaf, Yosh."


"Haha, bukan apa-apa, Sue. Kamu nggak salah, kenapa minta maaf?" tanya lelaki itu setelah meredam air matanya.


"Adikku bernama Putri. Dia juga bercita-cita menjadi dokter sepertimu. Kamu hanya harus janji padaku untuk mewujudkan cita-citanya. Susan, kamu harus sukses agar aku puas. Aku menganggapmu adik kandungku sendiri," ujar Yoshua berpesan.


Susan tersenyum getir. Dia baru saja merasa suka pada lelaki itu tapi rasa sukanya pada Yoshua ternyata bertepuk sebelah tangan. Lelaki itu hanya menganggapnya sebagai adik.


"Bukan hanya mendoakan, tapi aku juga kan mendukung. Jika kamu butuh apa-apa, bilang ya? Akan kubantu sebisaku."


Mereka saling tersenyum. Sungguh persahabatan yang indah meski ada sedikit perih di kedalaman hati Susan.


Mungkin lebih baik seperti ini. Aku bisa terus bersamanya jika aku menjadi adik. Tak tahu kalau aku menjadi kekasihnya, resiko kehilangan juga besar kalau kita putus. Begitu pupusnya.


Saat ini hampir menginjak tahun ketiga Susan kuliah di sana. Seumuran dengan Kin.


*


Sore itu Felix pulang, membawa serta Kimmy yang sepertinya kelelahan membawa badannya.


Felix dan Key sempat memperbincangkan kedua wanita itu.


"Mereka terlihat kelelahan, tapi tak sedikitpun keluhan meluncur dari mulut para wanita itu," ujar Key.


Felix membenarkan ucapan tuannya. Di rumah pun dia tak pernah melihat Kimmy mengeluh. Malah ketika ada gerakan menendang di perutnya, terlihat menonjol, dia kegirangan.


"Apa dia sit-up di dalam? Gerakannya heboh seperti itu," celoteh Felix melihat gerakan perut Kimmy di mobil. Entah kenapa setiap naik mobil, bayi itu bergerak senang di dalam perut.


"Dia senang diajak jalan-jalan, Mas!" kata Kimmy.

__ADS_1


"Dia apa ibunya?" goda Felix.


"Dua-duanya," sahut Kimmy tersipu.


Felix merasa sangat gemas, tapi apalah daya dia tak sampai hati untuk mengajak Kimmy begituan nanti di ranjang. Akhirnya, pria itu hanya mengecup kening Kimmy dan menuruti apa mau si bakal bayi dan ibunya. Mereka mengitari kota bermobil setelah pulang dari rumah Tuan Key.


"Mas, mampir supermarket. Susu ibu hamilnya habis," pinta Kimmy.


"Oke, Bos Nona Kimmy," sahut Felix menyanggupi.


Supermarket kala itu agak ramai. Kimmy mengambil apa yang dia butuhkan seperlunya.


"Hanya ini?" tanya Felix melihat barang belanjaan di keranjang hanya dua kotak susu ibu hamil, sekantong apel merah dan tiga kotak tissue.


"Iya," jawab Kimmy.


Felix tersenyum. "Memang dari gadis hingga jadi istri, dia aneh. Wanita aneh yang hanya membeli barang seperlunya saja, tak mau mengambil banyak barang jika tak perlu."


Kimmy mengantre di depan kasir. Setelah membayar dan menunggu kembalian, dia merasa seperti ingin ke belakang. Keinginan yang amat sangat. Perutnya mulas.


"Aduh, kenapa rasanya mulas begini," ujar Kimmy.


"Kenapa, Dek?" tanya Felix.


"Mulas, Mas!"


"Aahhh!! Kamu mau melahirkan!" teriak Felix, menggendong Kimmy yang sudah menggenggam plastik. Wanita itu kaget.


Felix membopong Kimmy masuk ke mobil dan meluncur ke rumah sakit, mengabaikan teriakan sang kasir tentang kembaliannya.


*


"Istri anda hanya ingin buang air besar, Tuan!" ujar dokter yang memeriksa.


"Ooh ...."


Hanya itu yang terucap dari mulut Felix setelah drama ketegangan karena mengira mulasnya Kimmy karena kontraksi.


Sementara Kimmy merengut. Rasa ingin ke belakangnya sudah terlupa. Hilang seiring kecemasan suaminya. Tak sempat berbicara, pria itu keburu membawanya ke rumah sakit.


******


Stop plagiarisme!


Melanggar hak cipta orang lain masuk dalam UU nomor 19 tahun 2002 pasal 72 ayat (1) yang berisi hukum pidana maksimal 7 tahun dan denda maksimal 5 Miliar Rupiah.

__ADS_1


__ADS_2