
"Dion ... Ngadiono namamu?"
Tiba-tiba Bianca datang dari pintu. Dia kesal sekali mendapati Susan telah terbujur di atas bed rumah sakit kala itu. Dia bersikukuh masuk ke ruang penyiksaan. Rindu akan sensasi tendangannya.
"Bu-bukan Ngadiono, Nyonya."
Tergagap Dion ingin meralat namanya. Namun, sepertinya Bianca tak perduli. Dia menodongkan pistol ke kepala pria berbadan agak gemuk itu.
Wajah Dion seketika pucat pasi. Dia tak mengira akan menjadi se-menyeramkan seperti ini. Kedua orang tuanya dilarang untuk menemuinya.
"Nyo-nyonya, saya masih ingin bertemu dengan kedua orang tua saya. Tolong Nyonya, ampuni saya!"
"Asal kamu tahu. Kamu itu sudah berurusan dengan keluarga Key Bajra, pengusaha nomor satu yang bisa membuat perusahaanmu bangkrut dalam semalam!" ancam Bianca disaksikan oleh Key.
Dion terhenyak melirik pelan ke arah Key yang menatapnya nyalang, membuatnya bergidik.
Key memberi waktu pada istrinya untuk menyiksa Dion. Dia bilang pernah bertemu dengan pria itu saat menangkap basah Dion selingkuh dengan gadis lain lima tahun yang lalu di pameran. Berlipat kali Dion membuat Susan sakit.
"Kamu ingat saat Susan menyirammu dengan soda? Itu, aku yang suruh! Jadi, aku tahu kelakuan busukmu dari dulu! Mas Ngadiono!"
Tak berani lagi Dion meralat namanya melihat wajah Bianca yang sangat marah padanya.
Ceklek!
Bianca menarik pelatuk pistol. Dion makin pucat. Jantungnya berdegup tak terkendali. Seperti inikah rasanya menghadapi kematian? Dion memejamkan matanya.
"Nyonya ... ampun, Nyonya ... Saya belum siap untuk mati ...." rengek Dion.
"Tapi siap memperkosa? Menipu? Lari dari tanggung jawab??"
Bianca makin menempelkan ujung pistolnya ke dahi Dion. Sesekali dinaik-turunkan sampaj ke rahang Dion yang nampak mengeras. Panik.
"Ma-maaf, Nyonya! Saya—, aaaahhh!!"
Crut ... crut ... crut!
Wajah Dion tersembur air dingin dari pistol yang dipegang oleh Bianca. Jantung yang berdegup sangat kencang terasa tak nyaman sekali.
Bianca dan Key saling berpandangan menahan tawa.
"Kamu rasakan sekarang, rasanya di ujung kematian? Nah, itulah rasanya adikku kemarin saat melompat dari atas balkon!"
Lemas rasanya Dion. Seketika hari itu dia kenyang dengan siksaan sepasang suami-istri itu. Tak tahan, rasanya seolah dia sedang dihakimi oleh dua malaikat maut.
***
"Yosh ...."
Kata pertama yang terucap dari mulut Susan saat dia membuka mata. Namun, dia hanya menemukan sosok Pak Anton di sampingnya.
__ADS_1
"Susan?"
Pak Anton meletakkan korannya begitu saja di sembarang tempat mendengar suara anak angkatnya itu. Dia segera beranjak dan mendekati gadis yang terbujur di atas tempat tidur dengan banyak balutan. Seluruh tubuh kaku.
"Papa ... Aahh ... pusing," rengeknya pelan.
"Susan, kamu jangan banyak bergerak."
Pak Anton mengambilkan gelas berisi teh hangat untuk Susan lalu menyodorkan sebuah sedotan ke mulutnya.
"Minum, Susan."
Susan memposisikan kepalanya agak miring lalu meminum sedikit isi gelas dan kembali meluruskan kepalanya.
"A-aku masih hidup," ujarnya perlahan menatap setiap sudut ruangan.
"Iya, Susan. Kamu selamat. Jangan banyak bergerak."
Memang sangatlah sakit saat tubuh digerakkan sedikit saja. Susan teringat lagi akan Yoshua. Dia masih sempat melihat sekelebat bayangan Yoshua berlari ke arahnya saat jatuh dari balkon rumah Dion.
"Papa ... Yoshua ... Gimana keadaan Yoshua?" tanya Susan lirih.
"Yoshua? Lelaki muda yang berlari menyelamatkan kamu saat jatuh? Dia—"
Seorang perawat masuk ke kamar Susan, mendorong sebuah kursi roda dengan seorang lelaki yang menopang tangannya yang kemarin baru saja dioperasi. Wajah Susan seketika cerah, tapi meredup melihat keadaan Yoshua.
"Dokter Susan, Tuan Yoshua ingin sekali menemui Anda. Dia bersikeras melihat keadaan Anda."
"Selamat siang, Tuan Anton. Saya Yoshua, teman Susan."
Pak Anton menganggukkan kepala. Dia tersenyum pada Yoshua dan menepuk bahu lelaki itu dengan lembut.
"Terima kasih, Nak. Upayamu untuk menyelamatkan anakku ini sangat berarti. Jika tidak, mungkin tubuhnya langsung terkena lantai. Entah bagaimana yang akan terjadi."
Yoshua menyunggingkan senyuman. Dia mengangguk lemah. Jujur saja, tubuhnya masih sangat sakit. Namun, lebih sakit jika tak mengetahui keadaan Susan.
"Saya hanya melakukan apa yang saya bisa, Tuan."
Pak Anton menangkap ada sesuatu pancaran semangat dari kedua mata Susan dari caranya memandang Yoshua. Pria itu melepaskan tangannya dari bahu Yoshua.
"Mm ... Sepertinya tadi di luar ada penjual makanan. Papa keluar dulu ya, Susan? Yosh? Di sini agak gerah."
Pria paruh baya mengedipkan sebelah mata lalu melangkah memunggungi mereka, meninggalkan kedua orang yang sedang merasakan kedua pipinya memanas dan bersemu merah.
Dua menit setelah kepergian Pak Anton, mereka masih saling menunduk. Belum ada sepatah kata pun yang terlontar dari bibir masing-masing. Susan masih sesekali menatap ke arah lelaki yang duduk di atas kursi roda, yang mulai mengangkat kepala tersenyum ke arahnya.
"Sue ..."
"Yosh ..."
__ADS_1
Bersamaan mereka memanggil nama orang di depannya. Lalu, beberapa detik kemudian tertawa. Entah begitu membuncah perasaan masing-masing saat bertemu dalam keadaan sadar.
"Apa kabarmu, Sue?" tanya Yoshua.
"Baik. Baik karenamu ..." sahut Susan dengan seutas senyum yang tak mampu diartikan dengan lugas.
"Aku—" Yoshua menggaruk kepalanya, tapi terlupa. Tangannya masih sakit.
"Aw!"
Lelaki itu meringis kesakitan. Raut wajah Susan berubah cemas.
"Yosh, kamu tidak apa-apa? Perlu aku panggilkan dokter?" tawar Susan.
Walau alat panggil dokter berada jauh di belakangnya, apapun akan dia lakukan untuk menjangkaunya demi lelaki yang telah melakukan penyelamatan untuknya itu.
"Mm ... nggak, nggak perlu. Makasih, Sue."
Dia memanggilku dengan 'Sue' lagi?
"Yosh, bagaimana kamu bisa datang ke rumah ... pria brengsek itu?" Sebenarnya Susan tak ingin menyebut nama Dion ataupun mengingatnya.
Yoshua memejamkan mata. Rasa marah kembali menyergap hatinya jika ingat sosok Dion. Dia menghela napas panjang, lalu menatap Susan kembali.
"Mmm ... sebenarnya aku mencarimu hari itu, Sue. Aku ingin—"
Kecewa. Cincin itu tak ada dalam genggamannya.
"Ingin apa?" Susan melebarkam kedua matanya.
"Ah, sudahlah, lupakan. Sudah hilang, juga."
Yoshua masih saja menunjukkan sikap misteriusnya, tertawa saat Susan merengut. Yoshua tertawa, walau dalam lubuk hatinya dia terbahak hanya menutupi rasa kecewa.
Ceklek!
Felix menyembulkan wajahnya di sela pintu dan memberi isyarat dia akan masuk untuk menyela.
"Iya, Felix."
Susan menyuruhnya masuk. Felix membuka lebar pintu selebar tubuhnya agar bisa masuk dan mendekati mereka berdua.
"Ada apa, Felix?" tanya Susan.
"Ini, Nona. Sepertinya kemarin ada kotak milik Tuan Yoshua yang tergeletak di bawah sakunya."
Felix meletakkan kotak merah kecil di atas bed lalu bergegas pergi dari ruangan itu dengan ucapan terima kasih dari mulut Yoshua.
Wajah Yoshua nampak kebingungan. Sebenarnya dia sangat senang kotak cincinnya ketemu, tapi untuk saat itu dia belum siap menyusun kata-kata saat itu. Dia meraih kotak yang dicarinya dan membuka benda berpita itu.
__ADS_1
******