Cintai Aku!

Cintai Aku!
Meriah


__ADS_3

Rasa gugup Kimmy saat hari H tiba, terlihat jelas saat dia hanya menggenggam tangannya erat di depan meja rias. Sementara, Felix yang terbiasa menghadapi banyak orang nampak santai dengan balutan kemeja mewah.


Sementara Key dan Bianca tak kalah keren. Mereka memakai baju senada dengan Kin pula. Lalu keluarga Bianca pun sama, mereka berpakaian sewarna dengan Pak Anton. Tampaknya ini akan menjadi pesta mereka semua setelah sekian lama tak ada pesta dalam keluarga.


Sang perias yang rada-rada, merias Kimmy dengan gemulai. Dia lelaki yang menyamar jadi perempuan dan tak suka dipanggil mas.


"Maaf, agak lambreta. Tadi Macica Muchtar!" ujarnya langsung menguncir rambut Kimmy yang melotot mendengarnya.


Loading ....


Lam ... apa tadi dia bilang? Kok pake Macica ... kayak nama artis?


"Alisa subandono dirapihin sirkuit, ye?" ujarnya lagi dengan kemayu.


Kimmy masih termangu. Kalimat pertama saja belum berhasil keluar terjemahannya, ini lagi tambah-tambah Alisa Subandono.


Dia nyebut-nyebut artis. Apa ada artis datang, ya?


Tak gatal, digaruk juga kulit kepalanya. Sementara, tanpa menunggu jawaban Kimmy si bences merapikan alis Kimmy dengan cekatan. Dua orang asisten berada di samping Kimmy untuk bersiap melayani sang perias.


"Oh ya, akika Oca," cerocosnya.


"Nggak pake aqiqah ...." sahut Kimmy polos, sambil melirik name tag si Oca.


SAROSA


"Oh ...." Si bences bingung juga.


Dua orang yang bercakap-cakap ngalor-ngidul.


Terlihat Si Sarosa alias Oca makin mantap menarik rambut Kimmy untuk disanggul. Sesekali dia begitu galak menyuruh para asistennya.


"Sisir rambutan, dimandose!" teriaknya. Dengan sigap salah satu asisten mengambilkan sisir rambut.


"Maap, maap, jangan dikasih rambutan ...." tolak Kimmy.


"Nggak .... Bikin Soraya Perucha! Pagi-pagi ...." jawab si Sarosa ramah. Namun, dahi Kimmy terus berkerut saat si wanita pria itu berbicara.


Terlebih saat melihat Felix. Dia bertambah ramah dan melenggok-lenggok. Namun, Felix bertampang judes saat melihat Sarosa.


"Akika takut, lekong you Serambi Mekkah!"


Kimmy kaget mendengarnya.


"Mas Pelix!" panggilnya ke suami yang baru akan keluar dari ruangan mengambil dasinya.


"Iya, Dek ...."


"Mas nggak akan naik haji dulu kan, hari ini? Katanya mau resepsi?" tanya Kimmy mendengar Serambi Mekkah. Sarosa menghentikan kegiatannya saat Kimmy menengok. Takut jelek tatanan rambutnya.


"Hus, ngawur ...." sahut Felix lalu pergi ke kamar satunya untuk memakai dasi dan jas.


Kimmy mengerutkan dahinya, kembali menatap cermin. Si Bences membuatnya puyeng.


Kedua asisten Sarosa seolah telah terbiasa menghadapi wanita pria itu.


"Carica bulu mata!" titahnya pada asisten. Mereka sigap mengambilkan.


"You cucok ama lekong you," celetuknya lagi pada Kimmy.


Wanita itu hanya menggelengkan kepala.


Nggak ngerti.


Namun, bukannya berhenti tapi dia malah terus berceloteh dan bertanya.


"Kalian pecongan berapa lambreta?" tanya Oca Sarosa.


Kimmy terperanjat mendengarnya.


"P-pocongan??"

__ADS_1


Dia bergidik.


"Kami sumpah ijab kabul, bukan sumpah pocong!" Dia menunjukkan dua jari.


Si Sarosa malah mengangguk-angguk sambil tangannya terus bekerja.


"Ooh, begindang ...." jawabnya.


Dia melihat ke kedua asistennya.


"Kenapose mukena you?" liriknya tajam.


Keduanya tampak memelas.


"Mau beranak dalam kubur?"


Ucapan Sarosa membuat Kimmy tambah bergidik.


Tadi artis-artis, sekarang alam kubur!


Sarosa melihat ke arah dua asisten yang memelas tak berdaya.


"Laper ...." ujar mereka.


"Hih, you berdua capcus makarena! Nanti bisa metong kalo tinta makarena!" gertaknya yang bukan ditakuti kedua asisten tapi malah membuat mereka gembira karena diperintah untuk makan makanan enak yang disediakan oleh tuan rumah.


"Pesta you gilingan maharani!" ujar si Bences lagi pada Kimmy.


"A-aku Kimmy, bukan maharani. Juga nggak pake gilingan, ini pesta pernikahan, bukan jualan bakso," gumam Kimmy.


"Mmm ...."


Si Sarosa hanya mengangguk-angguk. Tampaknya kedua orang itu berbeda pemahaman, tapi mencoba menunjukkan pengertian. Padahal zonk semua.


"Nah, selesaaii ...." ujar Sarosa memperlihatkan riasannya yang memang sangat smooth dan natural.


Kimmy nampak cantik dengan riasan yang serasi dengan dress pengantinnya. Felix masuk dan terpukau menatap istrinya yang sangat cantik. Dia mendekati sang istri yang masih duduk di depan meja rias.


"Akika ... lapangan bola!"


"Endaaang ...." ujar Oca Sarosa saat menelan makanan itu.


"Kamu itu bagai berlian di tepi pantai," ujar Felix memuji Kimmy yang tersipu.


"Kenapa di tepi, Mas?"


"Ya kalau di tengah, aku tidak berani ambil."


"Katanya lautan kamu seberangi, Mas!" protes Kimmy.


"Iya kan nyebrangnya pake kapal ... aku nggak kuat kalau menyelam. Jadi kamu berlian di tepi pantai saja, ya?" rayu Felix.


Kimmy tersenyum.


"Iya deeeh ...."


*


Alunan musik dari jazz hingga dangdut terdengar dari pagi menjelang siang sampai sore, menyesuaikan tamu.


"Ahh, Selly! Seri Shi! Kinnong! Mounick! Kalian datang!"


Empat sahabat masa kecil Kimmy dari desa menyalami Kimmy.


"Iya donk ...."


Mereka berselfie ria di atas panggung.


"Eh, Bunda Anna!"


"Selamat ya, Kimmy Sayang!" ucap wanita yang masih terlihat cantik itu di atas panggung. Dulu dia sering menggendong Kimmy semasa kecil saat ditinggal oleh Bu Amy mengantar bekal suaminya saat Pak Luki masih bekerja di desa.

__ADS_1


"Makasih, Bunda!" ucap Kimmy bercipika-cipiki dengannya.


Tetangga Kimmy yang dulu dekat setiap acara tujuhbelasan kampung pun memeriahkan acara dengan menyanyi dangdut di atas panggung bergantian. Rifka, Rhevina, Hiloda, Sharie, Endang, Mutiah, Phia dan Putri dengan percaya diri bergiliran menyanyi lagu-lagu Happy Asmara. Mereka seolah kompak memakai dress code loreng. Berasa geng wolu macan.


Acara pagi hingga malam itu dipenuhi para pejabat, para rekan Felix dan Key, dan warga kampung. Seolah tak habis-habisnya undangan datang. Makanan di atas meja selalu penuh meski semua mengambil setiap menu masakan dan snack.


"Enak-enak!" ujar Brian yang berdiri bersama Raka. Anak kecil itu telah mudah untuk saling mengenal.


Suasana pesta makin meriah dengan pelemparan bunga yang sukses ditangkap oleh Bu Sinta. Disambut pelototan Pak Danu.


Bianca? Malu lah ....


"Ngapain Ma, ikut-ikut ciwi-ciwi rebutan kembang??" tanyanya kesal.


"K-kembang lily-nya bagus, Pa! Bisa buat hiasan rumah ...." ujarnya lirih. Beberapa gadis yang berebut tertawa melihat suami-istri paruh baya itu.


******


Keterangan :


Lambreta : lama


Macica Muchtar : macet


Alisa Subandono : Alis


Sirkuit : sedikit


Akika : aku


Rambutan : rambut


Dimandose : dimana


Soraya Perucha : sakit perut


Lekong : laki


Serambi Mekkah : serem


Carica : cari


Cucok : cocok


Pecongan : pacaran


Begindang : begitu


Kenapose : kenapa


Mukena : muka


Beranak dalam kubur : berak


Capcus : cepetan


Makarena : makan


Metong : mati


Tinta : tidak


Gilingan : gila


Maharani : mahal


Lapangan bola : lapar


Endang : enak


******

__ADS_1


Stop plagiarisme!


Melanggar hak cipta orang lain masuk dalam UU nomor 19 tahun 2002 pasal 72 ayat (1) yang berisi hukum pidana maksimal 7 tahun dan denda maksimal 5 Miliar Rupiah.


__ADS_2