Cintai Aku!

Cintai Aku!
Selamat Susan!


__ADS_3

Wajah semringah Susan terpancar saat menerima ucapan selamat dari seorang dekan. Bersamaan dengan itu, dua orang temannya mengikuti langkah Susan. Mereka mendapatkan index prestasi cumlaude. Susan, Jessie dan Karin. Ketiganya berturut-turut maju ke depan untuk diwisuda pertama.


Ruangan yang lebar dengan kursi seperti gedung bioskop itu menjadi saksi keberhasilan dalam akademis mereka. Pak Anton melihatnya bangga. Dia terus bertepuk tangan saat sang pembawa acara membacakan jumlah index prestasi Susan.


Hanya beberapa undangan yang bisa masuk ke dalam. Keluarga Key dan Felix menunggu di hotel, menyaksikan siaran langsung dari televisi tentang wisuda Susan.


"Itu ... Tante Susan, Nak!" ujar Bianca menunjuk ke layar.


Kin menatap ke layar tak mengerti.


"Kamu contoh Tante Susan, dia pintar! Sebentar lagi mau jadi dokter. Bisa cus cus orang!" Bianca membentuk jarinya agar menjadi suntikan dan menunjuk-nunjuk lengan Kin.


"Mommy ... aku mau jadi pilot! Bisa menelbangkan pesawat!" celoteh Kin.


"Ooh, boleh, boleh ..." sahut Bianca. Matanya kembali ke layar.


*


"Mas, enak ya hotelnya?" tanya Kimmy.


"Iya, kita bisa buat adiknya Lingga di sini!" sahut Felix bersemangat.


"Ah, iya, trus nanti pas erupsi, diketuk pintunya sama Bos Nona. Kalau nggak, Lingga nangis ...." ujar Kimmy menahan tawa.


"Erupsi?"


Dahi Felix berkerut.


"Iya, itu lho pas si anak gajah mengeras," sahut Kimmy.


"Oh, itu ... erekksi!" jelas Felix.


"Eh, iya itu ...."


Felix terpaksa menahan lagi keinginannya. Daripada nanti tertahan saat diketuk pintu oleh Nona Bianca, lebih baik dia tak bereaksi meski saat ini istrinya sedang tiduran dengan sebuah lingerie hitam, menggoda. Katanya gerah. Jadi Kimmy memakai itu.


Suami Kimmy itu hanya menatap ke layar televisi, berharap tak tergoda. Anak gajahnya di bawah sudah mulai menggeliat.


Felix akhirnya hanya masuk ke kamar mandi, mengguyur anak gajahnya agar jinak.


Tok! Tok! Tok!


"Nah, benar kan?" gumam Kimmy memakai jubah tipisnya lalu beranjak ke arah pintu.


Bos Nonanya sudah tersenyum dan memberitakan sesuatu.


"Kimmy! Ada kabar baik dan buruk. Kabar baiknya, Susan selesai wisuda! IP-nya cumlaude!" seru Bianca.


"Kumlot?" Kimmy terbelalak.

__ADS_1


Hampir saja mereka berdua bersorak jika tak ingat kalau sudah beranak.


"Pintar ya, Bos Nona Susan?" puji Kimmy yang belum pernah melihat Susan.


Namun, saat teringat perkataam Bianca, raut wajahnya berubah.


"Ka-kalo kabar buruknya apa, Bos Nona?" tanya Kimmy setelah kegirangan berakhir.


"Eh ... mm ... kita tak jadi piknik, nanti malam kita sudah harus terbang lagi pulang," sahut Bianca menggaruk kepalanya yang memang gatal.


"Aakh! Jadi ... baju-baju itu ... pesanan oleh-oleh dari Mama Kimmy?"


Kimmy terhenyak melihat koper-kopernya harus kembali lagi ke pesawat. Tahu seperti itu tak akan diturunkan. Tak usah dibawa lah! Ke Singapura macam renang aja bawa satu ganti dan handuk.


"E-eh, iya Kimmy! Tuan Muda tak bisa dirayu lagi. Besok sudah harus kerja mengurus perusahaan," ujar Bianca mendesah, mengingat aksi protesnya di dalam kamar, hingga mengalah karena beberapa cap merah dari suaminya, membuatnya diam.


Kimmy melirik ke lehernya. Sontak Bianca menutupi.


"Bos Nona masuk angin? Sampai kerokan begitu?" tanya Kimmy polos.


Ck! Kimmy, apa yang dilakukan Felix padamu saat gitu-gituan? Apa Felix tak pernah memberimu cap merah ikan cuupang ini? Hingga kamu tak tahu apa yang di leherku? Atau ... cuupang ini kebanyakan?? Aih ....


"Mm ... iya, tadi kerokan," kilah Bianca.


Untung asistenku polos sekali! Haha.


"Ya udah Bos Nona, tak apa, mungkin juga karena Anda masuk angin, jadi Pak Bos Tuan membatalkan piknik beberapa hari untuk kita," ujar Kimmy.


"Kita bisa jalan-jalan sore hingga malam nanti menikmati food street di Chinatown dan kamu bisa beli oleh-oleh di sana," lanjut Bianca.


"Oh, baiklah, Bos Nona. Asal Anda tak jatuh sakit," harap Kimmy.


Bianca tersenyum dan berbalik ke kamarnya. Terbayang lagi sesuatu.


"Sampai jumpa patung Merlion, Universal Studio dan kawan-kawan ...." gumamnya.


Satu lagi yang memusingkan Bianca. Papa, Mama dan Brian di kamar sebelah. Bingung akan menyampaikan seperti apa. Sang Mama ingin berfoto dengan patung Merlion dengan botol Akua. Bahkan sudah berlatih di rumah dengan air yang mengalir dari selang.


Namun, suaminya pun tak bisa dirayu lagi. Malah dia yang menurut hanyak karena cuupangan.


"Huft, kenapa dia mudah sekali mengalahkanku?" gerutu Bianca.


*


Siang itu, Susan dan Pak Anton pulang ke hotel. Seluruh keluarga menyambutnya di restoran. Kehebohan terjadi saat melihat manusia-manusia kecil yang melongo menatap kedatangannya.


"Ya ampun! Ini pasti Kin! Ini ... yang cowok baby Lingga. Dua cewek ini baby Celine dan Celena, ya?" ujarnya berjongkok pada anak-anak itu setelah semua anggota keluarga yang datang memberinya selamat dan menyalami Susan.


Para bayi itu saling tersenyum melihat Susan. Mungkin bagi mereka, gadis di depan adalah tentor, guru TK atau apalah yang harus mereka perhatikan kehebohannya. Banyak yang berubah dari Susan, kecuali kacamata. Dulu membuatnya culun, tapi sekarang penampilannya cantik dan pandai untuk merawat diri.

__ADS_1


"Nona Susan, ada yang mau bertemu dengan Anda di lobby."


Seorang bellboy memberitahu Susan dengan bahasa Inggris tagalok.


"Oh, ya. Terima kasih."


Susan beranjak diiringi celotehan Bianca.


"Ciee ... ada yang mau ketemu, nih!"


Susan mengibaskan tangan. "Ah, Kak Bianca. Siapa tau dia perempuan!"


Tawa meledak di ruang makan itu. Semua kini memulai acara makan siang usai Susan keluar dari ruangan.


Susan mempercepat langkahnya, penasaran menebak-nebak siapa yang datang. Sesampainya di lobby, dua orang lelaki telah menunggunya.


"Sue, selamat, ya?" ucap Yoshua menjabat erat jemari Susan.


"Makasih Yoshua!" Meski sedikit kesal akan kejadian di cafe saat itu, Susan menahan diri untuk tak lagi menangis.


"Selamat, Susan!" ucap Ozkan membawakan satu buket bunga mawar biru dan sebuah boneka wisuda yang memegang sebatang coklat besar yang sangat mahal.


Susan meringis menerimanya dan menjabat tangan Ozkan.


"Duduk dulu," ujar Susan mempersilakan mereka duduk di sofa lobby.


Keduanya duduk dan mulai berbincang. Susan memperhatikan kedua lelaki itu seperti kakak beradik. Dia telah lama mengenal Yoshua tapi baru beberapa bulan ini dia tahu bahwa Yoshua punya sahabat yang sudah seperti keluarga sendiri.


Susan menatap ke arah Yoshua. Keriangan pria itu tak ada yang menandingi, meski mereka berdua sama-sama tampan dengan porsinya sendiri-sendiri. Dia menghela napas melihat ke bunga mawar biru di sebelahnya.


"Eh, Sue. Kenapa diam?? Kapan kita rayakan pesta kelulusan?" celetuk Yoshua.


Mungkin pesta perpisahan maksud dia, batin Susan.


"Em ... nanti malam aku sudah pulang ke tanah air. Untuk segala hal yang menyangkut universitas akan dikirim melalui pos atau email jika ada yang penting," sahut Susan. Keputusannya sudah bulat untuk ikut keluarganya malam nanti.


Untuk apa dia di sana lagi? Setelah harapan cintanya pudar.


"Oh ...."


Keduanya nampak kecewa.


"Baiklah, Susan. Selamat atas wisudamu. Semoga ini semua menjadi awal yang baik untuk karir dan hidupmu," ujar Ozkan.


Sementara itu, Yoshua nampak terdiam. Ingin mengucap sesuatu tapi tak sampai. Rasa sesak di dadanya, senang karena gadis itu telah menyelesaikan studi kedokteran dan tinggal mengambil pendidikan profesi, tapi juga sedih karena gadis yang biasa melalui hari-hari bersamanya, akan pergi.


"Terima kasih. Sukses juga untuk kalian," ucap Susan.


******

__ADS_1


Stop plagiarisme!


Melanggar hak cipta orang lain masuk dalam UU nomor 19 tahun 2002 pasal 72 ayat (1) yang berisi hukum pidana maksimal 7 tahun dan denda maksimal 5 Miliar Rupiah.


__ADS_2