
"Mas Pelix, tolong jaga Lingga sebentar. Aku mau beli sayuran di depan," tutur Kimmy menyerahkan Lingga ke gendongan ayahnya.
"Yuk ... sini sama Ayah," ujar Felix mengulurkan tangan ke arah bayi itu.
Mulut Lingga menganga senang digendong oleh ayahnya. Pria itu mengangkat tinggi-tinggi si bayi dengan perlahan lalu diturunkan dengan pelan juga setelah si bayi menjerit antara senang dan takut dengan ketinggian.
"Mau masak apa, Mas?" tanya Kimmy.
"Mas ...." panggil Lingga mengikuti ibunya.
"Terserah," sahut Felix.
"Nggak ada sayur terserah," gerutu Kimmy.
"Ada. Kamu merem lalu ambil aja beberapa sayur. Nah, yang masuk ke kantong itu namanya terserah," goda Felix mengangkat anaknya lagi ke atas lalu menurunkannya lagi.
Kimmy mengomel lalu keluar dari rumah dan mendekati abang sayur yang sedang dikerubuti oleh para fans-nya.
Kimmy benar-benar mempraktekkan apa yang disuruh oleh sang suami.
"Eh, Mbak Kimmy, Bu Felix, kenapa matanya ditutup-tutup?" tanya abang sayur heran.
"Mau milih sayur, Bang!" sahut Kimmy.
"Aakk! Milih kok merem?" tanya abang sayur penasaran.
"Iya, suruh milih sayur terserah," sahut Kimmy disambut oleh senyum-senyum para ibu komplek.
"Ada-ada saja, Mbak Kimmy!" ujar ibu-ibu.
Kimmy mengambil asal sayuran di gerobak, lalu memasukkan ke dalam kantong plastik yang dia bawa.
"Itu, Bang. Hitung, berapa?" tanya dia membuka mata.
Bang sayur terbelalak. "Mm ... Dua ribu, dua ribu, lima ribu, semua sembilan ribu aja, Mbak Kimmy, Bu Felix!"
"Oh, ini. Kembaliannya bumbu masak aja, Bang!" pintanya seraya menyerahkan uang sepuluh ribu pada si abang.
"Oh, boleh Mbak Kimmy, Bu Felix. Mau yang ayam apa kuda? Eh, sapi?"
"Kalo ada, bison."
Semua tergelak dengan perbincangan Kimmy dan tukang sayur.
"Sapi ...." ujar Kimmy.
"Aah ... adanya ayam, Mbak Kimmy, Bu Felix ...."
"Gimana sih Bang, tadi nawarin, ternyata nggak ada. Ya udah mau yang jamur aja!" gerutu Kimmy.
"Ya deh, jamur ada kok."
Abang sayur mengambilkan dua bungkus bumbu rasa jamur dan memasukkannya ke plastik Kimmy.
"Makasih, Mbak Kimmy, Bu Felix. Jangan kapok, ya?" canda bang sayur.
__ADS_1
"Iya. Makasih, Bang!" ujar Kimmy. "Mari Buibu!" seru Kimmy pada semua ibu yang masih memilih-milih sayur.
"Iya, Mbak Kimmy!" sahut mereka serempak.
Kimmy melenggang santai pulang ke rumah. Dia masuk dan mulai memasak di dapur. Bau menyengat membuat Felix dan Lingga terbatuk-batuk.
"Mama lagi marah apa, ya? Kok bikin tersedak begini?"
Felix mengobrol sendiri dengan Lingga. Tak lama setelah itu, Kimmy meletakkan masakannya di atas meja.
"Masakan sudah siaaap!"
Felix segera membawa Lingga ke ruang makan dan tercengang saat melihat beberapa mangkuk di atasnya.
"Hah?"
Pria itu mengaduk setiap mangkuk.
"Sambal terasi, sambal lombok hijau, sambal tomat? Apa ini?"
Kening Felix berkerut. Heran.
"Nah, itu hasil masakan terserah. Hasil belanja merem, Mas! Dapetnya cabe-cabean semua!" sahut Kimmy.
Dengan lemas, Felix duduk lalu mengambil nasi hangat dan menyendok sambal.
"Besok, jangan sayur terserah lagi, ya? Aku kalau merem jadi salah pegang nanti! Pegang anunya abang sayur, gimana?"
"Iya! Siapa juga yang mau sayur terserah lagi kalau isinya bikin sakit perut begini!" omel Felix.
*
"Ahh, duduk di pojok. Tempat favorit!" seru Susan.
Gadis itu menarik sebuah kursi, bersamaan dengan seorang lelaki yang tak asing, memakai kacamata hitamnya.
"Ozkan?" ujar Susan tak percaya.
"Susan, silakan duduk. Boleh aku duduk di sini?" tanya lelaki itu.
"B-boleh. Kapan kamu sampai di Indonesia?" tanya Susan.
"Bareng sama kamu sih sebenarnya, tapi aku nggak bilang," kekeh Ozkan.
Seorang pelayan datang, kemudian mereka memilih menu untuk makan siang.
"Susan, apa kabar?" tanya Ozkan menatapnya begitu lekat.
Susan jadi salah tingkah karena tatapan Ozkan itu.
"Baik, Ozkan. Kamu?"
"Aku juga. Jadi sangat baik saat ketemu sama kamu. Setiap kampus kedokteran aku datangi hanya untuk mencarimu," sahutnya tanpa mengalihkan tatapan.
"Mencariku?" tanya Susan.
__ADS_1
"Iya ... aku pindah kuliah, ke sini lho!" ujar Ozkan dengan kedua alis yang naik.
"Oh ya??" Senyum tipis di wajah Susan. Memperlihatkan dia tak begitu antusias akan kedatangan Ozkan. Pikirannya malah melayang ke teman pria di depannya itu.
"Mm ... apa kabarnya Yoshua?" tanya Susan.
Ada raut kecewa di wajah Ozkan saat Susan menanyakan temannya itu.
"Dia ... masih di sana, masih satu tahun lagi. Dia akan menyelesaikan pendidikan, lalu pulang ke sini."
"Oh ... baguslah."
Susan menatap ke arah pelayan yang datang membawakan pesanan mereka.
"Makasih, Mas!" ucapnya saat pelayan selesai menurunkan semua piring dan gelas berisi pesanan.
"Ozkan, apa Yoshua masih jalan sama Chika?" tanya Susan menyeruput jusnya.
"Chika?" tanya Ozkan heran.
"Iya. Kan dia jalan sama Chika, model terkenal itu ...." ujar Susan santai.
"Dia hanya jadi asistennya Chika, kok! Bukan jalan sama dia ... ah, kamu salah informasi tuh!" gelak Ozkan.
Susan terbelalak. "Iya, kah?"
Ozkan menganggukkan kepala. "Iya!"
Ozkan menangkap ada semburat ceria di mata Susan saat mendengar hal itu. Dia menghela napas dan menghabiskan makannya.
"Susan, kamu ada waktu minggu ini?" tanya Ozkan.
"Mmm ... nanti aku hubungi kamu lagi. Sekarang aku sibuk magang, Oz! Buat nambah nilaiku," jelas Susan.
"Oke ... nanti kamu hubungi aku, ya?"
"Iya!"
Siang itu, setelah mereka menghabiskan makan siang, mereka harus berpisah karena waktu Susan yang sangat singkat.
"Aku antar ke rumah sakit ya?"
"Aku bawa sepeda motor, Ozkan! Maaf, lain kali ya?"
"Ah, sayang sekali. Baiklah Susan! Hati-hati di jalan, ya?" pesan Ozkan.
Susan mengangguk. Lalu bergegas menuju ke parkiran untuk mengambil sepeda motornya. Ozkan menatapnya dari jauh hingga Susan melambaikan tangan padanya dan berlalu.
Dari sikapnya, Susan sepertinya benar-benar menyukai Yoshua. Aku tidak bisa tinggal diam.
Ozkan melangkah menggenggam kunci mobil lalu turun ke parkiran dan menyalakan mesin mobil.
*****
Maaf update lamaa ya gaes ... Abis sembuh aja hehe ....
__ADS_1
******