Cintai Aku!

Cintai Aku!
Hari Kedua di Apartemen


__ADS_3

"Lalu maumu gimana?" tanya Felix kembali memejamkan mata.


"Bos di mana?"


Kimmy tak melihat apapun. Dia meraba-raba bagian tubuh Felix. Merasakan lembek, sesuatu yang kenyal tapi bukan agar-agar, dia meremasnya.


"Auuu! Kamu sengaja, ya!" ujar Felix meringis, mengagetkan Kimmy.


Lampu menyala dan Kimmy berteriak saat menyadari apa yang sedang dipegangnya. Gadis itu meringis dan melepas sesuatu yang lembek, lonjong dan kenyal, dan sekarang mengeras.


"Aaaaa!!"


Jantung Kimmy berdetak cepat.


Kurang ajar gadis ini! Benda pusakaku!!


"M-maap, Bos Pelix! Sumpah, aku tak melihat apa-apa, kukira itu apa! Jadi kupencet!" ujar Kimmy menutup wajah dengan dua telapak tangannya.


"Kamu bukan hanya memencet, tapi meremasnya!!" omel Felix mengerang kesakitan. Rasanya sakit menjalar hingga perutnya mules.


"A-aku nggak tau, Bos. Sumpah."


Kimmy menunjukkan dua jarinya, jari telunjuk dan jari tengah.


"Sudah! Pergi sana! Masuk ke kamar!" titah Felix masih meringis.


Kimmy berlari masuk ke kamar, dia menutup pintu dengan keras karena gugup.


"Sumpah, sumpah nggak tau, benda itu di celana Bos Pelix? Kenyal-kenyal, iiihh ...."


Gadis itu bergidik sekaligus malu. Dia merebahkan tubuh di atas tempat tidur, lalu membenamkan kepalanya di bawah bantal. Tangannya masih merasakan benda itu.


Sementara Felix memeriksa isi celananya.


"Tidak, kamu tidak perlu kucuci dengan air lumpur, tapi kamu sakit ya? Iya, dia gila. Meremasmu sekencangnya!"


Felix bicara sendiri dengan belalainya. Kemudian setelah beberapa saat rasa sakit itu menghilang, dia berbaring dan mulai terlelap.


*


Keesokan hari, Felix merasakan tepukan di pipinya. Tangan dingin itu membuatnya terbangun.


"Bos Pelix, bangun! Sudah pagi!"


"Hoaaam ...."


Pria itu menggeliat, melemaskan otot-ototnya lalu duduk, melihat Kimmy sudah memakai celemek dan membuatkannya segelas kopi yang harum.


Felix mencubiti pipinya sendiri.


"Sakit! Aku tidak mimpi, bahkan mimpi pun lebih indah dari ini!" dengusnya.


Kimmy kembali berkutat di dapur saat Felix telah bangun. Pria itu menatap jam dinding.


"Masih pagi," gumamnya sendiri.


Bau wangi masakan tercium dari dapur. Felix melempar begitu saja selimutnya lalu berjalan ke kamar mandi.


Baju yang harus dia pakai telah disiapkan di sofa.

__ADS_1


"Hmm ... tak buruk juga dia di sini, mempermudah pekerjaanku," desisnya.


Tiba-tiba dia teringat sesuatu.


"Hey, darimana kamu dapat bahan untuk memasak??" tanya Felix karena dia tak memiliki sesuatu pun di kulkas.


"Tadi ada tukang sayur pagi-pagi di depan pos satpam. Pas aku buang sampah, ya sekalian aja belanja."


"Ooh ...." Felix manggut-manggut.


"Tunggu. Buang sampah? Kamu buang sampah di mana?" tanya Felix.


"Di ... ujung jalan sana. Ada tempat pembuangan sampah kan, Bos?" ujar Kimmy polos.


"Kuberi tau ya, ada petugas yang mengambili kantong sampah setiap hari. Dasar sok tau!" omel Felix.


"Bos nggak memberitahuku, kan? Jadi kucari tempat sampah umum!"


"Ah, sudah, sudah, aku mau mandi! Tuan Key akan menghukumku kalau aku terlambat!" ujar Felix.


"Apa kabarnya Baby Kin? Ahh ... empat hari lagi aku baru bisa bertemu dengannya."


Kimmy menatap ke langit-langit sembari tersenyum membayangkan wajah balita menggemaskan itu.


"Kenapa harus empat hari lagi? Nanti juga bisa!" ujar Felix dari dalam kamar mandi.


"Cutiku masih empat hari!" seru Kimmy sambil menaruh sayur di atas meja.


"Empat hari buatku seperti empat abad!" teriak Felix.


"Bos mau aku pulang kampung?" gerutu Kimmy.


"Hey, jangan lakukan itu, kasihan orang tuamu. Trus, aku tidak mau dikeroyok warga desa!"


Felix keluar dari kamar mandi menggunakan bathrobe dan melihat pancinya berada di atas meja makan.


"Kenapa menaruh panci di atas meja??" teriaknya kesal.


"Nanti biar gampang untuk menghangatkannya lagi, Bos! Lagian, tak ada mangkuk di rak piring."


Felix yang tak terbiasa memasak, menjadi aneh melihat panci berisi sup di atas meja.


"Huh, itu di kardus! Sejak beli, aku belum pernah menggunakannya. Kenapa kamu nggak seperti wanita-wanita pada umumnya? Mereka mempercantik meja makan lalu mengambil foto-fotonya, diposting!" serunya asal.


Kimmy tak menjawab. Dia hanya melanjutkan aktivitasnya di dapur. Membuat jus buah untuk mereka. Ada sebuah blender yang menganggut di pojokan. Gadis itu beli beberapa buah di tukang sayur.


Felix mengambil baju ganti lalu masuk ke kamar.


"Bos, jangan masuk ke kamar perempuan!" ujar Kimmy.


Gadis itu, baru semalam menempati kamar, sudah mengaturku sedemikian rupa!


"Hey! Ini kamarku yang kupinjamkan untukmu!" tegas Felix.


"Ugh, berarti itu kamar kita berdua," sahut Kimmy.


Kenapa perkataan gadis itu begitu menyebalkan? Berdua, berdua ....


"Tidak!"

__ADS_1


Felix berbalik masuk ke kamar mandi dan memakai pakaiannya di sana.


Lah, iya kan kamar berdua? Aku memakainya untuk tidur dan Bos memakainya untuk berganti pakaian? Hmm ....


Kimmy mencebikkan bibir.


Felix keluar dari kamar mandi lalu menyisir rambutnya ke belakang. Menata tiga belas helai rambut dagu, lalu melangkah ke ruang makan yang jadi satu dengan dapur. Dia duduk dan Kimmy dengan sigap mengambilkan makan paginya. Segelas jus buah naga telah tersedia di samping piring berisi nasi dan sayur.


"Biasanya Bos makan apa kalau pagi?" tanya Kimmy.


"Kepo," ujar Felix mulai menyantap makan paginya.


"Pengen tau aja. Kalau lelaki itu bisa menyiapkan apa saja di pagi hari," sahut Kimmy.


"Cereal. Kadang tidak makan. Hanya minum kopi atau teh seduh, atau kadang air putih," jawab Felix.


"Kasihan, Bos! Pantas kalau disuruh makan di Bos Nona, Bos Pelix semangat!" sahut Kimmy sambil menyeruput jus ungu menggiurkan itu.


Sialan, gadis ini mengolokku!


"Bos, aku pasti akan membuatkan masakan selama aku di sini," ujar Kimmy.


Felix tak menjawab, dia sibuk makan.


Kenapa semua masakan gadis itu rasanya enak dan gurih?


Felix menyeruput jusnya.


"Kok tidak manis??" tanya Felix mengerutkan dahi seraya mengamati gelas luarnya.


"Memang nggak aku kasih gula, Bos. Biar sehat!" ujar Kimmy meringis.


"Oh," sahut Felix menghabiskan jus itu juga.


"Aku berangkat," ujar Felix beranjak dan mengambil tasnya di atas sofa. Semua telah disiapkan oleh Kimmy. Bahkan handuk di dalam kamar mandi, dijemurkan oleh gadis itu.


"Nggak ada ciuman di kening?" tanya Kimmy.


"Jangan harap! Kamu kebanyakan nonton drakor!" sahut Felix kesal. Dia segera berjalan turun ke parkiran. Beberapa orang sedang berangkat bekerja.


Kimmy terbahak menggoda Felix. Namun, dia pun merasa cemas dengan masa depannya.


Kenapa aku harus terjebak dalam pernikahan penyelamat hutang?


Kimmy kembali beraktivitas membereskan piring dan gelas kotor di atas meja, kemudian membersihkan ruang apartemen hingga benar-benar tertata rapi.


Kimmy merasa bosan seharian di dalam ruang apartemen. Siang itu, kemudian dia membuka ponsel dan memeriksa akun sosial media. Iseng saja setelah selama berbulan-bulan tak dibukanya karena kesibukan kerja. Dia selalu memakai nama bukan sebenarnya dan foto profil artis Korea untuk akunnya.


Tiba dia menemukan sebuah akun pria tampan, seperti bule, bermata biru dengan rambut agak gondrong. Menarik sekali.


Sekali lagi jiwa aneh-aneh Kimmy bergejolak. Dia memencet permintaan pertemanan dengan pria itu.


Iseng aja! Abis wajahnya tampan sekali!


******


Buat yang belum upgrade MT/NT versi 2.0.0, yuk buruan upgrade. Bisa kirim hadiah lho buat othor... Boleh yang bunga aja atau kopi, atau hati atau piala!! Hehehe


__ADS_1


Stop plagiarisme!


Melanggar hak cipta orang lain masuk dalam UU nomor 19 tahun 2002 pasal 72 ayat (1) yang berisi hukum pidana maksimal 7 tahun dan denda maksimal 5 Miliar Rupiah.


__ADS_2