Cintai Aku!

Cintai Aku!
Ketahuan


__ADS_3

"Susan, dia siapa?" tanya Dion saat mendekati Susan dan Yoshua yang sedang makan berdua di dalam warung makan. .


Susan dan Yoshua sangat kaget melihat tiba-tiba ada yang datang dan menanyai mereka seperti itu. Sempat terbersit bahwa itu adalah pacar Susan dalam pikiran Yoshua.


Yoshua yang tak mengerti apa yang sedang terjadi, menatap ke arah Susan, menunggu apa yang akan dikatakan oleh gadis itu.


Susan jengkel kenapa Dion bertindak seolah dia adalah pacarnya. Punya hak apa dia? Susan akhirnya berdiri dan berkecak pinggang pada Dion.


"Dia? Kamu tanya sama aku soal dia?"


"Iya, siapa cowok ini?" tanya Dion kesal melihat betapa mesranya mereka.


"Dia pacarku!" sahut Susan, membuat Yoshua malah kaget karena jawaban itu. Namun, dia secara cepat menyadari bahwa mungkin Susan melakukan itu agar cowok yang baru datang dan menanyai mereka dengan arogan itu menyingkir.


"Heh, kamu punya cowok? Apa dia nggak bisa melindungimu dari panas?" teriak Dion yang tadi sudah memperhatikan parkiran, tak ada mobil yang terparkir selain miliknya.


"Apa yang kamu punya cuma mobil? Kamu itu orang apa show room yang suka pameran??" ejek Susan.


Semua mata memandang mereka. Dion yang merasa kesal, menggulirkan pandangannya ke arah Yoshua yang berdiri melindungi Susan yang sudah meradang.


"Sudah, Susan—"


Dion meraih krah baju Yoshua dan menarik pria itu ke dekatnya.


"Apa! Kita keluar! Jangan sampai mengganggu pemilik warung dan para pelanggan di dalam!" ujar Yoshua melepaskan cengkeraman Dion.


Yoshua berpesan pada Susan agar dia tetap berada di dalam warung, tapi Susan tetap mengikutinya, berjalan ke arah lapangan yang sepi.


Bugh!


Yoshua meraba wajahnya yang terasa sakit dan panas. Kembali menatap ke arah Dion yang berlagak arogan sekali. Dia bukan pria gentle yang menyerang saat masalah belum dibicarakan.


"Dion! Kamu nggak boleh memukul dulu!" teriak Susan kesal. Ingin rasanya melerai mereka tapi Yoshua menahan Susan agar tak mendekat. Percuma mendekat ke pria yang sedang dikuasai amarah itu.


"Lu siapa tiba-tiba pukul gue! Gue nggak ngerasa salah ama lu! Lu siapanya Susan? Trus karena itu lu ngerasa gue ngerebut?"


"Dia itu pacar gue!" teriak Dion.


"Bohong, Yosh!" teriak Susan. "Dia bukan pacarku!"


"Lihat? Denger? Yang lu bilang pacar aja nggak ngakuin di depan lu. Apa gue musti percaya?"


Dion yang kesal akan menonjok wajah Yoshua lagi. Namun, Yoshua bisa menahan kepalan tangan Dion dan membuatnya tersungkur tanpa membalas. Dion tersungkur di kaki Susan.


Susan yang kesal karena Dion berupaya untuk memukul Yoshua, akhirnya mengepalkan tangan dan memberikan hadian ke wajah Dion.


Bugh!


"Ini balasan yang tadi kamu lakukan di awal pada pacarku!" omel Susan yang tak peduli melihat darah mengucur dari pelipis Dion dikarenakan cincin Susan.

__ADS_1


"Makan itu bogem!" desis Susan.


Susan menarik tangan Yoshua agar pergi dari situ dan meninggalkan Dion yang akan berdiri. Beberapa orang mengawasi mereka, jika berkelanjutan.


"Awas kalian!" gerutu Dion mengelus pelipisnya yang berdarah. Dia merencanakan sesuatu.


***


"Kenapa kamu nggak balas tadi!" omel Susan pada Yoshua saat berboncengan.


"Nggak semua hal harus diselesaikan dengan pukulan, kan? Lagian aku nggak tau masalahnya apa, aku baru mau tanya sama dia, kan?" jelas Yoshua. "Kalo tau-tau aku yang salah, kan aku kena pasal berlapis, udah merebut pacar orang, mukulin lagi?" kelakar Yoshua.


"Huh, dia itu ngawur! Dia bukan pacarku! Memukul tanpa bahas masalahnya dulu, lagi! Dasar cowok pecundang!" imbuh Susan mengomel untuk Dion sekarang.


"Emang, dia siapanya kamu, kok marah banget pas lihat kita?" tanya Yoshua.


"Dia bukan siapa-siapaku!"


"Naksir kamu, ya?" goda Yoshua.


Susan hanya diam. Masih kesal pada lelaki bernama Dion yang hadir merusak kemesraan antara dia dan Yoshua.


"Yosh! Kita belum bayar makanan di warung tadi!" jerit Susan kaget teringat saat di warung makan.


"Oh iya! Besok aku ke sana, bayar. Tenang aja, pemilik warung hapal kok sama aku!" sahut Yoshua.


Susan mencubit lagi pinggang Yoshua. Wajahnya memerah. Untung saja dia di belakang Yoshua dan tak terlihat.


"Nggak!" sahut Susan, membuat Yoshua tergelak sepanjang perjalanan.


"Eh, bibir kamu berdarah, Yosh!"


"Nggak apa-apa," sahut Yoshua kembali fokus ke jalanan. Mereka berpisah di perempatan jalan.


"Udah, berhenti di tengah-tengah, ya? Nanti kejauhan kalo kamu antar aku. Aku bisa naik angkot," ujar Yoshua turun lalu menanggalkan helm dan menyerahkan pada Susan.


"Bener?" tanya Susan yang sebenarnya tak rela mereka musti berpisah sore itu.


"Iya, sana pulang! Hati-hati, ya?" pesan Yoshua.


"Ih, ngusir," gerutu Susan diikuti gelak tawa Yoshua.


***


"Apa ini, Susan?" tanya Key paginya saat melihat berita di koran lokal.


Susan bergegas mendekati kakaknya dan melihat berita tentang pemukulan yang dilakukan seorang dokter bernama Susan ke wajah seorang pengusaha bernama Dion.


"Ini ... Jadi gini, Kak ...."

__ADS_1


Susan menceritakan ulang kejadian yang kemarin terjadi di warung makan. Kimmy mendengar semua saat dia menggendong baby Celena.


"Kalo Kakak tidak percaya, ayo tanya ke pemilik warung!"


"Iya, aku percaya kok! Ternyata kamu mulai kencan sama cowok, ya?" ujar Key membuat wajah Susan memucat. Tanpa sadar, dia telah menceritakan tentang Yoshua dan makan berdua pada Key.


"Ka-kami cuma temen, Kak! Dia itu baru pulang dari Singapura dan baru cari pekerjaan, kita ketemu di rumah sakit ... trus aku ajak makan. Kali aja kakak ada info kerja buat dia?"


Kesempatan Susan menanyakan pekerjaan pada Key.


"Biar Felix tanyakan dulu ke HRD," sahut Key.


Wajah Susan berbinar. "Makasih, Kak! Harus ada, ya?"


"Nah, nah, maksa. Ini siapa kok dicari-carikan pekerjaan? Ya aku harus tau potensi dia lah! Jangan mentang-mentang dia pacar kamu trus—"


"Dia bukan pacarku, Kak!" potong Susan.


"Bohong ...."


"Cie, cie ... Tante Susan ...." sela Kin yang datang membawa cemilan.


"Tie ... tie ...." ujar Celena ikut-ikutan Kin.


"Tuh, kan? Anak-anak ikut mengolok?" tukas Susan malu.


"Pssst ... ini urusan orang dewasa!" bisik Key pada Kin.


"Kayak kemarin Daddy mengambil nasi di mulut Mommy?" tanya Kin polos teringat saat Daddy kepergok mencium bibir Mommynya dan Daddynya mengaku bahwa dia hanya mengambil nasi yang menempel di mulut Mommy.


Susan terbahak mendengar penuturan Kin.


"Udah, main ... main!" Key memberikan sekotak puzzle untuk Kin.


"Bos Dokter mukul orang? Wow! Emejing! Top Bos Dokter! Beritanya sampai di koran, tapi apa itu nggak pengaruh sama pekerjaan Bos Dokter?" tanya Kimmy.


"Oh, iya ... gimana, Kak?" tanya Susan cemas mendengar ucapan Kimmy.


"Nanti biar orangku yang tanya ke pemilik warung sebagai saksi dan kita buat klarifikasi tentang itu," sahut Key tenang, menyesap kopi hitamnya.


"Ah, lega punya Kakak seperti Kak Key," ujar Susan.


"Tapi kalo pemilik warung bilang kamu yang salah, nggak ada ampun," imbuh Key.


"Iya, iya, si Dion itu yang salah!" sahut Susan.


******


__ADS_1


__ADS_2