Cintai Aku!

Cintai Aku!
Ngidam


__ADS_3

Susan membenahi bajunya, hari ini dia akan melakukan pendekatan pada orang-orang bersama dengan teman-teman satu kampus, karena seorang dokter harus bisa mendekati hati orang lain. Apalagi pasien yang dirawat nantinya.


Seorang dokter harus mempunyai rasa tanggung jawab, kepedulian, dedikasi yang tinggi. Untuk itu dia harus bisa mendekat pada orang-orang.


"Susan!" teriak Yoshua dari belakang bus.


Lelaki itu berlari dengan terengah-engah saat menyusul Susan di bus.


"Kenapa, Yoshua?"


Semua mata memandang keduanya, tapi mereka langsung mengalihkan pandang, tak memperbincangkan. Dua orang, lelaki dan perempuan yang bersahabat terlihat biasa di sana.


"Ini," ujar Yoshua menyerahkan satu kantong berisi kotak nasi dan sebotol air mineral.


Gadis itu membelalak melihat ke kantong.


"Apa ini?" tanya Susan.


"Kamu ... harus makan pagi! Bagaimana bisa seorang calon dokter tak memperhatikan sarapan pagi setiap hari??" omel Yoshua pada Susan.


Senyum gadis itu terkembang. Dia meraih kantong dari tangan Yoshua.


"Makasih!" ucapnya berbinar.


Yoshua mengacungkan jemari tangan, telunjuk dan ibu jari yang membentuk huruf 'O' dan tiga jari lain tegak. Dia berlari menjauh dan masuk ke kampus karena waktu tak memungkinkan lagi untuk berbincang.


Susan melangkahkan kaki dengan ringan memasuki bus, lalu membawa juga kotak bekal itu untuk dia makan saat istirahat nanti.


*


Tiga bulan kemudian, saat itu kedua wanita telah melewati triwulan pertama kehamilan yang membingungkan pasangan masing-masing, dan keanehan pasangan.


"Mi ... Mam ...."


Kin yang sudah bisa berjalan dengan kaki pendeknya yang lucu, mendekati Kimmy dengan membawa sebuah mangkuk kecil. Dia meminta Kimmy memberinya biskuit bayi untuk cemilan.


Sang ibu bertambah parah mabuknya, sementara Kimmy sehat-sehat.


Kimmy tersenyum pada Kin.


"Tuan Kecil mau biskuit?" tanya Kimmy halus.


Kin mengangguk. Mama Bianca sesekali datang untuk membantu mereka mengasuh Kin hingga lelaki kecil itu tak kekurangan perhatian saat mereka kelelahan.


Kimmy menuang beberapa biskuit ke dalam mangkuk kecil Kin.


"Acih ...." ucap Kin membungkuk bak orang Jepang, sedikit terhuyung membuat Kimmy kaget tapi tergelak juga.


Lalu dengan gembira anak itu berlari membawanya ke arah sang Nenek.


"Ni ... Ni ...."


Bu Sinta mengajari Kin untuk memanggilnya Nani.


"Trus kalo papa dipanggil apa, Ma?"


"Kaki," sahut Bu Sinta tertawa saat Bianca menanyakan panggilan.


"Aneh-aneh ...." gerutu wanita yang sedang hamil anak keduanya itu.


Namun, sekarang Bianca sedang mabuk hebat. Dia tak kuasa turun dari ranjang. Tak seperti saat kehamilan pertama, dia masih berjalan seperti biasa, tapi kehamilan kedua ini sungguh membuatnya tak berdaya.


Rasa mual tak henti-hentinya menyerang.


"Tit ... tit ...." ujar Kin saat mendekat ke neneknya.


"Hus, anak kecil kok ngomongin alat kelamin!" ujar Bu Sinta meletakkan telunjuk ke bibirnya.


"Tit ...!" teriak Kin menunjukkan mangkuknya.


"Oalah, biskuit ...."

__ADS_1


Bu Sinta menggelar playmate di depan televisi kemudian menjaga Kin yang makan biskuit kesukaannya dengan lahap. Untunglah saat itu Brian sudah kelas satu SMP, dia bisa ditinggal sekarang dan mempunyai kegiatan baru di sekolahnya.


*


"Sayang ... kepengen rujak," ujar Bianca pada Key yang baru saja turun dari mobil.


"Felix ...." Ucapannya tertahan teringat bahwa sang asisten pun mempunyai istri yang sedang hamil.


"Ah, ya. Sekarang aku belikan," lanjut Key berbalik ke mobilnya.


"Tapi aku kepengen makan rujak di alun-alun ...." rengeknya lagi.


Iyuh! Aneh-aneh sih keinginannya??


"Ya, ganti baju dulu, lalu kita ke alun-alun," jawab Key.


"Yess!!" ucap Bianca menarik kedua tangannya yang terkepal ke samping pinggang, seperti anak kecil.


"Bawa Mama dan Kin sekalian," ujar Key karena merindukan Kin juga selama di kantor.


"Iya ...."


Bianca beranjak ke kamar di lantai atas setelah mengajak Mamanya untuk ke alun-alun bersama.


Tiba-tiba, mobil kakek datang, parkir di belakang mobil Key. Seorang sopir membukakan pintu mobil untuk kakek dan nenek.


"Ahh ... udara kota makin keruh saja!" keluh sang Kakek menggeliat, membuat suara di pinggangnya.


"Kakek! Nenek!" Key menyambut keduanya. Namun, sang pria tua itu memukul kepala Key dengan tongkatnya.


"Hey! Beraninya kau!"


Raut wajah Key berubah saat terkena pukulan. Meringis kesakitan.


"Be-berani apanya, Kek?" tanya Key.


"Bianca hamil tak ada yang memberitahuku! Kamu anggap kakekmu ini apa? Pria tua renta?? Bau balsem? Eh!" omelnya keras.


"Kakek ... maaf, aku benar-benar sibuk kemarin-kemarin, Bianca pun mabuk berat saat hamil, Kek!" jelas Key.


Tiba-tiba, derap langkah kecil terdengar dari dalam. Anak lelaki kecil dengan dot yang dia biarkan tergigit di mulutnya berlari menghambur ke kaki sang kakek hingga pria itu agak terhuyung.


"Eyuut ...." panggilnya lucu.


"Kin ... Sayangnya Kakek!"


Kedua orang tua itu memeluk Kin, cicit mereka yang makin pandai. Bertiga tak menghiraukan Key yang juga rindu pada buah hatinya.


Itu anak ... Bukan kangen sama Daddy-nya tapi malah sama Kakek buyutnya ....


Kimmy dan Bu Sinta yang tergopoh menyusul Kin, melihat Kakek dan Nenek berdiri di depan pintu, lalu menyalami mereka.


"Bu Sinta ... Apa kabar?" sapa Nenek.


"Baik, Nenek ...."


Mereka pun masuk dan terlibat obrolan seru tentang wanita.


"Kimmy juga hamil, Nek!" ujar Bu Sinta.


"Lho, kapan menikah??" sahut wanita tua itu kaget.


Pertanyaan yang sama terlontar dari mulut kakek untuk Felix di ruang kerja Key. Di sana telah ada Pak Anton juga.


"Sudah satu tahun, Kek!" jawab Felix.


Mendengar hal itu, Kakek menangis kencang dan kekanakan.


"Kalian benar-benar melupakan aku!" raungnya membuat semua menahan tawa.


"Maaf, Kek. Waktu itu pernikahan mendesak."

__ADS_1


Felix menceritakan kenapa dia bisa menikah dengan Kimmy. Sementara di lantai bawah, Kimmy juga menceritakan hal yang sama pada nenek.


Bianca keluar dari kamar dengan terhuyung. Dia habis muntah, tapi dia ingin sekali pergi ke alun-alun kota.


"Ada orang?" tanyanya keluar dari kamar. Beberapa saat yang lalu dia tampak ceria mengajak Key membeli rujak di alun-alun. Namun, beberapa jam kemudian dia mual.


Kali ini dia merasa lemas, tapi ingin sekali makan rujak sesuai dengan angannya.


"Bianca!" seru Nenek dan Kakek..


"Kakek ... Nenek! Kalian datang!" sambut Bianca.


Mereka saling melepas rindu lalu duduk kembali di ruang tamu yang ramai. Semua berkumpul jadi satu di sana, berbincang sambil sesekali tertawa karena tingkah Kin.


"Ayo ... kita ke alun-alun!" rengek Bianca.


Tak juga hilang keinginannya dengan bercengkerama di ruang tamu.


"Yun?" tanya Kin mendekati Mommy-nya.


"Iya, Nak. Alun-alun. Mommy pengen makan rujak di sana," terang Bianca pada anak yang matanya telah membulat mendengarkan ibunya.


"Ejak?" tanyanya lagi mendengar nama yang asing.


"Iya, kamu mau?" tanya Bianca lagi.


Kin mengangguk mantap.


"Ya, nanti Mommy pesenin ya? Cabenya mau berapa biji?" tanya Bianca terkekeh.


Kin mengangkat semua jarinya. "Nyak!"


"Banyak?" kekeh Bianca lagi, disusul tawa semua orang.


Akhirnya semua penghuni rumah kecuali para pelayan menuruti kemauan Bianca, sambil jalan-jalan.


Mereka semua berjalan ke alun-alun kota dan duduk di bawah pohon beringin besar di tengah-tengahnya.


Lidah Bianca benar-benar menikmati sebungkus rujak yang dia inginkan. Key mengelus dadanya.


"Syukurlah, sesuai dengan lidahnya."


Namun, sesaat kemudian dia tertawa melihat Felix. Pria itu megap-megap menghabiskan sebungkus rujak yang dipesan Kimmy dengan tujuh biji cabai.


Semula Kimmy membayangkan rasanya enak, tapi ternyata tiba-tiba dia malah beralih ingin makan kacang rebus.


"Rasakan penderitaanmu, Felix!" gelak Key.


"Sayang ... mau naik becak!" pinta Bianca mengagetkan Key.


Alun-alun itu baru-baru ini dilengkapi dengan becak-becak yang bisa dibayar berkeliling, agar sebagian tukang becak tak kehilangan pekerjaan setelah jalurnya dialihkan.


"Oh, gampang ... mau yang mana becaknya? Itu sekalian tukang genjotnya," jawab Key menjentikkan jari.


"Mau yang biru, tapi ...." Bianca menghentikan kalimatnya.


"Biru? Okelah, tapi apa?" tanya Key mengecek uang tunai di dompetnya.


"Tapi kamu yang genjot, Sayang!"


Key menepuk jidat.


"Rasain, Tuan!" olok Felix.


Dalam hati, tentunya.


******


Maaf ya gaess ... Lama nunggu. Semoga masih pada setia, hehehe. Pasti geng Bi sama Kim Lo tamat di sini, kok! Don't worry yaa ...


******

__ADS_1


Stop plagiarisme!


Melanggar hak cipta orang lain masuk dalam UU nomor 19 tahun 2002 pasal 72 ayat (1) yang berisi hukum pidana maksimal 7 tahun dan denda maksimal 5 Miliar Rupiah.


__ADS_2