Cintai Aku!

Cintai Aku!
Suka


__ADS_3

Kita tinggalkan dulu mereka yang sedang bahagia. Aku akan cerita tentang Susan. Untuk yang merindukan Susan. Namun, cerita tentang Susan kugabungkan di sini ya .... Buat yang nggak suka, skip aja yah sayang?


******


Susan membawa buku-buku tentang kedokterannya ke taman kampus. Dia baru saja selesai kuliah. Di kampus itu, semua teman tak begitu mempersoalkan siapapun. Mereka sibuk untuk belajar dan belajar. Oleh karena itu, Susan menjadi fokus pada kuliahnya.


"Hei!"


Sebuah tepukan mengagetkan gadis itu. Susan menghela napas dan tersenyum melihat Yoshua telah datang membawa sekantong keripik kentang. Dia duduk di samping Susan dan menyodorkan sekantong keripik yang telah dia buka.


Susan memasukkan tangannya dan mengerutkan dahi.


Tawa Yoshua menggelegar seketika, diikuti mulut Susan yang mengerucut.


"Prank!" goda Yoshua.


Ternyata kantong keripik itu telah kosong. Namun, Susan akhirnya tertawa juga.


"Ini," ujar Yoshua menyodorkan kembali keripik kentang yang masih utuh. Susan tersenyum dan menerima sekantong keripik itu.


"Makasih, Yosh!" ujar Susan membuka dan melahap satu per satu keripik.


"Apa yang kamu bawa, Sue?"


"Buku," jawab Susan.


"Iya, tau. Buku apa?"


"Kujelaskan ya?" tanya Susan mulai membukanya.


"Eh, eh ... Nggak usah! Aku nggak akan paham!" teriak Yoshua melambaikan tangan. Buku tebal itu pasti membuat pikirannya meluber-luber karena tak paham.


Susan kembali tertawa sambil berupaya menahan keripik yang penuh di mulut.


Ting!


Sebuah pesan masuk ke ponsel Susan. Gadis itu mengibaskan kedua tangannya, menghilangkan serbuk yang menempel di telapak tangan karena keripik, lalu membuka pesan.


"Aaah!"


Wajahnya berbinar cerah saat matanya selesai membaca kalimat-kalimat di dalam pesan.


"Kenapa?" tanya Yoshua.


"Kakak iparku melahirkan lagi," ujar Susan senang. "Kembar," lanjutnya lagi sambil mengetik balasan untuk dikirimkan.

__ADS_1


"Selamat, ya?" ujar Yoshua.


Susan mengangguk.


"Kapan kamu jadi ibu?" tanya Yoshua.


Susan melotot.


Namun, kalimat kelanjutan dari Yoshua membuatnya menjadi sesak napas.


"Ada yang ingin kubicarakan, serius padamu." Mata Yoshua benar-benar menyiratkan keseriusan. Membuat jantung Susan berdegup kencang.


"A-apa?" Susan memberanikan diri untuk bertanya walau gugup. Padahal dia sering bersama dengan lelaki itu, tapi tak menyangkal ada debar di hatinya mendengar keseriusan dari Yoshua.


Susan memang berharap lebih dan dia merasa ini saatnya lelaki itu mungkin mulai memiliki perasaan yang sama dengannya. Itu tebakannya.


Apakah aku siap detik ini?


Semua terasa begitu cepat mendengar ungkapan cinta dari Yoshua. Susan merinding sendiri. Dia merasa belum siap memiliki kekasih. Namun, dia pun tak ingin kehilangan Yoshua.


"Kalo ada yang suka sama kamu, apa kamu mau mencoba menyukainya?" tanya Yoshua dengan berbinar.


"Suka?" tanya Susan, berharap ada kata yang bermakna lebih dari itu.


"Iya, suka!" jawab Yoshua tanpa menangkap sinyal dari Susan, bahwa dia tak hanya butuh disukai saja.


"Gimana? Jangan diam aja ... wajahmu udah kayak kepiting rebus!" kelakar Yoshua, menambah rasa malu yang berlipat-lipat dalam hati Susan.


Susan masih diam seribu bahasa. Mencoba mengalihkan perasaannya agar wajahnya kembali seperti semula. Namun, rasa-rasanya tak bisa.


"Sue, mau nggak?" tanya Yoshua kembali.


Susan mengangguk pelan.


"Bilang, Sue ... aku nggak tahu makna anggukanmu itu," desak Yoshua.


"Iya ..." sahut Susan lirih.


Yoshua tersenyum, kemudian melanjutkan kata-katanya.


"Aku ..."


Susan memegang bukunya erat ke dadanya. Degup kencang di jantung, membuatnya takut jika jantungnya melompat keluar.


" ... akan panggilkan orangnya," ujar Yoshua beranjak dari duduk dengan cepat.

__ADS_1


Susan terhenyak, menatap punggung Yoshua yang menjauh dan berteriak menyuruhnya untuk menunggu di tempat itu. Jantungnya lama-lama berdegup normal kembali.


Dia tercenung di taman sekarang.


Panggilkan orangnya? Maksud Yoshua apa?


Agak lama setelah menghilangnya Yoshua, datanglah seorang pria dengan bola mata hitam pekat dengan hidung yang mancung. Wajahnya perpaduan Indo-Turki dan sangat tampan.


Susan memperhatikan lelaki itu. Dia belum pernah melihatnya sama sekali. Gadis itu bertanya-tanya siapa dia?


"Hai, Susan. Pasti kamu bingung dan belum tahu siapa aku. Kita kenalan dulu, ya? Aku Ozkan."


Lelaki itu mengulurkan tangan. Dari namanya, Susan yakin bahwa dia keturunan Turki.


"Aku ... Susan," jawab Susan menyambut uluran tangan Ozkan.


"Tadi pasti Yoshua sudah bilang padamu, 'kan?" tanya Ozkan tanpa basa-basi.


Susan makin bingung, tapi menebak juga apa lelaki ini yang menyukainya. Ternyata tebakannya benar.


"Dari pertama aku melihatmu, dan aku bilang pada Yoshua bahwa aku ingin berkenalan denganmu. Aku melihat kalian bersahabat. Kebetulan aku satu fakultas dengannya. Aku ..." Ucapan Ozkan tercekat saat tanpa sengaja pandangan mereka bertemu sesaat.


" ... menyukaimu, Susan."


Akhirnya dengan lirih Ozkan menyelesaikan kalimatnya.


"Ozkan ... aku hargai perasaanmu, tapi tunggu ya, kita baru saja berkenalan. Sebaiknya kita berteman dulu untuk mengetahui kecocokan dan perasaan masing-masing," jawab Susan halus.


Ozkan tersenyum. Memang benar apa yang dia duga. Gadis di depannya itu adalah gadis yang lembut.


"Baiklah, Susan. Aku akan menunggumu. Kifa berteman dulu," ujar Ozkan menunjukkan kelingkingnya.


Susan mengkaitkan kelingkingnya. Gadis itu tersenyum. Kemudian Ozkan bercerita dengan lancar tentang dirinya dan semua yang terjadi hari itu. Susan memutar kepalanya ke kanan dan kiri. Matanya mencari sosok Yoshua. Namun, tak ditemukan di mana pun.


"Di mana Yoshua?" tanya Susan.


Ozkan menghentikan perkataannya lalu mendesah.


"Katanya tadi akan pulang," ujar Ozkan.


"Oh," sahut Susan sedih. Dia senang memiliki kenalan baru, tapi Yoshua jadi menghilang. Padahal setiap kali dia ada untuk Susan.


******


Stop plagiarisme!

__ADS_1


Melanggar hak cipta orang lain masuk dalam UU nomor 19 tahun 2002 pasal 72 ayat (1) yang berisi hukum pidana maksimal 7 tahun dan denda maksimal 5 Miliar Rupiah.


__ADS_2