Cintai Aku!

Cintai Aku!
Lamaran


__ADS_3

"Susan kamu lama sekali sih di dalam?"


Biansa mengetuk pintu kamar Susan berkali-kali, tapi bukan pintu yang terbuka, melainkan hanya sahutan-sahutan Susan dari dalam yang menyuruh Bianca untuk menunggu sebentar dan sebentar.


Sementara seorang perias dari sebuah wedding organizer telah siap di kamar rias. Susan yang masih mondar-mandir di depan kaca dengan memegang ponsel di tangan, mengirim pesan pada Yoshua yang tak memberitahunya bahwa akan kedatangan lelaki itu dan Bu Anna.


"Iya, Kak. Sebentar."


Setelah mengetuk beberapa kali, Susan membuka pintu juga. Gadis itu menggigit bibir tanda dia sangat gugup sore itu.


"Apa? Kamu baru apa, Susan?" tanya Bianca melongok ke dalam kamar Susan tapi tak ditemukan apapun.


"A-aku grogi, Kak."


Wajah Susan agak pucat. Dia terus membayangkan kedatangan Yoshua dan keluarganya. Bayangan tentang kelanjutan hidupnya sangat membuatnya gugup. Rasa bahagia ada, tapi lebih banyak nervousnya.


"Grogi juga sebentar, nantinya kalau sudah di dalam kamar, lupa itu grogi. Adanya menyerahkan diri," kekeh Bianca.


"Ish, Kakak!"


Makin memerah wajah Susan. Dia pun menurut, berjalan ke ruangan rias. Di sana telah ada seorang perias yang menyiapkan beberapa kebaya dengan warna beragam untuk Susan.


"Dokter Susan, akhirnya mau melepas masa lajang juga," sapa sang perias.


Susan hanya tersipu. Dia pun memilih baju yang akan dikenakan. Baju biru muda dengan hiasan swarovzky warna senada yang sederhana menjadi pilihannya.


"Ini saja, sepertinya warna lembut, bagus."


Susan mengangkat kebaya itu dan membolak-balik mengamatinya. Dia yakin dengan kebaya itu. Sekali lihat, sudah naksir.


"Cocok untuk Nona Susan."


Sang perias pun mulai mempersilakan Susan untuk duduk di kursi dan langsung merias wajah gadis itu.


"Ini lensa kontak yang cocok untuk minus kamu, Sue!"


Bianca menyodorkan tiga kotak berisi contact lens untuk Susan. Susan menengok kaget.


"Darimana Kakak tau nama panggilan itu?"


Bianca tersenyum menggoda Susan dan menjulurkan lidahnya.


"Dari someone special," sahutnya menyingkir dari belakang Susan yang sudah mencebik.


***


Hati Yoshua berdebar saat tiba di depan rumah mewah Tuan Key. Sedikit merutuki dirinya sendiri bahwa dia begitu lancang untuk melamar adik pria satu itu. Namun, cinta mengalahkan semuanya. Dia tetap teguh pendirian untuk mendapatkan Susan.


Yoshua dan Bu Anna mengajak saudara-saudara Bu Anna untuk melamar Susan. Mereka telah menganggap Yoshua sebagai bagian dari keluarga mereka.

__ADS_1


Sekarang keduanya sedang duduk diantara beberapa orang yang berkumpul dalam ruangan yang telah dihias apik dan sederhana, saling bertatapan. Sesekali tersenyum dan menunduk. Hanya mereka dan Tuhan yang tahu perasaan mereka berdua.


Acara itu diakhiri dengan diputuskannya tanggal pernikahan.


Dia nampak cantik sekali dengan kebaya dan melepas kacamatanya.


Bu Anna menyenggol lengan Yoshua yang tak henti-hentinya menatap Susan.


"Oh, eh, apa Bu?"


Semua menertawakan Yoshua yang bengong memperhatikan Susan.


"Kamu setuju kalo pernikahan akan dilangsungkan bulan depan?" tanya Bu Anna setelah dia selesai tersenyum.


Yoshua menghela napas. Sebulan lagi? Satu bulan itu cepat! Dia akan mempunyai istri satu bulan lagi! Siap tidak siap, harus siap. Semakin diulur semakin besar ketakutannya akan kehilangan seseorang yang dia cintai. Karena itulah, Yoshua mengangguk mantap.


"Setuju, Bu!"


Senyum Susan terkembang, dia merasa Yoshua benar-benar serius dengannya. Bukan seperti pria yang hanya ingin menjalin hubungan tanpa kepastian. Usia mereka pun telah dewasa dan waktunya untuk melangkah lebih jauh lagi dalam kehidupan.


"Tieee ... Ate Susan."


Blush!


Wajah Susan merona saat seorang anak kecil, Celena tiba-tiba saja sudah duduk di sebelahnya dan mengoloknya dengan dibisiki oleh Kin, kakaknya.


"Ena ...."


***


Sementara itu paginya, Ozkan mengangkat kedua alisnya melihat ke layar. Tak lama kemudian dia menyunggingkan senyum saat mendapati sebuah pesan dari sahabatnya akan pernikahan yang akan diadakan satu bulan lagi.


"Cepat juga mereka akan menikah. Selamat, Yoshua. Semoga aku juga mendapatkan gadis yang sebaik Susan," gumamnya seraya mengetik balasan untuk Yoshua.


Pria itu melirik ke arah seorang pelayan yang berwajah manis di toko pakaiannya. Beberapa bulan ini dia mengamati, Vivian Pradipta, yang biasa dipanggil Vita, memang gadis yang sangat rajin. Meski berasal dari desa, tapi dia sangat pandai.


"Vita!" panggilnya.


Gadis itu menoleh dan tertunduk mendekat pada Ozkan. Pria yang tampan pemilik butik-butik besar di kota, salah satunya di sini, tempat dia bekerja.


"Iya, Tuan Ozkan."


Takut-takut, Vita mengangkat kepalanya. Wajah Ozkan tampan tapi Vita takut jika ada panggilan dari pria itu. Kebanyakan pasti ada masalah dengan pekerjaan pegawainya.


"Berapa usiamu?"


"Maaf, Tuan Ozkan jika saya melakukan kesalahan. Usia saya baru sembilan belas tahun. Mohon petunjuk agar saya bisa bekerja dengan baik!"


Berkali-kali Vita membungkuk pada Ozkan, membuat pria itu tercengang, lalu menggembungkan kedua pipi dan tertawa terbahak-bahak.

__ADS_1


Vita berhenti membungkuk dan mengamati pria yang sedang tertawa di depannya itu dengan heran.


"Ya! Kamu melakukan kesalahan!"


Keheranan Vita berubah, wajahnya pucat saat Ozkan dengan cepat mengubah mimik wajah tertawanya menjadi sangat menyeramkan.


"Ma-maaf, Tuan. Kesalahan apa yang saya buat?"


"Salah sendiri kamu manis," gumam Ozkan.


"Eh?" gumam Vita samar mendengar gumamam Ozkan.


"Apa? Kamu kurang rajin! Kamu harus membayar semua itu dengan satu hal!" ancam Ozkan mendekat ke wajah Vita.


"B-baik."


Vita rasa, selama ini sudah sangat rajin, tapi entah kenapa pemilik butik mengatainya kurang rajin. Mungkin di mata Tuan Ozkan, Vita memang kurang rajin.


"Kamu harus menemaniku, menjadi pendampingku di acara pernikahan sahabatku, mengerti?"


Vita terhenyak mendengarnya. Sesekali mungkin seorang bos bisa begitu konyol dengan sebuah hukuman. Hukuman apa itu?


"T-tapi, Tuan."


"Kamu mau dipecat?"


"Tidak, Tuan."


"Kalo begitu, pilihlah satu gaun dari butik ini untuk kamu kenakan di hari pernikahan sahabatku satu bulan lagi."


Vita begitu bingungnya menghadapi orang kota yang aneh-aneh. Dia masih mematung di depan pria yang menurutnya sangat tampan itu.


"Saya ... saya tidak punya uang untuk membayarnya, Tuan."


Sudah bingung, tambah harus memikirkan bagaimana membayar gaun yang ada di butik itu. Satu gaun bisa menghabiskan uang gaji bulanannya.


"Siapa yang menyuruhmu membayar?"


Vita tambah kebingungan. Dia hanya menatap ke wajah Ozkan yang begitu dekat menatapnya. Sesaat Ozkan mengamati bola mata bening milik gadis di depannya, lalu matanya turun ke hidung dan bibir. Sialnya, Vita menggigit bibirnya karena bingung, tapi di mata Ozkan, nampak begitu mengesankan.


"Tak usah kamu gigit-gigit bibirmu itu! Sudah! Tugasmu hari ini memilih gaun!"


Ozkan meninggalkan Vita seketika. Pria itu sebenarnya sangat gugup melihat Vita menggigit bibir. Mengabaikan ucapan terima kasih yang lirih dari mulut Vita.


"Sial sekali. Gadis itu menggoda! Awas kamu langsung kunikahi!" gumam Ozkan masuk ke mobilnya.


******


Sedih sekali cerita ini akan tamat .... Itu aja pesan aku, makasih yang udah ngikutin, sayang kalian semuaaa ....

__ADS_1


******



__ADS_2