Cintai Aku!

Cintai Aku!
Masa Lalu Felix


__ADS_3

Keesokan harinya, setelah perang dingin berakhir, dan semua hal berjalan semestinya, Key dan Felix kembali melakukan pekerjaan mereka.


"Aku berangkat dulu ya, dua kesayangan!"


Key memegang pundak Bianca lalu mengecup kening wanita itu dan balita yang sedang dia gendong.


"Hati-hati ya, Sayang!" pesan Bianca.


Key mengangguk dan mengacungkan ibu jarinya kemudian masuk ke mobil.


Bianca masuk kembali dan melanjutkan kegiatannya di rumah.


*


Mobil tiba di perusahaan. Felix dan Key langsung masuk ke ruang kerja khusus di tingkat paling atas. Hingga menjelang siang, mereka berkutat di sana.


Suasana di kantor Sinar Group sedang sibuk seperti biasanya. Para karyawan berlalu lalang, bekerja dengan wajah serius. Ada sedikit tawa di dalam ruangan yang berisikan beberapa karyawan wanita. Membicarakan sesuatu yang membuat mereka geli. Sesekali seorang menyeletuk dan membuat tawa lagi. Namun, tawa itu terhenti seketika jika bau atau bayangan Felix melewati ruangan.


Mereka seperti tersihir untuk kembali ke tempat masing-masing. Apalagi yang datang Tuan Key. Mereka tak akan mengulangi tawa mereka dan melupakan cerita konyol yang sedang mereka bicarakan. Jika dalam bulan itu ada penurunan penjualan, maka amarah Tuan Key akan meledak. Target harus selalu dicapai. Harus.


Sebenarnya Felix pun tak menghiraukan mereka saat itu. Perasaannya sedang sedikit tergugah. Pikirannya buyar pada pekerjaan sesaat. Ya, jika beberapa orang terkejut, mereka akan meletakkan pekerjaannya beberapa waktu. Namun, tidak untuk Felix. Dia masih akan tetap bekerja. Kejutan tak mempengaruhinya jika di kantor. Kecuali kejutan dari Tuan Key.


Felix mengernyitkan dahi. Menatap lekat ke layar ponsel, membaca pesan dari seseorang, lalu dia masukkan lagi ke sakunya. Kemudian melanjutkan langkahnya ke ruang-ruang divisi.


*


Seorang gadis nyentrik turun dari mobil tuanya. Dia melangkah lunglai setelah berita yang dia dapatkan ditolak oleh manager sebuah perusahaan media cetak tempat dia bekerja.


Gadis itu masuk ke sebuah cafe dimana dia bertemu dengan seorang pria, sepuluh tahun yang lalu. Duduk bersandar di sebuah kursi, dimana sepuluh tahun yang lalu dia berada di tempat yang sama bersama seorang pria.


Ingatannya melayang saat pertama kali mereka bertemu.


Malam itu sekitar pukul sembilan, si pria terlihat kelelahan, duduk sambil memutar gelas berisi air lemon dingin di depan mulutnya. Seperti memikirkan sesuatu.


Dia ingat, saat itu dia tergugah untuk mendekati pria yang duduk terdiam dalam keremangan malam. Sepertinya dia sedang bermasalah.


"Hai, boleh aku duduk di sini?" tanyanya sopan.


Pria itu mengernyitkan dahi, menatapnya dari atas ke bawah, tapi kemudian menyunggingkan senyum kakunya.


Pria yang dingin.

__ADS_1


Gadis yang terbiasa menghadapi banyak orang, sedikit banyak bisa membaca sikap orang lain.


Gadis itu nekat duduk dekat pria yang baru saja ditemui, meliriknya sebentar, lalu memanggil seorang pelayan, memesan minuman yang sama persis seperti yang dipesan oleh si pria.


Pria itu masih saja bertahan dengan sikap diamnya. Menatap ke depan sembari meneguk sedikit-sedikit minumannya.


"Aku Amoy, anda?"


Gadis itu seolah tak perduli atau memang terlalu berani untuk berkenalan dengannya. Profesi sebagai reporter memang harus mengenal banyak orang. Siapapun itu.


"Felix," ujarnya tanpa menengok dan menyambut tangan gadis nekat itu.


Amoy mendengus, dengan kecewa dia menurunkan tangannya, menyesal kenapa dia harus mengulurkan tangan padahal tahu pria itu dingin seperti kutub. Akhirnya dia teringat lagi akan kekecewaannya pada sang manager.


"Aku sudah tiga tahun bekerja di perusahan media cetak, tapi kenapa beritaku sering ditolak akhir-akhir ini!" sungutnya kesal.


Gadis itu mencerocos begitu saja, mengalir tanpa ada yang bisa menghentikan. Namun, kembali dia tak perduli. Dia ingin menumpahkan kekesalan di situ. Entah pria itu akan perduli atau tidak, dia hanya akan curhat.


"Kita sama," ujar pria itu saat Amoy selesai berbicara, membuatnya mengangkat kepala, menengok pada Felix.


Dia bisa juga bicara tentang apa yang sedang dia alami.


Seenaknya saja gadis itu berceletuk.


"Apa nasib buruk anda?" tanya Amoy sambil menyeruput minuman lemon yang telah dibawakan oleh si pelayan cafe.


"Aku melakukan sebuah kesalahan dalam pemeriksaan keuangan. Atasanku sangat marah, hingga akan memecatku." Kalimatnya terdengar frustasi.


"Oh, turut sedih mendengarnya," ujar Amoy berempati.


Felix terdiam dan menyadari kenapa dia malah ikut sesi curhat pada gadis itu.


Amoy melirik sedikit pada pria yang telah menghabiskan air lemonnya.


Andaikan dia memotong sedikit rambutnya akan lebih manis.


Ah, aku memikirkan apa sih!


"Dimana kamu bekerja, Tuan?" tanya gadis itu.


Felix terperanjat saat mendengar pertanyaan itu. Dia seorang reporter. Felix merasa harus berhati-hati dengannya.

__ADS_1


Pria itu cepat-cepat berdiri dan menghindar dari si gadis yang telah mendengar rahasia bahwa dia akan dipecat. Untunglah dia belum tahu dimana Felix bekerja.


"Eh, mau kemana? Kita belum selesai berbincang, kan?" tanya Amoy terkejut.


"Aku ada urusan. Semua sudah kubayar."


Felix melangkah pergi.


"Tunggu!!" teriak Amoy.


Dia berlari mengejar Felix, napasnya tersengal-sengal. Meski dia sering berlari-lari mencari sumber berita, tapi kali ini mengejar Felix pun sampai ngos-ngosan.


"Nomor ... nomor hp anda, Tuan Felix!"


Amoy menyerahkan ponselnya agar pria itu mengetikkan nomornya.


Felix berpikir sejenak dan entah sihir apa yang membuat ia memberikan nomor ponselnya pada gadis itu kemudian mengembalikan hp gadis itu. Setelah Amoy menerima ponsel, Felix melanjutkan langkah masuk ke mobilnya.


Amoy yang agresif bisa mendekati Felix dengan puluhan jurusnya. Hingga gadis itu jatuh hati dan menyatakan cinta pada pria itu. Namun, Felix yang terikat pekerjaan dengan Tuan Key, belum berani merespon kata cinta Amoy, hingga tahun-tahun berlalu, dan mereka tak pernah berhubungan lagi.


Bayangan masa lalu itu memudar.


Amoy duduk di tempat dulu ia bertemu Felix. Kali ini dengan kasus yang sama, sebuah penolakan berita meski telah berpindah ke perusahaan lain, setelah beberapa tahun dia tak juga memperoleh jawaban dari Felix, perusahaan mengirimnya ke kantor luar negeri, hingga bertahun lamanya bertahan dan mengajukan resign lalu akhirnya mendapat kerja lagi di negeri sendiri, baru satu minggu ini.


Usai memesan sebuah minuman lemon, dia membuka ponselnya. Mencari nomor pria itu dan ... masih tersimpan meski Amoy telah berganti nomor, tapi nomor itu selalu mengikuti pemindahan kontak.


Iseng, gadis itu mengetik dan mengirim pesan pada Felix, menanyakan kabarnya.


Terkirim!


Dia terkejut, tapi juga berharap pria itu akan membalasnya. Satu menit, dua menit, tiga menit sampai satu jam, belum juga ada balasan. Kembali gadis itu menelan kekecewaannya. Dia menyesap lemonnya, menerawang sambil mengambil sebuah sandwich daging asap, menambahkan saus pedas dan mayonaise, kemudian menggigitnya perlahan sambil kembali mengulang ingatannya akan Felix.


******


Othor siap-siap ditimpuk readers!


******


Stop plagiarisme!


Melanggar hak cipta orang lain masuk dalam UU nomor 19 tahun 2002 pasal 72 ayat (1) yang berisi hukum pidana maksimal 7 tahun dan denda maksimal 5 Miliar Rupiah.

__ADS_1


__ADS_2