
"Selamat ya, Yosh!" ucap Bu Anna saat Yoshua mendekap wanita yang merawatnya selama belasan tahun itu dengan sabar hingga dia mencapai saat ini.
Yoshua telah selesai menamatkan pendidikannya di Singapura dengan usahanya sendiri.
"Makasih Bu, kalo nggak karena perlindungan dan kasih sayang dari Ibu, aku nggak bakal seperti ini," sahut Yoshua masih memeluk wanita itu seperti ibu kandungnya sendiri.
Setelah beberapa saat, Yoshua melepas pelukannya. Bu Anna menyuruh dia untuk duduk di kursi kantor.
"Gimana rasanya di Singapura, Yosh?" tanya Bu Anna.
"Amazing, Bu! Baru kali itu kan aku ke luar negeri? Ibu harus ke sana suatu hari nanti!"
Wajah Yoshua nampak berseri mengingat semua yang dia alami di sana. Mendapatkan beasiswa dari hasil ujiannya, membuat lelaki itu bisa melanjutkan pendidikan di luar negeri.
"Lalu? Ceritakan pada ibu tentang keadaanmu di sana," pinta Bu Anna antusias.
Yoshua tak kalah antusias menceritakan pengalamannya di luar negeri. Tentang pekerjaannya sebagai waiter, juga menjadi asisten seorang model terkenal. Seorang teman gadis yang mirip dengan adiknya, tak luput dari apa yang dia ceritakan. Bu Anna menangkap sesuatu yang disembunyikan saat menceritakan tentang Susan.
"Oh, jadi kamu sesenang itu di sana hingga tak pulang selama hampir lima tahun?" tanya Bu Anna.
"Hahaha, ah Ibu ... aku merindukan kalian, tapi aku memikirkan biaya pulang-pergi ..." raungnya.
Bu Anna tertawa setelah dia memasang wajah cemberut.
"Ya sudah, letakkan barang-barangmu di kamar. Setelah itu, mandi. Ini sudah siang, adik-adikmu menunggu di ruang makan," ujar Bu Anna.
"Iya, Bu. Bu, ini sedikit uang dari hasil pekerjaanku sebagai asisten model."
Yoshua mengangsurkan amplop berwarna putih ke tangan keriput Bu Anna. Lalu bergegas meninggalkan wanita yang nampak terharu melihat satu anak yang dia rawat sedari kecil telah memberinya uang hasil jerih payahnya sendiri.
Bukan nilainya, tapi rasa kepeduliannya pada wanita tua yang hidupnya hanya dihabiskan dengan kegiatan sosial sejak kepergian suaminya dengan wanita lain berpuluh tahun yang lalu karena rahimnya tak dapat memberikan seorang anak pada sang suami dan keluarganya.
Tanpa sadar, Bu Anna menitikkan air matanya.
"Yoshua harus hidup bahagia bersama wanita yang dia cintai ... Dia seperti anakku sendiri," ujar Bu Anna.
***
"Kak Yoshua!!" teriak anak-anak panti asuhan saat melihat kedatangan Yoshua.
__ADS_1
Mereka saling memeluk pria itu. Pria yang membantu Bu Anna untuk melayani mereka dengan tulus.
"Hei, baju kalian bagus-bagus!" puji Yoshua hanya berbasa-basi. Namun, basa-basi itu menghasilkan keterkejutan luar biasa.
"Iya, ini dari Kak Susan yang cantik!" sahut mereka.
Mendengar nama 'Susan', Yoshua terbelalak.
"Susan?" ulangnya.
"Iya! Kak Susan, dokter rumah sakit nasional! Cantik, pintar, baik, lagi!" celetuk mereka.
Yoshua menengok ke arah pintu dan melihat wajah tenang Bu Anna. Meminta penjelasan pada wanita itu. Mungkinkah Susan itu? Ataukah Susan yang lain? Yang jelas, detak jantung Yoshua sudah tak beraturan mendengar nama itu disebut.
Bu Anna mulai bercerita tentang kedatangan Susan dan keluarganya. Yoshua mendengarkan setiap kata yang keluar darinya dengan seksama.
***
Di rumah sakit, operasi Adele sedang berlangsung. Semua dokter yang menangani bersikap sangat professional. Hanya Susan yang merasa tegang. Baru kali ini dia menangani operasi dan yang dioperasi adalah Adele, seorang anak yang ceria, yang telah dekat walau hanya beberapa hari dengan Susan.
Operasi berjalan selama empat jam. Selama itu rasa berdebar dalam hati Susan tak juga mereda. Bu Erry juga tak henti berdoa selama proses operasi berlangsung.
"Dik, apa Adele sudah masuk ruang operasi?" tanya Nyonya Erren, kakak dari Bu Erry tergopoh-gopoh datang.
"Iya Mbak, udah."
"Oh, ya sudah. Kamu sabar nunggu. Semoga jantungnya benar-benar cocok dengan Adele," harap Nyonya Erren. Wanita dengan baju agak glamour dan nampak dia adalah seorang yang cukup kaya mengelus pundak adiknya.
"Iya Mbak, sudah empat jam berlangsung."
Tak berapa lama, pintu ruang operasi dibuka dan para perawat yang memakai baju operasi mendorong brankar keluar. Bu Erry dan Nyonya Erren mengikuti para perawat itu dari ruang operasi ke Unit Gawat Darurat agar bisa dirawat intensif di sana.
"Dokter, gimana operasi anak saya?" tanya Bu Erry dengan mimik wajah memelas.
"Mari ikut saya ke ruang rawat pasien dulu. Silakan ibu memakai baju khusus untuk masuk ke ruang ICCU," ujar dokter.
Bu Erry menurut lalu memakai baju khusus yang telah disediakan.
Di dalam, dokter menjelaskan bahwa mereka akan menunggu selama beberapa hari melihat perkembangan pasien. Jika dalam beberapa hari tak ada keluhan, itu artinya pasien cocok dengan cangkok jantungnya. Namun, bila ada keluhan, kemungkinan akan diberi tindak lanjut. Bu Erry menganggukkan kepala mendengarnya. Tak ada lagi yang bisa dilakukan selain pasrah.
__ADS_1
Dion berjalan mendekati ibunya yang sedang duduk di ruang tunggu ICCU.
"Mama, gimana? Udah beres administrasinya?" tanya Dion pada Nyonya Erren.
"Kayaknya sih, belum ..." sahut Nyonya Erren.
Dion melirik jam yang melingkar di tangannya.
"Trus, Adele gimana, Ma?"
"Baru aja selesai operasi. Dokter sedang berbincang dengan Tante Erry. Kita cuma bisa menunggu, Dion."
"Iya, Ma."
Dion menangkap sosok yang dia kenal berjalan mendekatinya memakai baju dokter. Lelaki itu sampai mengucek matanya saat melihatnya. Dia kembali menatap dari atas ke bawah.
"Su-Susan?" ucapnya tak percaya. Dia sampai membaca name tag di dada Susan.
"Oh, selamat siang menjelang sore, Pak Dion!" sapanya. Mencoba santai meski baru saja jantungnya berdebar saat berada di ruang operasi dan belum juga mereda saat telah berganti pakaian.
"Bu dokter," sapa Nyonya Erren sok ramah melihat orang di depannya kenal dengan anak lelakinya.
"Iya, Bu."
Susan meninggalkan mereka berdua tanpa mengucap sepatah kata pun. Dia masih bertugas untuk mengecek kondisi pasien di ICU, yaitu sepupu Dion sendiri, dan Susan tak perduli urusan Dion untuk apa di situ. Yang penting baginya hanya menyelesaikan tugas.
"Kok kenal dokter, Yon?" tanya sang Mama tapi tak digubris oleh anaknya.
Dion masih memperhatikan Susan dari belakang lalu menarik lengan ibunya.
"Ma, Mama ... kalo yang pakai baju putih itu pasti dokter kan, ya?" tanyanya seraya melamun.
"Iya, jelas!" tukas Sang Mama.
Padahal Dion berharap Mamanya akan menjawab dengan OB atau pelayan atau tukang sampah. Dia masih tak berkedip memandang Susan dari belakang sampai hilang dari pandangan. Tak percaya dengan apa yang dilihat dengan mata kepalanya sendiri.
******
__ADS_1