
"Felix ...."
Tanpa mengucap pun, kehadiran Amoy membuat Felix terperanjat. Apalagi mendengar suaranya. Seketika pria itu merasa mulas.
"Mau bernostalgia, ya?"
Pertanyaan apa itu? Dia percaya diri maksimal tingkat langit dewa. Nostalgia? Nostalgila kali.
Felix hanya diam. Dia menjalin jemarinya, menunggu sesuatu yang dipesan untuk membasahi kerongkongan.
Amoy duduk di hadapan Felix dengan senyum kemenangannya karena malam ini berhasil berkencan dengan tak sengaja.
Felix sendiri malah melemparkan pandang ke sembarang arah. Ingin bertanya tentang keadaan perut gadis itu, tapi malas melanda.
"Setiap hari aku ke sini."
Amoy tertawa sedikit.
Setiap hari? Bahkan kemarin kan kamu menguntitku, Ferguso.
Felix hanya memutar bola matanya. Berharap wanita yang kelebihan muatan kata itu terkunci mulutnya.
"Aku selalu terkenang dengan cerita kita sepuluh tahun yang lalu. Oleh karena itu, belum ada pria yang menjadi pacarku selama ini."
Iya, bukan karena kamu setia, tapi karena mereka ketakutan pada mulutmu.
"Ehm, Felix, apa kamu juga seperti aku?"
Pelayan cafe datang membawakan nampan berisi pesanan Felix.
"Kak, aku juga pesan minuman yang sama dengan dia, tambah satu piring roti bakar selai coklat, eh no no no, kacang, eh maksudku keju!" ujar Amoy mengangkat tangannya. Padahal si pelayan masih berada di situ.
Sang pelayan tampak kebingungan. Namun, dia merasa masih beruntung karena tangan si gadis tak mengenai bagian wajahnya
"Jadi, keju, coklat atau kacang, Nona?" tanya pelayan.
"Coklat," jawab Amoy.
Pelayan mengangguk, sementara Felix melotot, menyatukan kedua alisnya mendengar kerecehan gadis itu.
Ribet sekali hidupnya, seperti itu mau memiliki pacar? Untuk apa? Untuk mempersulit pacarnya atau untuk mempermudah dirinya sendiri?
Amoy tersenyum semanisnya. Menampilkan deretan gigi yang rapi. Sebenarnya gadis itu cukup manis. Namun, mulutnya yang tak memiliki rem, menurunkan rating.
"Felix, aku selalu ingat padamu setiap saat, setiap waktu, setiap detik. Apa kamu juga merasakan hal yang sama?"
Gadis itu menyunggingkan senyumnya lagi. Felix menyeruput lemonnya, lalu meletakkan gelas tinggi itu kembali lagi ke tempat.
Sebenarnya saat sepuluh tahun itu, Felix sempat menyukai gadis itu karena kegigihannya untuk mendapatkan sesuatu yang dia inginkan. Pria itu sempat ingin menjawab 'ya' untuk hal yang diajukan oleh Amoy agar dia menjadi kekasih gadis itu. Namun, takdir berkehendak lain.
__ADS_1
Amoy yang suka terburu bertindak, memilih pergi dan meniti karirnya di luar negeri. Namun, entah kenapa rasa suka Felix saat ini menguap. Hilang entah kemana.
Pria itu sedang memikirkan dirinya sendiri saat cerita-cerita legenda, fabel hingga mitos keluar dari mulut Amoy tanpa henti.
Felix merasakan aneh. Dia merasa bersalah pada seseorang saat berdua bersama perempuan lain malam itu.
Apakah aku merasa bersalah karena janji? Bukan ... sepertinya bukan hanya karena itu.
Felix merutuki diri sendiri karena tak mampu menemukan jawabannya selain menyadari bahwa ada seseorang yang mulai dia butuhkan, mulai dia cemburui, mulai dia nomor satukan.
Felix menghela napas. Dengan kehadiran Amoy, dia tak harus kesal tapi berterima kasih padanya karena membuat pria itu menyadari sesuatu yang penting dalam hidupnya.
Pria itu tersenyum pada Amoy. Senyum yang paling menawan hingga membuat gadis itu berhenti berbicara seketika.
Senyumnya membuat mimisan.
Apakah dia akan menjawab permintaanku sepuluh tahun yang lalu sekarang? Oh, sekarang? Tuhan aku tak sanggup menahan lagi perasaanku. Senyumnya itu, setelah sekian purnama baru aku melihat senyum secemerlang ini dari wajah pria pujaanku.
Batin Amoy bergejolak. Riaknya tak beraturan.
"Makasih, Amoy."
Pertama kali kata itu terucap dari mulut Felix malam itu bersama Amoy.
"Ah, kau tak perlu berterima kasih. Aku ke sini demi kita. Pastikan hubungan kita akan langgeng senantiasa hingga aki-aki dan nini-nini. Aku senang, Felix akhirnya permintaanku terjawab sudah. Ahh ... penantian sepuluh tahunku berakhir dengan - ...."
"Aku memiliki seseorang yang kusadari benar bahwa aku mulai mencintainya, membutuhkannya dan dia ...."
Felix melirik Amoy yang tersipu.
Dia memulainya! Dia mulai mencintai ak- ....
"... bukan kamu," ujar Felix tegas.
Amoy yang tersenyum, mendadak nyengir mendengarnya bergegas menatap mata Felix, mencari kebenaran di sorot mata itu. Menanti agar dia meralat, mencoret kata 'bukan' yang baru saja pria itu ucapkan.
Namun, nihil adanya. Kesungguhan tampak dari sorot matanya yang jernih dan tajam. Memecahkan hati Amoy menjadi berkeping-keping.
"Lalu, siapa?"
Masih saja Amoy menanyakan hal itu, meski bukan dirinya, tapi dia ingin seseorang yang dimaksud Felix nyata. Bukan menghadirkan hal semu hanya untuk menolaknya.
"Kamu tak perlu tahu dan jangan masukkan ini ke dalam beritamu," kecam Felix.
Amoy mengeluarkan tangannya yang sudah memegang pulpen dan kertas dari tas. Dia mengangkat tangannya tinggi-tinggi sambil menelan ludah. Pria itu sungguh-sungguh mengancam.
Pikir Amoy, tidak mendapat orangnya, tapi lumayan jika mendapat beritanya. Masih saja memikirkan kerja di saat membicarakan perasaan.
"I-iya," jawab Amoy langsung menurunkan tangan saat salah satunya sukses menusuk mata pelayan yang membawakan pesanannya.
__ADS_1
Pelayan itu menggerutu, dalam hati tentunya.
"Ada satu syarat, kamu harus memberi tahuku siapa perempuan itu!" pinta Amoy.
"Apakah itu penting bagimu?" tanya Felix menghabiskan minumannya.
"Aku akan traktir kamu kali ini jika kamu beri tahu aku siapa dia. Bukankah ini penawaran yang bagus?" ujar Amoy.
"Kamu traktir aku, hanya demi berita ditukar segelas minuman lemon?" ulang Felix.
Amoy mengangguk, meringis.
"Huh, kamu tak perlu tahu. Semua ini aku yang akan bayar. Anggap saja ini traktiran sebagai rasa terima kasihku!" ujar Felix seraya memasukkan kembali ponsel yang tadi dia keluarkan, ke saku.
Felix melirik ke jam di pergelangan tangan, menggelengkan kepala, lalu membayar semua pesanan di atas meja pada pelayan dan memberinya tip yang cukup lumayan.
Pelayan itu berbinar saat diberi tip.
"Permisi. Aku duluan, terima kasih sekali lagi untuk malam ini."
Felix berdiri sambil mengatakan hal itu, kemudian beranjak dan berjalan meninggalkan Amoy begitu saja.
*
Kimmy berkali-kali melirik ke jam dinding. Dia mulai lagi memeriksa bawaannya untuk yang kesekian kali. Dia teringat bahwa Felix akan ikut ke desa.
Ponselnya berbunyi.
Kimmy mengangkat panggilan itu.
"Halo Bos Pelix, kamu dimana?" tanya Kimmy.
"Di jalan! Tunggu ya! Sebentar lagi aku sampai!" ujarnya.
"Iya, jadi ikut?"
"Jadi!"
Klik.
Hanya itu. Ya, tapi membuat Kimmy merasa aneh. Kenapa pria itu meneleponnya untuk hal yang tak penting. Katanya sebentar lagi sampai, tapi kenapa pakai menelepon segala?
Gadis itu mulai menata baju Felix yang akan dibawa ke desa. Kemudian meneliti setiap sudut ruangan agar aman jika ditinggalkan semalam.
******
Stop plagiarisme!
Melanggar hak cipta orang lain masuk dalam UU nomor 19 tahun 2002 pasal 72 ayat (1) yang berisi hukum pidana maksimal 7 tahun dan denda maksimal 5 Miliar Rupiah.
__ADS_1