Cintai Aku!

Cintai Aku!
Peresmian Rumah Baru


__ADS_3

Sore itu setelah kakek dan nenek pulang, mereka berempat benar-benar menuju ke lokasi di alamat yang tertera di brosur. Kedua ibu hamil di belakang sedang bercanda memperbincangkan baju-baju bayi lucu di layar ponsel.


Sedangkan Kin, duduk di depan, dipangku oleh Key. Semua yang dia lihat ditanyakan pada daddy-nya.


"Tol ... nyak," ujarnya ke sang daddy menunjuk ke banyak sepeda motor di depannya.


Pria itu hanya tersenyum, tak memahami yang dikatakan oleh anaknya.


"Beng ...." ujarnya lagi.


"Dia ngomong apa, ya?" tanya Key pada Felix.


Pria yang ditanya hanya mengangkat bahu.


"Entahlah, Tuan. Coba tanyakan pada Nona," sahut Felix.


"Sayang, 'beng' itu apa?" tanya Key menengok ke belakang.


"Mobil," jawab Bianca santai.


"Oh, mobil, Sayang ... iya, mobilnya antre ya di lampu merah?" ujar Key mengajak bicara anaknya.


Felix melirik ke tuannya. Terselip rasa yang entahlah apa namanya saat melihat kesabaran seorang pria yang biasanya kejam dengan para karyawan itu, menjadi sangat lembut bak chiffon menghadapi anaknya.


Dia tersenyum-senyum sendiri membayangkan anak yang akan lahir dari rahim istrinya. Dia akan menjadi orang tua seperti itu.


"Felix! Felix! Lix!" Key menggoncangkan bahu asistennya.


"Eh, iya, Tuan!" jawab Felix kaget, tersadar dari lamunan.


"Lampu hijau!" desis Key yang menahan teriakan saat memangku anaknya.


"Oh, oh!"


Felix memacu mobil. Mengabaikan klakson yang berbunyi di belakangnya.


"Mikir jorok apa sih kamu ini?" sindir Key.


"Yok ... Yik yok!" ujar Kin menirukan daddy-nya.


"Apa? Tik-tok?"


Key sudah akan membukakan ponselnya, tapi Kin melotot mengulang lagi kata-katanya.


"Yik, yok!"


"Om Felix jorok!" ujar Bianca menjelaskan.


"Ooh ...." Key menepuk jidat.


"Kenapa anak kecil selalu cepat menyerap kata-kata yang aneh?" gumam Key pelan.


*


Setelah tiba di kantor pemasaran, kedua lelaki itu bertemu dengan customer service.

__ADS_1


"Selamat sore, Tuan-tuan!" sapanya.


"Sore, kami mau menanyakan tentang rumah yang ada di brosur ini. Apakah masih ada untuk type 120?" tanya Felix pada pria itu.


"Oh, sebentar saya cek," ujar si customer service duduk dan mendorong kursi putarnya ke komputer.


Sebentar kemudian, gadis itu kembali ke tempatnya.


"Masih ada dua, Tuan!" jawabnya.


"Oh, bisa kami lihat ke lokasi?" tanya Felix.


"Tentu bisa! Sebentar, karyawan kami akan mengantar," sahutnya.


Seorang pria mendatangi mereka dan mengajak ke lokasi.


"Saya Heri, yang akan mengantar Anda semua. Mari, Tuan-tuan dan Nyonya-nyonya!" ujarnya sopan.


Mobil sampai di lokasi. Mereka berempat turun dan meninjau rumah-rumah yang baru dibangun itu.


"Ini kan type 120?" tanya Key menunjuk pada empat rumah paling depan.


"Iya, Tuan!" sahut si karyawan.


"Yang masih belum dibeli dua yang paling depan!" ujarnya.


"Mari kita lihat-lihat dulu ke dalam," lanjut Heri.


Mereka masuk ke rumah yang belum dipesan orang. Rumah yang begitu luas dengan beberapa ruangan. Ada lima kamar tidur, dapur, ruang tamu, ruang keluarga dan dua kamar mandi, lalu sebuah car port yang bisa menampung dua mobil.


Heri menjelaskan detail rumah dengan sangat baik.


Mereka telah puas berkeliling.


"Wah, bagus kok rumahnya, Sayang! Aku saja suka!" sahut Bianca.


"Gimana, Felix?" tanya Key pada asistennya itu.


"Bagus, Tuan!" jawab Felix mengelus dinding rumah itu.


Kimmy pun terlihat menyukainya.


"Kalau dibayar cash jadi berapa rumah ini?" tanya Key.


"Lebih hemat, Tuan. Kalo ditotal kredit satu miliar sembilan ratus enam puluh juta tiga ratus ribu, cash jadi dapat potongan jadi satu miliar delapan ratus sembilan ratus juta rupiah," jawab Heri.


"Ya sudah, aku ambil cash, ya?" ujar Key.


"Felix, enaknya aku beli satu apa dua?" tanya Key membuat Heri terbelalak. Dia belum sadar siapa pria di depannya itu.


Orang ini, beli rumah kayak beli jagung rebus!


"Secukupnya, Tuan!" jawab Felix membuat mata Heri tambah terbelalak.


Se-secukupnya? Ini beli rumah apa acara masak-masak??

__ADS_1


"Ya sudah, dua rumah aku beli. Yang satu untuk investasi," ujar Key.


Felix mengerutkan dahi.


"Lho, yang ini buat apa, Tuan?" tanyanya.


"Buatmu lah!" ujar Key dengan gaya memberikan kartu hitamnya dan memasang kacamata hitam dan merangkul istrinya untuk berjalan ke rumah depannya. Meninggalkan Felix dan Kimmy yang tertegun.


Kaget, berdebar, bahagia, haru ... jadi satu.


"Tuan ... Nyonya?"


"Tuan ... Nyonya?"


Heri melambaikan tangan di depan mata keduanya. Dua orang yang terbengong menatap dua juragan besar dan satu juragan kecil yang mulai menghilang.


"Oh, eh! Iya!"


Felix bergegas memesan dua rumah type sama dan berhadapan itu.


*


Beberapa hari kemudian setelah semua administrasi pembelian rumah.


"Makasih banyak, Tuan Key!" Felix menyalami pria yang paling setia untuk diseganinya selama beberapa tahun itu.


"Biasa saja lah, Felix!"


Key mengibaskan tangan pada Felix. "Itu tak seberapa dengan jasamu padaku," ujarnya kembali menatap layar ponselnya.


Saat itu, persiapaan syukuran dua rumah baru. Semua pelayan memasak dengan bersemangat dibawa ke perumahan baru itu.


Semua karyawan ikut serta dalam acara itu. Dua rumah jadi ramai dengan kehadiran pegawai kantor dengan karyawan hotel.


"Mbak Kimmy lagi hamil kok tetep cantik yo?" celetuk Nano.


Laura melototi Nano.


"Iya kok Mbak Laura, Mbak Kimmy itu seperti bunga di padang pasir, sayang ketemunya kaktus!" celetuk Nano lagi.


Laura tambah melotot.


"Mbak Kimmy itu ...." Ucapan Nano terpotong saat di sebelahnya berganti orang.


"Siapa yang kamu bilang kaktus, eh??"


Nano meringis. "S-saya Mas Felix ...."


"Jadi maksudmu kalo kamu kaktus... Kimmy ketemu kamu??" ujar Felix melotot.


"Ehh, bukan ... Pokoknya Mas Felix cakep, pas pokoknya sama Mbak Kimmy! Bagai bunga dan lebahnya ...."


Felix menggerutu meninggalkan Nano yang masih memuji-mujinya sambil memejamkan mata.


******

__ADS_1


Stop plagiarisme!


Melanggar hak cipta orang lain masuk dalam UU nomor 19 tahun 2002 pasal 72 ayat (1) yang berisi hukum pidana maksimal 7 tahun dan denda maksimal 5 Miliar Rupiah.


__ADS_2