
Susan meneguk jusnya lagi. Dia meneguk perlahan seolah menikmati jus, tapi dalam pikirannya tidak. Ada hal yang mengganjal dalam pikirannya.
"Susan, kamu nggak apa-apa?" tanya Ozkan melihat Susan yang tiba-tiba diam.
"Eh, aku tidak apa-apa, Ozkan. Jangan kuatirkan aku."
"Oh, baiklah. Kuharap apa yang kamu katakan benar."
Susan menusuk pastanya dan hanya memakan satu.
"Nggak enak?" tanya Ozkan.
"Enak sih, cuma ... Ah, lupakan. Ozkan, apa ada hal lain yang ingin kamu sampaikan? Jika tidak, aku minta maaf, aku ada urusan di rumah."
Susan meletakkan garpunya, menatap Ozkan yang termangu menatapnya.
"Apa kamu akan menjauhi Yoshua jika kamu mengetahui bahwa dia adalah anak panti asuhan?" tanya Ozkan.
Susan tersenyum dan sedikit berdehem.
"Alasan apa aku menjauhi Yoshua?"
Bahkan jika dia memang kakakku, meski aku harus menyembunyikan perasaanku, aku tetap akan mendekatinya, bukan?
Ozkan menyunggingkan senyum, walaupun hatinya harus melepas Susan, dia cukup bahagia jika melihat Susan bisa bersama Yoshua. Kebahagiaan Susan juga kebahagiaannya. Jika dia mencintai Susan, tapi Susan tak mencintainya, apalah arti cinta itu sendiri.
"Baiklah Susan. Aku tahu dari sorot mata kamu kalau kamu juga menyukainya, 'kan?" tebak Ozkan.
"Ehem, Ozkan, aku ada urusan penting di rumah. Maaf, mungkin lain kali kita bisa lanjutkan obrolan. Terima kasih karena kamu sudah memberi informasi berharga untukku."
Susan mengambil jaketnya, memakainya dengan rapi.
"Maaf lagi, dengan menyesal aku harus pulang, Ozkan."
"Oh, tak jadi masalah, Susan. Walaupun sebenarnya aku masih ingin mengobrol," selorohnya.
Sedikit tertawa kecil, Susan berpamitan.
"Makasih traktirannya. Aku permisi."
Susan berbalik dan berjalan meninggalkan Ozkan dengan pikiran yang campur aduk. Hatinya pun serasa patah. Apakah iya dia mencintai kakaknya sendiri?
Sementara itu, Ozkan menatap punggung Susan yang berjalan menjauh hingga gadis itu menghilang di balik pintu cafe. Tersenyum pahit, menyesap lagi kopinya dan menatap ke meja di depannya. Berharap akan ada sesuatu hal yang tertinggal seperti drama romantis di televisi hingga dia harus berlari untuk bertemu lagi dengan teman kencannya, tapi kosong adanya. Susan adalah gadis yang cukup teliti.
***
__ADS_1
Susan menyalakan mesin motornya. Pikirannya kacau. Dia menarik napas dalam-dalam dan mengembuskan perlahan. Menahan sesuatu yang ingin jatuh dari kedua netranya.
"Aku harus tetap tenang sebelum mengetahui kebenarannya," ujarnya menenangkan diri.
Susan ingin segera tiba di rumah.
***
"Kak! Sudah selesai kah mengemasi barang-barang yang akan kita bawa ke panti asuhan?" desak Susan pada Bianca saat mereka telah berada di rumah.
"Duh! Masih banyak!"
Bola mata Bianca bergerak ke tumpukan baju dan mainan Kin.
"Kenapa, Susan?"
"Aku ... tidak sabar ingin ke sana," sahutnya.
"Susan, ini sudah sangat sore. Kita pun tak bisa melihat keadaan panti asuhan dengan jelas jika malam ini ke sana. Aku janji malam ini akan selesai mengemasi semua barang itu dan besok kita akan berangkat mencari lokasinya," janji Bianca. Dia memegang kedua bahu Susan.
Susan tersenyum. "Baiklah, Kak."
"Sekarang kamu istirahat dulu. Besok hari libur. Apa kamu berangkat magang?"
"Tidak, Kak."
"Iya, Kak. Butuh bantuan?"
"Boleh kalau kamu tidak capek," sahut Bianca.
"Nggak capek kok, Kak!"
Susan duduk lalu ikut memasukkan barang-barang Bianca ke dalam kardus. Namun, tak seperti biasanya dia nampak lebih pendiam.
"Susan, kalau kamu capek, istirahat dulu," ujar Bianca melihat wajah Susan yang agak murung.
"Nggak, Kak."
Akhirnya Bianca hanya mendesah, membiarkan Susan ikut mengemasi barang-barangnya.
Malam itu, Susan tak dapat tidur. Sesekali dia duduk dan berpikir apa yang akan dilakukan.
***
Keesokan hari, semua heboh memasukkan kardus-kardus ke dalam kendaraan. Hingga sebuah bus pribadi dipakai untuk membawa kardus-kardus itu.
__ADS_1
Keceriaan semua anggota keluarga tak mampu menyingkirkan kecemasan Susan. Namun, rasanya tetap penasaran akan kenyataan yang mungkin akan dia ketahui hari ini atau entah kapan.
"Jalan Mangga nomor sembilan," ujar Bianca pada Felix yang mengemudi.
"Iya, Nona. Saya akan memakai GPS. Nona tidak sedang menelepon siapa-siapa, 'kan?" tanya Felix. Ini kedua kalinya mereka mencari lokasi sebuah panti asuhan. Felix tak ingin dikejar polisis seperti dulu saat dia mengikuti arahan sang Nona dan ternyata Nonanya sedang menelepon ibunya sendiri.
"Iya, iya. Aku tidak sedang menelepon," sahut Bianca menahan tawa.
***
Setelah satu jam perjalanan, bus berhenti di depan sebuah gedung bangunan yang agak luas dengan gerbang besar. Terdapat sebuah papan bertuliskan 'Panti Asuhan Sayang Bunda' dan tanggal berdirinya tiga tahun sebelum Susan lahir.
Susan turun dan memandangi gedung dari luar. Dia tak percaya pernah dibesarkan di sana selama tiga tahun. Ingatan masa kecil hanyalah bersama Mama Winda saja.
Pak Anton memencet bel yang menempel di tembok sebelah gerbang. Bianca sedang berlarian mengejar Kin yang melihat sebuah taman dengan dua ayunan. Dia tertarik karena warna ayunan berwarna-warni.
Sementara Kimmy bersama Baby Celena dan Key menggendong Baby Celine berada di belakangnya.
"Papa, benarkah aku dibesarkan di sini selama tiga tahun?" lirih Susan pada Pak Anton. Mereka berdiri di depan gerbang.
"Iya, Susan. Tak akan salah. Benar ini alamat yang diberi oleh Winda."
Pria itu meneliti kembali kertas yang telah lusuh, diapit di dalam agendanya. Susan tak melihat keraguan di wajah Pak Anton. Dia pun pasrah apa yang akan diketahuinya hari ini.
Seorang wanita tua dengan rambut yang telah memutih, berusia sekitar tujuh puluhan tahun, mendatangi gerbang dan menyipitkan mata menatap ke luar gerbang. Mengamati dua orang di depan dan tersenyum menyambut.
Gerbang berwarna putih dengan besi yang berukuran ringan dengan mudah dibuka oleh wanita tua itu.
"Selamat pagi ...." sapanya ramah. Wanita itu menatap ke arah Susan, dari atas ke bawah.
"Selamat pagi. Saya Pak Anton dan ini ... Susan. Kami ingin berkunjung, Nyonya."
Pak Anton memperkenalkan diri dengan sopan. Susan pun membungkuk pada wanita tua itu, memperlihatkan rasa hormatnya.
Kedua netra wanita tua yang telah berwarna memudar di sisi bola matanya itu tak dapat menyembunyikan rasa gembira, berbinar. Dia mempersilakan mereka semua masuk. Nampak bola matanya menangkap sebuah bus di depan gerbang.
"Anda berdua menaiki bus?" tanya dia terbelalak. Namun, ada keingin tahuan tentang bus yang dia rasa tak pernah dilihatnya di jalan.
"Iya, Nyonya. Kami serombongan. Mereka sedang bermain di taman bermain sebelah gedung ini," terang Pak Anton.
"Ooh .... Apa tidak sekalian mereka semua disuruh masuk, Tuan Anton?"
"Nanti saja, Nyonya."
"Oh, baiklah. Mari silakan masuk," ujar wanita tua itu tanpa rasa curiga, karena memang mereka terbiasa menerima tamu dari mana pun.
__ADS_1
******