Cintai Aku!

Cintai Aku!
Ternyata Benar


__ADS_3

Beberapa hari kemudian, Susan tak bersemangat mengikuti kuliah. Dia merasa ada sesuatu yang hilang saat kemarin-kemarin berjalan pulang. Ditemani Ozkan, tapi rasanya sendirian.


Hari ini dia berniat akan mencari Yoshua. Berkali-kali Susan menelepon, tapi lelaki itu tak pernah mengangkatnya. Susan ingin tahu apa yang terjadi pada Yoshua. Biasanya tak pernah absen untuk menemui atau pun meneleponnya.


Atau jangan-jangan Yoshua sedang menjaga jarak padaku untuk Ozkan? Huh, pikirannya seperti anak-anak!


"Apa kamu lihat Yoshua?" tanya Susan pada teman sefakultas lelaki itu.


Cowok yang ditanya menggelengkan kepala. Susan menghela napas kasar. Dari pagi hingga siang, dia tak melihat batang hidung Yoshua.


*


Siang itu sangat terik. Susan tak lagi fokus pada apa yang diperbincangkan oleh Ozkan. Pria itu memang menarik dari segi penampilan, tapi dia tak pandai menjadi pendengar yang baik.


"Hey, San. Aku mendapatkan kartu debit dari papiku kemarin. Dia mengatakan bahwa aku cukup mampu mengelola keuanganku sendiri. Susan, suatu saat nanti aku akan menggantikan papiku di perusahaannya."


"Oh," sahut Susan.


Gadis itu mendesah pelan, lalu bergerak mengemasi tasnya. Topik yang tak menarik bagi dirinya. Bagaimana dia tertarik pada hal yang selalu dia temui dalam diri kakak tirinya, Key Bajra?


"Mm ... Ozkan, aku permisi dulu. Ada hal yang perlu kuselesaikan."


Tanpa menunggu jawaban lelaki itu, Susan berjalan menjauh.


Ozkan hanya mengangguk dan meluncurkan kata 'ya' dari mulutnya, berdiri terpaku melihat punggung Susan yang mulai menjauh.


Di apartemennya, Susan kembali meraih ponsel. Biasanya sepulang kuliah, sambil makan siang, meski tak bagus untuk kesehatan, Susan menyendok makan siangnya sambil menatap ponsel.


'Kamu itu calon dokter. Harusnya tau kan, kalo makan sambil mainan ponsel itu nggak baik?'


Kalimat itu yang sering diketik oleh Yoshua saat mereka saling berkirim pesan. Namun, siang ini nampaknya Susan memang harus meletakkan ponsel.

__ADS_1


"Huh, kemana manusia satu itu?" omelnya.


Gadis itu menyelesaikan makan siang, lebih cepat dari biasanya. Dia lantas membersihkan seluruh ruang apartemen. Hal yang dia lakukan beberapa bulan ini. Ya, semenjak mengenal Yoshua.


Lelaki cerewet itu selalu berkomentar agar seorang gadis selalu mengerjakan hal yang seharusnya dilakukan di rumah. Alhasil, Susan menghentikan laundry dan jasa pembersih panggilan yang datang setiap dua hari sekali.


"Lelaki tak bertanggung jawab kamu, Yosh! Udah mengubahku seperti ini, sekarang malah pergi!" Rasa sedih dia balut dengan kekesalan pada lelaki itu.


*


Ting tong!


Bel apartemen berbunyi. Susan segera mematikan vacuum cleaner yang telah penuh kantong kotorannya.


Dia membuka pintu dan mendapati dua teman seangkatannya dalam satu fakultas datang.


"Hai Susan, nggak lupa, kan? Kita mau nyelesaiin tugas tadi siang!" ujar Karin.


Kerlingan mata pun menghias wajah Jessie, gadis di sebelah Karin. Susan menepuk dahinya.


"Hmm ... Rapi!" puji Jessie saat masuk ke apartemen Susan.


Mendengar pujian Jessie, Susan bersyukur bahwa dia mau menuruti kata-kata Yoshua. Begitu puas dengan hasil pekerjaan sendiri yang dipuji orang lain daripada dikerjakan jasa pembersih, bukan?


"Biasa aja, Jessie," ujar Susan merendah. Namun, kebanggaan tersirat di matanya, meski kedua temannya itu tak begitu memperhatikan.


"Yuk, kita langsung kerjakan aja. Susan aku bawa cemilan. Ada toples?" tanya Karin.


"Oh, ada! Wah ... Kalian ini, malah bawa-bawa makanan!" Susan beranjak mencarikan toples.


"Aku nggak bisa mengerjakan tugas tanpa cemilan!" kelakar Karin.

__ADS_1


Sekali lagi Susan beruntung karena kedua temannya itu saling mendukung. Sejenak dia terlupa akan Yoshua. Bekerja sama sambil sesekali bercanda ala gadis.


Lembar demi lembar telah mereka selesaikan dalam waktu dua jam. Diselingi dengan cemilan, bukan obrolan lain yang biasa dilakukan oleh kebanyakan gadis yang berkelompok hingga mengesampingkan tugas utama.


Dengan sigap, Jessie membuat lembaran-lembaran itu menjadi sebuah jilidan. Mungkin dia akan diterima menjadi karyawan fotokopian jika melihat hasil kerjanya.


"Sebentar, kita ngobrol dulu aja, ya? Masih sore dan jarang kita punya waktu untuk berbincang," usul Karin beringsut naik ke sofa. Mereka tadi duduk di atas karpet.


"Ah, iya benar! Tugas udah selesai. Mau apa lagi? Sebentar aku buatkan minum," ujar Susan beranjak ke dapur.


Tak lama terdengar suara sendok dan gelas yang terkadang beradu. Susan menaruhnya di nampan dan membawanya ke ruang tamu. Tiga cangkir teh yang terlihat kepulannya, nampak sedap diminum saat sore seperti ini. Sebenarnya ada beberapa kaleng minuman bersoda di lemari es Susan. Namun, Susan merasa minuman itu tak cocok dengan sore yang agak dingin itu.


Tanpa disuruh, keduanya mengambil bagiannya sendiri-sendiri. Sepertinya memang kehausan sedari tadi mengerjakan tugas.


"Susan, kamu jarang kelihatan sama Yoshua. Apa karena Yoshua jalan sama Chika? Model majalah itu?"


Deg!


Perkataan Jessie begitu menohok di dada Susan.


"Chika?" tanya Susan. Begitu polos tak bisa menutupi rasa keterkejutannya.


"Iya Chika ... Jesicca Smith. Apa kamu belum tau? Aku lihat beberapa hari yang lalu."


Kali ini Karin menambah yakin bahwa berita dari Jessie itu benar.


Susan menggelengkan kepala. Ingin rasanya dia menangis. Namun, ia mencoba menenangkan diri di hadapan kedua temannya itu. Berupaya untuk jangan terlihat sedih. Ternyata benar bahwa Yoshua hanya menganggapnya sebagai adik.


"Tentu saja aku tidak tahu. Siapa peduli?" gurau Susan menutupi kegundahannya.


******

__ADS_1


Stop plagiarisme!


Melanggar hak cipta orang lain masuk dalam UU nomor 19 tahun 2002 pasal 72 ayat (1) yang berisi hukum pidana maksimal 7 tahun dan denda maksimal 5 Miliar Rupiah.


__ADS_2