
"Coklatnya enak, Bos Pelix!" ujar Kimmy dengan senang saat Felix masuk ke ruang kerja.
Felix menahan tawa saat melihat gigi perempuan itu yang penuh bercak coklat.
Pria itu duduk di depan Kimmy melanjutkan pekerjaannya. Menatap layar komputer dengan serius. Dia sesekali melihat ke arah Kimmy yang sangat lahap memakan coklatnya seolah itu adalah makanan sehari-hari.
Dia melahapnya sampai habis!
"Katamu kalau makan banyak coklat bisa diare!" ujar Felix memperingatkan.
"K-kenapa Bos Pelix bisa tau??" tanya Kimmy gugup.
"Oh, aku melihatmu memakan semuanya."
"A-aku kalap!" ujar Kimmy menyesalinya.
"Huh, gadis rakus, untung aku hanya memberinya satu batang!" gumam Felix.
"Bos Pelix memperhatikanku, ya? Sampai tau aku memakan semua? Kukira Bos itu sedang serius kerja," tutur Kimmy tanpa menatap Felix.
Wajah Felix memerah, secara tak langsung dia ketahuan memperhatikan gadis itu.
"Kebetulan saja aku melihatmu makan potongan terakhir! Jangan ge-er!" ujar Felix kembali menatap komputer dengan perasaan aneh.
Mereka berdua asyik dengan komputer sendiri-sendiri di dalam ruangan itu.
Tiba-tiba ponsel Kimmy berdering, memecah keheningan.
Kimmy mengangkat panggilan itu.
"Halo, Papa ...." sambutnya.
"Kimmy, udah mulai kerja?" tanya suara di seberang.
"Udah, Pa."
"Felix? Gimana? Apa kerja juga denganmu?" tanya Pak Luki lagi.
"Iya, ini lagi kerja, Papa."
"Oh, udah se-malam ini masih kerja?"
"Iya, Papa. Sambil nunggu Pak Bos Tuan dan Bos Nona pulang dari acara."
Kimmy berbicara pada sang ayah sambil memainkan kukunya.
"Mana Felix? Apa dia bersamamu?"
__ADS_1
Pria paruh baya itu menanyakan menantunya, dia ingin berbincang dengannya. Kimmy memberikan ponselnya pada Felix.
"Halo, eh Pa!" sambut Felix.
"Apa kabar, Felix?"
"Baik, Pa."
"Kalian sehat, kan?"
"Sehat kok, Pa. Apa kabar semua di situ?"
Felix tak menyadari bahwa Key sudah ada di sampingnya. Kimmy yang ingin memberi tahu, terlambat. Dia menutup wajah dengan telapak tangan kirinya sambil bibirnya mengaduh tanpa suara.
Felix sedang mendengarkan suara Pak Luki di ponsel.
"Telepon dari siapa, Felix?" tanya Key membuat Felix auto melompat berdiri terkejut dan ponsel Kimmy meluncur dari tangannya, jatuh sukses ke lantai marmer.
Pletak!
"Duh! Eh, t-telepon dari t-teman, Tuan!"
Felix memunguti ponsel Kimmy yang telah ambyar di lantai, seiring dengan wajah pucat pemiliknya, tapi tak ada yang bisa dilakukan saat itu, kecuali diam dan menggigit jari menatap ponselnya yang sudah pasti rusak.
"Siapa temanmu, kok panggil Pa?" tanya Key lagi.
"Teman di apartemen, namanya ... Topa, Tuan, iya Topa!"
"Kenapa kaget sekali saat aku masuk?" tanya Key lagi.
"Emm ... saya kira Tuan belum pulang, ternyata sudah sampai di sebelah saya."
Felix menyembunyikan ponsel Kimmy di dalam saku jasnya.
"Rusak itu ponselmu?" tanya Key.
"T-tidak, Tuan!" dusta Felix.
Key mengangkat alisnya, lalu berbalik ke pintu dan keluar lagi. Felix mengembuskan napas banyak-banyak lewat mulut. Lega.
Namun, Kimmy terdiam. Dia sedih karena ponselnya rusak.
"Besok kubelikan ponsel baru!" ujar Felix menaruh ponsel Kimmy yang rusak di mejanya. Dia ngeloyor keluar dari ruangan. Berjalan ke dapur untuk membuat secangkir kopi demi menenangkan jiwanya yang sempat terlompat tadi.
Kimmy menghela napas melihat ponselnya sudah retak. Lantai itu sangat kuat atau ponselnya yang rapuh, yang jelas dia agak sedih melihat benda pipih kesayangannya selama lima tahun menemani itu harus pensiun.
Malam itu, usai makan malam, Felix berpamitan pulang pada Tuan Key.
__ADS_1
Pukul sembilan malam, pria itu pulang ke apartemennya.
Felix merasa aneh di apartemen. Sebelum ini dia dimudahkan oleh Kimmy dengan memasak, mencucikan dan menyeterika baju, membuatkannya minum, tapi malam itu dia harus mencuci sendiri bajunya karena tukang laundry berhenti mengambili baju kotor karena ditolak oleh Kimmy beberapa hari yang lalu karena memang akan dicuci sendiri oleh gadis itu.
"Gadis itu, membuat hidupku kacau!" omelnya.
Namun, teringat mimik wajah Kimmy yang menyedihkan saat kehilangan ponsel, dia merasa kasihan juga.
"Ah, besok aku mampir ke counter, untuk mengganti ponsel gadis itu yang rusak!"
Dengan menggerutu, Felix mengerjakan semua pekerjaan rumahnya sendiri malam itu.
Mencuci bajunya sendiri malam itu, lalu menaruh belanjaan di dapur. Tersenyum saat mengingat hal konyol di hipermarket tadi, dia mengambil banyak sekali coklat.
Felix menata coklat-coklat itu di dalam lemari es. Dia sendiri tak terlalu menyukai coklat.
Sementara, di dalam kamar Kin, Kimmy sedang sedih mengelus ponselnya. Dia menghela napas, pasrah karena Bos Pelix-nya berjanji akan mengganti dengan ponsel yang baru.
"Mungkin memang saatnya kamu tersingkir, pe, hape ...."
Gadis itu teringat dengan si 'Topa', ciptaan Felix. Dia tertawa sebentar, membayangkan si 'Topa' di desa sana, pasti bingung karena panggilannya tadi terputus saat bercerita.
*
Keesokan harinya, setelah semua lelaki bekerja, rumah mewah itu kembali kedatangan Chef yang tampan.
Kali ini Kin rewel ingin ikut mommy-nya ke dapur. Balita itu ingin tahu apa yang ada di dalamnya.
Kebetulan sekali kan untuk Kimmy?
"Kimmy, apa tidak apa-apa Kin bersamamu di dapur?" tanya Bianca.
"Nggak apa-apa, Bos Nona. Saya akan memberi sayur kukus di dapur," jawabnya.
"Oh, iya, biar dia makan di dapur sekalian. Kamu persiapkan dulu sebelum Chef Handsome datang, Kimmy!" ujar Bianca terkikik mendengar sebutannya untuk guru masaknya.
Kimmy ikut tersenyum. Mereka berdua seakan kompak untuk hal satu itu.
"Kan kamu juga sambil cuci mata, Kimmy! Aku tahu, pasti kamu penasaran sama cara dia memasak! Wuih, keren deh!" tambah Bianca, makin membuat penasaran Kimmy.
"Aiya, Bos Nona!" seru Kimmy.
Mereka seakan lupa bahwa ada suami-suami mereka.
Kimmy segera mempersiapkan segaka kebutuhan makan tuan kecil. Semangkuk nasi tim daging dan kukusan baby wortel dan baby buncis. Sayuran itu dipotong-potong sesuai dengan jari dan mulut si balita agar mudah untuk memasukkan ke mulutnya.
******
__ADS_1
Stop plagiarisme!
Melanggar hak cipta orang lain masuk dalam UU nomor 19 tahun 2002 pasal 72 ayat (1) yang berisi hukum pidana maksimal 7 tahun dan denda maksimal 5 Miliar Rupiah.