Cintai Aku!

Cintai Aku!
Usai Acara


__ADS_3

Suasana khidmat sore itu terasa di perumahan. Semua karyawan, keluarga dan para tetangga diundang untuk ikut berdoa, sekaligus memperkenalkan dua keluarga pada para tetangga. Perumahan itu tak seelit milik Tuan Key, tapi sepertinya nyaman dihuni.


"Felix, nanti tolong ya, urus rumah depan itu. Rencana mau kukontrakkan saja selama tidak ditempati," ujar Key saat selesai acara.


"Baik, Tuan!" sahut Felix sembari memberesi kursi-kursi di depan rumah.


Pria itu sendiri sedang memandang rumahnya dengan bahagia. Dia sedang membayangkan warna cat yang akan diaplikasikan ke tembok rumahnya agar tak sama dengan rumah lain.


"Felix, mulai besok kan kamu pindah ke sini, lebih dekat dari kantor. Nah, bisa dong masuk kerja lebih awal? Kamu bisa datang dulu ke kantor untuk siap-siapkan kalau ada rapat, lalu jemput aku! Haha!" tawa jahat Key menggelegar.


Felix memutar bola matanya. Namun, dia tetaplah asisten yang patuh pada perintah atasan.


"Beres, Tuan!" jawab Felix.


Key berhenti tertawa. Tak disangka, ternyata pria itu benar-benar akan melakukan apa yang dia perintah.


*


Sementara itu, saat beberapa karyawan sedang berbincang dengan tuan rumah, Nano sang office boy malah sedang merayu seorang gadis yang duduk sendiri. Mendekatinya dan tak berbasa-basi memperkenalkan diri.


"Tau nggak apa pekerjaanku?" tanyanya langsung pada gadis itu.


Sontak gadis itu mengerutkan dahi dan menggelengkan kepala menatap ke pria berambut klimis itu heran. Tiba-tiba saja menanyakan pekerjaannya sendiri.


"Aku ini tukang adzan," jawab Nano sendiri.


Dahi gadis itu tambah mengerut.


"Di mana, Mas?" tanya gadis itu.


Nano menjadi berbunga-bunga karena gadis itu kepo juga.


"Di telinga anak kita saat dia lahir," jawabnya menutup mulutnya menahan tawa.


Si gadis hanya mencibir mendengarnya. Namun, cibiran itu seolah menjadi tantangan bagi Nano. Dia melancarkan lagi aksinya.


"Eh, aku udah coba semua boba di kota ini lho!" celetuknya.


Si gadis menanggapi karena minuman kesukaannya.


"Boba di mana yang paling enak?" tanya gadis itu antusias.


"Boba ... danmu!" sahut Nano tersipu.


"Hah? Bobadanku?" Si gadis nampak melengos lagi.


Nano tambah gemas.


"Muka kamu kayak orang susah, ya?" celetuk Nano lagi.


Plak!


Kali ini sebuah tamparan, membuat panas di pipinya. Gadis itu berdiri dengan kesal.


"Masa mukaku dibilang kayak orang susah! Nyebelin! Tuman!" ujarnya sambil berlalu meninggalkan Nano yang sedang mengelus pipinya dengan sayang.

__ADS_1


"Susah ... dilupain, maksudnya! Piye sih, malah ditapuk...." desisnya lirih.


*


"Wah! Rumah Kak Kimmy besar juga, ya?" ujar Rama mengitari rumah besar itu saat semua orang telah pulang dan rumah telah bersih. Tinggal keluarga Kimmy yang masih berada di situ menemani.


"Iya! Kamarnya lima! Kita bisa bermalam di sini malam ini! Satu kamar satu orang!" teriak Raka takjub. Biasanya dia satu kamar dengan Rama.


"Iya, kalian boleh menginap malam ini," ujar Felix melihat ke ketiga adik-adik Kimmy.


Mereka bertiga langsung berseru senang.


"Yess!"


"Satu kamar itu untuk tempat barang-barang. Jadi kalian bisa tidur di kamar atas, ya? Udah ada tempat tidurnya, kok!" ujar Kimmy.


"Wah, aku sekamar lagi sama Kak Rama?" celetuk Raka.


"Iya, nggak papa, 'kan? Tempat tidurnya besar, kok!" sahut Kimmy.


Keduanya tersenyum senang.


"Papa dan Mama juga bisa tidur di kamar atas," ujar Kimmy.


"Lalu, kalian?" tanya Pak Luki dan Bu Amy.


"Kami di kamar bawah saja, biar Kimmy tak kecapekan naik-turun," sahut Felix merangkul istrinya yang sedang mengandung itu.


"Ah ... bahagianya kami, Felix. Anak kami itu mendapat pria sepertimu," ujar Bu Amy haru.


Malam itu mereka bercanda di ruang tengah hingga larut. Karena esok hari libur, kedua orang tua Kimmy membiarkan anak-anak mereka untuk menikmati malam di rumah baru Felix dan Kimmy. Semua barang-barang telah dipindahkan dari apartemen ke rumah baru.


Rencananya, mereka akan membantu menata barang-barang esok harinya.


*


"Dek, kamu bahagia tidak di rumah ini?" tanya Felix saat malam pertama tidur di rumah besar itu.


"Banget, Mas."


Kimmy tersenyum manis.


"Benar yang dikatakan Nano, kalo kamu makin cantik saat hamil," ujar Felix.


"Huh, Nano lagi! Apa Mas Pelix suka sama dia?"


"Weh, dia laki-laki. Suamimu ini lelaki tulen! Masa suka sama pria?" kekeh Felix.


Kimmy mengerucutkan bibirnya. Namun, ciuman lembut pria itu di bibir Kimmy mengalihkan segalanya.


Pelukan dan ciuman itu makin membuat keduanya menginginkan lebih. Tongkat penyembur Felix mulai melakukan serangan. Dengan bertubi-tubi menyusup ke dalam gua gelap dan melakukan penyerangan tanpa penerangan. Tak berapa lama, semburan hangat keluar setelah berhasil menaklukkan siempunya gua. Kehamilan Kimmy di awal triwulan kedua ini malah membuat gairahnya menjadi. Mereka melakukan pelepasan yang aman untuk posisi ibu hamil.


"Mas, kirim sabun cairnya udah sampai. Besok mau kirim apa lagi?" tanya Kimmy.


"Besok kirim shampo, trus kasih minyak rambut biar rambut dia klimis!" sahut Felix.

__ADS_1


"Ah, Mas! Bisa aja! Besoknya lagi pasti kirim putih telor setengah mateng biar dia kenyang!" tebak Kimmy.


"Ih, istriku sekarang pintar!" ujar Felix tertawa.


"Ngomong-ngomong Dek, setuju tidak kalau rumah kita besok mau dicat untuk membuatnya lebih berwarna?" tanya Felix membelai rambut Kimmy setelah mereka memakai kembali semua yang tadi mereka lepas berhamburan di lantai.


"Boleh, Mas! Eh, tapi baunya aman nggak buat ibu hamil?" tanya Kimmy.


"Catnya aman, kok! Warna apa ya enaknya?" tanya Felix.


"Hijau bolu pandan, Mas!" ujar Kimmy mantap.


Felix berpikir lagi.


"Apa tidak biru telur asin?"


Kimmy menggeleng. "Pokoknya hijau bolu pandan," ujar Kimmy.


"Hmm baiklah," ujar Felix mengalah.


Kimmy turun dari tempat tidur dan bergegas akan keluar.


"Eh, kemana Dek?" tanya Felix.


"Ngomongin bolu pandan, aku jadi lapar, Mas! Ada sekotak bolu pandan di lemari es!" teriak Kimmy berjalan ke arah dapur.


Felix menggelengkan kepala, menyusul istrinya yang mulai suka lapar di malam hari saat hamil.


*


Sementara itu di sebuah kamar atas, Vita yang takut tidur sendiri, ditemani oleh Bu Amy.


"Ma, aku sebel ...." ujarnya saat melepas tali rambutnya dan akan merebahkan diri.


"Kenapa ...." sahut Bu Amy sambil memejamkan mata.


"Tadi itu ada laki-laki sok kenal sok dekat!" gerutunya lalu membaringkan tubuh di samping ibunya.


"Sok kenal sok dekat gimana?"


Nyonya Amy menguap lebar.


"Masa baru ketemu pertama kali, udah merayu-rayu!" gerutunya lagi.


"Rayuan maut, 'kan? Ganteng, nggak?" tanya Bu Amy.


"Ganteng dari Hongkong! Mukanya segombal rayuannya, Ma! Kesel pokoknya!"


"Hmm ... jangan terlalu sebel sama pria, bisa-bisa kamu naksir lho!" gumam Bu Amy. Sebentar kemudian, wanita paruh baya itu terlelap dalam tidurnya.


"Hih, Mama! Amit-amit ahh naksir sama tukang boba! Mengataiku seperti orang susah, lagi!" omelnya menutup wajah dengan selimut tebal.


******


Stop plagiarisme!

__ADS_1


Melanggar hak cipta orang lain masuk dalam UU nomor 19 tahun 2002 pasal 72 ayat (1) yang berisi hukum pidana maksimal 7 tahun dan denda maksimal 5 Miliar Rupiah.


__ADS_2