Cintai Aku!

Cintai Aku!
Coklat


__ADS_3

Kimmy menurunkan kakinya satu persatu dengan perlahan dan meringis menatap Felix yang sedang berkecak pinggang di depannya.


"Dulunya kamu tukang akrobat, ya!" hardik Felix.


"Ng-nggak, Bos!"


Kimmy menggelengkan kepala. Kemudian dia menjalankan trolley setelah turun sempurna, diikuti Felix yang memberi instruksi apa yang harus dia beli.


"Mie instan satu kardus!" ujar Felix.


Kimmy melotot mendengar nama benda itu, teringat bahwa dia pernah sakit gara-gara gila makan mie instant.


"Bos Pelix serius mau beli itu?"


Pria itu mengangguk.


"Bos, kalo kebanyakan nggak sehat, lho!" ujar Kimmy memperingatkan.


"Aku tidak setiap hari makan itu," jawab Felix.


"Oh ... iya, iya."


Kimmy mengangguk, lalu mengambil satu kardus mie.


"Bukan yang goreng, tapi rebus ...." protes pria itu.


Kimmy mengangguk lagi, mengembalikan kardus yang dia ambil, lalu mengambil satu kardus mie instan rebus.


"Bukan yang rasa soto atau bakso, kalo rasa itu, di kantin kantor pun ada yang asli!" tukas Felix melihat gadis itu asal ambil.


"Trus, rasa apa?" tanya Kimmy.


"Ayam bawang," jawab Felix.


Kimmy mengambil apa yang diminta Felix.


Mereka melanjutkan untuk berjalan ke rak makanan kalengan.


"Sarden sepuluh kaleng," ujar Felix.


Kimmy meraih sepuluh kaleng sarden dari rak. Kaleng yang jumbo.


"Jangan yang jumbo! Aku tak akan habis makan sendirian!"


Kimmy mulai mendengus, "Dasar jodi! Jomlo gedi! Ya apa-apa sendiri!"


"Apa katamu!" tanya Felix.


"Bukan apa-apa! Bos Pelix dari tadi nyuruh-nyuruh aku! Ambil sendiri! Yang kecil ada di rak atas!"


Gantian Felix yang mendengus.


"Kamu kan istri! Ya ambilin suami!" ujarnya menggerutu meski tangannya mengulur ke rak atas mengambil kaleng-kaleng sarden, meneliti tanggal expired-nya lalu menata di dalam trolley.


Kimmy mengerutkan dahi mendengar hal itu.

__ADS_1


"Jadi Bos Pelix anggap aku istri? Cieee ...." goda Kimmy.


Ctak!


"Aahh!"


Sebuah sentilan mendarat di kening gadis itu. Dia meraba keningnya yang terasa panas akibat jemari Felix.


Tanpa berkata apapun, Felix berjalan lagi ke rak berikutnya. Kali ini dia mengambil sendiri apa yang diinginkan. Kimmy berlari kecil mengejarnya.


"Kenapa? Bos Pelix marah?" tanya Kimmy.


"Huh, baru status, udah cia cie .... Bukankah kalo cia cie, kamu juga cie-in dirimu sendiri?"


Felix berkata demikian, tak menatap ke Kimmy, dia sibuk mengamati barang-barang yang mau dia beli.


Sebuah kata 'cie' saja jadi boomerang untukku!


Kimmy mengikuti kemana pun Felix melangkah.


"Bos Pelix, aku boleh beli coklat?" tanya Kimmy. "Aku pakai uangku sendiri," lanjutnya membuka resleting tas coklat kecilnya.


"Berapa sih harga coklat? Ambil coklat yang paling besar sekalipun, aku mampu bayar!" ujar Felix menatap ke gadis itu.


Kimmy tersenyum, "Nggak jadi, ah!"


"Kenapa?"


"Nggak enak sama Bos Pelix!" jawab Kimmy.


"Aish! Bos Pelix! Itu banyak sekali! Untuk aku? Aku bisa diare kalo makan coklat sebanyak itu!" tolak Kimmy.


Pria itu hanya melanjutkan jalannya dengan wajah datar.


"Bos Pelix, denger aku nggak sih?" ulang Kimmy di belakang Felix.


Felix berhenti mendadak, hingga Kimmy menubruk punggungnya dari belakang. Gadis itu mengelus hidungnya yang mancung.


"Kamu tadi minta coklat berapa?" tanya Felix. Tangan kirinya menopang pada pegangan trolley, sedangkan tangan kanannya memegang pinggang.


"Satu," jawab Kimmy singkat.


"Ya sudah! Itu untukmu satu!"


Felix melanjutkan jalannya ke kasir. Belanjaannya dirasa sudah cukup. Dia tak menghiraukan gadis yang berjalan di belakangnya dengan cemberut.


Felix segera membayar belanjaannya di kasir. Kimmy tetap mengikutinya di belakang sampai pria itu memasukkan belanjaan ke dalam mobil. Mobil seketika penuh dengan belanjaan.


"Makasih Bos Pelix, coklatnya!" ujar Kimmy meski belum mengambil satu pun.


Pria itu hanya berdehem. Tak menjawab ucapan Kimmy.


Gadis itu menatap ke belakang.


"Bos Pelix, kita seperti kulakan, ya?" ujar Kimmy hampir tertawa.

__ADS_1


"Kita? Aku nggak," sahut Felix mengesalkan.


Raut wajah Kimmy langsung berubah mendung. Dia memanyunkan bibir dan memalingkan wajahnya ke samping. Felix menahan senyumnya. Sedikit. Sedikiit sekali senyum Felix.


Mobil hitam itu melaju kembali ke rumah mewah Tuan Key. Tugas belanja telah dilaksanakan. Mereka mulai keluar dari parkiran.


Lagu India otomatis mengalun saat mobil berjalan.


"Tumpah segane ...."


Dikira Felix, Kimmy akan diam tak bisa menirukan tapi jadinya malah gadis itu menyanyi dengan asal.


Lagu Kuch Kuch Hota Hai malah dirusak liriknya oleh Kimmy. Felix menggelengkan kepalanya mendengar nyanyian gadis itu.


Sepanjang jalan, Felix harus mendengarkan suara Kimmy. Namun, kali ini dia harus menahan gelak tawa saat mendengar lirik yang diciptakan gadis itu.


Mobil masuk melewati gerbang rumah saat petang menjelang. Tuan Key dan Nona Bianca belum sampai di rumah saat Felix dan Kimmy dibantu oleh empat orang pelayan, menurunkan dan menata belanjaan Nona Bianca di dapur.


Felix bersiap masuk ke ruang kerja. Dia mulai lagi melanjutkan hukuman lembur. Sedangkan Kimmy masih sibuk menata belanjaan di dapur khusus.


Jika besok Bos Nonanya bertanya bahan makanan, maka dia akan bisa menunjukkan letaknya. Besok dia berniat ingin melihat aksi Chef Juno dan Nona Bianca. Penasaran sekali dengan pria keren itu. Bagaimana dia memakai apron, warna apa dan bagaimana bentuknya.


Setelah itu, dia membersihkan seluruh dapur khusus agar besok semua bersemangat menempatinya untuk belajar. Meski para pelayan sudah membersihkannya dari segala percikan minyak dan kotoran, tapi Kimmy tetap harus membersihkan taburan tepung yang tak sengaja jatuh dari barang belanjaan yang baru saja dibeli. Semua harus terlihat sempurna.


Tampaknya gadis itu lupa akan coklatnya.


Hingga malam tiba, dia baru masuk ke ruang kerja untuk mengecek email masuk di komputer tentang laporan hotel.


"Bos Pelix, kok belum pulang?" tanya Kimmy saat berpapasan dengan Felix.


"Lembur," jawabnya.


"Kenapa?"


Mata Kimmy membulat.


"Hukuman gara-gara video prank yang berbunyi nyaring saat rapat!" ujarnya melewati Kimmy yang hampir tertawa tapi dia tahan, karena takut dosa.


Felix masuk ke kamar mandi bawah.


Kimmy melanjutkan jalannya ke ruang kerja. Dia duduk dan menyalakan komputer. Bola matanya bergulir ke samping komputer.


Sebuah coklat besar telah diletakkan di sana.


Kimmy meraih coklat itu dan tersenyum. Dia tahu pastinya siapa yang meletakkan di situ.


Gadis itu jadi merasa bersalah pada Felix karena telah menyebabkan pria itu dihukum karena sebuah video prank. Dia tak bisa membayangkan bunyi desahan saat rapat berlangsung.


"Maapkan aku, Bos Pelix!" desis Kimmy sambil mulai membuka bungkus coklat dan mematahkannya, mengulumnya sambil memejamkan mata, menikmati lumeran coklat susu dengan coklat mete di dalam mulutnya.


******


Stop plagiarisme!


Melanggar hak cipta orang lain masuk dalam UU nomor 19 tahun 2002 pasal 72 ayat (1) yang berisi hukum pidana maksimal 7 tahun dan denda maksimal 5 Miliar Rupiah.

__ADS_1


__ADS_2