
Lagu kedua mengalun. Felix meremas jas melihat para tetangga bersuka ria mengambili snack dengan muka puas. Sementara beberapa yang lain mengambil makan dengan piring penuh. Bagi Felix, wajah mereka bahagia-bahagia mengesalkan. Bahagia di atas penderitaannya.
Pak Burhan yang membiayai semua itu pun senang, dalam otaknya telah terhitung jumlah uang yang akan ditransfer oleh Felix plus uang yang dibayarkan oleh Bu Amy bulan-bulan lalu. Masih banyak untungnya.
Dia menatap wanita di sebelahnya yang menyambut salaman orang-orang dengan sangat ramah dan berbicara lancar, gemerincing seperti uang recehan.
Namun yang mengharukan, Ketiga adik Kimmy yang telah lepas dari cengkeraman pria-pria itu berpelukan dengan orang tuanya seraya menangis.
Felix terpaku, lupa akan rasa laparnya sedari tadi pagi. Pening rasanya memikirkan kejadian beberapa menit yang lalu, dan berharap pak penghulu itu lupa bahwa dia telah mengesahkan pernikahan ini, dan berharap semoga tak pernah tercatat di dalam buku pernikahan.
Hal yang tak mungkin, tentu saja.
Pernikahan dengan wanita ... ah, giginya tak rapi, lidahnya terkilir.
Ah, apa yang kulakukan? Untuk pergi dari situ pun akan menimbulkan keributan.
Belum lagi, si Tio seolah jadi satpam mereka. Matanya terus mengawasi, seperti ingin berkata siap melempar piring yang sedang dia bawa untuk makan, jika terjadi masalah antar mereka berdua.
Ah ... pusing.
Pernikahan yang tak dibayangkan dan dalam keterbatasan. Tak ada hiasan mewah, tak ada kursi pengantin dan ... Felix melirik ke depan pintu. Benar ... tak ada kotak sumbangan!
Pria itu meraup wajahnya kesal. Menyibakkan anak rambutnya ke belakang. Beberapa orang yang memujinya tampan pun tak membuat hatinya senang.
"Felix, terima kasih atas apa yang kamu lakukan. Akhirnya kamu jadi menantuku juga!" bisik Bu Amy yang tiba-tiba sudah berada di samping pria itu ketika asyik dengan pikiran kesalnya.
Felix menggaruk kepala menengok ke samping, tiba-tiba Kimmy sudah tak di sebelah.
"I-iya, Nyonya."
"Mama ...." ulang wanita itu.
Felix terbelalak dan hanya tersenyum kecut. Bayangan seorang ibu yang dia rindukan merayapi pikirannya. Dia rindu pada kedua orang tuanya. Terbayang saat itu, saat keduanya telah tiada, hingga dia harus berjuang sendiri saat usianya menginjak dua puluh tahun dan bertekad untuk mengabdi pada keluarga Tuan Key yang mau menerimanya sebagai asisten karena kepandaian dalam menghapal dan keloyalannya. Saat ini tiga belas tahun dia mengabdi dan tak menghiraukan kisah cintanya sama sekali.
Felix menghela napas.
Orang tuaku, mereka sudah santai di Surga, semoga mereka tidak cemas jika tau aku menikah dengan cara yang tak lazim dengan wanita itu ... ah, tak kuasa aku membayangkan malam pertama. Ups, kenapa aku membayangkan itu?? Tidak, tidaaak!!
"Felix ... Felix!"
Suara wanita memudarkan pikirannya.
"Eh, eh, iya Nyonya, Tante, eh ... Ma, ehm!"
Felix berdehem demi menghilangkan rasa gugupnya.
"Apa Felix, jawab?" ujar wanita itu membuatnya bingung karena tak mendengarkan pertanyaannya.
Jawab apa? Dia tanya apa? Asal saja ah, mungkin dia tanya aku capek tidak.
"Nanti saja Nyo, eh Tan, eh ... Ma, tidurnya!" ujar Felix.
__ADS_1
"Ah, kamu ini, Mama kan cuma tanya mau makan apa, biar Vita ambilkan. Malah mau tidur aja, udah nggak sabaran, ya?" ujar Bu Amy tertawa.
Aih, Gustii ... ternyata cuma tanya mau makan apa!
"Bu-bukan begitu, aku .... Ah!"
Felix menutup wajahnya. Wajahnya memerah. Malu, tapi juga kesal saat melihat Kimmy yang malah tertawa-tawa menyapa beberapa orang di acara itu.
Bisa-bisanya dia tertawa!
Saat itu dia ingin marah tapi tak enak rasanya di depan kedua orang tua yang sedang berbahagia setelah kesedihan mereka.
"Iya, Nyon, eh Ma, aku lapar," ujarnya demi menutupi rasa malu.
Wanita itu tersenyum lalu menyuruh anak keduanya agar mengambilkan makanan untuk Felix.
Pria kurus yang sedari tadi berada di samping nyonya Amy mendekati Felix.
"Anak muda, terima kasih atas kesediaanmu untuk membayarkan utang kami. Kami akan mengembalikannya."
"Ti-tidak perlu, Tuan. Uang itu tak usah dikembalikan."
Anak anda yang sudah seperti kaleng rombeng berisik itu saja yang kukembalikan!
"Kalo begitu, titip Kimmy ya?"
Aish!!
"Iya, Tuan." Masih aneh menyebut 'Papa'.
Ujaran terima kasih yang tak sudah-sudah dari mulut pria paruh baya itu hampir tak dihiraukan oleh Felix.
"Bang Pelix! Ini Bang, makannya. Pokoknya semua menu sudah ditaruh di sini."
Adik Kimmy yang bernama Vita menyerahkan sepiring nasi yang penuh ke hadapan Felix.
Penuh sekali isi piringnya, dia kira aku habis mencangkul sawah!
"Makasih, Vita."
Tak ayal, Felix menerima piring penuh itu juga. Vita mengangguk dan berjalan menjauh.
"Silakan dinikmati," ujar Pak Luki.
"Iya, Tuan!" sahut Felix menggunakan kesempatan itu untuk menjauh dari ayah Kimmy.
Felix memilih untuk duduk di kursi pojokan. Dia mulai akan menikmati makan pagi-siangnya, istilahnya brunch kalo orang Amerika bilang.
Baru tiga suap nasi yang akan dikunyahnya sekali, pria yang bernama Tio mendekatinya.
"Mas ... aku pesan padamu," ujarnya membuat Felix terperanjat.
__ADS_1
Sial sekali, pria ini yang membuat nasibku begini. Kenapa juga dia harus meratapi nasib ditolak oleh seorang Kimmy! Lemah!
Felix hanya melanjutkan kunyahannya. Kepalang tanggung.
"Mas!" serunya.
Apa dia buta! Mulut ini penuh makanan, bagaimana aku bisa jawab??
"Hmm ...." ujar Felix menunjuk mulutnya yang penuh.
"Bukan, bukan mau makanan, tapi aku berpesan agar kamu menjaga Kimmy dengan baik. Awas saja kalo kamu menggoda wanita lain, apalagi menyakiti hati gadis itu ...." ujarnya.
"Ehm!" seru Felix setelah berhasil menelan nasinya dengan cepat.
Ini orang harusnya jodoh gadis aneh itu, sama-sama pe'a, masa kukasih isyarat makanan penuh dikiranya minta makan? Ah, aku harus membohonginya lagi agar dia percaya.
"Mas Tio, pernikahan itu sakral bagiku, aku hanya akan menikah satu kali saja dan tak akan lagi ada perempuan lain yang akan aku hadirkan ke rumah tangga. Dia akan kujaga. Kamu yang tenang, ya?"
Tio terlihat percaya. Dia mengangguk-angguk, tersenyum.
Heran, kenapa aku bisa bicara tentang pernikahan, padahal aku belum menikah. Belum? Yang barusan apa kalau tidak menikah? Grrr ... gara-gara gadis itu!!
"Kimmy itu cinta pertamaku, Mas Felix. Aku tak dapat melupakannya. First love will never die, kan?"
Felix mengangguk saja. Menatap ke seonggok daging di piring yang seolah menari-nari minta dipotong. Dia mengambil air mineral di kursi, lalu meminumnya. Menahan lapar yang kembali usai menghilang tadi, demi kesopanan saat lelaki yang baru 'sembuh' itu terus berceloteh tentang Kimmy, membuatnya haus.
"Kimmy itu village flower, Mas."
Felix menahan air mineral dalam mulut sembari mengerutkan dahi, meminta penjelasan bahasa Inggris itu.
"Bunga desa, Mas."
"Mmpfttt!! Uhuk!"
Felix tersedak seketika.
"Kenapa, Mas?"
Tersedak lah! Apa jadinya kalau lelaki ini jadi satu dengan Kimmy? Yang satu sok Inggris, yang satu belibet lidahnya!
Felix hanya mengayunkan telapak tangan pada Tio, memberi isyarat bahwa ia tak apa-apa.
Usai merasa lega, Felix melihat ke arah Kimmy. Matanya menatap dari jauh, sejenak Felix dan Kimmy saling bertatapan, tapi bukan cinta. Hanya kedipan mata gadis itu, kode agar pria itu berbaik-baik pada Tio.
Iya, iya, aku tahu, cerewet!
Felix melotot kesal pada Kimmy.
******
Plagiarisme melanggar Undang-undang No. 28 Tahun 2014 tentang Hak Cipta.
__ADS_1