Cintai Aku!

Cintai Aku!
Omelete


__ADS_3

Cerita ini hanya untuk hiburan, ya? Selamat menikmati, jangan lupa pencet like, ribuan views mohon untuk pencet jempolnya. Makasih yang udah vote, juga kirim hadiah. Lopek dah!


******


Malam itu, Kimmy akhirnya bisa terlelap usai meletakkan ponselnya di atas nakas. Sesekali kakinya menyenggol hidung Felix dan sebaliknya, dahinya tertendang kaki pria itu dengan sedapnya.


Untung saja pagi itu Kimmy belum mulai bekerja di rumah Bos Nonanya. Hari ini hari terakhir cutinya selesai.


Kimmy yang tak bisa tidur tenang semalaman, bangun pagi sekali. Dia turun mengendap dari tempat tidurnya, berjalan ke dapur, menyiapkan sarapan untuk suami abal-abalnya itu.


Semangat paginya berkobar meski tak cukup tidur. Namun, isi kulkas tak sesemangat dirinya. Hanya ada sekaleng kecil kornet sapi dan sebutir telur. Makanan dari desa sudah ludes masuk ke perutnya selama bengong di ruang apartemen.


"Ah, mang sayur nggak jualan hari ini. Kenapa aku bisa lupa pesan si mamang, ya? Huh, gara-gara Jodi! Si Jomlo abadi! Aku jadi lupa segalanya!" gerutunya sendiri di dapur.


Terpaksa dia hanya memasak nasi goreng kornet dan menggoreng telur dadar.


Saat mulai memasak, Kimmy teringat dengan rayuan-rayuan Jodi alias Felix di chat.


"Bos Pelix kalo berperan jadi buaya darat boleh juga rayuannya!" gumam Kimmy.


Meski masih merasa kesal, tapi kadang dia merasa rindu pada sosok Jodi.


Kimmy selesai menggoreng telur, kemudian melanjutkan nasi goreng. Dia memasukkan bumbu ke dalam penggorengan. Bau wangi masakan semerbak memenuhi ruangan, sampai kemana-mana.


"Hey gadis mesum!" sambut Felix pagi itu. Dia menguap lebar dan merentangkan tangannya, mengendorkan otot-otot yang kencang semalaman.


Kimmy melotot.


"Kan udah aku jelasin, Bos! Itu video preng! Sumpah Bos .... Aku masih ting-ting, mau bukti?" ujar Kimmy.


"Mau ting-ting, mau tong-tong, mau ting-tong, yang jelas kamu adalah Nona Mesum!" sahut Felix mencomot telur dadar.


"Bos, itu telur dadar tinggal satu doang!" ujar Kimmy menekuk wajahnya.


"Ugh, kamu tidak bilang dari tadi sih, Nona Mesum! Nanti aku mampir supermarket untuk membelinya!" sahut Felix tetap menghabiskan telur itu, lalu menyambar handuk dan masuk ke kamar mandi.


Kimmy mendengus.


"Awas ya, Bos Pelix."


Dia melanjutkan masak. Kali ini dia benar-benar kesal dibuat pria itu dengan sebutan baru yang sangat jelek untuknya. Sifat sabar pun ada batasan.


*


Di rumah mewah, Bianca sedang sibuk berpikir di dapur. Kadang mengutak-atik ponselnya, tapi kemudian menggaruk kepala. Wanita itu sengaja bangun pagi sekali agar punya banyak waktu untuk berpikir.


Nah, benar saja. Dia malah kebanyakan berpikir bagaimana memulai acara masak di dapur yang begitu luas. Pelayan yang biasa membantu Hana, sekarang berbaris menunggunya di ruang dapur.

__ADS_1


"Eh, Kakak pelayan, apa yang biasa Hana lakukan pertama kali untuk memasak ... omelete?"


Para pelayan saling berpandangan. Bukankah mudah sekali memasak omelete?


"Biasanya kami membantu sesuai arahan Hana, Nona. Menyiapkan bahan. Jika Anda berkenan, kami akan mengambilkan bahannya."


Semalam, Key telah memberi perintah pada semua pelayan untuk mempersilakan Nona Bianca menguasai dapur. Jika mungkin, mereka tak boleh ikut campur.


Bianca mengetuk-ngetukkan jari di atas meja persiapan.


Sulit sekali untuk bisa menjadi ibu rumah tangga yang baik. Entah akan jadi seperti apa hidupnya tanpa Hana dan para pelayan. Mungkin dia akan menumpang hidup pada mamanya saja agar bisa menikmati masakan rumahan.


"Ah, sudahlah, omelet saja! Apa susahnya?"


Bianca membuka ponsel, mengetikkan cara membuat omelete, lalu menjentikkan kelingkingnya. Dia mulai bekerja. Merebus mie dan memasukkannya serta bumbu-bumbu ke dalam telur kocok yang siap digoreng sesuai dengan arahan di ponsel. Sementara pelayan lain memasak nasi.


Sreng!


Terdengar suara penggorengan yang menambah semangat wanita beranak satu itu.


Semoga hasilnya memuaskan!


Bianca segera menempatkan omelet buatannya ke piring ceper. Sebuah omelet yang besar! Dengan percaya diri dia membawa piring itu ke atas meja makan.


Semua anggota keluarga telah berada di ruang makan usai mandi pagi.


Ya, tampilannya sangat menarik. Nampaknya Bianca sudah mahir membuat omelet sesuai dengan gambar di ponsel.


"Makasih pujiannya, Tuan Muda!" ucap Bianca.


Dia segera menyendokkan nasi dan sepotong omelet itu ke piring Key, kemudian melakukan hal yang sama ke piring Pak Anton.


"Baunya enak!" puji Pak Anton.


Mereka segera menyantap sarapan. Tak lama setelah beberapa kunyahan, wajah mereka pucat pasi. Untuk menelan saja sangat susah. Namun, melihat binar di mata Bianca yang terus memperhatikan, mereka lanjut untuk menelannya sambil melotot.


Key mengambil minum, lalu meneguk air sebanyak-banyaknya.


"Eh, aku udah sangat kenyang, Bianca! Papa mau bersiap ke depan dulu. Ada yang mau kubicarakan dengan Felix!"


Key melirik ke papanya. Dia tahu pria paruh baya itu sedang berkelit. Dan Key terlambat untuk mendahului pria itu.


"Oh, ya, Papa!" jawab Bianca.


Tinggallah sepasang suami istri itu di dalam ruang makan.


Key tersenyum dan menyendok kembali makannya, menelan dengan susah lagi.

__ADS_1


"Er ... kamu tidak makan, Sayang?" tanya Key.


Bianca terperanjat.


"Oh, iya, saking asyiknya melihat kalian, aku jadi lupa makan!"


Wanita itu akan mengambil piring kosong, tapi dicegah oleh Key.


"Kita makan sepiring berdua, biar romantis!" ujar pria itu.


"Tapi tak sopan untuk meja mak- ...."


Key sudah menjejali mulut Bianca dengan sesendok nasi dan omelet itu sebelum dia menyelesaikan bicaranya. Pria itu menyingkirkan aturan ruang makan yang dibuatnya sendiri.


Bianca terpaksa mengunyahnya. Beberapa saat kemudian wajahnya aneh, menyeringai dan menyambar gelas di depan Key, mengisinya dengan air dan meneguknya tanpa jeda.


"Enak, kan?" tanya Key.


Bianca mengangguk, dusta.


"Lagi, biar gemuk!"


Pria itu seolah menemukan cara untuk menghabiskan sarapannya. Dia menyuapi istrinya hingga habis, tanpa memberi kesempatan untuk berbicara. Satu jar air putih dihabiskan oleh Bianca karena setiap setelah menelan, dia meneguk segelas air putih.


"Aku berangkat ya, Sayang! Aku ada rapat siang nanti. Jadi, mungkin pulang agak terlambat," ujar Key mencium kening istrinya yang masih mengunyah.


Bianca mengangguk dan menyelesaikan kunyahannya usai Key berlalu menyusul Pa Anton dan Felix di depan.


"Tidak enaaak!!" jeritnya sendiri setelah berhasil menelan suapan terakhir. Dengan kesal dia meneguk habis satu gelas lagi. Perutnya serasa penuh air.


"Huh, amatiran. Kenapa tadi tidak kucicipi dulu? Rasanya sangat asin!"


Dia menatap nanar ke lingkaran telur yang telah berkurang di depannya. Merengut kesal.


"Hanaa!!" desisnya perlahan.


"Aku harus bisa membuat mereka menyukai masakanku!" tekadnya.


Bianca kembali mengutak-atik ponselnya dan mencari berbagai tips memasak. Tekadnya bulat untuk belajar memasak selama Hana cuti.


Sementara itu, suasana di dapur sama dengan di ruang makan. Para pelayan yang sedang sarapan, antre untuk mengambil air mineral di dalam galon dapur setelah memakan masakan Nona mereka.


******


Stop plagiarisme!


Melanggar hak cipta orang lain masuk dalam UU nomor 19 tahun 2002 pasal 72 ayat (1) yang berisi hukum pidana maksimal 7 tahun dan denda maksimal 5 Miliar Rupiah.

__ADS_1


__ADS_2