Cintai Aku!

Cintai Aku!
Takut


__ADS_3

Warning! 21+


******


Kimmy kembali menelan saliva menatap ke layar televisi flat empat puluh dua inchi dari tiga meter jarak pandang di depan matanya. Sesuatu yang berdenyut-denyut di dalam dada maupun di bawah seperti tak berirama. Sesekali gadis itu mengembuskan napas panjang. Seperti mau melahirkan.


Embusan napas itu terdengar sangat menggairahkan untuk Felix. Ya, embusan napas. Bukan erangan maupun desahan, sudah membuatnya makin menegang, seolah bagian bawah ingin menyembul, ingin merobek celana santai yang dia pakai untuk mengetahui dunia luar selain kain pembungkusnya.


Tak nyaman sekali rasanya Felix. Dia mengubah posisi. Masih saja bagian itu mengeras tanpa permisi.


Kenapa ada film itu?


Hanya itu yang ada di pikiran pria yang memang sudah ingin menyembur-nyemburkan cairan selain air kencing itu.


Siapa ... siapa yang akan memulai duluan?


Felix menggaruk kepalanya, sementara Kimmy menggaruk keningnya. Bersamaan.


Lalu, mereka saling berhadapan.


"Kimmy, apa kamu mencintaiku?"


"Bos, apa kamu mencintaiku?"


Pertanyaan yang sama dengan tujuan yang berbeda terlontar bersamaan dari mulut keduanya. Setidaknya pikiran mereka pun sama. Untuk melakukan hal itu, harus saling mencintai. Walau terikat dengan benang merah pernikahan, tapi kalau tak saling mencintai, tak boleh melakukan hal sesuai di televisi itu.


Keduanya tersenyum. Lega.


Felix melihat Kimmy kembali menatap ke layar. Dia mengerutkan dahi.


"Itu saja?" tanya lelaki yang sudah mulai memanas itu. Dia mulai menyesali kenapa tak banyak wanita yang dia coba pacari semasa muda dulu, hingga malam ini tak tahu apa yang harus dilakukan.


Memangnya, pacaran melakukan apa?


Kimmy kembali menatap ke pria yang duduk bersandar dengan kaki lurus ke depan, setengah meter di sebelahnya.


"Iya," jawab Kimmy. Senyuman membingkai di wajahnya, tapi itu bukan senyum lepas seperti biasanya. Terlihat kaku.


Felix kembali menatap ke layar.


Dia sepertinya takut. Mungkin ini akan menjadi yang pertama kali untuknya. Felix menahan napas melihat sang wanita terlihat mencapai klimaks berkali-kali di layar.


Akhirnya Felix tak tahan. Dia bergerak sedikit ke arah Kimmy, lalu memegang tangannya. Terasa agak kasar, tidak halus seperti yang dibilang orang-orang tentang tangan seorang gadis. Namun, Felix tak perduli lagi. Dia merasa karena tangan Kimmy itu melakukan semua hal di rumah. Kasarnya telapak tangan karena pekerjaan yang berat yang dilakukan seorang wanita itu mulia. Pria itu tak perduli lagi dengan halus atau tidaknya sebuah telapak tangan.


Gadis dua puluh tahun itu bergerak menjalin jemarinya dengan jemari Felix. Pria itu seperti mendapat kesempatan untuk meraih bibir Kimmy yang sepertinya belum pernah dipagut siapapun. Hanya menempel, itu seingat Felix tentang gaya pacaran Kimmy.


Felix mendekat dan menempelkan bibirnya ke bibir Kimmy yang berwarna pink itu, kemudian membuka mulutnya, membantu gadis itu membuka mulutnya juga, kemudian menyapu rongga mulutnya dengan lidah. Kimmy mengikuti permainan Felix, saling berpagut, kadang lidah beradu seperti main anggar lembek. Pria itu bersorak dalam hati begitu mendapat sambutan, bukan tamparan. Begitu lama, tak seperti kedua majikannya yang harus belajar demi melancarkan sebuah ciuman.


Kimmy menikmati ciuman Felix yang berangsur ke leher jenjangnya. Menggigitnya pelan, hingga gadis itu mengerang sedikit. Bawahnya sedari tadi telah lembab. Kali ini menjadi sangat basah.

__ADS_1


Felix melanjutkan untuk bergerilya. Sekarang, tangannya menelusuri perut Kimmy, menelusup ke dua bukit yang tertutup awan kinton berwarna putih. Dia merasa gemas, lalu meremmasnya sedikit. Ditambah dengan bibir yang bertemu dengan tangannya di sana. Mereka tak butuh lagi pengalaman. Cukup dengan sebuah film yang masih berputar, menyerukan suara-suara yang membuat ruangan bertambah panas.


Hingga sampailah ke ujung penantian yang sedari tadi berdenyut. Baju berserakan di lantai. Tak ada lagi yang ditutupi. Hanya sebuah lubang sempit yang masih tertutup.


"Mm ... Aduh!!" seru Kimmy saat Felix menempelkan miliknya.


"Belum!" sahut Felix kaget karena teriakan Kimmy.


Gadis itu begitu ketakutan hingga baru menempel saja sudah berteriak.


"Bos, sebentar .... Apa itu akan sakit?" tanya Kimmy menempatkan telapak tangannya dengan jari yang renggang, menempel ke wajah Felix, hingga pria itu tak bisa bernapas.


"Iya," jawab Felix menarik wajahnya dan tangan Kimmy yang menempel.


"Jangan!!" sahut Kimmy menutupi tubuhnya dengan selimut dan menjauh dari Felix.


"K-kenapa?" tanya Felix merentangkan kedua tangannya bersimpuh di atas tempat tidur. Sesuatu yang menegang serasa mau lepas begitu lawannya menghindar.


"A-aku masih takut sakit!" Kimmy tak bisa membayangkan rasa sakitnya jika benda tumpul itu memasuki daerah yang biasa dia pakai untuk membuang air.


Felix menghela napas panjang.


"Iya sih, aku merobek dan dia harus merasakan dirobek, mungkin bayangannya itu akan sakit sekali ...." gumam Felix.


"Ya sudah, sini ... sini ...." Felix menepuk sisi kanannya.


"Apa kita akan mencobanya lagi?" tanya Kimmy. Pengalaman pertama itu sungguh horror baginya.


"I-iya," jawab Kimmy mengangguk. Rasa bersalah terbersit di hati, tapi rasa takut pun tak kalah menjalari.


"Aku pakai bajuku!" ujar Felix melihat Kimmy masih berselimut sambil berdiri takut.


Aku harus sabar, memaklumi dia baru pertama kali melakukannya jadi ya tidak mudah untuknya.


Kimmy pun pelan-pelan duduk dan melakukan hal yang sama dengan Felix.


Pria itu merangkul istrinya.


"Jadi, sejak kapan kamu menyadari kalau kamu mencintaiku?" tanya Felix mengelus rambut Kimmy yang telah lemas bersandar di bahunya.


"Sejak ... kemarin malam."


Felix terperanjat. "Tadi malam??"


Kimmy mengangguk.


"Yaa ... setidaknya sadar lah!" sahut Felix beberapa detik kemudian.


Mereka tersenyum.

__ADS_1


"Bos, eh ... gimana soal persyaratan kita dulu? Kalau masing-masing boleh mencintai orang lain?" tanya Kimmy.


"Kamu mau mencintai orang lain? Baru tadi malam mencintaiku, mau mencintai orang lain? Berapa lama lagi?" tanya Felix kesal.


"Bukan ... maksudnya itu masih berlaku, nggak?"


Baru ini dia tertular telmi-nya Kimmy. Felix menggeleng.


Kimmy tersenyum senang. Dia kembali bersandar ke bahu Felix. Meski gagal malam pertama, tapi rasa cinta telah tumbuh diantara mereka.


"Kalau sekarang tidak bisa itu-itu, bisa tidak memenuhi permintaanku satu lagi?" tanya Felix.


Televisi telah dimatikan agar tak lagi melihat film yang aneh-aneh.


"Apa itu, Bos?" Seringai takut terbentuk kembali di wajah Kimmy.


"Panggil aku jangan Bos ...." ujar Felix.


"Trus apa?" tanya Kimmy.


"Mas atau apa ...." jawab Felix.


Kimmy terlihat malu. Rona merah terbias di wajahnya.


"Ya, Mas ... Pelix."


Felix memutar bola matanya mendengar gadis itu masih menyebut namanya Pelix.


Harus maklum Felix dengan lidah Kimmy ....


Malam itu, mereka tidur dengan berpelukan, menyalurkan kasih sayang yang selama ini terbentuk dan terpendam.


Begini dulu saja .... Nanti lama-lama dia akan berani sakit. Toh liburan masih dua malam lagi. Masih ada kesempatan. Bisa sampai sepuluh kali semalam.


Begitu niatan Felix.


******


Wei ... wei .... Udah diwarning sama othor lho yaa, wkwkwk


Sayang, masih takut Kimmy-nya?


Pemanasan dulu, jan kecewa ya sayang2nya othor, hihihi ....


Pemanasan aja dag dig dug lolos review nggak...


******


Stop plagiarisme!

__ADS_1


Melanggar hak cipta orang lain masuk dalam UU nomor 19 tahun 2002 pasal 72 ayat (1) yang berisi hukum pidana maksimal 7 tahun dan denda maksimal 5 Miliar Rupiah.


__ADS_2