
Felix dan Kimmy terhanyut dalam suasana romantis di pinggir sungai. Mereka bak pengantin baru yang menikmati malam pertama dengan bulan madu. Lilin-lilin yang dipasang di sepanjang pinggir restoran remang-remang menambah kesan romantisnya pasangan.
Mereka saling menatap. Satu kepiting lagi masih tersisa. Sayang sekali.
"Kena!" Kimmy berteriak kemenangan saat bisa mengambil satu kepiting itu ke piringnya tanpa melihat ke isi piring karena matanya ke arah Felix.
"Yaaaah!" ujar Felix mencebik.
Ya, mereka saling bertatapan, bukan bermesraan tapi diam dan konsentrasi untuk memperebutkan satu kepiting lagi.
"Mas, apa kita akan bilang tentang semua ini pada Pak Bos Tuan dan Bos Nona?" tanya Kimmy sambil memecah kaki kepiting menggunakan tang kecil khusus.
"Biar aku saja yang bilang, tugasmu hanya telanj- ... Eh, tidak ... tidak! Maksudku tugasmu hanya seperti biasa saja, ya?"
Fyuh, hampir saja aku bilang dia harus bugil setiap malam. Bisa-bisa dia keluar kamar untuk pipis dengan telanjang setiap malam di rumah Tuan Key!
"Oh, aku ngerti, Mas. Iya, aku diam aja, ya?" Kimmy manggut-manggut sambil menyesap daging dari dalam cangkang.
"Nah, pinter istriku!" puji Felix senang.
Sekarang dia jadi berpikir, bagaimana cara menyampaikan pada Tuan Key?
Felix menggaruk kepalanya yang gatal sedikit, lalu lengannya.
Plak!
Tamparan keras di pipi mengagetkan Felix saat menggaruk. Dia melihat Kimmy marah.
"Nyamuk, Mas!"
Felix mengembuskan napas lega. Namun, bukan hanya darah nyamuk, tapi kuah kepiting juga membekas dan berbau amis di pipinya.
*
Malam itu, Felix kembali melakukan penelusuran menggunakan tangan dan bibir. Masih saja penasaran dan mengabsen.
"Tahi lalat di punggung dua, di paha satu, bekas jerawat apa bisul di pinggang satu, kalo dibalik, depannya ... masih mulus seperti jalan tol! Pemandangan dua gunung masih utuh. Dua cenol coklatnya juga masih sebesar kemarin."
Kimmy mengerutkan dahi.
"Apa sih, Mas?"
"Aku cek, ada yang belum hadir apa tidak," jawab Felix.
"Dicatet aja di buku!" gerutu Kimmy.
Bukannya dilahap, tapi tubuhnya hanya dilihat saja.
"Hitung tuh sekalian rambutnya!" tukas Kimmy lagi.
"Beneran lho, aku hitung!" sahut Felix terkekeh. Pria itu ternyata kalau di kamar tak sedingin es batu.
"Maklum, Dek, baru kali ini aku lihat pahatan Tuhan," ujar Felix.
"Iya, tapi jangan cuma dibolak-balik juga dong!" gerutu Kimmy.
"Cuma? Maksudmu mau ini?" Felix menggenggam kedua pergelangan tangan Kimmy lalu mengangkatnya ke atas seperti tawanan, kemudian menyesap gundukan itu dengan pelan.
__ADS_1
"Aaaah ...." Kimmy kaget dan mendesah.
Felix melakukan penelusuran dibantu dengan bibirnya lagi.
"Udah, Mas! Udah!!" Kimmy malah tertawa-tawa. Menggelikan sekali. Kepalanya bergerak menggeleng-geleng cepat sambil tergelak.
Felix melepas genggamannya dan membiarkan Kimmy mengendurkan rahangnya yang lelah karena tertawa.
"Uuh! Apa sih itu tadi?" Kimmy melengkapi pakaiannya, lalu berbaring di sebelah suaminya.
"Cuma mau lihat kelucuan kamu kalo geli," jawab Felix.
Kimmy mengerucutkan bibir Namun, tetap merasa bahagia. Bermanja-manja semalam dengan suaminya, karena besok sudah waktunya pulang dan waktu mereka yang berkualitas seperti ini akan berkurang.
*
Pagi itu, Kimmy berbalut celana jeans panjang dengan kaus putih dengan parfum Felix karena parfumnya habis, keluar dari kamar dan menyusul suaminya di restoran.
"Pagi, Dek Kim Lo ...." sapa Felix.
"Pagi, Mas Pepel ...." sapa Kimmy tak mau kalah.
Dengan senyum mereka berjalan lalu mengambil makanan yang disediakan oleh restoran hotel, lalu makan pagi.
"Mas, aku nggak sabar pengen belanja!" ujar Kimmy sambil mengunyah pelan nasi dan ca kangkung dengan gurame goreng dari piringnya.
"Sabar ... aku aja yang mengeluarkan dompet sabar, kok!" sahut Felix.
"Ehm, yang kemarin itu, ya?" pinta Kimmy menagih daftar belanjaan.
"Katanya kalo beliin istri, pasti akan dapat ganti berlipat-lipat," ujar Kimmy.
"Seluruh tabunganku buatmu ...." tanggap Felix, bercanda.
"Bener?" tanya Kimmy berbinar.
"Ya ...."
Tidak ....
Felix menelan saliva, ternyata kebahagiaan wanitanya, salah satunya adalah menghabiskan uang suami.
*
Pasar Sukawati saat itu lumayan ramai. Banyak turis asing yang berbelanja di sana.
"Hai," sapa Kimmy pada seorang turis lelaki yang lumayan cakep.
"Hi," jawabnya.
Kimmy menggaruk kepalanya. Bingung mau bilang apa. Sementara, Felix sedang berada agak jauh dari Kimmy.
"Prom?"
Si turis mengernyitkan dahi.
"Pardon?" tanyanya.
__ADS_1
"Wer ar yu prom?"
"America," jawab turis itu.
"Oh, ayem pur Indonesia," jawab Kimmy tanpa ditanya.
Si turis mengangguk-angguk lalu merogoh kantongnya, mengeluarkan uang sepuluh dollar, lalu memberikannya ke Kimmy.
"Bye!" ujar turis itu meninggalkan Kimmy yang bengong dengan uang sepuluh dollar di tangannya.
"Loh, lah, kok malah dikasih uang?"
Felix mendekati istrinya yang kebingungan. Wanita itu sedang mengamati uang dollarnya.
"Lho, kok kamu dapat uang dollar? Dari mana?" tanya Felix.
"Tadi aku ngobrol sama turis. Eh, dikasih uang dollar! Kenapa, ya?"
Felix terperanjat mendengar istrinya mengobrol dengan turis.
Super nekat! Lidahnya aja belum lurus!
"K-kamu ngomong apa?"
"Aku terakhir bilang murni dari Indonesia, kan bener ya bilangnya ayem puer prom Indonesia?"
Felix menahan tawa.
"Iya, bener. Tapi lain kali bilang lafal pure (murni) jangan kayak poor (miskin) ya? Sini dollarnya, lumayan buat simpenan!"
Felix menarik tangan Kimmy untuk segera membeli apa yang ingin dibelinya.
Tiga plastik besar telah berpindah tangan ke Kimmy. Dengan senangnya wanita itu membawa ketiganya dibantu oleh Felix masuk ke mobil van.
Felix merasa agak senang, belanjanya tak terlalu banyak menghabiskan uang. Ternyata Kimmy pun tak boros dengan uangnya.
"Itu, kenapa beli topeng barong?" tanya Felix.
"Mau dipajang kan Mas di rumah?"
"Suka?"
"Ya kan khas Bali," jawab Kimmy.
"Lha kenapa kamu nggak mau nikah sama juragan Burhan kalo suka muka-muka seperti itu?" goda Felix.
"Ah, Mas. Justru ini seperti Mas Pelix kalo marah ...."
Felix melotot mendengarnya, tapi tak jadi karena melihat Kimmy menunjukkan dua jarinya.
"Piss ...."
******
Stop plagiarisme!
Melanggar hak cipta orang lain masuk dalam UU nomor 19 tahun 2002 pasal 72 ayat (1) yang berisi hukum pidana maksimal 7 tahun dan denda maksimal 5 Miliar Rupiah.
__ADS_1