
"Baiklah, aku mengaku memang ya aku bohong. Mama dan papaku sekarang sedang berada di luar negeri. Kamu mau apa?"
Dion menyeringai penuh kemenangan. Ini rencana kedua setelah rencana pertamanya gagal karena Susan tak juga mau meminum air dalam gelas itu.
"Kamu!"
Dengan sangat marah, Susan menatap nyalang pada Dion. Muak dengan wajahnya itu. Susan meraih tasnya dan berdiri, beranjak dari tempat itu. Namun, sial! Pintunya terkunci. Pria menyebalkan itu telah menguncinya.
Dion berjalan mendekati Susan dan menarik dan menyentak tangannya agar mendekat ke tubuhnya hingga tas Susan yang berisi alat periksa terpental ke lantai.
Susan menolak, berusaha menarik tangannya kembali dengan kasar dan mempertahankan diri. Perasaan Susan tak enak. Dia meyesali kenapa menuruti ajakan Dion si buaya licik untuk mendatangi rumahnya.
"Tolong!" teriaknya sambil berupaya melepaskan cengkeraman Dion.
Namun, tenaga Susan tak mampu melawan. Semakin dia melawan, maka Dion akan makin tegas mencengkeram lengannya hingga robeklah baju Susan dan memperlihatkan lengan hingga dada berkulit putihnya yang semakin membuat Dion bernafsu untuk membukanya.
Dalam tekanan, Susan mengangkat salah satu kaki dan menendang sekenanya. Dia mencoba memberontak dan meminta pertolongan. Sayang, Dion dengan mudah telah mengangkatnya, membawa ke atas dan membanting tubuh Susan ke atas tempat tidur di kamarnya.
***
"Saya mencari Dion!" sahut Yoshua saat seorang pelayan tergopoh membukakan pintu gerbang untuk mereka bertiga.
"T-Tuan Dion tak ada di rumah."
Suara lirih menandakan ketakutan keluar dari mulut pelayan itu.
"Bohong!" ujar Yoshua melirik ke arah motor Susan.
Felix dan Key keluar dari mobil dan mendekati pelayan itu. Seorang satpam datang dari belakang.
"Ada apa ini?" tanyanya galak.
"Kami mencari saudara Dion. Dia membawa Nona Susan. Mana saudara Dion!" sahut Felix tenang dengan kedua tangan dimasukkan ke saku celananya.
"Tidak ada!" sahut si satpam ketus. Pelayan wanita tadi hanya menunduk takut.
"Itu sepeda motor adikku!" teriak Key tersulut emosi.
__ADS_1
"Ya bawa saja sepeda motor itu! Tuan kami tak membutuhkannya jika Anda akan mengambilnya! Tuan kami tak ada di rumah!" ujar satpam itu congkak.
"Baiklah. Saya akan melaporkan ini semua ke polisi. Sebentar lagi polisi akan datang menggeledah rumah ini."
Felix mulai mengeluarkan ponselnya. Ancaman dia tak main-main. Wajah satpam itu mulai pucat. Namun, dia tak bisa mengkhianati Tuannya. Beberapa orang pria mulai berdatangan dari belakang rumah.
***
Dion mendengar sedikit keributan di luar. Namun, tak digubris karena sekarang dia telah mendapatkan Susan yang berada di atas ranjangnya, ketakutan.
"Dion! Hentikan semua ini! Kalo kakakku tau perbuatanmu, dia tak akan segan-segan membunuhmu!" ancam Susan mendorong tubuh Dion yang sudah menghimpitnya.
"Siapa kakakmu? Membunuhku? Bahkan ajudanku lebih kuat darinya."
Dion mulai mengungkungi gadis itu. Mencium bibir dan leher Susan dan menggigitnya hingga Susan berteriak jijik dan kesakitan. Bekas tanda merah tertinggal di sana. Susan menjerit sekuat tenaga. Wajah dan matanya memanas. Air mata lolos dari kedua matanya dengan mudah.
Dion telah berhasil merobek baju Susan lebih lebar. Namun, seketika lengah, Susan menggigit tangan Dion dengan segenap kekuatannya.
"Aww!!" teriak Dion. Saat itulah Susan menendang Dion dan mendorongnya sekuat tenaga, beranjak menuju ke pintu tapi nyatanya pintu terkunci.
Mengibaskan tangannya yang sakit karena gigitan Susan, Dion makin jengkel. Dia pun mendekati Susan lagi. Namun, Susan berlari pintu menuju ke balkon yang terbuka di kamar Dion yang kebetulan tak dikunci oleh pria itu.
"Toloong!!" Berteriak sekencangnya dengan wajah pucat sesekali menatap ke arah Dion yang makin berani.
Dion tertawa. "Siapa yang kamu mintai pertolongan?"
Saat pria itu mendekat, saat itu pula Yoshua mendengar teriakan-teriakan dari belakang rumah. Yoshua berusaha berlari ke belakang, tapi beberapa bodyguard menahannya.
"Susan! Susan di belakang sana!" teriak Yoshua panik mendengar suara Susan.
Felix dan Key langsung menyerang satpam dan bodyguard itu karena waktu mereka tak banyak untuk menunggu polisi datang. Yoshua ikut melawan para bodyguard itu. Mendapat kesempatan celah untuk berlari ke dalam, Yoshua pun menghindar dari para pria yang mulai mengejarnya.
Keadaan Susan sangat terhimpit. Dia berdiri di pinggir balkon yang menghadap ke belakang rumah Dion, tambah lagi Dion makin mendekat padanya dengan bertelanjang dada.
"Jangan mendekat! Atau aku lompat dari sini!" ancam Susan.
"Apa kamu berani lompat dari situ?" tantang Dion makin mendekat.
__ADS_1
"Pokoknya jangan mendekat!" teriak Susan mengancam lagi.
Seolah tak mengindahkan kata-kata Susan karena telah dikuasai oleh nafsunya, Dion dengan cepat mendekat ke Susan dan menyergapnya, membuka baju Susan dan mencium bibirnya lagi di pinggir balkon. Kali ini sampai ke dada Susan.
Susan mendorong kepala Dion yang terbenam di dadanya. Perlawanan terakhir dia mencakar wajah Dion dan memukul matanya. Merasa tak ada lagi celah pertolongan dan Susan memilih harga dirinya daripada nyawa, dia pun nekat melompat dari atas balkon. Tak perduli setinggi apa. Semua terjadi begitu cepat.
"Susaaan!!!" teriak Yoshua berlari sekuat tenaga ke arah gadis yang akan jatuh dari lantai atas. Namun, Susan tak mendengar teriakan Yoshua karena telah berada di ambang niatnya.
Brakk!
Tubuh Susan tersangkut dulu di sebuah pohon, lalu karena tanpa kekuatan, tubuh itu perlahan jatuh ke bawah, membuat seluruh tulangnya terasa retak, nyeri dan ngilu tak terhingga dan semua gelap.
***
Yoshua merasakan tubuhnya sangat ngilu menahan Susan yang telah terkapar di atas tubuhnya di atas rumput taman. Perlahan dia beringsut dan berbaring di sebelah Susan yang menelungkup.
"Susan, bangun! Susan!"
Seorang pria akan tetap marah dan sedih melihat kekasihnya terkapar terjatuh dari atas balkon. Untung saja dia menyingkirkan bodyguard Dion dan dengan tepat berlari meski seluruh tubuhnya tersayat-sayat berhasil menahan tubuh Susan. Dia pun merasa tulangnya retak sebagian tak mampu bangun saat semua orang mengerumuni mereka. Seketika rasa pusing menghinggapi dan semua gelap.
Samar-samar Yoshua mendengar beberapa orang akan membawa mereka. Dia telah berada dalam sebuah mobil ambulans saat tersadar.
"K-kepalaku!"
Yoshua memegang kepalanya yang sakit tapi tak juga bisa bangun, karena tulang punggungnya terasa patah. Teringat dia menahan tubuh Susan dengan punggungnya. Sakit sekali.
"Jangan bergerak dulu."
Seorang pria sedang duduk di sampingnya. Yoshua nengenali pria itu. Dia Felix, asisten Tuan Key.
"Tuan Felix, dimana Susan?"
Dengan rasa sakit, Yoshua masih mengingat keadaan Susan.
"Nona Susan telah sampai di rumah sakit. Sudah, Anda jangan terlalu banyak bergerak. Tuan Yoshua."
******
__ADS_1