Cintai Aku!

Cintai Aku!
Keinginan Susan


__ADS_3

Pandangan Susan menerawang. Dia teringat saat-saat Mama Winda pernah merawatnya. Meski bukan ibu kandungnya, meski sejahat apapun, dia pernah Susan anggap sebagai ibu kandung.


"Ada apa, Susan?" tanya Pak Anton saat melewati gadis yang sedang duduk di pinggir jendela, memperhatikan marmut yang sedang dibiarkan berkeliaran di taman belakang.


"Eh, Papa Anton. Nggak apa-apa," sahut Susan kembali memandangi empat binatang kecil itu.


Dua kembar merangkak mendekati Susan. Walaupun masih nampak sedih, tapi dia merasa terhibur saat melihat dua bayi kembar yang baru bisa merangkak.


Mereka berdua balapan sampai di lutut Susan lalu merambat naik. Usia keduanya telah menginjak tujuh bulan.


"Hai, Celine ... Celena!" sapa Susan.


"Sini, salah satu sama kakek!" panggil Pak Anton.


Kini keduanya turun berbalik merangkak ke kakeknya. Sementara itu, Kin sedang bermanja dengan daddynya di ruang televisi.


Kimmy mendekati Susan yang merenung lagi setelah si kembar mendekati kakeknya.


"Bos dokter, ada apa?"


Susan hampir tertawa mendengar panggilan Kimmy padanya. Dia menatap Kimmy dan tersenyum.


"Kak Kimmy, kenapa panggil aku Bos dokter ...." gelaknya.

__ADS_1


"Karena Mbak Susan kan mau jadi dokter kan?" sahut Kimmy tersipu.


Susan tertawa, tapi sebentar kemudian dia mulai nampak sedih lagi. Pandangannya kembali ke taman belakang.


"Kak Kimmy pernah merindukan sesuatu?" tanya Susan.


"Pernah. Sekarang pun saya merindukan baby Lingga," ujar Kimmy ikut memandangi marmut yang mulutnya bergerak-gerak mengunyah rumput di taman.


"Kalau rindu yang itu, Kak Kimmy bisa pulang dan ketemu baby Lingga ...." cicit Susan.


Kedua mata Kimmy melebar.


"Lah, rindunya Bos dokter apa ya?"


"Aku ... rindu kedua orang tuaku," sahut Susan.


"Mm ... Kak Kimmy sebenarnya kata Papa aku ini anak panti asuhan yang dulu diasuh oleh Mama Winda. Keduanya sudah meninggal, tapi aku tak tahu mereka dimakamkan di mana."


Kimmy terperanjat mendengarnya.


"Aah ... maaf, Bos dokter, saya tidak tahu," ujar Kimmy penuh sesal.


"Nggak apa-apa, Kak Kimmy," sahut Susan mengelus lengan Kimmy.

__ADS_1


"Bos dokter, kenapa tidak kita datangi panti asuhannya?" usul Kimmy.


"Kakak benar!" ujar Susan melebarkan kedua mata dan menjentikkan jarinya.


"Papa Anton, bolehkah kita pergi mengunjungi panti asuhan?" tanya Susan pada Pak Anton yang sedang berbaring mengangkat si kembar bergantian.


"Siapa yang bilang panti asuhan? Aku ikut!" teriak Bianca turun dari tangga.


Susan berbinar mendengar dukungan dari Bianca. Dia lalu menatap ke arah Pak Anton. Pria paruh baya itu pun tersenyum dan mengangguk.


"Sebentar, Papa carikan alamatnya dulu ya?" ujar Pak Anton.


Namun, ketiga perempuan itu tak lagi mendengarkannya. Mereka sibuk mengumpulkan apa yang bisa dibawa ke panti asuhan dimana Susan pernah diasuh.


"Inj baju-baju bekas, apa mereka mau, ya?" Bianca menarik sebuah kardus besar yang memuat semua pakaian yang baru sekali dua kali dia pakai. Semua tak muat lagi. Setelah melahirkan yang kedua kalinya, badannya melar.


"Mau, Kak! Baju-baju Kakak ber-merk dan kualitasnya bagus. Mereka pasti suka!" ujar Susan yang mengeluarkan buku-buku cerita, novel dan juga beberapa boneka.


"Mainan-mainan Kin juga masih bagus-bagus! Mereka pasti mau!" ujar Bianca melirik ke kardus milik Kin.


"Kimmy, tolong bilang sama Kin, kalau mainannya dipilih saja yang sudah tak disukai. Bisa diberikan ke adik-adik lelaki yang mau di panti asuhan," pesan Bianca pada Kimmy.


"Baik, Bos Nona!"

__ADS_1


******



__ADS_2