Cintai Aku!

Cintai Aku!
Pesta Pernikahan


__ADS_3

Terpesona ... aku, terpesona memandang (mandang) wajahmu yang cantik ....


Ctet!


"Ah, apaan sih bos Pelix! Lagu diputer berkali-kali ini terus? Bikin sepet telinga ...." omel Kimmy mematikan tape mobil.


"Aku tidak tahu, lagunya muter sendiri," jawab Felix melengos. Padahal lagu itu mewakili perasaannya.


Pria itu menatap Kimmy lewat spion mobil.


Ciittt!


"Nah, kan? Apa kubilang?" Tangan kiri Kimmy memegang handle mobil, sementara tangan kanan memegang jok.


Karena tak fokus, Felix tidak menyadari lampu merah. Untung saja dia refleks menginjak rem.


Seorang nenek tua menyeberang dengan mengacungkan tongkat mengarah ke kaca mobil Felix. Kelihatannya dia marah-marah.


"De javu sekali sih?" Felix menggaruk kepalanya yang tak gatal.


Kimmy memandangnya kesal. Namun, tetap menggemaskan bagi Felix.


Mereka sampai di sebuah gedung, tempat dilaksanakannya pernikahan dan resepsi. Ucapan syukur dari dalam gedung menunjukkan bahwa kedua mempelai telah menjadi suami istri yang sah.


Tepuk riuh menggema dari dalam saat Felix dan Kimmy berjalan memasuki gedung. Pria itu menyodorkan lengan agar si gadis menggandengnya. Namun, yang disodori tak menggubris. Malah mendahului.


"Susah ...." gerutu Felix.


Sepertinya kedua mempelai sedang masuk ke sebuah ruangan untuk berganti pakaian.


Key dan Bianca melambaikan tangan pada Felix dan Kimmy. Kedua asisten berjalan ke arah tuan dan nona mereka.


"Wah, Kimmy cantik!" puji Bianca.


"Masa sih, Bos Nona?" ujar Kimmy tak percaya.


"Iya!" tukas Bianca menunjukkan kesungguhan pujiannya.


Wajah Kimmy memerah bak kepiting rebus. Baru kali ini dia memakai dress seperti itu.


Suasana mulai ramai ketika sepasang pengantin telah masuk melewati karpet merah memasuki gedung. Laura terlihat sangat cantik, sedangkan Mike pun terlihat gagah dan tampan dengan balutan baju modern.


Semua orang terpana melihat sepasang pengantin itu. Tak terkecuali Kimmy.


"Kamu kepengen?" tanya Felix menertawakan gadis itu.

__ADS_1


Tak disangka, Kimmy mengangguk. Raut tawa Felix berubah masam.


"Kamu kan sudah ...." Tak jadi melanjutkan kalimat itu, mengingat tuan dan nonanya ada di sekitar mereka.


Ugh! Gadis ini! Kunikahi dua kali, baru kapok!


Usai pengantin duduk, para undangan berjalan menyalami mempelai.


"Selamat ya?"


"Semoga langgeng!"


Begitu ucapan-ucapan yang terucap dari mulut para undangan. Namun, beda dengan Kimmy.


"Selamat ya, sekarang udah nggak pakai sabun lagi!" serunya.


Kedua pengantin saling berpandangan mendengar ucapan Kimmy, tapi kembali terlupa saat menyalami tamu lain.


"Apa maksudmu??" tanya Felix pada gadis itu saat turun dari pelaminan.


"Apanya, Bos Pelix?" tanya Kimmy polos. Cacing-cacing dalam perutnya meronta.


"Itu, maksud ucapanmu pada pengantin!" ulang Felix.


"Oh, itu. Dulu pas kita ...." Terhenti sebentar dengan berbisik mengucapkannya dan celingukan lalu melanjutkan saat aman.


Gadis itu berbicara sambil ikut berbaris antri untuk mengambil piring dan hidangan, diikuti oleh Felix.


"Pakai odol!" sahut Felix kesal. Ternyata tebakannya benar. Kimmy tak paham arti dari ucapannya itu.


"Jangan mengatakan sesuatu pada orang lain kalau kamu tidak tahu apa artinya!" tambah Felix berteriak pada Kimmy. Deretan orang di depannya sampai menengok ke belakang.


Kimmy merengut. "Ya, kan cuma bilang nggak pakak sabun, apa salahnya?" gumamnya tanpa suara.


Kimmy mengambil hidangan yang tersedia. Tak disangka, seseorang menepuk pundaknya.


"Non Kimmy! Ya ampun, cantik bener calon bojoku iki!" celetuknya ramai.


Felix langsung melotot mendengar kata 'bojoku'. Dia menatap tajam ke arah sumber suara. Lalu bergegas mengambili hidangan tanpa memilihnya lagi, dan melihat kedua orang itu agak jauh, tapi tetap mendengar percakapan mereka.


Kimmy meringis di depan Nano. Gadis itu lebih memilih menggigit daging daripada meladeni pria di depannya. Mulailah Nano dengan seribu jurusnya.


"Non Kimmy, andai aku jadi daging, pasti sudah menyatu denganmu yang cantik bak bidadari turun ke bumi!" gombal Nano sambil melihat daging yang digigiti Kimmy.


"Edan!" sahut Kimmy, memunggungi Nano.

__ADS_1


"Eh, kalo merayu wanita, jangan begitu!" Tiba-tiba seorang pria yang lumayan tampan mendatangi mereka.


Nano agak jengah melihatnya. Apalagi Felix, dia memegang garpu lalu menusuk potongan daging dengan kesal seperti emak-emak melihat sinetron perebutan harta warisan.


"Nona, micin apa yang bikin candu?" tanya pria itu.


Mata Kimmy membulat sempurna. Sebenarnya dia tak ingin meladeni kedua pria itu karena perutnya lapar sekali. Dia hanya mengangkat bahu, arti tak tau.


"Micintaimu sepenuh hati," jawab pria itu terkekeh. Sepertinya Nano akan membuat jurusnya yang kedua. Dia sedang memikirkan susunan kata-kata untuk Kimmy.


Felix merasa ada yang meradang di dalam tubuhnya. Kesal. Tentu saja. Dia memasukkan apa yang ditusuknya ke mulut untuk digigit.


"Ugh! Laos!"


Tang!


Dibantingnya garpu ke piring, lalu menaruh piring yang masih berisi penuh makanan itu di bawah. Hilang selera makannya.


"Buaya! Rayuan gombal!" desisnya. Pria itu dengan cepat mendatangi ketiganya, lalu menarik tangan Kimmy agar menjauh dari gombalan yang lebih gombal lagi.


Nano dan pria itu melihat Felix yang sudah menyeramkan, lalu mereka angkat kaki dari tempat itu, mencari tempat lain.


"Apa sih, Bos Pelix?" tanya Kimmy kesal.


"Kamu itu, digombalin cowok diam saja!" gertaknya.


"Lagian, aku yang digombalin, kenapa Bos yang marah? Cemburu?" tanya Kimmy.


Alis Felix naik mendengar kalimat Kimmy barusan. Pria itu lalu berubah agak tenang.


Cemburu? Dia sadar juga!


"Iya!" tukas Felix.


"Ya nanti aku bilang ke mereka kalo Bos itu kepengen dirayu juga! Sekarang aku tuh lapar, Bos!" Kimmy tak perduli lagi dan melanjutkan makan.


Duh, Gusti, Kimmy! Bukan begitu maksudku!!


Felix memijat keningnya.


******



******

__ADS_1


Stop plagiarisme!


Melanggar hak cipta orang lain masuk dalam UU nomor 19 tahun 2002 pasal 72 ayat (1) yang berisi hukum pidana maksimal 7 tahun dan denda maksimal 5 Miliar Rupiah.


__ADS_2