
"Apa si Jodi itu adalah Bos Pelix?" tanya Kimmy agak meninggi.
Mendengar nama itu, Felix langsung terperanjat.
"Kok kamu bisa tahu?" jawabnya mengernyitkan dahi.
"Ini!" tunjuk Kimmy ke layar ponselnya.
Felix mengamati pesan yang baru saja dia kirim.
"Kamu? Ngaku-ngaku bernama Kim So?" tanya Felix memiringkan kepalanya, sementara matanya memicing ke arah Kimmy.
"I-iya, Bos Pelix. Kim So itu ... aku."
Felix merasa lemas, menutup wajahnya yang sekarang merah padam. Marah. Pria itu mendengus kasar. Semula yang dia persiapkan hangus sudah. Rasa kecewa menjalar di hatinya. Begitu juga Kimmy, dia pun merasa kecewa.
"Kalo kamu itu seharusnya bukan Kim So!" ujar Felix menarik tangan dari wajahnya.
"Lalu siapa?" tanya Kimmy dengan malas juga.
"Kim Lo!" jawab Felix kesal.
Kimmy mendengus.
"Huhft! Apalagi Bos Pelix, nggak pantes namanya Jodi!" balasnya kembali melipat tangan.
"Lalu, siapa?" tanya Felix.
"Jones!" jawab Kimmy.
Felix melotot.
"Aku menyesal menerima pertemanan darimu!" ujar Felix.
"Emangnya aku nggak nyesel?" tanya Kimmy tak kalah sengit.
"Siapa sangka wajah bule ternyata bohongan!" tambah Kimmy lagi.
"Memangnya kamu tidak? Wajah Korea ternyata dusta!" balas Felix.
Kimmy membelalakkan matanya, tapi menyadari juga bahwa dia melakukan hal yang sama.
"Huh, sisi keromantisan hanya di dunia maya! Di dunia nyata mah, silet!" gumam Kimmy tapi terdengar oleh Felix.
"Silet? Maksudmu?" Felix menyipitkan kedua matanya.
"Tajem!" sahut Kimmy.
Lembar menu mereka abaikan beberapa waktu dengan adu mulut yang membuat beberapa orang menengok pada kedua orang itu.
"Kamu belum tahu siapa aku. Jangan menilai seseorang dari luarnya saja!" ujar Felix.
Kimmy mengernyitkan dahi.
"Eh, Bos Pelix juga jangan menilai seseorang dari tampilannya aja, ya! Bisa ceramah tapi nggak bisa kasih contoh!" seru Kimmy.
"Huh!"
"Lagian, bilang-bilang aku gelandangan! Apa aku ini terlihat sangat buruk?"
Kimmy sedang menunjukkan taring. Biasanya dia menjadi gadis yang periang, tapi kali ini dia sangat kesal. Walau dia juga salah, tapi rasa kecewa dibohongi meluap-luap.
"Aku bercanda! Kamu juga gitu, bohong tapi marah juga padaku!" tukas Felix.
__ADS_1
Kimmy duduk tertunduk dengan lemas menyadari perbuatannya. Agak lama mereka terdiam. Kecewa, tapi mau bagaimana lagi, memang itu yang terjadi.
"Maapkan aku, Bos Pelix!" ujar Kimmy akhirnya. Kali ini dengan suara yang pelan.
"Ya, aku maafkan," sahut Felix singkat.
"Bos Pelix nggak minta maap sama aku?" tanya Kimmy meremas ujung kaosnya.
"Maafkan aku juga," ujar Felix memelankan suaranya. Gengsi.
"Iya, Bos."
Suara guntur memecah di langit. Hujan semakin deras saja.
Mulut sempat tak seirama, tapi suara perut keduanya kompak meminta jatah makan. Mereka duduk dan menatap menu di atas meja yang tak dihiraukan selama beradu mulut.
Keduanya menarik ujung lembaran menu. Menyadari hal itu, mereka menarik tangan lagi, saling mengalah.
"Kamu dulu," ujar Felix.
"Bos Pelix aja dulu," tukas Kimmy.
"Kamu."
"Bos."
"Kamu!"
"Bos!"
Mereka mulai geram lagi. Namun, kalah karena daya yang belum terisi. Kimmy sengaja tak makan sore tadi, agar dia bisa makan enak di cafe. Begitu juga Felix. Saking gugupnya mau ketemu kenalan, dia tak makan siang sampai sore. Hanya pagi tadi bekal dari Kimmy yang dia makan. Itu pun separuh.
Kimmy menarik menu dan menuliskan apa yang ingin dia makan, lalu menanyai Felix tentang apa yang ingin dia makan.
"Terserah," jawab Felix.
Felix menggerutu tak beraturan, lalu terpaksa melihat ke daftar menu.
"Ayam bakar," ujarnya.
"Bos suka sekali makan ayam bakar, apa nggak takut kolestelor?"
Felix melirik tajam ke Kimmy.
"Baru tadi maaf-maafan, sekarang udah bawel, salah lagi ngomongnya?" ujar Felix.
"Kolesterol! Telar telor! Buruan pesen! Keburu lapar!"
"I-iya, Bos."
Kimmy menulis di lembar pesanan, kemudian meminta pelayan mendatangi meja mereka untuk mengambilnya.
*
Sore itu saat hujan turun dengan deras, Bianca sedang menunggui Kin di rumah mama. Brian senang sekali bermain dengan keponakannya itu.
Mereka sekeluarga berkumpul di ruang tengah. Sebuah karpet lipat digelar untuk bermain Kin.
Balita itu senang sekali berceloteh, apalagi ada yang bersenandung.
"Tutupen botolmu ...." Brian bernyanyi sebuah lagu yang dia dengar dari radio.
Kin memperhatikan lelaki berusia sebelas tahun itu bernyanyi.
__ADS_1
"Kin, ini mobilnya bunyi, lho! Ngeeeng!" ujar Brian. Sesekali dia bermain sambil bersenandung lagu tadi.
"Nen ...." ujar Kin sambil memegang sebuah mobil dan mengangkatnya.
"Iya, pinter! Ngeng!" seru Pak Danu sumringah melihat cucunya bisa menirukan suara mobil.
Bu Sinta ikut tersenyum melihat si kecil.
"Besok jadi arsitek, ya?" ujar pria paruh baya itu.
"Bisa ngomong ngeng kok jadi arsitek?" protes Bu Sinta.
"Trus, jadi apa?"
"Dokter, lah!" sahut Bu Sinta.
Pak Danu dan Brian saling berpandangan dan mengangkat bahu.
Mereka bertiga hanya menunggui si balita di ruangan tengah. Kehadirannya membuat seluruh anggota keluarga merasa gembira.
Sementara, Bianca sedang sibuk bergelut di dapur. Dia baru saja belajar memasak dengan arahan ibunya dari ruang keluarga.
"Susah sekali, masak!" ujar Bianca. Dia belum bisa memberi bumbu yang pas. Kedua tangan berada di pinggang.
Bu Sinta mengecek, masuk ke dapur dan mencicipi masakan Bianca.
"Hambar," komentarnya.
"Diberi apa lagi, Ma? Aku bingung."
"Garam," sahut Bu Sinta sambil menambahkan butiran dengan rasa asin itu. Sebentar kemudian, mereka mencicipi dan Bianca merasa puas atas rasanya.
"Enak, Ma!" ujarnya.
Petang menjelang, saat Key menjemput Bianca di rumah mertuanya. Kin sedang memakan cemilan buahnya di kursi bayi ketika daddy-nya datang. Bayi itu belum juga mau memejamkan mata.
"Halo, Dear! Anak Daddy yang pintar! Makan apa?" sapa Key pada anaknya.
"Mam ... mam ...." jawab Kin masih belum bisa mengucapkan apa yang dia makan.
"Key, ayo kita makan!" Tadi Bianca yang masak lho!" ujar Bu Sinta muncul dari dalam, setelah menata ruang makan. Semua anggota keluarga mulai beranjak untuk berkumpul di sana.
Key mendengar hal itu takjub.
"Masa, sih? Dia bisa masak?" sahut Key tak percaya.
Pria itu segera duduk di kursi makan. Bianca mengambilkan nasi dan sup jagung yang dia masak tadi, berkali-kali menanyakan caranya pada sang ibu.
Key mengambil sendok dan mencicipi hasil masakan istrinya, merasakan sebentar, kemudian terbelalak. Meski tak selezat masakan Hana, tapi rasanya sudah cukup enak.
"Gimana?" tanya Bianca memandangi suaminya yang terlihat menikmati.
Key mengangguk-anggukkan kepala dan tersenyum.
"Enak!" ujarnya.
Bianca merasa sangat senang. Key mendapatkan ide.
"Sayang, besok kamu bisa memasak di dapur, tadi Hana kusuruh cuti dulu, ibunya sedang sakit," ujar Key.
"Hah??" Mulut Bianca ternganga mendengar permintaan suaminya.
******
__ADS_1
Stop plagiarisme!
Melanggar hak cipta orang lain masuk dalam UU nomor 19 tahun 2002 pasal 72 ayat (1) yang berisi hukum pidana maksimal 7 tahun dan denda maksimal 5 Miliar Rupiah.