
Pesta siang hingga sore pun usai. Felix pun telah selesai makan. Dia melihat Tio mendekati Kimmy dan menjabat erat tangan gadis itu, sepertinya mengucapkan berbagai kata sebagai ucapan terakhir.
Kimmy berkali-kali menengok ke arah Felix, tapi pria itu malah membiarkannya.
Kimmy menghela napas.
Dimintai bantuan malah melengos sih, si Bos!
Kimmy terpaksa melayani ucapan selamat yang bertele-tele dari Kwetio. Felix menahan tawa sambil menyeruput minumnya.
Hari hampir malam, setelah semua selesai, para tamu pulang dan seluruh ruangan telah bersih, mereka bertujuh, yaitu Pak Luki, Bu Amy, Kimmy, Felix, Vita, Rama dan Raka berkumpul di ruang tamu yang masih berbau bunga melati khas pengantin.
"Felix, selamat datang di rumah kami," ujar Pak Luki membuka percakapan.
Ketiga adik Kimmy tersenyum senang sekali kembali melihat pria itu di rumah ini.
"I-iya, Tuan."
Felix masih gugup berada di rumah itu dengan beberapa anggota keluarga. Biasanya dia hanya sendiri di apartement.
"Papa ...." ralat Bu Amy.
"Iya, P-Papa."
"Eh, bukannya ini cuma main-main?" tanya Kimmy polos.
"Main-main?? Kimmy! Pernikahan ini sungguhan! Kamu tak boleh bermain-main dengan pernikahan!" ujar Pak Luki geram pada anaknya seketika itu.
Kimmy terbengong menatap Felix. Jantungnya berdegup kencang karena takut. Wajahnya seketika pias.
"Bos ... kita ... kita ... suami ... istri, Bos ...." ujarnya terbata, tak percaya.
Felix mendengus, dia hanya melipat tangannya, lalu menutup dahi dengan tangan kanannya.
Gadis bodoh ini baru sadar juga!
"Jangan bilang kalian hanya iseng dengan semua ini!" ujar Pak Luki lagi. Meski dia bertubuh kurus dan lemah karena tulang belakangnya yang sakit, tapi ketegasan tersirat di kedua matanya.
"Lihat ketiga adikmu, Kimmy! Kamulah contoh untuk mereka!" kata Pak Luki mengingatkan.
Bu Amy mengangguk-angguk, sementara ketiga adik Kimmy mendengarkan dengan patuh.
"Bos ... gimana Bos Pelix??" tanya Kimmy merasa tak enak pada pria itu, mendorongnya ke dalam masalah besar! Sebuah pernikahan yang sebenarnya!
Felix hanya tersenyum kecut memandang pria kurus di depannya, tak perduli pada istrinya.
Kimmy menghela napas.
Sudahlah, biar nanti aku bicarakan pada Bos di tempat tertutup! Sekarang bagaimana agar Papa merasa tenang dulu.
"I-iya, Papa .... Tadi Kimmy hanya bercanda, Papa jangan marah!" ujar Kimmy meringis dan menunjukkan dua jari tanda damai pada papanya.
Meski ada keraguan dalam ucapan Kimmy, dadanya berdesir pula menyadari status baru itu, tapi dia mencoba memberi kesan yang baik pada keluarganya dan agar adik-adiknya tak mencontoh hal yang tak baik dari peristiwa tadi.
"Oh, ternyata bercanda. Nak Felix, kami semua berterima kasih karena apa yang telah kamu lakukan hari ini. Penyelamat serta mulai hari ini menjadi pendamping anak gadisku, Kimmy. Semoga langgeng, ya?" pesan Pak Luki.
__ADS_1
Seketika Felix lemas mendengarnya.
Langgeng?
Itu berarti bukan hanya sehari dua hari, tapi aku akan selamanya bersama dia? Gadis bergigi tak mau baris dan berlidah belok ini? Ya Tuhan, mimpi apa aku semalam?
Kimmy meringis melihat ke arah Felix yang sudah pucat.
"Emm ... Bos Pelix mungkin lelah. Ayo bersihkan tubuh dulu agar segar."
Kimmy mencoba menyelamatkan Felix dari ruangan itu.
"Ya," ujar Felix.
"Kamu masih saja memanggil suamimu Bos?" tanya Pak Luki.
Bu Amy menyenggol lengan Pak Luki, memberi isyarat agar membiarkan sepasang pengantin itu untuk masuk ke kamarnya.
Felix dan Kimmy segera beranjak saat memperoleh kesempatan untuk pergi dari situasi itu, Felix mengikuti Kimmy berjalan masuk ke kamar.
"Kalian bertiga bersihkan diri kalian dulu, lalu setelah itu, makan malam!" perintah Bu Amy pada ketiga adik Kimmy.
"Baik, Ma!" ujar ketiganya.
"Pa, lebih baik kita juga membersihkan diri dulu. Seharian ini cukup menguras pikiran," ujar Bu Amy pada suaminya.
"Iya, Ma. Aku akan menyegarkan diri dulu di kamar mandi."
Mereka bergantian antre masuk ke kamar mandi.
*
Felix hanya mendengus mendengar gadis itu meminta maaf sambil memberesi kamarnya, usai hari kemarin dia bongkar semua barang yang bisa dijual untuk membayar kekurangan utang.
Felix hanya berdiri di depan pintu yang ditutup dan melipat tangan.
"Bos, apa yang akan kamu lakukan padaku?" tanya Kimmy polos.
"Mau kamu apa?" tanya Felix balik.
Kimmy hanya terdiam dan melanjutkan beberesnya.
Felix mengedarkan pandangnya ke ruangan tiga kali tiga meter itu, dengan tempat tidur yang kecil.
"Kamu bilang ini bohongan! Nyatanya pernikahan ini betulan! Ahhh!! Apa kamu sering main nikah-nikahan??" omel Felix.
"Bos ... maapkan aku, aku tak bisa lagi berpikir saat itu, Bos! Hanya kamu penyelamatku, tapi aku pun tak menyangka akan jadi begini ...." isaknya.
Kimmy begitu menyesali perbuatannya. Namun, hanya itu yang bisa dia lakukan tadi.
"Eh, sudah ... sudah jangan nangis! Semua orang akan mengira aku berbuat yang tidak-tidak padamu jika kamu menangis!"
Felix yang tak tahan melihat perempuan menangis, mengatakan hal yang membuat gadis itu tenang, walaupun dadanya bergemuruh kesal dengan kesialan hari itu.
"Lalu, gimana, Bos ...." rengek Kimmy.
__ADS_1
Dia pun syok ketika menyadari bahwa mereka telah sah menjadi suami istri.
"Bos ... jawab!" teriaknya.
"Bisakah kamu tak berteriak?? Aku juga sedang berpikir!" sahut Felix lalu duduk di tepian ranjang samping Kimmy, berjarak satu meter dengannya.
Lama sekali mereka berdua terdiam dalam pikiran masing-masing, hingga sebuah ketukan pintu mengejutkan mereka.
Tok! Tok! Tok!
"Kimmy, ajak Felix untuk makan malam dulu!" seru Bu Amy.
"I-iya, Ma!" jawab Kimmy. Mereka sadar belum juga mengganti baju. Bahkan Kimmy masih memakai baju pengantinnya.
"Cepat, ya! Kami tunggu di ruang makan. Setelah itu kita bisa istirahat! Semua lelah hari ini, Felix juga harus istirahat. Besok sudah kerja atau masih cuti?" tanya Bu Amy.
Felix menepuk jidat.
"Tuan Key! Apa jadinya jika dia tahu??" desis pria itu.
"Iya Ma, nanti kita keluar, sebentar, Ma!" seru Kimmy.
"Ya, kalau tak keluar juga, kami akan makan malam duluan, ya? Nanti kalian harus makan malam juga!"
"Iya, Ma."
Bu Amy tersenyum dan menggelengkan kepala dengan si pengantin baru, padahal, di dalam mereka sedang pusing, berpikir keras. Namun, berbeda pikiran dengan wanita paruh baya itu yang berpikir mereka sedang melakukan pemeriksaan organ vital.
"Apapun yang terjadi, kamu tak boleh memberi tahu ke Tuan Key dan Nona Bianca tentang hal ini sebelum kita menemukan jalan keluar!" ujar Felix.
"B-baik, Bos Pelix!"
"Oke, aku mandi dulu sebelum mama kamu menyuruh makan lagi," ujar Felix.
"Iya, Bos. Eh, sebentar aku ambilkan handuk!"
Felix mengangguk dan menunggu di tepian ranjang.
Kimmy membuka lemari dan mencari sebuah handuk tebal terbaik untuk Felix, lalu menyerahkannya ke tangan pria itu.
Felix bergegas berjalan keluar ke kamar mandi.
"Bos, b-boleh minta tolong sebentar?" tanya Kimmy.
Pria itu berhenti dan membalikkan tubuhnya.
"Apa?" tanyanya.
"Tolong, ini susah sekali, aku takut nanti sobek karena baju ini sudah usang, milik mendiang istri juragan Burhan ...."
Ucapan Kimmy terhenti, agak ragu melanjutkan. Namun, daripada dibilang aneh jika meminta tolong pada mamanya, dia meminta tolong pada Felix.
Pria itu menaikkan alisnya, masih mematung di depannya, akan membuka pintu kamar.
"... tolong, bukakan resleting baju ini, Bos!" ujarnya meringis.
__ADS_1
Wanita ini!
"Apa kamu bercanda??" gerutu Felix.