
Malam itu, keduanya saling menatap. Entah bagaimana, Felix bisa membuka kain yang membalut tubuh Kimmy. Mereka mendekatkan bibir dan berciuman. Felix mulai meraba, merasakan sesuatu yang sepertinya kenyal. Tangannya mulai bertravelling ke atas kulit mulus itu, tak ada satu pun yang tak terjamah. Saat baru memanas. Terasa mengeras sesuatu di bawah.
Felix baru akan mendesak bagian bawah gadis itu, tapi ... bayangan menghilang bersamaan dengan matanya yang terbuka.
"Mimpi ...." gumam Felix.
Namun, rasa di mimpi itu masih melekat. Dia menyadari tangannya sedang mengelus dan meremmas guling, kemudian melepasnya kasar setelah benar-benar sadar.
Dia belum pernah sekali pun melakukan hal itu, tapi di mimpinya seolah dia adalah pemain pro. Felix mengelus timun baby-nya yang mengacungkan diri.
"Hey, Kuncung ... kamu itu ngapain berdiri-berdiri ... ayo, lemes, waktunya bobok!" gumamnya sendiri.
Felix melirik gadis di sebelah, sepertinya sudah terlelap memunggunginya. Pria itu kembali tidur, berusaha keras menyingkirkan pikiran kotor yang mengganggunya.
Keesokan hari setelah keduanya berhasil tidur dengan lelap, saat matahari mulai terbit, sepasang suami istri bersyarat itu belum juga bangun. Hawa dingin cocok untuk mereka. Rasa kantuk yang menyerang terlambat dini hari tadi membuat mata mereka seperti terkena lem. Lekat.
"Kok belum bangun, ya?" tanya Bu Amy saat menyiapkan masakan di atas meja. Wanita itu melirik sebentar ke pintu kamar Kimmy yang masih tertutup rapat.
"Biar aja, Ma. Mungkin mereka baru mencetak ...." Pak Luki belum jadi melanjutkan kalimatnya, melihat ketiga anaknya yang lain sedang duduk terbengong menunggunya bicara.
"Papa ini!" desis Bu Amy menyenggol lengan Pak Luki.
Ketiga anak yang melongo mencerna kata 'mencetak' mulai bertanya-tanya.
"Kak Kimmy sama Kak Felix ganti pekerjaan apa, Pa?" tanya Rama polos.
"Mencetak batu bata apa mencetak kartu undangan?" tambah Raka lebih polos lagi.
"Mencetak undangan atau kartu nama, lah! Masa di kota mencetak bata?" tukas Vita.
Ketiganya terdiam, memikirkan sesuatu.
"Tapi ... masa mencetak undangan di kamar!" ujar mereka bertiga saling berpandangan, kemudian memandang kedua orang tuanya kebingungan.
"Hayo loh, Papa ...." geram Bu Amy.
"Eh, makan dulu makan pagi dulu, yuk! Abis itu kita ada rencana!" ujar Pak Luki berkelit.
"Rencana apa, Pa??" seru mereka membelalakkan mata. Sepertinya sesuatu yang menyenangkan.
"Bersih-bersih rumah dan kebun!" jawab Pak Luki tak kalah seru.
"Yaaaaaaahh ...." lenguhan kecewa keluar dari mulut ketiganya.
*
Sebuah tangan dan kaki berada di atas tubuh Felix saat mengerjapkan matanya. Biasa, guling yang digadang-gadang jadi pembatas, sudah pasrah terbengkalai di lantai.
Felix meringis saat melirik gadis itu telah memeluknya dalam ketidaksadaran. Dia memandang Kimmy yang tertidur pulas meski waktu telah menunjukkan pukul tujuh pagi. Pria itu diam tak bergerak, takut membangunkannya.
Apa yang aku katakan semalam, ya? Ayah biologis? Apa aku siap? Dan perempuan ini? Tidurnya saja bar-bar. Bagaimana kalau punya bayi kecil? Apa tidak dia tendang saat tidur? Tapi, mimpi itu? Aaaahh ....
__ADS_1
Berpuluh pertanyaan terbersit ketika bangun dari tidurnya.
Kalo soal kebersihan sih, dia yang nomor satu ....
Ah kenapa aku jadi menomorsatukannya?
Felix menguap lebar, membuat Kimmy terbangun dan terkejut mendapati salah satu tangan dan kakinya berada di atas tubuh pria di sampingnya itu. Seperti malam saat pertama tidur di kamar Kimmy.
Kimmy pelan-pelan menarik tangan dan kakinya.
"Maap, Bos Pelix!" ujarnya tersipu lalu turun dari pembaringan dan berjalan keluar kamar.
Seluruh mata menatap gadis yang keluar dari kamar dengan rambut acak-acakan itu.
"Baru bangun, Kim?" tanya si ibu, menanyakan hal yang tak perlu jawaban.
Namun, dijawab juga oleh Kimmy.
"Iya, Bu."
"Kakak abis mencetak apa sih?" celetuk Raka.
Kimmy kebingungan mendengar pertanyaan konyol adiknya itu.
"Apa?" ujarnya balik bertanya.
"Eh, anak-anak, lanjut makan, biar Kak Kimmy mandi dulu! Ayo! Makan ... makan!" seru Bu Amy dengan keras.
Alhasil ketiganya tak melanjutkan pertanyaan seputar cetak mencetak dan mulai mengambil makan.
Sedangkan Felix, dia masih saja duduk di kamar, mendengar pembicaraan yang baru saja terjadi. Dia merasa malu untuk keluar kamar saat semua orang berkumpul di ruang makan. Baru setelah mereka bubar, Felix mulai memunculkan batang hidungnya. Itu saja Kimmy mengajaknya makan pagi.
"Bos Pelix, ayo, mandi dulu, trus kita makan! Udah jam delapan pagi!"
Kimmy melemparkan handuk ke pria itu. Felix menangkapnya dengan satu tangan. Hasrat ingin pipis yang ditahannya sedari tadi akan terlampiaskan juga.
Kimmy melirik celana Felix yang basah.
"Bos Pelix ngompol?" ujarnya lugu.
"Ini ... anu, emmm ...." jawabnya cengar-cengir.
Hilang sudah kesan dingin dan keren oleh sebuah bercak basah di celana. Dan tragisnya, Kimmy mengira itu ompol.
Gadis itu terbahak melihatnya, menggelengkan kepala dengan menjengkelkan.
"Buruan mandi! Nanti kucarikan cicak!" serunya masih terbahak.
"Buat apa cicak?"
"Dibakar trus dimakan, biar nggak ngompol lagi!" kelakar Kimmy.
__ADS_1
"Hey! Aku bukan ngompol! Tapi ...."
"Tapi apa? Tapi anu?" sahut Kimmy mengejek.
"Huh, awas ya! Kubuka celana, kejang-kejang kamu!" gumam Felix geram sambil masuk ke kamar mandi.
Saat itu semua orang rumah benar-benar sibuk di halaman, memperbaiki kebun mereka yang waktu itu dirusak oleh orang-orang juragan Burhan. Pak Luki membawa benih tanaman dari kota, lalu ditanam di kebun. Mereka mengerjakannya dengan ceria.
Sementara sepasang suami-istri yang belum coblosan itu telah selesai mandi lalu duduk di ruang makan. Kimmy menyendokkan nasi ke piring Felix. Mereka makan dengan tenang, sebelum tangan Felix dan Kimmy bersamaan mengambil jar berisi air putih.
Felix menatap Kimmy tanpa melepas tangannya. Desiran hangat terasa dalam hatinya.
Pria itu sedang menikmati perasaannya, tapi Kimmy segera menepis tangan Felix.
"Ih, Bos Pelix apa-apaan sih, kekoreah-koreahan! Anyingpaseo ...." ujar Kimmy memiringkan kepala dan tersenyum pada Felix sambil menuang air putih.
Felix mendengkus.
"Dasar bocah!" omelnya.
Mereka melanjutkan makan pagi.
"Kimmy, menurutmu, siapa pria yang tertampan di dunia?" tanya Felix di sela makan.
"Mmm ... Bos Pelix!" jawabnya.
Felix auto berbinar mendengarnya.
"Benarkah??" tanya Felix senang.
"Ya nggak lah! Babang Min Ho yang paling tampan sedunia!" celetuk Kimmy.
"Siapa Min Ho itu!" ujar Felix langsung berubah raut mukanya menjadi kesal lalu mengunyah dengan cepat.
"Masa nggak tau! Itu pemeran drama Koreah!"
"Jauh sekali!" omel Felix.
"Ya kan tadi tanya paling tampan sedunia, Bos Pelix!" gerutu Kimmy tak menemukan kesalahan atas jawabannya.
"Bukan aku?" tanya Felix percaya diri.
Kimmy memasukkan nasinya pelan ke mulut dan memandang heran pada pria itu. Dia meletakan punggung telapak tangannya ke kening Felix.
"Sehat, Bos?" tanya Kimmy.
******
Maapin seyenk-seyenk semuaa ... Kalo othor nggak up kemarin karena selain capek juga ada halangan dadakan hingga baru ketik separoh dan nggak mungkin aku update. Jadi maklum yaah cup cup muah....
******
__ADS_1
Stop plagiarisme!
Melanggar hak cipta orang lain masuk dalam UU nomor 19 tahun 2002 pasal 72 ayat (1) yang berisi hukum pidana maksimal 7 tahun dan denda maksimal 5 Miliar Rupiah.