Cintai Aku!

Cintai Aku!
Panas


__ADS_3

Dua pria itu tercengang saat melihat sang asisten dengan cepat menghabiskan makan siangnya. Key sampai menelan ludah melihat kerakusan pria itu.


Bola matanya bergulir ke meja makan, lalu berpandangan dengan ayahnya. Mereka seperti bertelepati, setuju untuk mengambil sepiring nasi dan sayur masakan Bianca.


Keduanya bahkan saling berebut untuk mengambil piring, hingga Bianca tersenyum bangga.


"Akhirnya, aku bisa membuat mereka menyukai masakanku!" gumamnya.


Saat Felix selesai makan, dimulailah kedua pria itu menyendok nasi dan sayur ke mulut.


Wajah mereka langsung berubah. Terbelalak. Menikmati masakan? Bukan. Masakan itu bumbunya bagus, tapi tidak pas penggunaan garamnya. Rendang hambar, cumi keasinan, apalagi gulai nangka muda, sangat hambar.


Ini kamu bilang enak?


Mata Key melotot pada Felix saat menelan makannya dengan susah payah. Sementara Pak Anton hanya makan sedikit demi sedikit sambil membayangkan nonton acara makan receh di televisi. Mungkin dengan membayangkan akan menambah cita rasa masakan, pikirnya.


Felix serba salah. Dia pamit ke ruang kerja untuk melarikan diri sementara dari ruang makan yang benar-benar terkutuk itu. Wajah Bianca yang menunjukkan kegembiraan membuat Key tak tega untuk mencela masakannya.


"Enak, Sayang! Cuma kurang garam, eh kebanyakan, eh, kurang ... kurang!" ujar Key kebingungan memberi penilaian.


"Kurang apa kebanyakan?" tanya Bianca merengut.


"Mm ... seimbang lah!" sahut Key pada akhirnya.


Dia pikir, jika rendang dan gulai kurang asin akan dilengkapi oleh cumi goreng tepung yang keasinan.


"Iya dong, seimbang. Kan tadi sudah kucicipi!" ujar Bianca bersemangat.


Dia kemudian menyendok nasi dan sayur, lalu melahap sendiri masakannya.


Wajahnya tanpa ekspresi, sama halnya seperti sayur yang hambar. Kemudian berlanjut suapan kedua. Menggigit lauk, lalu mengernyit, mengerjapkan mata. Sama halnya seperti cumi goreng keasinan. Sementara, Pak Anton telah berhasil menyelesaikan makan siangnya.


"Aku duluan ke ruang baca. Makasih, Bianca atas makan siang yang disediakan dengan usaha kerasmu!" ujar Pak Anton.


Bianca tersenyum berbalut rasa malu. Usai pria paruh baya itu tak terlihat lagi, dia berbicara pada suaminya.


"P-padahal sudah kucicipi tadi sepertinya pas, lalu kutuang garam lagi biar mantap. Untuk sayurnya aku lupa kasih garam, kukira bumbunya sudah komplit dengan garam," ujar Bianca panjang lebar.


"Bumbunya sudah komplit? Maksudmu ...." Key bingung dengan kalimat itu.


"Eh, tentunya aku ngulek sendiri dong!" ujar Bianca gelagapan akan keceplosan. Dia melahap kembali makan siangnya. Sama model Key, cumi asin melengkapi sayur hambar.


"Pintar ngulek istriku ini, biasanya Hana memakai food chopper untuk menghancurkan bumbu, setahuku," tutur Key menyelesaikan makannya.


"Uhuk!" Bianca langsung tersedak mendengar itu.


"Sabar, Sayang, makannya. Tidak ada yang merebut makananmu," ujar Key terkekeh.


Bianca menyeringai.


Aku bahkan tak tahu, ada tidaknya cobek di dapur!


*


Bianca menangis di kamar, mengingat usaha memasaknya tak pernah berujung keberhasilan. Teringat awal pertama di rumah ini pun, dia meledakkan panci presto yang berisi beberapa daging bebek.

__ADS_1


"Lho, kenapa istriku yang cantik ini menangis?" tanya Key sambil menggendong Kin.


"Hana ...." jawab Bianca seolah meratapinya.


Jangan, jangan sampai terkecoh lagi dengan kalimatnya, Key!


"Jangan bilang kamu punya peliharaan yang kamu namai dengan Hana," tutur Key curiga.


"Bukan, aku hanya rindu Hana ...."


Bianca merasa sangat membutuhkan kepala pelayan itu.


"Aku berjanji akan bersungguh-sungguh belajar memasak, menjadi istri dan ibu yang baik untuk kalian!" ucap Bianca.


Key merasa haru dengan istrinya yang biasanya cuek itu, sekarang tiba-tiba mendapat hidayah untuk menjadi seorang istri yang bisa memasak. Tak masalah sebenarnya untuk pria itu, tapi demi mewujudkan impian istrinya yang begitu sederhana, dia ingin mengabulkannya.


"Baiklah, jangan menangis, Sayang. Apa sih yang tidak kukabulkan untukmu?" ujar Key.


Binar mata Bianca terpancar saat mendengarnya.


"Makasih, suamiku, Sayang!"


Sebuah kecupan mendarat di pipi pria itu.


Biasa, ada maunya!


*


"Apa kamu benar-benar suka masakan istriku, Felix?" selidik Key memicingkan mata seperti ada kasus pemalsuan.


Felix dengan gugup hanya menatap ke layar komputer. Sebenarnya matanya sudah pegal sedari tadi, tapi karena pertanyaan itu, dia memilih untuk tambah pegal daripada menjawab.


Sebegitu pentingnya, kah?


"I-iya, Tuan!" jawab Felix masih menatap layar.


"Felix?" ulang Key lagi dengan nada yang berbeda.


"Tidak, Tuan."


Akhirnya dia memutuskan untuk menjawab jujur daripada dipepet oleh tuannya terus.


"Lalu kenapa kamu menghabiskan makananmu dengan cepat?" tanya Key heran.


"Saya ... saya tak ingin rasa tak enak itu terlalu lama di mulut, sementara perut meminta lebih."


Felix menunduk.


"Oh, begitu. Sekarang karena kamu telah berbohong di meja makan, tugasmu adalah menjemput Hana kembali ke rumah ini," titah Key.


"B-baik, Tuan!"


Felix segera kabur dari ruang kerja untuk menjemput kepala pelayan itu di rumahnya.


Namun, ternyata ibu Hana belum sembuh dari sakitnya. Felix pulang dengan tangan kosong.

__ADS_1


Key menghela napas.


"Kamu cari seorang chef handal di negeri ini! Undang dia ke rumah untuk mengajari istriku!" perintah Key.


"Baik, Tuan!" jawab Felix patuh.


*


Malam itu usai lembur, Felix sampai di parkiran apartemen. Menapaki jalan ke ruangannya, pria itu teringat akan peristiwa memalukan saat rapat tadi siang.


Dengan sangat kesal, dia membuka pintu apartemen dan melihat seluruh bagian rumah telah bersih dan rapi. Wangi apel semerbak di setiap sudut ruangan. Pria mana yang tak senang jika pulang melihat rumah dalam keadaan bersih?


Felix masuk dan menemukan Kimmy sedang tidur kelelahan di atas karpet dengan televisi menyala. Gadis itu terlihat sangat imut. Baru kali ini Felix melihatnya tertidur tak sadar bahwa ada yang datang.


"Dia ...."


Felix mengibaskan tangan di depan matanya sendiri.


"Ugh! Dia itu menyebalkan! Gadis bar-bar! Pembuat malu saja!"


Felix meninggalkan Kimmy sendiri di depan televisi dan menguasai kamarnya. Karena lelah, pria itu pun terlelap begitu cepat.


Tengah malam, Felix terbangun dan tak melihat Kimmy di kamar. Dia bergegas turun dari tempat tidur, menengok ke depan televisi. Gadis itu masih saja tertidur tanpa bergerak dari semula.


"Jangan-jangan dia ...."


Napas lega Felix saat masih merasakan embusan napas dari hidung Kimmy di jarinya.


Felix mengguncangkan bahu Kimmy. Badanny terasa agak panas.


"Bangun! Kamu bisa sakit tidur di karpet seperti itu!" ujar Felix.


Kimmy mengerjapkan mata.


"Bos punya obat penurun panas, nggak?" tanya Kimmy.


"Kamu kenapa? Jangan-jangan kamu hamil!" seru Felix ketakutan.


"Bos ... lalat aja berkembang biak pake nempel, kenapa aku yang nggak ngapa-ngapain bisa hamil?" protes Kimmy sambil duduk memegang dahinya.


"Sepertinya aku hanya kelelahan, setelah semalam amnesia," lanjut gadis itu.


"Amnesia??" Dahi Felix berkerut.


"Penyakit sulit tidur, ah masa Bos Pelix nggak tau? Katanya pintar!"


"Insomnia, bodoh!"


Kimmy menyeringai, lemas.


"Tunggu sebentar, aku carikan di apotek dua puluh empat jam! Kamu minum air putih yang banyak dulu! Pindah kamar yang hangat!" pesan Felix sambil meraih jaket dan kunci mobilnya.


Kimmy mengangguk dan beranjak dari tempat itu.


******

__ADS_1


Stop plagiarisme!


Melanggar hak cipta orang lain masuk dalam UU nomor 19 tahun 2002 pasal 72 ayat (1) yang berisi hukum pidana maksimal 7 tahun dan denda maksimal 5 Miliar Rupiah.


__ADS_2